Menjaga Hati dari Ganguan Setan Iblis

Melengkapi ulasan sebelumnya, terutama ketika penegak shalat ingin memupuk hatinya, menggembleng jiwa agar tetap halus dan lebih sensitif d...

Mengenal Tarekat Qadiriyah wa Naqshabadiyah (TQN) di Organisasi JATMAN

Mengenal Tarekat Qadiriyah wa Naqshabadiyah (TQN) di Organisasi JATMAN

Tarekat Qadiriyah wa Naqshabadiyah (TQN) merupakan salah satu tarekat yang berafiliasi dalam sebuah Organisasi JATMAN, Jamiyyah at-Tareqat al-Mu'tabarah al-Naqshabandiyah.

Di dalam kajian tasawuf klasik mungkin tidak bisa ditemukan Thoriqoh Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sebagai orde Tarekat. Sebagai mana tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah itu sendiri. Memang, karena Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) adalah tarekat yang lahir pada akhir abad 18 (sekitar tahun 1870-an). Sehingga secara sosial keagamaan, tarekat ini lahir di dalam lingkungan masyarakat Islam Nusantara Makkah di masa kolonialisme barat.

Kelahiran Tarekat Qadiriyah wa Naqshabadiyah (TQN) dari Makkah merupakan barokah untuk umat Islam Nusantara, khususnya bangsa Indonesia. Dengan tarekat tersebut umat Islam meningkatkan kualitas iman dan Islam-nya. Serta memupuk nasionalisme dan patriotisme. Sehingga pada saatnya, umat Islam siap untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda dan menuju kemerdekaan.

PROFIL TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSHABANDIYAH

Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) adalah sebuah aliran tarekat yang merupakan perpaduan (univikasi) dari dua aliran tarekat besar, yaitu ;Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah.

Tarekat ini didirikan oleh seorang Mursyid Thoriqoh Qadiriyah di Makkah yang menjadi Imam Masjidil Haram yang bernama : Syekh Ahmad Khatib as Sambasi, bin Abdul Ghofar, Sambas Kalimantan Barat. Yang bermukim di Makkah Al Mukaromah. Yang wafat pada tahun 1878 M.

Tarekat Qadiriyah wa Naqshabadiyah (TQN) ini masuk ke Indonesia (pulau jawa) melalui para kholifah syekh Ahmad Khotib yang berasal dari Indonesia, dan diantara yang paling penting ada melalui tiga jalur silsilah, yaitu : dari jalur Syekh Abdul Karim al- Bantani, di Pagenthongan, Ciwaringin Jawa Barat. Jalur Syekh Muhammad Tholhah al Cireboni, di Cirebon Jawa Barat dan Syekh Ahmad Hasbu al- Maduri, yang berpusat di pondok pesantren Rejoso Jombang, Jawa Timur.

Dari ke tiga jalur ini pula, Tarekat Qadiriyah wa Naqshabadiyah (TQN) masuk ke Jawa Timur. Dari jalur silsilah Syekh Abdul Karim al- Bantani menyebar ke Jawa Timur melalui seorang mursyid di Jawa Tengah (Mranggen, Semarang Jawa Tengah), namanya Syekh KH. Muslikh bin Abdurrohman. Dari jalur silsilah Syekh Ahmad Hasbu al Maduri masuk ke Jawa Timur melalui seorang mursyid di Rejoso Jombang, Pondok Pesantren Darul Ulum, yang bernama Syekh KH. Romli Tamim. Sedangkan yang dari jalur syekh Ahmad Tholhah al Cireboni masuk ke Jawa Timur kebanyakan melalui seorang mursyid dari pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, yang bernama Syekh KH. Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom).

Sekarang Tarekat Qadiriyah wa Naqshabadiyah (TQN) sudah memiliki banyak sekali kemursyidan, yang masing-masing memiliki kemandirin dan kebebasan yang penuh untuk mengatur dan menyebarkan TQN ke wilayah manapun, sebagaimana karakter pondok pesantren. Termasuk dalam hal aviliasi kemasyarakatannya. Sehingga ada diantara kemursyidan TQN yang sama sekali tidak berjamaah (bekerjasama) dengan kemursyidan yang lainnya, ada yang membentuk forum silaturrahmi, ada yang tergabung di dalam jam’iyyah NU dalam wadah bersama JATMAN dan ada yang bergabung dalam jam’iyyah dakwah JATMI (Jam’iyyah Ahli Thoriqoh Al Muktabaroh Indonesia).

