Rabu, 10 Desember 2025

Mengenal Psikoterapi Perspektif Islam dan Barat

Bagaimana menjelaskan keterkaitan psikoterapi antara Islam dan Barat dalam paradigma integrasi keduanya? Bagaimana mendudukan posisi psikoterapi dalam konsep integratif Islam dan Sain yang selama beberapa dekade ini menjadi waca akademik yang sangat populer. Seorang Psikoterpis muslim, Muhammad Abdul Fattah el-Mahdi, dalam mukadimah buku "العلاج النفسي في ضوء الاسلام" (Psikoterapi dalam Perspektif Islam) berusaha mempertegas posisi keilmuan ini; beliau mengatakan :

Sejenak, saat akan menulis buku ini, saya berpikir bahwa maksud penulisan buku ini adalah agar bisa dibaca oleh rekan-rekan dokter dan para terapis, karena pembicaraan tentang psiko-terapi biasanya tidak dipahami oleh sebagian orang (baik orang awam maupun ahli) .

Bahkan para spesialis pun mengalami kesulitan yang sangat besar pada awal mempelajari masalah psiko-terapi ini, tetapi ketika saya menyelesaikan buku ini dan membacanya kembali lebih seksama, saya menemukan bahwa orang biasa/awam sebenarnya dapat membaca, memahami, dan memanfaatkan ilmu ini secara baik, terutama jika mereka adalah pasien-pasien (klien) kita yang sedang menderita gangguan-gangguan psikoligis karena penyakit mereka dan menderita lagi dan lagi sebagai seorang terapis, tatkala kita mencoba mengobati klien-klien dengan menggunakan filosofi dan nilai-nilai Barat, sehingga baik seorang terapis ataupun para pasien/klien tampak asing bagi diri mereka sendiri, bahkan terkesan asing juga bagi sebagian yang lain, termasuk asing bagi masyarakat umum .

Teknik-teknik terapis menambah ketajaman terhadap ekspresi situasi ini, kita terbiasa melihat para psikiater sebagai sosok asing yang hanya mengucapkan kata-kata yang tidak dapat dipahami dan berperilaku konyol sehingga orang-orang cenderung menertawakannya... Meskipun teknik-teknik terapis terlalu dilebih-lebihkan dan terlalu dikagumi seperti yang biasa terjadi, tetapi sikap kekaguman ini memiliki latar belakang dan motif yang bersumber dari keasingan prinsip-prinsip, pernyataan, persepsi, dan praktik psikologi Barat dalam masyarakat kita .

Sebenarnya, kami tidak bisa mengingkari — dan tidak bisa menyangkal — hal-hal positif dari psikologi Barat dalam beberapa aspek eksperimental dan klinis yang beragam dan sangat bermanfaat. Namun, ketika menyangkut persepsi tentang manusia, kehidupan, dan alam semesta, psikologi Barat menjauhi persona kita dan pada akhirnya menjadi asing bagi kita (meskipun awalnya masuk akal/rasional), karena sebagian besar konsep psikologi Barat muncul sebagai reaksi terhadap kondisi regional, agama, dan sekte/madzhab yang sulit yang mereka alami, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita.

Kembali ke masalah yang saya sebutkan sebelumnya, setelah saya menyelesaikan buku ini, saya merasa bahwa tidak sulit bagi pembaca awam memahaminya secara mudah karena saya menulisnya dalam bahasa kita sehari-hari dan melalui pandangan Islam kita yang murni dan sederhana. Dan saya juga menulis buku ini di tengah-tengah menjalani praktik sehari-hari dengan pasien-pasien yang saya tangani dan temani lebih sering daripada keluarga saya sendiri, menderita bersama mereka serta mengalami kesulitan dalam menghadapi penyakit jiwa yang mereka...

Artinya, saya menulis buku ini seakan tangan ini di atas bara api, seperti yang mereka katakan... Saya menulisnya di tengah-tengah tragedi psikologis, bukan sambil duduk di ruangan yang sepi di atas meja yang nyaman. Sebenarnya, menulis bukanlah profesi yang saya kuasai karena saya adalah seorang psikiater yang lebih suka bekerja secara langsung bergaul dengan pasien-pasien yang menderita penyakit jiwa. Oleh karena itu, saya berharap orang lain yang menulis tentang topik ini, dan jumlah mereka banyak, tetapi mereka menundanya karena takut membahas topik penting ini dengan tingkat yang lebih rendah dari yang seharusnya, terutama karena psikiater Barat, meskipun pemikirannya sedikit menyimpang, yang menyajikan tulisan dengan teratur/sistematis, akurat, dan mengagumkan, ketika kita menulis dari sudut pandang Islam, itu harus sesuai dengan keagungan Islam.

Ini memang benar, tapi sampai kapan kita akan menunggu dan menunda? Sampai identitas kita hilang di tengah banyaknya isu-isu yang dilontarkan kepada kita setiap saat? Jika kita bisa melakukannya, lalu bagaimana dengan pasien-pasien kita yang malang yang dirawat menggunakan bahasa yang bukan bahasa mereka, dengan konsep agama yang bukan agama mereka, dan gagasan serta keyakinan yang bertentangan dengan gagasan dan keyakinan mereka? Psikoterapi bukanlah hal besar yang bersifat ilmiah atau teori filosofis yang muluk-muluk, melainkan praktik sehari-hari yang nyata dengan sejumlah besar pasien/klien. Oleh karena itu, saya memohon pertolongan Allah dan mulai menulis tentang topik yang penting, berresiko, dan sulit di saat yang sama.

Dan saya nyatakan sejak awal bahwa upaya penulisan buku ini adalah usaha saya sendiri, jika saya berhasil, itu adalah sebuah kebaikan, dan jika ternyata saya salah atau terdapat kekurangan, maka itu adalah kesalahan saya, bukan kesalahan dalam metode ajaran Islam yang saya coba lihat dan ukur dengan standar keislaman. Saya juga menyatakan bahwa apa yang ada dalam buku ini hanyalah dasar dan awal dari pemikiran dan praktik yang mungkin akan ditambahkan dengan hal-hal lain di masa depan, dikembangkan atau bahkan diubah oleh orang lain. Tetapi saya harus mulai bekerja ke arah itu.

✼ ✼ ✼ ✼ ✼

Saya ingat bahwa sejak saya memulai bekerja di dunia psikiatri, saya berusaha keras menemukan format dan pendekatan Islam yang bisa diterapkan dalam profesi yang serius dan rumit ini... sebuah bentuk pendekatan yang menggabungkan identitas Islam dan identitas ilmiah (sains) medis pada saat yang sama...

Awalnya, saya mengalami kesulitan yang sangat besar dalam menerapkan ide-ide, konsep-konsep, dan persepsi-persepsi Barat yang selama ini saya pelajari dalam dunia psikiatri, karena ide-ide tersebut tumbuh dalam lingkungan yang anti-agama dan secara keseluruhan bersifat materialistis dan ateis. Terjadi dualisme yang sulit antara apa yang saya pelajari selama menempuh pendidikan dalam ilmu ini dengan keyakinan dan profesi saya.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait