Selasa, 04 Maret 2025

Mengenal Seluk Beluk Kaum Sufisme

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai sufisme (Ash-shufiyyah),berikut ini akan kami suguhkan beberapa pernyataan (statement) dalam buku-buku sufisme yang mengupas tasawuf dan beberapa buku yang membahas tentang sistematika ilmu dan metodologinya. Sebisa mungkin kami akan fokus pada yang ingin dijelaskan.

Abu Al-Qasim Al-Qusyairi (465 H/1073 M) berkata dalam risalahnya,l3ffi " Ketahuilah oleh kalian semua - semoga Allah merahmati kalian - bahwa umat Islam sepeninggal Rasulullah ffi tidak menyebut oran8-orang terkemuka dengan istilah tertentu selain "sahabat Rasulullah". sebab, tidak ada yang lebih baik dari sebutan itu. Mereka pun jamak dikenal sebagai "sahabal". Barangsiapa yang hidup pada generasi kedua dan bersahabat dengan para sahabat, disebut "tab7'in't'. Bagi mereka, itu adalah panggilan paling terhormat. selaniutnya, generasi berikutnya disebut " atba'ut tabi'in" (orang yang mengikuti tabi'in). setelah itu, umat mulai berbeda-beda hingga bermunculan banyak sebutan. Bagi golongan tertentu yang punya perhatian pada persoalan agama disebut" az-zuhnd" darr" al-ibad". selaniutnya, bid'ah bermunculary dan masing-masing kelompok saling mengklaim bahwa di dalam komunitasnya memiliki "az-zulxad". Maka, pengikut Ahlu Sunnah yang senantiasa memelihara diri mereka agar selalu bersama Allah dan menjaga hati mereka dari setiap yangmelalaikan disebut golongantasawuf. Istilah ini mulai terkenal oleh para pembesar pada 200 tahun sebelum hijrah'"

Abu Hafsh Umar As-Sahrawatdi (632H/1234 M) berkata dalam Awarif Al-Ma'arif,l307"Ketahuilah bahwa setiap keadaan yang baik' yang dinisbatkan kepada Sufisme dalam buku ini adalah keadaan yang dekat. Jadi, Sufi itu adalah orang yang mendekat (kepada Allah). Di dalam AlQur'an tidak ada sebutan Sufi. Bahkan, di belahan dunia Islam pun, baik di Timur maupun Barat, tidak ditemukan istilah ini bagi orang-oran gyang mendekat. Tetapi istilah ini dikenal di kalangan Al-Mutarassimin (orangorang yang meniru-niru) Betapa banyak orang-orang yang mendekat (almuqarrabun) di negeri Maghribi, Turkistary dan negeri Transoxiana (Maa Wara'a An-Nahr), tetapi karena tidak mengenakan baju Sufisme dan tidak berbantah-bantahan dalam berbicara, mereka tidak disebut Sufi.

Jadi, yang dimaksud dengan Sufisme adalah Al-Muqarrabun (Orangorang yang Mendekat). Seluruh syaikh Sufi menempuh jalan orang-orang yang mendekat. Ilmu mereka adalah ilmu tentang keadaan orang-orang yang mendekat. Barangsiapa menginginkan maqam orang-orang yang mendekat, sebelum diraih ia disebut Mutashawwif. Jika sudah diraih, barulah ia disebut Sufi. Adapun selain mereka yang mengenakan baju dan menisbatkan diri pada kaum Sufi, ia disebut mutasyabbih.

Sebuah sumber menyebutkary13o8 diceritakan dari Hasan Al-Bashri Rahimahullah bahwa ia berkata, "Aku melihat orang sufi sewaktu tawaf., lalu aku memberinya sesuatu, tetapi ia tidak menerimanya. Ia berkata, 'Aku,memiliki empat dawaniq, dan itu sudah cukup sebagai bekalku."' Senada dengan ini diriwayatkan dari Sufyan bahwa ia berkata, "Kalau bukan karena Hasyim yang seorang Sufi, aku tidak akan paham secara detil tentangiya' ." Hal ini menunjukkan bahwa istilah Sufi sudah dikenal sejak dulu. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa istilah ini sudah mulai dikenal sejak 200 tahun sebelum hijrah."