Ajaran pokok TQN ini meliputi :

  1. Konsep Wasatiyah dalam Suluk (moderasi dalam laku tasawuf),
  2. Adabul Muridin (kode etik seorang pengamal tasawuf) ,
  3. Dzikir Jahri Nafi Istbat serta dzikir sirri Lathoif.
  4. Muroqobah 20.

SILSILAH SANAD TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSHABANDIYAH

TQN merupakan sebuah tarekat yang menggabungkan 2 ajaran besar tarekat menjadi satu, yaitu Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqshabandidyah. Hal ini mempengaruhi silsilah sanad yang dianut tarekat TQN ini.

Berikut silsilah sanad Tarekat Qadiriyah, adalah sebagai berikut:

  1. Allah SWT
  2. Jibril AS.
  3. Nabi Muhammad SAW.
  4. Syekh Ali ibn Abi Thalib Karamallahu Wajhah
  5. Syekh Husain ibn Ali qs
  6. Syekh Ali Zainal Abiddin qs
  7. Syekh M. al-Baqir qs
  8. Syekh Ja’far al-Shodiq qs
  9. Syekh Musa al-Kadhim qs
  10. Syekh Ali ibn Musa al-Ridlo qs
  11. Syekh Ma’ruf al-Karakhi qs
  12. Syekh Sarri al-Saqoti qs
  13. Syekh Abu Qosim Janaidi al-Baghdadi qs
  14. Syekh Abu Bakar al-Sibli qs
  15. Syekh Abd. Wahid al-Tamimi qs
  16. Syekh Abu al-Farraj al-Turtusi qs
  17. Syekh Abd. Hasan Ali al-Karakhi qs
  18. Syekh Abu Sa’id Mubarok al Majzumi qs
  19. Syekh Abd. Qodir al-Jailani qs
  20. Syekh Abd. Azis qs
  21. Syekh M. Hattaq qs
  22. Syekh Syamsuddin qs
  23. Syekh Syarifuddin qs
  24. Syekh Nuruddin qs
  25. Syekh Waliuddin qs
  26. Syekh Hisyamuddin qs
  27. Syekh Yahya qs
  28. Syekh Abu Bakar qs
  29. Syekh Abd. Rakhim qs
  30. Syekh Usman qs
  31. Syekh Abd. Fattah qs
  32. Syekh M. Murod (Makkah) qs
  33. Syekh Syamsuddin (Makkah) qs
  34. Syekh A. Khatib al-Syambasi qs

Sedangkan Silsilah sanad Tarekat Naqshabandiyah, adalah sebagai berikut:

  1. Allah SWT
  2. Jibril AS.
  3. Nabi Muhammad SAW.
  4. Syekh Abu Bakar al-Siddiq qs
  5. Syekh Salman al-Farisi qs
  6. Syekh Qosim ibn Muh. Ibn Abu Bakar qs
  7. Syekh Imam Ja’far aal-Shodik qs
  8. Syekh Abu Yazid al-Bustami qs
  9. Syekh Abu Hasan Kharqani qs
  10. Syekh Abu Ali al-Farmadi qs
  11. Syekh Yusuf al-Hamdani qs
  12. Syekh Abd. Khalik Guzdawani qs
  13. Syekh Arif Riya al-Qari’ qs
  14. Syekh Muhammad Anjiri qs
  15. Syekh Ali Rami Tamimi qs
  16. Syekh M. Baba Sambasi qs
  17. Syekh Amir Kulali qs
  18. Syekh Bah’uddin al-Naqsyabandi qs
  19. Syekh M. Alauddin al-Attari qs
  20. Syekh Ya’qub Jarekhi qs
  21. Syekh Ubaidillah Aharari qs
  22. Syekh M. Zahid qs
  23. Syekh Darwis Muhammad Baqi’ Billah qs
  24. Syekh A. Faruqi as-Shirhindi qs
  25. Syekh Al-Maksum al-Sirhindi qs
  26. Syekh Saifuddin Afif Muhammad qs
  27. Syekh Nur Muhammad Badawi qs
  28. Syekh Syamsuddin Habibullah Janjani qs
  29. Syekh Abdullah ad-Dahlawi qs
  30. Syekh Abu Sa’id al-Ahmadi qs
  31. Syekh Ahmad Sa’id al-Madani qs
  32. Syekh Muhammad Jan al-Makki qs
  33. Syekh Khalil Hilmi qs
  34. Syekh A. Khatib al-Syambasi qs

Dari kedua silsilah sanad tarekat ini, bertemu pada Syekh A. Khatib al-Syambasi qs yang kemudian dikembangkan kepada 3 khalifah besar setelahnya, yaitu Syekh Abdul Karim Al Bantani, Syekh Muhammad Tholhah Al Cireboni, Syekh Ahmad Hasbu Al Maduri.

Mengenal Psikoterapi Perspektif Islam dan Barat

Mengenal Psikoterapi Perspektif Islam dan Barat

Bagaimana menjelaskan keterkaitan psikoterapi antara Islam dan Barat dalam paradigma integrasi keduanya? Bagaimana mendudukan posisi psikoterapi dalam konsep integratif Islam dan Sain yang selama beberapa dekade ini menjadi waca akademik yang sangat populer. Seorang Psikoterpis muslim, Muhammad Abdul Fattah el-Mahdi, dalam mukadimah buku "العلاج النفسي في ضوء الاسلام" (Psikoterapi dalam Perspektif Islam) berusaha mempertegas posisi keilmuan ini; beliau mengatakan :

Sejenak, saat akan menulis buku ini, saya berpikir bahwa maksud penulisan buku ini adalah agar bisa dibaca oleh rekan-rekan dokter dan para terapis, karena pembicaraan tentang psiko-terapi biasanya tidak dipahami oleh sebagian orang (baik orang awam maupun ahli) .

Bahkan para spesialis pun mengalami kesulitan yang sangat besar pada awal mempelajari masalah psiko-terapi ini, tetapi ketika saya menyelesaikan buku ini dan membacanya kembali lebih seksama, saya menemukan bahwa orang biasa/awam sebenarnya dapat membaca, memahami, dan memanfaatkan ilmu ini secara baik, terutama jika mereka adalah pasien-pasien (klien) kita yang sedang menderita gangguan-gangguan psikoligis karena penyakit mereka dan menderita lagi dan lagi sebagai seorang terapis, tatkala kita mencoba mengobati klien-klien dengan menggunakan filosofi dan nilai-nilai Barat, sehingga baik seorang terapis ataupun para pasien/klien tampak asing bagi diri mereka sendiri, bahkan terkesan asing juga bagi sebagian yang lain, termasuk asing bagi masyarakat umum .

Teknik-teknik terapis menambah ketajaman terhadap ekspresi situasi ini, kita terbiasa melihat para psikiater sebagai sosok asing yang hanya mengucapkan kata-kata yang tidak dapat dipahami dan berperilaku konyol sehingga orang-orang cenderung menertawakannya... Meskipun teknik-teknik terapis terlalu dilebih-lebihkan dan terlalu dikagumi seperti yang biasa terjadi, tetapi sikap kekaguman ini memiliki latar belakang dan motif yang bersumber dari keasingan prinsip-prinsip, pernyataan, persepsi, dan praktik psikologi Barat dalam masyarakat kita .

Sebenarnya, kami tidak bisa mengingkari — dan tidak bisa menyangkal — hal-hal positif dari psikologi Barat dalam beberapa aspek eksperimental dan klinis yang beragam dan sangat bermanfaat. Namun, ketika menyangkut persepsi tentang manusia, kehidupan, dan alam semesta, psikologi Barat menjauhi persona kita dan pada akhirnya menjadi asing bagi kita (meskipun awalnya masuk akal/rasional), karena sebagian besar konsep psikologi Barat muncul sebagai reaksi terhadap kondisi regional, agama, dan sekte/madzhab yang sulit yang mereka alami, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita.

Kembali ke masalah yang saya sebutkan sebelumnya, setelah saya menyelesaikan buku ini, saya merasa bahwa tidak sulit bagi pembaca awam memahaminya secara mudah karena saya menulisnya dalam bahasa kita sehari-hari dan melalui pandangan Islam kita yang murni dan sederhana. Dan saya juga menulis buku ini di tengah-tengah menjalani praktik sehari-hari dengan pasien-pasien yang saya tangani dan temani lebih sering daripada keluarga saya sendiri, menderita bersama mereka serta mengalami kesulitan dalam menghadapi penyakit jiwa yang mereka...

Artinya, saya menulis buku ini seakan tangan ini di atas bara api, seperti yang mereka katakan... Saya menulisnya di tengah-tengah tragedi psikologis, bukan sambil duduk di ruangan yang sepi di atas meja yang nyaman. Sebenarnya, menulis bukanlah profesi yang saya kuasai karena saya adalah seorang psikiater yang lebih suka bekerja secara langsung bergaul dengan pasien-pasien yang menderita penyakit jiwa. Oleh karena itu, saya berharap orang lain yang menulis tentang topik ini, dan jumlah mereka banyak, tetapi mereka menundanya karena takut membahas topik penting ini dengan tingkat yang lebih rendah dari yang seharusnya, terutama karena psikiater Barat, meskipun pemikirannya sedikit menyimpang, yang menyajikan tulisan dengan teratur/sistematis, akurat, dan mengagumkan, ketika kita menulis dari sudut pandang Islam, itu harus sesuai dengan keagungan Islam.

Ini memang benar, tapi sampai kapan kita akan menunggu dan menunda? Sampai identitas kita hilang di tengah banyaknya isu-isu yang dilontarkan kepada kita setiap saat? Jika kita bisa melakukannya, lalu bagaimana dengan pasien-pasien kita yang malang yang dirawat menggunakan bahasa yang bukan bahasa mereka, dengan konsep agama yang bukan agama mereka, dan gagasan serta keyakinan yang bertentangan dengan gagasan dan keyakinan mereka? Psikoterapi bukanlah hal besar yang bersifat ilmiah atau teori filosofis yang muluk-muluk, melainkan praktik sehari-hari yang nyata dengan sejumlah besar pasien/klien. Oleh karena itu, saya memohon pertolongan Allah dan mulai menulis tentang topik yang penting, berresiko, dan sulit di saat yang sama.

Dan saya nyatakan sejak awal bahwa upaya penulisan buku ini adalah usaha saya sendiri, jika saya berhasil, itu adalah sebuah kebaikan, dan jika ternyata saya salah atau terdapat kekurangan, maka itu adalah kesalahan saya, bukan kesalahan dalam metode ajaran Islam yang saya coba lihat dan ukur dengan standar keislaman. Saya juga menyatakan bahwa apa yang ada dalam buku ini hanyalah dasar dan awal dari pemikiran dan praktik yang mungkin akan ditambahkan dengan hal-hal lain di masa depan, dikembangkan atau bahkan diubah oleh orang lain. Tetapi saya harus mulai bekerja ke arah itu.

✼ ✼ ✼ ✼ ✼

Saya ingat bahwa sejak saya memulai bekerja di dunia psikiatri, saya berusaha keras menemukan format dan pendekatan Islam yang bisa diterapkan dalam profesi yang serius dan rumit ini... sebuah bentuk pendekatan yang menggabungkan identitas Islam dan identitas ilmiah (sains) medis pada saat yang sama...

Awalnya, saya mengalami kesulitan yang sangat besar dalam menerapkan ide-ide, konsep-konsep, dan persepsi-persepsi Barat yang selama ini saya pelajari dalam dunia psikiatri, karena ide-ide tersebut tumbuh dalam lingkungan yang anti-agama dan secara keseluruhan bersifat materialistis dan ateis. Terjadi dualisme yang sulit antara apa yang saya pelajari selama menempuh pendidikan dalam ilmu ini dengan keyakinan dan profesi saya.

Potret Singkat Realitas Sejarah Tasawuf

Potret Singkat Realitas Sejarah Tasawuf

Wacana kesufian dalam konteks keislaman, makin hari semakin menarik untuk diperbincangkan, selain masalah kasuistik yang semakin berkembang, ternyata fakta-fakta di dalam realita semakin menarik hal-hal baru yang menggugah semangat berpikir kita sebagai pemerhati kajian tasawuf. Sejarah tasawuf pun tak luput dari polemik akademis yang memicu para pakar meluangkan waktu menganalisa bahan-bahan referensial dalam dunia intlektual muslim.

Seorang tokoh sufi abad ini, Syeikh Muhamad Dhiyaudin najmudin Muhamad Amin al-Kurdi ra mencoba memberikan pencerahan dalam memahami polemik sejarah tasawuf. Beliau memberikan ilustrasi singkat yang menjelaskan titik krusial dalam memahami duduk perkara mengapa terdapat perbedaan diantara para pakar.

