Tentang sifat-sifat Allah, mereka sepakat bahwa Allah memiliki sifatsifat yang sejatinya bukan dengan jism, j awhar, maupun a' radh. Bukan pula dengan anggota tubuh atau bagian-bagian tertentu. Pun, bahwa sifatsifat itu bukanlah Dia atau lain-Nya, dan bahwa dinisbatkannya sifat itu kepada-Nya bukan karena Dia membutuhkannya. Makna yang sebenamya, menafikan kebalikan sifat itu dan menetapkannya ada pada-Nya.ladi, makna al:ilmu tidak semata menafikan Allah itu bodoh, atau makna alqudrah tidak semata menafikanAllahitu lemah, melainkan juga menetapkan bahwa Dia Berilmu dan Berkuasa. Mereka semua sepakat bahwa sifat-sifat itu tidaklah berubah-ubah, tidak pula serupa satu sama lain. |adi, ilmu Allah bukanlah kuasa-Nya, bukan pula seperti kuasa yang lain-Nya. Demikian pula sifat-sifat Allah yang lainnya. Selanjutnya, ia menuturkan perbedaan pandangan tentang kedatangan atau kehadiran (al-ityan wa an-nuzul). fumhur mereka mengatakan, "Itu sifat bagi-Nya, sebagaimana yang pantas disandangkan kepada-Nya, dan tidak diartikan melebihi yang disebutkan dalam Al-Qur'an maupun hadits. Adapun mengimaninya adalah wajib." Sebagian menakwilkannya sebagai berikut, "Al-i$an minhu (Dia datang) berarti Dia menyampaikan yang diinginkan kepadanya. Nuzuluhu ila asy-syay'i (turun pada sesuatu) berarti Dia menghadapinya. Qurbuhu (Dia mendekat) berarti kemuliaan dari-Nya. Bu'duhu (Dia menjauh) berarti kehinaan dari-Nya. Begitulah semua sifat-sifat mutasy abih."
Mereka sepakat bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah yang sebenarbenarnya. Al-Qur'an bukanlah makhluk, muhdats, dan bukan pulahuduts. Al-Qur'an terbaca oleh lisan kita, ditulis di mushaf-mushaf kita, terjaga di dada kita, dan tidak mengalami perubahan. Sebagaimana Allah bisa diketahui dengan hati kita, disebutkan oleh lisan kita, disembah di masjidmasjid kita, dan tidak mengalami perubahan. Mereka juga sepakat bahwa Dia bukanlah jisim, bukan jawhar (substansi dari sebuah wujud yang dapat mewujudkan dirinya sendiri tanpa bantuan wujud lain), dan bukan pula'ardh (accident yang tidak memiliki substansi wujud tersendiri, tetapi memerlukan wujud lain untuk mewujudkan dirinya).
Sementara itt, kalam (firman Allah) masih diperdebatkan. Sebagian besar mengatakan, kalam adalah sifat bagi Dzat Allah yang sama sekali tidak serupa dengan perkataan makhluk. Selain itu, tidak memiliki ma'iyah selain untuk penetapan.
Sebagian lain mengatakan, perkataan Allah itu merupakan perintatr, larangan, informasi, janji dan ancaman, serta kisah dan perumpamaan. Jumhur mereka sepakat bahwa Kalamullah tidak dengan huruf, suara, dan tidak pula dengan aksara. Akan tetapi, huruf, suara, dan aksara menunjukkan perkataan. Semua itu hanya milik yang memiliki alat dan anggota tubutu yaitu lisan dan bibir.
Namury ada pula yang mengatakan di antara mereka, bahwa perkataan Allah itu terdiri dari huruf dan suara. Menurut mereka, sebuah perkataan tidak akan dikenal kecuali mengandung unsur itu. Namun, mereka juga menegaskan bahwa perkataan semacam itu hanya milik Allah, tidak sama dengan perkataan makhluk-Nya.
Al-Kalabadzi berkata, "Ketika Allah ditetapkan qadim (eternal), tidak seperti makhluk, maka begitu pula sifat-Nya tidak seperti sifat makhluk. Semua Al-Qur'an yang bukanlah Kalamullah tergolong muhdats dan makhluk."
Sementara itu, terkait masalah ru'yah (apakah Allah bisa dilihat), mereka sepakat bahwa Allah bisa dilihat dengan mata di akhirat. Akan tetapi, Dia hanya bisa dilihat oleh orang-orang beriman, tidak oleh oranSorang kafir. Adapun di dunia, Allah tidak bisa dilihat dengan mata, tidak pula dengan hati, kecuali dari sisi keyakinan. Terlebih Allah juga menegaskan bahwa Dia bisa dilihat di akhirat, tidak di dunia. Maka, pada akhirnya harus diyakini sebagaimana yang diberitahukan Allah
Selain itu, mereka juga sepakat bahwa Allahlah yang menciptakan semua perbuatan hamba-Nya, sebagaimana Dia pulalah yang menciptakan mereka. |adi, segala yang mereka perbuat, baik dan buruk, adalah takdir dan kehendak Allah. Mereka sepakat bahwa hamba tidak akan bernapas, tidak akan mengerdipkan mata, dan tidak akan bergerak, kecuali dengan kekuatan yang diciptakan Allah pada mereka. Dengan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang diciptakan oleh-Nya. Dary mereka sepakat bahwa hamba-hamba Allah memiliki iktisab (usaha), sehingga perbuatannya akan diganjar dengan pahala atau siksa. Iktisab di sini bermakna melakukan sesuatu dengan kekuatan yang diciptakan untuk mendapatkan manfaat atau menghindari bahaya. Dan, mereka juga sepakat bahwa para hamba Allah memiliki kebebasan memilih (ikhtiyar) untuk berusaha. Mereka tidaklah dipaksa.
Mereka pun sepakat bahwa Allah berbuat apa saja yang dikehendaki terhadap hamba-Nya, dan menentukan hukum apapun yang diinginkan buat mereka, baik mengandung maslahat buat mereka maupun tidak. Sebab, makhluk adalah ciptaan-Nya. Dia tidak ditanya tentang yang diperbuatNya, tetapi justru para hamba-Nya-lah yang akan ditanya tentang yang mereka perbuat. Semua yang diperbuat Allah pada hamba-Nya merupakan bentuk ihsan (kebaikan) dari-Nya. Kalaupun Dia tidak melakukan hal itu, boleh-boleh saja. Jadi, masalah pahala dan siksa bukan karena keberhakan, melainkan karena kehendak, keutamaary dan keadilan Allah. Andaikata Allah menyiksa seluruh yang ada di alam semesta ini, Dia tidaklah berlaku zalim pada mereka. Andaikata Dia memasukkan seluruh orang kafir ke surga, itu tidak mustahil bagi-Nya. Akan tetapi, Dia telah mengabarkan bahwa orang-orang yang beriman akan mendapatkan nikmat, sedangkan orang-orangyang kafir akan mendapatkan azab. Maka, itu wajib terjadi. Sebab, Allah tidak dusta. Mahasuci Allah dari sifat seperti itu.
Selain ifu, mereka sepakat bahwa ancamzrn mutlak untuk orang-orang kafir, sedangkan janji mutlak untuk orang-orang beriman. Maka sebagian mengatakan, dosa kecil akan diampuni dengan menjauhi dosa besar. Tetapi, ada juga yang mengatakary dosa kecil dan dosa besar sama-sama akan dikenakan hukuman. Dan, dosa kecil maupun dosa besar sama-sama memungkinkan untuk diampuni dengan kehendak dan syafaat Allah.