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (505-1111 M.) berkata dalam Kitab Al-Munqidz min Adh-Dhalal,130s'.\kt tahu pasti bahwa Sufisme adalah mereka yang menempuh jalan Allah secara khusus. Perjalanan hidup mereka adalah yang terbaik, dan jalan yang ditempuh mereka adalah yang paling benar, serta akhlak mereka adalah yang paling suci. Andai seluruh akal orang-orang pandai, hikmah orang-orangbljak, dan ilmu orang-orangyang mendalami rahasia syariat dikumpulkan untuk mengubah sedikit saja dari pola kehidupan dan akhlak mereka, lalu menggantinya dengan yang lebih baik, niscaya mereka tidak akan mampu. Sesungguhnya seluruh gerak dan diam mereka, lahir dan batin mereka, bersumber dari cahaya misykatkenabian. Dan, selain cahaya kenabian, tidak ada cahaya lain di dunia ini yang memberikan Penerangan"'

Dalam peng antar Taikh Al-Falsafah Al-Islamiyyah,l3'o syaikh Mushthafa lxbdrrtrr azzaq menukil Ka ryf Azh-Zhunun' an Asam Al-Kutub wa Al-F unun keu.ya Haji Khalifah (1067 H- 1656 M) dengan mengatakan, "Kebahagiaan terbesar dan tingkatan tertinggi ba$ An-Nafs An-Nathiqah (Jiwa yang Berbicara) adalah mengenali sang Pencipta berikut segala sifat kesempurnaan-Nya, serta menyucikan-Nya dari kekurangan. Termasuk juga pengaruh dan perbuatan yang bersumber dari-Nya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Singkat kata, mengenal permulaan dan tempat kembali

|alan menuju pengetahuan ini ada dua:

Pertama,jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang berpikir dan mencari pembuktian (Ahl an-nazhar wa al-istidlal)

Kedua, jalanyang ditempuh oleh oranS-orang yang menyukai latihan (ar-riyadhah) dan berusaha keras (mujahadah).

fika mereka yang menempuh jalan pertama berpegang teguh pada salah satu agama para Nabi, maka mereka menjadi al-mutakallimun (teolog). Tetapi jika tidak, mereka menjadi orang bijak yang nomaden (al-hukama' al-masysya'un)

sementara itu, jika mereka yang menempuh jalan kedua menyesuaikan latihannya dengan hukum-hukurn syara" maka mereka adalah kaum sufi. Jika tidak, mereka adalah or.rng-orang bijak iluminisme (al-hukama' al-israqiyyun);'

Abu Nahsr Abdullah bin Ali As-siraj (378-988 M.) berkata di dalam Al-Lam' bab fi Takhshish Ash-sltufiyyah min Thabaqat Ahl Al-llm fi Ma'anin Akhar min Al-11m,1311 /Sufisme juga memiliki ciri khusus yang diidentikkan oleh berbagai kalangan ahli ilmu dengan Penggunaan ayat Al-Qur'an yang dibaca dan hadits yang diriwayatkan. Tidak ada satu pun ayat yang menasakhnya, ttdak pula hadits atat atsar yang membatalkan hukumnya, yaitu menyerukan pada akhlak mulia, perbuatan yang mengandung keutamaan, kedudukan yang tinggi di dalam agama, yang disediakan khusus bagi sekelompok orang beriman. Itulah yang digandrungi oleh para sahabat dan tabiin dan salah satu adab dan akhlak Rasulullah ffi. Sebagai contoh, hakikat dan sifat taubat, derajat dan hak orang yang bertaubat, tentang wara' dan keadaan orang-orang yang u)Ara', tingkat orang bertawakal, kedudukan orang yang ridha, dan tingkatan orang yang sabar. Begitu pula dalam bab takut kepada Allah (khasyyah), tunduk, cinta, pengharapan, rindu, dan kesaks ian (al-musy ahadah)."