Beliau menjelaskan, bahwa :

Ketika kita berupaya melihat dan menelisik bagaimana tasawuf menjalani seluruh fase kehidupan sejarahnya di berbagai zaman dan lintas era yang ternyata berproses melalui rute atau jalur yang sama, yaitu dengan mengikuti firman Allah ta'ala dalam kitab-Nya dan meneladani Rasulullah saw serta mengikuti sunnahnya sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Allah ta'ala, seperti tertuang dalam untaian firman:

﴿ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ﴾ سورة الحشر - الآية 7

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QS Al-hasy : 7)

Namun, beberapa tokoh-tokoh sufi, terutama pada abad ke-5, ke-6, dan ke-7 hijriah, lebih memperhatikan konsep "dzauq" dan "al-mawajid" yang dialami dalam aktifitas suluk mereka, serta "mukasyafah" dan "musyahadah" yang mereka terima dalam tajallinya. Dan para tokoh ini ingin menyampaikan hal-hal tersebut kepada orang-orang (umat) di sekitar mereka agar bisa juga dirasakan apa yang mereka rasakan (yakni dzauq), dan mengalami apa yang mereka alami. Lalu, mereka mulai menuangkan ide-ide dan gagasan pemikiran dalam tulisan dan karya yang bisa dilihat dan dituangkan dalam bentuk kata-kata.

Dari sinilah masalah itu muncul, yaitu ketidakmampuan kata-kata memenuhi ataupun mewakili makna yang dimaksud, sehingga apa yang mereka tulis menjadi membingungkan dan terkesan rancu bagi sebagian pembaca literatur mereka. Alih-alih ingin mencari hakikat kebenaran dari tulisan-tulisan tersebut dan sumber aslinya dari Al-Qur'an dan Sunnah, namun tidak mereka temukan. Sehingga, para pembaca ini mulai mencari titik-titik kesamaan antara tasawuf dan budaya lain yang berhubungan dengan Islam setelah unsur-unsur (komponen) agama ini mengalami penyebaran luas ke seantero penjuru dunia dan menutupi kehidupan spiritual tasawuf itu sendiri - yang kelak dikenal dengan nama "tasawuf".

Banyak peneliti dan sejarawan tasawuf lupa bahwa terdapat perbedaan antara orang yang berbicara tentang tasawuf, karena bagi seorang sufi semua itu adalah nyata yang didukung akal sehat dan diperkuat oleh wahyu Tuhan, sehingga ia tidak tersesat dan tidak bingung, dengan orang yang hanya berbicara khayalan rasional (atau imajinatif) yang bisa benar dan bisa salah. Kebenaran yang tidak diragukan lagi adalah bahwa unsur-unsur yang membentuk tasawuf tidak berbeda dari satu masa ke masa, meskipun tulisan-tulisan para tokoh sufi tidak sama, alias beda pemikiran.

Dan apa yang ditulis oleh para Sufi Besar dan orang-orang yang meniti jalan Allah Ta'ala seperti Imam Al-Junayd, Imam Al-Tirmidhi, Imam Al-Muhasibi, dan Imam Al-Kharaz lebih berguna bagi pencari Tuhan ta'ala. Tulisan-tulisan mereka ini menunjukkan sisi praktis dari metodologi tasawuf terhadap buku-buku yang muncul dikemudian hari. Meskipun buku-buku terakhir ini ikut berpartisipasi dalam memperkaya khazanah kepustakaan tasawuf dari sisi teori, namun hal itu memperluas ruang bagi para peneliti untuk menjelajahinya dan mengatakan apa saja yang mereka inginkan dan yang mereka anggap benar untuk disampaikan. Tasawuf Islam yang didasarkan pada perbuatan yang bersifat praktis tetap menjadi yang pertama dan terakhir, juga akan selalu benar, tidak dapat dibantah oleh siapa pun, dan tidak ada manusia yang dapat mengusiknya.

Sufi dalam hidupnya tidak dapat dipengaruhi oleh apa pun selain kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Sudah menjadi kebenaran rasional bahwa setiap tujuan harus memiliki sarana (perantara) yang sesuai agar dapat mencapai dalam mewujudkan tujuan tersebut. Jika ia menginginkan keridhaan Allah sebagai tujuannya, maka harus ada sarana yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut dan mewujudkannya. Seoran Sufi tidak dapat menemukan cara lain selain menjalankan apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, shallallahu 'alaihi wa sallam, dan apa yang dikerjakan Rasulullah saw tersebut, yang dianggap oleh kaum sufi sebagai suri teladan yang harus ditiru agar ia dapat mencapai tujuannya.

Aqidah Islam tentang Turunya Isa di Akhir Zaman

Aqidah Islam tentang Turunya Isa di Akhir Zaman

Segala puji bagi Allah yang memiliki pengetahuan tentang hari kiamat dan tidak memberitahukannya kepada siapa pun dari makhluk-Nya, dan salam dan rahmat Allah besertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang diberi pengetahuan oleh Tuhannya tentang tanda-tanda dan pertanda-pertanda hari kiamat agar manusia mengetahui apa yang akan menimpa mereka, karena setiap saat datang kepada mereka tanda-tanda dari Tuhan mereka yang mengingatkan mereka dari kelalaian mereka, dan membangunkan mereka dari kebiasaan mereka, agar mereka merenungkan hari kiamat dan posisi mereka di dalamnya, dan agar mereka berhati-hati agar hari kiamat tidak mengejutkan mereka saat mereka sedang lalai.Allah Ta'ala telah menjelaskannya dalam Kitab-Nya yang mulia, mengangkat Nabi Isa dan menunjukkannya akan turunnya, dan umat Islam sepakat akan hal itu karena yang memberitahukan tentang pengangkatan itu adalah Kitab Allah yang tidak ada kebohongan di dalamnya, baik dari depan maupun dari belakang.

Allah SWT telah menyebutkan dalam Kitab-Nya yang suci tentang kenaikan Nabi Isa dan memberikan isyarat bahwa beliau akan diturunkan kembali ke dunia ini di akhir zaman. Dan umat Islam sepakat terhadap hal itu karena sumber informasi tentang kenaikan Nabi Isa as benar-benar berasal dari Kitab Allah ta’ala yang tidak mengandung kebohongan dari sisi manapun.

Dan Rasulullah saw yang mana Al-Quran diturunkan kepadanya untuk memberikan penjelasan kepada umat manusia aturan hukun dan berita yang secara spesifik diturunkan kepada mereka agar mau merenungkan tanda-tanda Hari Kiamat. Di antara informasi Al-Quran adalah turunnya Isa As sebagai hakim yang adil dan bijaksana yang akan menghakimi umat manusia dengan aturan syariat Islam, sedangkan waktu turunnya dia yaitu pada zaman diturunkan sang al-Mahdi setelah munculnya Dajjal, dan keluarnya Yajuj dan Majuj pada zaman itu. Serta tugas Nabi Isa yang akan membunuh Dajjal dan seruan beliau kepada Yajuj dan Majuj sehingga Allah akan memusnahkan mereka jika tidak mengikuti seruannya.

Semua ini telah dibuktikan di dalam Al-Qur'an, seperti kenaikan dan diturukannya Nabi Isa as, serta berita datangnya Ya'juj dan Ma'juj. Semua itu juga telah dibuktikan dan dicatat di dalam Sunnah dan Hadist Nabi saw dan diperjelas oleh pernyataan para Ulama, sebagaimana juga akan Anda ketahui tatkala mencermati dan membaca risalah ini.

Yang mendorong saya untuk menulis risalah ini adalah kepedulian saya terhadap keyakinan Anda, wahai umat Islam yang mulia dari orang-orang yang sengaja melanggar dan merancukan isi Al-Kitab dan Sunnah, serta yang mengklaim bahwa pelanggaran mereka besumber dari perkataan para pendahulu dan ulama-ulama muslim yang sangat dihormati oleh umat ini, dan mereka mengaitkan pendapat para Ulama’ yang tidak pernah mereka ucapkan sekali dan juga tidak pernah mereka katakan kepada mereka yang melanggar aturan itu, dengan hanya mengandalkan referensi yang sangat minim dan kelangkaan referensi di tangan anda seputar masalah tersebut, serta hilangnya cetakan-cetakan dan mahalnya harga buku-buku yang menerangkan hal ini.

Oleh karena itu, saya merasa perlu untuk menghadapi mereka dan memberdayakan Anda untuk bersama-sama mengungkap kebohongan mereka dengan memberikan bukti-bukti yang mendukung keyakinan anda dan mengungkap kebohongan mereka secara gambling sehingga anda dapat memahami perilaku mereka dan memperkuat keyakinan anda sendiri seperti yang disebutkan di dalam kitab suci Al-Quran dan tertuang di dalam penjelasan Nabi Muhammad saw.

Dan apa yang mereka sebarkan sekarang ini mengacu pada kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang apa yang tertulis di dalam Kitab Allah dan apa yang disebutkan para ulama dalam tafsir-tafsirnya, serta apa yang tertuang di dalam sunnah Nabi saw, juga apa yang dijelaskan oleh para ulama dalam hukum hadits yang membuktikan hal tersebut, serta apa yang ada dalam kitab-kitab akidah dan disebutkan oleh para penganut aliran dan madzhab Islam yang berbeda-beda dalam menerima informasi tersebut.

Tatkala berita kedatangan Isa asdi akhir zaman, kemunculan Dajjal, dan munculnya Yajuj dan Majuj telah ditetapkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, maka semua mazhab/aliran teologi islam sepakat akan kebenarannya karena hal itu termasuk dalam hal-hal yang didengar (samiyyat) dan tidak dapat dipahami oleh akal belaka, serta bukan termasuk dalam masalah-masalah yang diperdebatkan di antara mazhab-mazhab teologi, karena tidak ada penolakan dari mereka terhadap masalah.

Dengan membaca buku penelitian ini, Anda akan melihat sendiri kebenaran kesepakatan semua aliran teologi mengenai semua masalah tersebut di atas.

Penelitian mengenai masalah teologis ini memerlukan studi yang komprehensif dan mendalam mengenai tiga dasar:

  1. Al-Quran Al-Karim beserta tafsirnya
  2. Hadits Nabi saw dan penjelasan kemutawatirannya mengenai masalah-masalah yang bersifat samiyyat dan tidak ada cara untuk membuktikannya atau menyangkalnya kecuali melalui teks (naskah Qiran Hadist).
  3. Buku-buku ilmu kalam (theological literature) yang memuat masalah samiyyat yang tidak mungkin bertentangan dengan sumber-sumbernya baik Al-Qur'an maupun Sunnah, karena para pengikut aliran madzhab teologi islam, terlepas dari perbedaan kelompok mereka, percaya penuh kepada kitab Allah ta’ala dan Sunnah Nabi saw, dan tidak terima jika sabda (perkataan) Nabi Muhammad bin Abdullah, Rasulullah saw, yang diwahyukan kepada beliau diposisikan di atas pemikiran-pemikiran yang lain.

Kami memohon kepada Allah SWT untuk kami dan seluruh umat Islam agar dilindungi dan dijaga dari kesesatan dalam agama dan dunia kami, dan agar kami termasuk orang-orang yang mengikuti Sunnah Nabi, mematuhi, menyebarkan, dan menjelaskan keyakinannya sesuai dengan apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah ta’ala:

﴿ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴾ سورة الحشر : الآية 7

Dan Allah adalah penentu kesuksesan, dan Dia adalah Tuhan yang Maha Baik dan Penolong yang Maha Baik. (QS Al-Hasyr : 7)

Act of God : Al-Qadha' (Fate) and Al-Qadar (Destiny)

Act of God : Al-Qadha' (Fate) and Al-Qadar (Destiny)

Praise be to Allah, The Lord of the worlds, glory be to Him. He has created everything and decreed everything for it. He says,

Indeed, We have created all things according to a measure. [Al Qamar 49]

So, “Al Qadaa'” (Literally: Judgment) is the concern of Allah's Will with all things eternally and everlastingly according to His Knowledge. It is one of Allah's Self Attributes, whereas Al Qadar (destiny) means that Allah brings things into being in a specific amount and a specific way according to Allah's Will. So, it is one of the Attributes of Actions. Then, Al Qadaa' is eternal while Al Qadar is casual and incidental

You should know that there is consensus among scholars that believing in Al Qadaa' and Al Qadar is a must. We should also believe that Allah's Knowledge and Will are concerned with all things eternally and everlastingly. His Ability is concerned with all things everlastingly according to His eternal Knowledge and His Eternal Will. Nothing ever happens, either good or bad, but by His Ability and His Will according to His Knowledge.

The meaning of Al Qadaa’ and Al Qadar is large enough to include also the world of the unseen. It also includes distributing talents among creatures, all the hardships and the trials which may occur to us; either good or bad and which our minds can not perceive.

