Tidak sedikit orang mengidam-idamkan siang dan malam bertemu dengan Rsoulullah, Nabi Muhamad saw. Berbagai cara dan upaya pun dijalankan, amalan dan ritual apapun dipraktekkan hanya untuk mendapatkan tujuan yang satu ini. Ribuan, bahkan jutaan bilangan wirid dan dzikir yang dilakukan dengan berharap besar bisa melihat wajah Rasulullah saw. Apakah semuah itu?.. Ternyata tidak demikian. Dengan melakukan ritual secara menggebu-gebu dan nafsu, dikhawatirkan jika impian itu hanya menjadi ilusi belaka.
Nabi Muhamad saw tidak seenaknya saja bisa ditemui, kecuali Nabi Sendiri yang akan memilih siapa yang ingin ditemui, karena jika itu terjadi maka sudah jelas resiko dan tanggungjawab yang dipikul tidaklah kecil.
Berikut Kisah inspiratif yang dikisahkan Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd, dalam buku "Hakadza Takallama Ibn 'Arabi" dalam pembukaan buku ini beliau mencoba melatarbelakangi tulisannya dengan mengkisahkan sebuah pengalaman seorang tua yang mendapat pengalaman spiritual bertemu dengan Nabi Muhammad saw, bernama "Ammu Hasan". Bagaimana akhir dari kisah Ammu Hasan, perubahan apa yang dialami selama bersua dan berinteraksi bersma Nabi Muhammad dalam perjalanan ruhaninya...
Pada suatu ketika, Ammu Hasan mengunjungi saya namun dia tampak sangat bermasalah (merasa resah dan gundah), seolah-olah dia memikul beban kesedihan yang memuncak di pundaknya. Lalu saya bertanya kepadanya: Gimana kabarnya, baik-baik saja kah? Apa yang sedang terjadi sampai wajahmu nampak keresahan yang luar biasa, dan kelelahan fisik atau psikis seakan menyebabkan sakit parah? Akan tetapi Ammu Hasan tetap diam, dalam sikap diam yang sangat menyiksa.
Akhirnya Ammu Hasan memutuskan untuk mengungkap apa yang selama ini dirasakan. Berkatalah beliau, "Ini sebenarnya rahasia besar yang tidak bisa aku tahan lagi." Saya tahu, bahwa saya akan dihukum jika mengungkapkan rahasia itu, tetapi saya tidak bisa lagi mampu menahan rahasia ini lebih lama lagi.
Rasa cemas saya semakin memuncak dan saya menduga bahwa Ammu Hasan itu sangat menderit. Lalu, saya bertanya kepadanya: Ammu Hassan, bebaskan diri dari belenggu penderitaan ini dan cobalah ceritakan kepada saya, percayalah kepada saya, luapkan semua uneg-uneg yang selama ini mencekam hati anda, jadilan daya seperti putra kandung Anda? Ammu Hasan pun menjawab: Demi Allah, wahai Nasr, kamu lebih dari seorang anak bagiku dan yang paling aku cintai melebihi semua anak-anakku, kamu adalah putra dari anak orang yang kucintai – yaitu ayahmu – maka aku akan menceritakan rahasia yang menyiksa diriku dengan terus merahasiakannya selama ini.
Tak terasa air mata pun mulai bercucuran air mata Ammu Hasan, yang selama ini coba dihentikan dan disembunyikan tetapi akhirnya pun tetap tidak bisa. Kemudian dia mengumpulkan segenap kekuatan dan keberaniannya, dengan perasaan meledak-ledak beliau berkata: "Wahai anakku, Nasr!, sejatinya aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mimpi. Adik perempuanku (semoga Allah mengasihaninya) mendengar jeritan tangis yang menyeruak dari hati ini. Dengan penuh tanda Tanya Adikku menghampiriku dambil bertanya: “Gimana kabarnya, kak? Ada Apa gerangan?.
Aku (Nasr Hamid Abu Zaid) mencoba untuk menenangkan Ammu Hasan, mencoba mendekati beliau, tetapi dia tidak henti-henti bercerita, terus meratap dan bersemangat melanjutkan kisahnya: "Demi Allah, sungguh, aku telah melihat Rasulullah saw, dan aku terus berucap kepada beliau: Aku mencintaimu, wahai Rasulullah!, dan beliau menimpali ucapanku, dan berkata: Aku juga mencintaimu, wahai Hassan."
Saya (Nasr Abu Zaid) tidak tahu harus berkata apa-apa selain menggumamkan saja, meracau tanpa tahu artinya. Pada saat itu, kisah dari masalah ini sama sekali tidak dapat kupahami, walaupun saya sangat bersimpati yang tulus untuk Ammu Hassan.
Ammu Hasan bertahap mulai mereda setelah dia mengungkap semua rahasia yang selama ini mencekik, sebuah rahasia yang jikalau saya mengungkapannya akan menimbulkan bahaya, dan saya akan menerima hukuman dari sikapku ini.
Saya (Nasr) pun bertanya kepada Ammu Hasan: Hukuman seperti apa yang akan anda terima jika mengungkapkan mimpi ini kepadaku?. Dia pun menjawab: "Wahai anakku, aku takut bahwa Nabi Muhamad saw akan meninggalkan aku dan tidak lagi menampakkan diri kepadaku, dan apakah ada azab yang lebih berat dan menyiksa daripada ditinggal sosok yang selama ini aku cintai dengan sepenuh hati?".
Saya berusaha memahami situasi yang sama sekali baru bagi saya, dan mencoba meyakinkan Ammu Hassan bahwa Rasulullah saw tidak akan meninggalkannya.
Pada tahun yang sama, Ammu Hasan memutuskan untuk melakukan ziarah ke Tanah Suci, menyiapkan modal perjalanan ke Mekkah, beliau pun menjual sebidang tanah yang dia garap meskipun muncul berbagai tentangan dari putra-putranya dan mereka pun berusaha keras untuk mencegahnya.