Selanjutnya ia berkata,l3T2,Takada yang membantah bahwa jika para ahli hadits menghadapi kesulitan dalam salah satu ilmu hadits, cacat hadits, atau pengenalan terhadap para perawinya, tidaklah hal itu dirujuk pada fuqaha. Begitu pula sebaliknya, jika fuqaha menghadapi sebuah persoalary tidaklah merujuk pada ahli hadits. Maka, siapapun yang menghadapi kesulitan tentang hati, warisan rahasia (mawarits al-asrar), dan interaksi hati, hendaknya merujuk pada yang alim di bidang tersebut. Selain itu, yang pernah menjalani keadaan itu, termasuk mengkaji ilmu dan detilnya. Barangsiapa melakukan selain itu, berarti ia telah keliru."

Abdurrahman bin Khaldun berkata dalam Muqaddimah-nya,7313tt Tasawuf merupakan ilmu syara'yang berbicara tentang agama dan asal usulnya. Pun bahwa cara yang ditempuh mereka masih sesuai dengan cara-cara pemuka umat dari kalangan sahabat dan tabiin, serta generasi sesudah mereka, yaitu jalan kebenaran dan hidayah. Sebenarnya, tasawuf itu adalah menekuni ibadah, berfokus kepada Allah, berpaling dari dunia dan perhiasannya, berzuhud terhadap segala yang diterimanya berupa kenikmatan, harta, dan jabatan, serta menjauh dari makhluk untuk beribadah. Hal semacam itu umum terjadi di kalangan sahabat dan kaum salaf. Ketika orang-orang mulai lebih memerhatikan dunia di abad kedua dan seterusnya, maka sekelompok orang yang lebih mengindahkan ibadah dicirikan dengan nama ash-shufiyyah (Sufisme) atau al-mutashawwifah (yu.g menjalani ajaran tasawuf).

Ketika beraneka ragam ilmu mulai ditulis dan dikodifikasi, para fuqaha menyusun kitab fikih dan ushul, termasuk juga ilmu kalam dan tafsir, tak ketinggalan orang-orang yang menekuni tarekat ini pun menulis sesuai jalan yang mereka tempuh..."

syaikh Abdul wahhab Asy-sya'rani berkata (973 - L565) dalam kitab Ath-Thabaqat Al-Kubra,1314 /Ilmu Tasawuf adalah ilmu yang terpancar di hati para wali ketika meminta penerangan untuk mengamalkan Kitabullah dan sunnah. Maka, setiap yang mengamalkan keduanya akan tersinari ilmu itu, adab, rahasia, dan hakikat yang tak terungkapkan oleh kata-kata. Jadi, tasawuf itu adalah inti dari pengamalan seorang hamba terhadap hukum-hukum syariat. Barangsiapa menjadikan tasawuf sebagai ilmu yang mandiri, ia benar. Barangsiapa menjadikannya sebagai bagian inti dari hukum syariah, ia juga benar. Namun, tak seorang pun akan mamPu merasakan bahwa tasawuf adalah cabang dari syariat itu sendiri, kecuali yang mendalami syariat sedalam-dalamnya."

Ahmad Amin Rahimahullah menyebutkan di dalam jilid keempat buku Zhahar Al-lslam,1315 sebagaimana diceritakan oleh para orientalis, yaitu bahwa ketika tasawuf lahir di abad kedua, belum ada organisasi yang menghimpun mereka. Tidak ada juga tempat khusus bagi mereka untuk mengaktualisasikan syiar-syiar mereka. Jadi, mereka baru sebatas individu yang terpisah-pisah. sebagian dari mereka ada yang mempunyai murid, tetapi mayoritas mereka berpindah-pindah, membaca Al-Qur'an danbanyakberdzikir kepada Allah. Pada fase ini, kami melihat Abu Yazid Al-Busthami banyak berbicara tentang berhubungan dengan Allah dan memikirkan-Nya. Ia memulainya dengan konsep yang di kemudian hari menjadi salah satu rukun Sufisme, yaitu konsepsif na' (tusakf tidak abadi) bagi Allah. Abu Yazid adalah seorang yang berkebangsaan Persia. Konsep fana'inisudah ada dalam agama Budha sejak dahulu, yang dalam istilah mereka disebut niwana.