ari pengamatan yang cepat ini terlihat jelas kebenaran yang kami isyaratkary bahwa siapa saja di antara mereka yang menekuni ilmu kalam, mereka berpegang pada Madzhab Ahlu Sunnah wal jamaah. Dary secara umum, mereka merujuk pada cara-cara salaf dalam menerima kepercayaankepercayaan semacam ini secara langsung dari Al-Qur'an dan Sunnah
Di antara pernyataan penting yang dinukil Abu Al-Qasim Al-Qusyairi dalam Risal ah-nya: Al-Husaini bin Manshur (Al-Halla) meniscayakan segala sesuatu ituhudust (baru). Sebab, yang qidam hanyalah Allah. Segala yang tampak sebagai jisim, ia pastr'ardh. segala yang terkumpulkan oleh alat, maka kekuatannya dalam genggaman-Nya. Segala yang dipersatukan oleh waktu, akan dipisahkan oteh waktu. segala yang ditegakkan oleh faktor lain, tidak akan pernah lepas dari darurat. Barangsiapa diam di tempat, ia akan tahu di mana' Dary barangsiapa memiliki jinsun (ienis)' ia akan mendesaknya bagaimana. sesungguhnya Allah tidak ada yang menaungi di atas-Nya, tidak ada yang berpijak di bawah-Nya, tidak ada batas yang menghadang-Nya, tidak ada yang mendesak-desak di samping-Nya, tidak ada yang mengambil dari belakang-Nya, tidak ada yang membatasi-Nya di depan, tidak ada yang memunculkan-Nya sebelum-Nyu, tidak ada yang menafikan-Nya sesudah-Nya, tidak dikumpulkan oleh semua, tidak diadakan oleh kejadian, dan tidak ditiadakan oleh bukan. Tidak ada sifat yang serupa dengan sifat-Nya, tidak ada cacat dalam perbuatan-Nya, dan tidak ada batas waktu dalam keadaan-Nya. Mahasuci Allah dari segala keadaan makhluk-Nya. Dia tidak memiliki sifat makhluk-Nya, dan perbuatan-Nya tak ada yang harus diperbaiki. Dia berbeda dengan mereka melalui sifat etemal-Nya, dan mereka berbeda dengan-Nya melalui sif.at huduts mereka. Jika Anda tanyakan kapary maka keberadaan-Nya telah mendahului keberadaan waktu. )ika Anda tanyakan di mana, maka keberadaan-Nya telah mendahului keberadaan tempat. jika Anda katakan huwa (Dia), maka sesungguhnya huruf ha' dan waw itu adalah ciptaanNya. Huruf adalah tanda-tanda kebesaran-Nyu, keberadaan-Nya adalah penegasan-Nyu, makrifat-Nya adalah menauhidkan-Nya, dan tauhid membedakan-Nya dengan makhluk-Nya. Yang terbetik dalam benak Anda, berbeda dengan-Nya. Bagaimana Dia datang dan kembali, tidak seperti yang terlihat atau dibayangkan. Mendekat-Nya adalah kemuliaan, menjauh-Nya adalah kehinaan. Dia meninggi tanpa bertoPang, dan datang tanpa berpindah. Dialah Yang Pertama, Yang Terakhir, Yang Lahir dan Yang Batin, Yang Dekat danYanglauh. Tiada sesuatu aPaPunyang seruPa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat'
Dalam Ta'arruf-nya, Al-Kalabadzi menukil pernyataan senada, hanya sedikit berbeda dalam ungkapan dan pemilihan kata. Akan tetapi, dalam pernyataannya, ia menisbatkan pada beberapa tokoh besar. Jika penukilan risalah itu benar, ini menjadi bukti kuat bahwa pemyataan-pemyataan yang dinisbatkan pada kelompok ini, seperti hulul, ittihnd, wihdat al-wuiud, atau istilah senada lainnya, bersumber dari niat buruk, atau pemahaman yang keliru dari mereka yang melontarkan pernyataan itu.
Apapun itu, masalah terpenting yang mereka bicarakan adalah menyangkut tauhid
Inilah pondasi utama Islam. Pada akhirnya, pernyataan merekasebagaimana dinilai oleh Abu Al-UIa Afifi-merujuk pada pernyataan Al-Junaid, "Memisahkan yang qidam (eternal) dariyanghuduts (baru). Jika kita memisahkan sifatDzat yang eternal dari makhluk yang baru, berarti kita telah menauhidkan-Nya."
Sufisme tidak hanya condong pada makna ini, sebagaimana tertuan! dalam kalimat-kalimat terminologis yang banyak memenuhi buku-buku teolog kalam dan dipelajari mayoritas muslim, melainkan juga ingin menjalani kehidupan langsung bersama hakikat makna ini -yang mereka kenali dengan pemikiran dan keimanan- juga merasakan langsung oleh segenap perasaan mereka. Jika kembali pada perasaannya sendiri, mereka tersiksa dan didera kerinduan pada saat-saat yang membahagiakan, yang mengeluarkan mereka dari himpitan jiwa dan raga pada keluasan haribaan Tuhan yang absolut.
Menurut Sufisme, tauhid itu mengenali keesaan Allah yang telah ditetapkan sejak azali dan selamanya, yaitu dengan hanya menghadirkan Yang Maha Esa dalam setiap bukti keberadaan-Nya. Bukti-bukti itu mereka sebutfana'.