We should know that there is a great distance between slaves’ knowledge and Allah’s Knowledge, Which is connected with the eternal and the everlasting, endless things. So, Al Qadaa’ and Al Qadar are two puzzles, which have perplexed man all over history because he wants to know the causes and the targets of the things that happen upon him. But how can he know such things and he is so imperfect while his Lord is so Perfect, All-Knowledgeable and All-Able?

No doubt that man’s mind can not perceive the essence or the reality of all the things, even the material things, because its abilities are so limited, For example, we don’t know many of the things which happen inside our bodies. Up to now, we don’t have full knowledge of how our organs and our cells are benefitted with food or how every organ carries out its job. Then, how do we want to know the immaterial hidden things such as the world of the unseen, Al Qadaa’ and Al Qadar?

We invite our reader to consider the following Holy Verses carefully:

﴿مَّا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ﴾ سورة لقمان: ٢٨

Your creation and your resurrection are but as a single soul. Allah is the Hearer, the Seer. [Luqman 28]

So, it is so easy for Him to create all of them, to see what all of them do and hear what they say. It is the same easiness, with which He creates, sees and hears one of them.

When He wills a thing, His command is to say to it 'Be', and it is! [Yaseen 82]

And Our Order is but one word like the flashing of an eye. [Al Qamar 50]

As to Almighty Allah, there are no time borders; there is no hour, no day, nor a flashing of an eye but He addresses us in this way as to make the meaning within our reach.

He, who gets to know Almighty Allah, must realize His Loftiness and His Sublimity. So, he mustn’t crave after knowing His secrets. He mustn’t ask Him: why did You do so and so? You are not speaking to your friend, or even your governor, who is, after all, a man like you. Allah, glory be to Him, is not your peer. He is your Lord and you are His slave. And to be a sincere slave, you must devote yourself to Him and surrender to Him in whatsoever He does, fully satisfied with what He does.

Don’t be like those secularists or atheists who say that God is not just to His slaves when He decrees for them without their satisfaction. Their claim is null and void because the relation between people is not the same relation between man and God, Who knows so well what is good to His slave and decrees it for him. The slave doesn’t know what is good or what is bad for himself. He even doesn’t have the ability to know it. And don’t forget that Almighty Allah forbade injustice to Himself; so, He is never unjust to us.

Muslim narrated from Abu Huraira, may Allah be pleased with him, that the Prophet’s Companions, may Allah be pleased with them, were alarmed when this Verse was revealed,

To Allah belongs all that is in the heavens and the earth. Whether you reveal what is in your hearts or hide it Allah will bring you to account for it. He will forgive whom He will and punish whom He will; He has power over all things. [Al Baqara 284]

They hurried to the Messenger of Allah (Prayers and peace be upon him). They knelt to their knees and said that Allah has over burdened them with that which they can not bear because He will set them into account for their hidden thoughts, which they can not take control of. The Messenger of Allah (Prayers and peace be upon him) said, “Do you want to say as the people of the Two Books (The Torah and the Bible) have said: we hear and disobey? Instead, say: we hear and obey. Our Lord! We ask for Your forgiveness and to You is our destiny.” He means to tell them to be true slaves and surrender to Allah in whatsoever He does. When they declared their satisfaction and submitted to Him, Allah bestowed His mercy upon them and revealed to His Messenger the following two Verses,

﴿آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ ﴾ سورة البقرة : ٢٨٥

The Messenger believes in what has been sent down to him from His Lord, and so do the believers. Each believes in Allah and His Angels, His Books, and His Messengers, we do not differentiate between any one of His Messengers. They say: 'We hear and obey. (We ask) Your forgiveness Lord, and to You is the arrival.[Al Baqara 285]

Allah charges no soul except to its capacity. For it is what it has earned, and against it what it has gained. 'Our Lord, do not take us to account if we have forgotten, or made a mistake. Our Lord, do not burden us with a load as You have burdened those before us. Our Lord, do not over burden us with more than we can bear. And pardon us, and forgive us, and have mercy on us. You are our Guide, so give us victory over the nation, the unbelievers.' [Al Baqara 286]

Thus, a true slave must fashion himself to be satisfied with what Allah does to him so that Allah will have His mercy upon him and forgives him his mistakes.

SOURCES:
Al Qadaa’ And Al Qadar (Questions & Answers) By Counselor Dr. Mohammad Najm Addin Al Kordy, First Edition, 1440 a.h. / 2019 AD, Translation: Taha Ibrahim Badr