Konsepfana' ini cukup terkenal dalam perbincangan mengenai sufisme. Ia memiliki beberapa tingkatan dan fenomen a. P ertama,perubahan normatif pada ruh, yang bersamaan dengan itu melepas keinginan dan syahwat Kedua, berpalingnya pikiran dari segala wujud kepada memikirkan Allah tanpa sadar.Dan, tingkatan terakhir, hilangnya nafsu seiring kebersamaan dengan Allah. Menurut As-Sariyy As-Suquthi, orang yang mencapai tingkatan ini tak akan merasakan apa-apa sekalipun wajahnya ditebas dengan pedang

Barangkali tasawuf juga dipengaruhi salah satu unsur Kristen. Ditemukan banyak "hadits" yang berbicara tentang perjumpaan beberapa Sufi dengan pendeta Kristen, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Mubrid dalamAsy-Syamil. Singkat cerita, dua pendeta datang dari Syamke Bashrah. Salah seorang dari mereka mengajak temannya untuk mengunjungi Hasan Al-Bashri, karena hidup Al-Hasan tak ubahnya kehidupan Al-Masih.

Sebaliknya, tidak sedikit riwayat tentang Sufisme di ranah Kristen, sebagaimana disitir beberapa ayat dalam Injil.

Salah satu aspek yang juga dinilai bersumber dari Sufisme adalah neo Platonisme. Banyak sekali buku-buku neo Platonisme yang diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani, kemudian ke dalam bahasa Arab. Filsafat ini banyak tersebar di Mesir, salah satunya dipelajari oleh Dzun Nun AlMishri, salah seorang tokoh besar dalam Sufisme. Di antara ajaran Kristen yang diduga menyusup ke dalam Sufisme, antara lain; al-fayd (pancaran, emanasi), inbitsaqun nur (cahayayang memancar f ), atiajalli (kemunculan, penjelmaan), dan sebagainya. Meskipun Sufisme umat Islam bersumber dari ajaran Islam, tetapi juga tersusupi Budha, Kristen, dan neo platonisme.l

Begitulah menurut sekian banyak orientalis. Tetapi, yang masih menjadi perdebatan di kalangan mereka adalah kadar penyusupannya. Sebagian ada yang mengatakan lebih dipengaruhi unsur Kristen, sebagian lagi mengatakan lebih dipengaruhi unsur neo Platonisme, dan sebagian lagi mengatakan lebih dipengaruhi unsur Budha

Selanjutnya, Ahmad Amin ?.iiii, menurunkan sebuah tulisan yang bagus dan obyektif,1317 menegaskan bahwa kesatuan pemikiran dalam dua umat yang berbeda tidak lantas berarti saling mengambil satu sama lain. Sebagai contoh, ia menyebutkan Rabi'ah Al-Adawiyyah, seorang peremPuan Arab yang mengenyam pendidikan di luar, yang kerap berbicara tentang cinta pada Tuhan (al-hubb al-ilahiy).Apakah dibenarkan kita menuduhnya mengusung cinta sebagaimana pemahaman kaum Nasrani?! selain itu, tabiat manusia menunjukkan bahwa kesamaan watak akan memunculkan kesamaan pemikiran dan perbuatary tetapi tidak lantas berarti terjadi saling pertukaran sesuai hukum pengaruh-memengaruhi.

Jadi, tidaklah mengherankan bilamana ditemukan hasil pemikiran yanS sama di dunia ini. sebab, akal manusia juga mirip satu sama lain. Akal itu berjalan di atas satu hukum logika, tidak seperti perasaan yang banyak berbeda pada masing-masing orang. oleh karena itu, ketika cara-cara kaum sufi dalam olah jiwa, mujahadah, dan perguruan menyerupai suatu kaum, itu adalah kedekatan sebuah hasil pemikiran, juga kesepahaman tentang yang terjadi di antara mereka. Satu pihak memahami pihak yang lain. sebab, keberulangan pengalaman yang sahih akan menghasilkan sesuatu yang sama, atau paling tidak mendekati