Abu Al-Qasim Al-Qusyairi berbicar atentangfana' dalam risal dltrrya,"t32o, Barangsiapa meninggalkan perbuatan tercela atas dasar syariat, maka ia disebut telah menyingkirkan syahwatnya. Barangsiapa menyingkirkan syahwatnya, tinggallah niat dan keikhlasan dalam beribadah kepadaNya. Dan, barangsiapa berzuhud dari dunia dengan hatinya, maka ia disebut telah menyingkirkan keinginannya. Barangsiapa menyingkirkan keinginannya terhadap dunia, tinggallah ketulusan taubatnya. Barangsiapa memperbaiki akhlaknya, lalu menghilangkan sifat iri, dengki, kikir, rakus, amarah, sombong, dan sebagainya, maka ia disebut telah menyingkirkan akhlak yang buruk. Jika ia telah merusak akhlak yang buruk, tinggallah keluhuran dan kejujuran. Dan, barangsiapa melihat kekuasaan Allah pada setiap pergantian, berarti ia telah menyingkirkan anggapan bahwa segala yang terjadi itu berasal dari makhluk. Barangsiapa menyingkirkan anggapan segala sesuatu bersumber dari selain AllatU tinggallah sifat-sifat kebenaran' Barangsiapa dikuasai kebenaran sehingga tidak melihat sesuatu dari selain Allah, berarti ia telah menyingkirkan ketakutan terhadap makhluk, dan tinggallah kebenaran. Pengrusakan terhadap dirinya dan makhluk lain, adalah dengan menghilangkan perasaan terhadap dirinya sendiri dan mereka. ]ika ia telah menyingkirkan perbuatan, akhlak, dan keadaarL maka yang dirusaknya itu tidak boleh ada. Namun, jika dibilang ia merusak dirinya sendiri dan makhluk yang lain, maka dirinya tetap ada, begrt" pula makNuk yang lairy tetapi ia tidak memiliki ilmu tentang dirinya dan mereka. Tidak pula perasaan dan informasi. Tahapan dalam macam-macam kerusakan (fana)ini pada akhimya tidak dimaksudkan kerusakan selain Allah di luar, melainkan kerusakan mereka dari kesaksian pada selain-Nya, karena mereka tenggelam dalam kesaksian hanya kepada Allah semata
Terkadang dari orang-orang yang mengalami keadaan seperti ini terungkap pemyataan yang menggambarkan ketersembunyian dirinya dengan kata-kata yang dipersepsikan oleh pendengarnya bahwa ia membicarakan dirinya dan menisbatkan sifat-sifat Tuhan yang tidak patut dinisbatkan kepada manusia. Sebenamya bukan itu maksudnya. Sebab, dirinya sendiri lryafana" Andaikata dikonfirmasi kepadanya, ia akan membantah. Nah, di balik pemyataan seperti ini kadang disinyalir telah di-back up olehkelompok yang meyakini tentang al-hulul, al-ittihnd, dan atau wihdat al-tuuiud, terutama oleh kaum orientalis yang tidak menguasai ruh bahasa Arab'
Abu Al-Ula Afifi telah memberikan komentar dengan baik tentang kemungkinan ini. Ia berkata,1321 /'As-Sirai dan Al-Qusyairi sudah samasama tahu probabilitas perpindahan dari deskripsi keadaan fana' oleh Sufisme pada peletakan teori metafisik dalam tabiat wujud, seperti teori hulul (reinkarnasi), mazj (pencampuran), wihdat al-wujud (kesatuan wujud), dan sebagainya. Atau, perpindahan dari pernyataan sufi, 'Aku berada dalam keadaan tertentu, yaitu keadaan cinta atau fana', sehingga tidak ada perasaan dalam diriku selain kepada Allah-atau dengan kata lain, aku tidak menyaksikan selain Allah,' pada pernyataan,'Tidak ada mawjud (entitas) selain Allah.' Perpindahan seperti ini terbilang alamiah. Kemungkinan terjadi seperti itu sangat besar. Akan tetapi, bukan perpindahan yang logis.
Sesungguhnya seorang Sufi boleh merasakan apa saja dan mengungkapkannya sesuka hati, sedangkan kita boleh mempercayai atau tidak ungkapan perasaannya. Namun, ia tidak boleh membangun teori metaifisk tentang tabiat wujud di atas perasaan ini. Sebab, perasaan bukanlah salah satu macam ilmu. Tidaklah dibenarkan membangun teori tentang tabiat wujud, sementara ia juga wujud. Jadi, harus dibedakan secara gamblang antaruwihdat asy-syuhud (satu kesaksian) dengan wihdat al-wujud (kesatuan entitas), juga antara pengalaman wihdat asy-syuhu d dengan teori wihdat al-wuj ud.
Barangkali kerancuan di antara dua kesatuaninilahyangmemicu para peneliti tasawuf Islam dari kalangan orientalis untuk mengatakan bahwa wihdat al-wujud adalah konsepsi dasar yang menguasai seluruh tasawuf ini. Padahal, pemyataan ini jauh panggang dari api."
Dalam buku Madkhal ila At- -Tashauxtuf,1322 Abu Al-Wafa Al4hanimi At-Tiftazani Rahimahullah menukil pernyataan Nixon dalam buku Sejarah Tasawuf Islam, "Bukan Al-Ghazali yang seorang 'teolog kalam', bukan pula Jalaluddin yang seortrng 'penyair', yang mengatakan wihdat al-wujud. Mungkin beberapa dari kalian yang membaca Syamsu Tabiz, karya Jalaluddin Rumi, tidak sependapat denganku dalam hal ini. Sebab, buku itu memuat beberapa kasidah |alaluddin Rumi yang menggambarkan hubungannya dengan Allah melalui ungkapan-ungkapan yang bernadakan wihdat alwujud. Aku sendiri memahami ungkapan-ungkapan tersebut seperti itu, ketika pengetahuanku tentang sejarah tasawuf tidak seperti sekarang. Akan tetapi, aku baru tahu dari pemyataan Ibnu Al-Faridh bahwa ketika seorang Sufi mencapai maqam al-ittihad as-shufl maka dirinya akan di-fana'-karr.Ia bakal merasakan identitasnya adalah identitas al-wujud asy-syamil (entitas universal), yaitu Allah. Begitulah |alaluddin Ar-Rumi berpandangan bahwa matanya adalah mata segala sesuatu, maka ia mengatakan,'Akulah dedengkot pencuri... akulah awan, akulah hujan, dan akulah yang membasahi kebun-kebun yang hijau."
Akan tetapi, keyakinan terhadap al-wuiud asy-syamil tidak lantas meniscayakan keyakinan terhadap wihdat al-wuj ud y ang rnengatakan segala sesuatu itu adalah Allah. Atau, bahwa Allah adalah mata segala sesuatu.
Ini fair. Jika kita ajukan ke hakim-sebelum penyidikan-seorang tertuduh, kemudian diputus bebas, berarti kita telah menghinakan kemuliaan dan nama baiknya.
Ada kelompok yang diduga sufisme menerapkan pola sufisme dalam olah jiwa, tetapi tidak memiliki pengetahuan syariat yang memadai. Alihalih, mereka menjadikannya topik kajian pemikiran sesuai metodologi filsafat. Adakalanya dari situ mereka membangun aliran filsafat. Inilah yang tidak sesuai dengan dasar-dasar manhaj Sufisme. Sebagian orang menyebutnya filsafat-sufisme. Metodologinya mereka nisbatkan kepada tasawuf, lalu mengklaimnya sebagai tasawuf filosofis. Namun, sebagian lagi menyebutnya filsafat iluminisme. Dan, para penganutnya disebut filsuf iluminis.
Abu Al-wafa Al-Ghanimi At-Tiftazani n:v, berkata dalam Madkhal ila At -Tashawwuf Al-Islami,l323 "Yang dimaksud tasawuf filosofis adalah tasawuf yang membiarkan pengikutnya mencampur-adukkan antara citarasa sufisme mereka dengan teori-teori logika, yang dideskripsikan dengan terminologiterminologi filsafat yang didapat dari banyak sumber..."
Jika tasawuf semacam ini tercampur dengan filsafat, ada kemungkinan telah disusupi filsafat-filsafat asing, baik Yunani, Persia, India, mauPun Kristen. Meskipun begitu, tidak akan menafikan orisinalitasnya. Sebab, sufismenya menjadi model bagi peradaban-peradaban ini. Pada saat yang bersamaan, menjaga kebebasan mereka untuk bermadzhab sebagai muslim.
Ada karakter umum yang melekat pada tasawuf filosofis, yaitu tasawuf yang tidak jelas; memiliki bahasa terminologis tersendiri, dan untuk memahami masalah-masalahnya butuh usaha ekstra yang tidak biasa. Tasawuf filosofis ini tidak mungkin dikategorikan filsafat, karena dibangun di atas dzawq (perasaan). sebaliknya, tidak mungkin pula dikategorikan tasawuf mumi, karena berbeda dengan tasawuf murni yang sesungguhnya, terutama karena ia dideskripsikan dengan bahasa filsafat.
Lantas, bagaimana?! Bisa dibilang, tidak ada yang menghalangi kita untuk menggolongkannya pada filsafat, kendati dibangun di atas inspirasi iluminisme-sebagaimana mereka katakan- terlebih karena mereka mempelajari mayoritas filsafat terdahulu, seperti pemikiran socrates, Plato, Arestoteles, stoicisme, dan neo platoisme. Selain itu, mereka juga mengetahui aliran-aliran syiah, termasuk yang ekstrem, dan risalah lkhwanu Ash-Shafa. Mereka mengumpulkan ilmu-ilmu syariah mereka, mulai dari fikih, tafsir, dan kalam, kemudian mereka keluarkan sebuah komposisi yang terdiri dari kesaksian dan iluminasi mereka selama menjalani olah jiwa.
arangkali yang kami nukil dari Kasyf Azh-Zhunun yang ditulis oleh Haji Khalifah memperjelas perbedaan antara filsafat iluminisme dengan filsafat Sufisme. Menurutnya, mengenali Sang Pencipta berikut sifat-sifatNya yang sempurna, juga mengenali asal muasal dan tempat kembali manusia, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan kebahagiaan besar. Selanjutnya, ia menjelaskan, cara untuk menggapai makrifat atau pengetahuan ini dapat ditempuh melalui dua jalan:
Pertama, cara yang ditempuh para pemikir dan penganut metodologi deduksi. Jika mereka mewajibkan agama nabi tertentu, berarti mereka teolog kalam. Tetapi, jika tidak, berarti mereka adalah filsuf Aristotelianisme.
Kedua, cara yang ditempuh para ahli olah jiwa; jika mereka sejalan dengan syariat, berarti mereka penganut Sufisme. Tetapi jika tidak, berarti mereka filsuf Aristotelianisme.
Para peneliti menyebutkan beberapa nama yang mereka nilai sebagai fisluf iluminis. As-Sahrawardi yang terbunuh menyebutkan beberapa satu tokoh utamanya, antara lain; Abu Al-Futuh Yahya bin Habsy bin Umairik yang bergelar Syihabuddin. Ia terbunuh di Halb (Aleppo) pada tahun 587 H/1191. M atas perintah Shalahuddin Al-Ayyubi. Dia bukanlah Abu AnNajib As-Sahrawardi (563 H/1168 M), bukan pula Abu Hafsh Umar bin Muhammad As-Sahrawardi (632H/1235 M) yang menulis buku Awarif Al-Ma'arif.
Menghadapi tulisan yang tidak jelas antara yang menggunakan pendekatan Sufisme dengan yang menggunakan pendekatan filsafat Aristotelianisme, kita harus berhati-hati supaya tidak timbul masalah. Terutama, ketika gaya bahasanya tidak jelas atau maksudnyabisa dipelintir, atau mengandung banyak probabilitas dan interpretasi. Bagi yang tidak menyelami hati mereka, gaya bahasa mereka terbilang asing. Penyebabnya, bisa karena susah mengungkapkan dengan baik dan benar tentang segala yang berhubungan dengan perasaan, atau terkadang juga karena keterbatasan bahasa, bahkan bisa pula karena ia tidak bisa dibuktikan. Akibatnya, kita bisa buru-buru menghukuminya menyuarakan al-ittihad atau al-hulul. Bisa pula, menghukuminya mengusung aliran tertentu tentang wihdat al-wuiud, tanpa mengkaji gaya bahasa, terminologi, dan arah pikirannya'
Menurut kami, muslim tidak akan mengatakan al-ittihad mauPun al-hulul. Sebab, keduanya bertentangan dengan akidah muslim dalam menyucikan Allah S6 secara mutlak dari sifat-sifat yang baru. Pury bahwa sesuatu yang baru tidak akan ada, kecuali atas kehendak dan kuasa Allah $6. Dan, Sufisme paling berhati-hati di dalam menyucikan-Nya'
Adapun wihdat al-wujud merupakan istilah yang sangat rancu dan memiliki banyak orientasi. Istilah ini bisa dimaknai bahwa Dzat Tuhan adalah inti dari segala yang ada di alam semesta('ayn al-mawjudatfial-alam). Ini jauh sekali dari pemikiran para Sufi, seperti halnya al-hulul danittihad. Selain itu, bisa pula dimaknal bahwa alam semesta yang diciptakan Allah Yang Maha Esa ini merupakan satu ciptaan yang berada dalam kekuasaan Tuhan, dan di dalamnya berlaku sunnah-sunnahkauniyah-Nya. Allah dr berfirman, "Tidak ada sehelai daun pun yang guSur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapnn bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)" (Al-An,am : 59). Semua muslim tahu itu. selain itu, bisa juga dimaknai; Dialah entitas yang wajib dan benar (al-wujud al-wajib al-haqq), yaitu Allah. Dialah entitas substantif yangazali, tidak berbilangan, tidak berubah, dan tidak hilang. Sementara itu, keberadaan makhluk yang diciptakan dengan kekuasaan-Nya adalah wujud yang mungkin mengalami perubahan. Nah, ketika perasaan seseorang dipenuhi makna ini, adakalanya ia ingin mengungkapkannya, tetapi susah mencari ungkapan yang pas. Alhasil, yang keluar bersifat estimatif dan rancu, terlebih diucapkan saat ia fnna', sebelum kembali sadar. Pada saat seperti itu, tidaklah dibenarkan memegang keniscayaan-keniscayaan logikanya, katena tidak bersumber dari logika, melainkan dari perasaan yang tidak tentu. Dan, makna-makna logis yang ditentukan bukanlah yang dimaksudkan.
Terkait hal ini, Ibnu Khaldun berkata,l32arAdapun kata-kata estimatif yang dipakai untuk mengungkapkan sesuatu, maka ketahuilah bahwa sikap adil terhadap mereka, adalah bahwa mereka pelaku ghibah tentang indera. Apapun yang datang menguasai mereka, hingga mereka berbicara tidak seperti yang dimaksudkan. Dan, pelaku ghibah tidaklah mukhathab (dibebani), dan yang terpaksa dimaafkan. fika yang melakukan itu diketahui memiliki keutamaan dan keteladanan, maka diartikan tujuan yang baik. . . "
Para pemuka Sufisme telah menarik perhatian sebagian besar masyarakat Islam, karena mereka dinilai menjaga dan berpegang secara detil pada syariat, lahir dan batin, hingga terlihat di dalam akhlak dan interaksi sosial (muamalah) mereka. Selanjutnya, dari lisan mereka terlihat rahasia hikmatu mata makrifat, karakter yang berdekatan dan saling tarikmenarik, serta kecenderungan yang serupa dan saling melengkapi. Oleh karena itu, pada beberapa sufi besar kita lihat sekelompok murid yang ingin mempelajari hikmah, serta menjalani petunjuk dan arahan mereka. Ulama yang memberikan petunjuk dan arahan ini disebut Syaikh, sedangkan yang berguru kepadanya disebut al-muridun (yung menginginkan), dan manhaj mereka disebut tarekat. Yang pasti, tidak ada perbedaan tujuan di antara kelompok-kelompok yang berada di sekitar syaikh. Semua memiliki tujuan yang sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dc. Yang membedakan mereka hanyalah cara, baik tentang olah jiwa, berhias diri dengan akhlak mulia, mencapai kejujuran dan keikhlasan dalam perkataan dan perbuatary dan fokus terhadap beragam ibadah, zikir, dan wirid.
Orientasi yang benar di sini adalah orientasi akhlak. Akan tetapi, baru akan berbuah setelah sekian lama menjalani konsistensi dan ber-tahannuts. Buah yang dihasilkan terlihat dalam ungkapan dan isyarat mereka.
Akan tetapi, mereka sangat berhati-hati dalam mengungkapkan buah pengetahuan dari berpegang pada Kitabullah dan Sunnah ini. Keduanya adalah dasar segala kebaikan, mizansegalapengetahuan, perasaan, dan ilham
DR. ABDUL FATTAH ABDULLAH BARAKAH