sebagai tambahan atas penjelasan tersebu! kami tegaskan bahwa ghirahkeagamaan seorang muslim mendorongnya untuk menjaga kesucian dan kemurnian agamanya dari segala sesuatu yang diduga tidak berasal dari ajaran agama atau sesuatu yang asing. seorang muslim tidak akan tenang, kecuali sesuatu itu terbukti berdasarkan asas Islam yang jelasjelas benar; Kitabullah, sunnah, dan atsar para sahabat maupun tabiin, khususnya yang hidup di abad-abad awal, yang menjadi poros kemajuan ilmu-ilmu Islam, seperti tafsir, hadits, fikih, ushul, dan tasawuf'

Dengan memerhatikan teks-teks di atas, kita dapat menentukan batasan topik pembicaraan kita mengenai Sufisme, tasawuf mereka, dan ilmu tasawuf. Demikian itu karena ilmu tasawuf bukanlah tasawuf itu sendiri. Seseorang yang membahas ilmu tasawuf tidaklah mesti seorang Sufi. Tidak sedikit pakar tasawuf yang bukan seorang Sufi. Namun, beberapa yang mengkaji masalah ini masih sering merancukan dua hal ini. Akibatnya, terjadi disorientasi kaiian. Sebagai contoh, seorang pengkaji menyebutkan bahwa nama tasawuf baru dikenal di akhir abad kedua Hijriyah. Lantas, ia menyebut tasawuf sebagai sesuatu yang baru dalam Islam. Selanlutnya, ia berusaha keras untuk menyingkap sumber-sumber di luar Islam, memanfaatkan beberapa kemiripan istilatr, sepertifana' dalam istilah Sufisme Islam dengan nirvana dalam istilah Budha. Padahal, tidak ada kemiripan di sana. Selanjutnya, mereka katakan, sesungguhnya Sufisme umat Islam mendapatkan konsep ini dari sumber tersebut.

Padahal, istilah tasawuf dalam Islam-sesuai konsep yang dipercaya kaum sufi muslim-sama sekali berbeda dengan istilah dalam perabadan lain, tergantung perbedaan asas peradaban itu sendiri. Sebagai contoh, kata" mysticism" mencakup makna yang meliputi ketidakjelasan (ghumud), rahasia (asrar), dan tersembunyi (khofo). Jauh dari akidah yang menjadi sumber dan sandaran istilah ini. Dan, akidah seorang muslim sama sekali berbeda dengan akidah lain. Sesuai perbedaan ini, maka yang terbangun di atasnya pun harus berbeda makna, kendati bentuknya sama atau mirip dengan peradaban dan akidah lain. Mereka pun berbeda, sesuai peradaban dan akidah yang membentuk pemikiran dan istilah-istilah mereka. Dan, mereka bahagia dengan semua itu.

Oleh karena itu, kita putuskan bahwa gelar Sufi dan istilah tasawuf tidaklah digunakan untuk selain dalam Islam dan untuk kaum muslimin, sebagaimana istilah rahib (pendeta) dan sistem kerahiban hanya dikenal di kalangan umat Nasrani. Ini tidak akan campur aduk, karena sumber danmakna yang terkandung dalam masing-masing istilah berbeda-beda.

Demikian itu tidak akan menafikan hukum pengaruh-memengaruhi dan pertukaran unsur kebudayaan, asal dipakai dalam batasan-batasan yang rasional dan disertai bukti-bukti yang tidak sembarangan. Atau, setidaknya dikemukakan oleh seseorang yang kompeten dalam analisa dan deskripsinya. Adapun jika dipakai untuk mencerabut madzhab atau peradaban dari akarnya, sebagaimana banyak dilakukan kaum orientalis terhadap karya-karya Islam dan aktivitas muslimin, tidaklah bisa diterima. Tidak ada penafsiran lairy selain perang peradaban yang memanfaatkan momen hegemoni peradaban Barat sepanjang masa imperialisme politik, militer, dan ekonomi terhadap dunia Islam.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait