Sabtu, 01 Maret 2025

Ajaran Tauhid atau Teologi Imam Al-Maturidi

Terkait dengan Keesaan Allah, Al-Maturidiyah menggunakan dalil sam'iyyah dan aqliyyah. Itulah cara mereka mengimplementasikan manhaj yang menggabungkan antara akal dan nash. Di dalam Al-Qur'an terdapat banyak ayatyangmenunjukkan Keesaan Allatu seperti, "Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esn" (An-Nahl :221. Dan Allah berfirman, "Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa" (Al-Ikhlas : 1).

Selain itu, Al-Maturidi juga menggunakan dalil bahasa yang bersumber dari kata wahid (satu). Kata wahid atau satu ini menunjukkan keagungan, kekuasaan, keluhuran, keutamaan, dan kemuliaan. Dan, sifatsifat tersebut tidak akan terkumpul, kecuali pada yang satu. Bahkan, ia juga menambahkan dalil at-tamanu' yang popular di dunia teologi Islam, sebagaimana terkandung dalam ayat, "Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa" (AlAnbiya' 222).Jika ada trrhan lebih dari satu, alam ini tidak ada ada, kecuali mereka sepakat dan saling tolong menolong. Kalaupun ya, demikian itu merusak makna ketuhanan yang mengisyaratkan kekuasaan mutlak dan menyeluruh.

Di sisi lain, jika terdapat tuhan lebih dari satu, rentan mengundang perselisihan. Bisa jadi yang satu menginginkan ada, yang lain menginginkan tiada. jikaitu terjadi, keadaanakanmenjadi kacau, sebagaimana diisyaratkan ayat di atas. Oleh karena itu, keberadaan alam semesta ini menunjukkan adanya Tuhan Yang Maha Esa.1ffi Selanjutnya, Al-Maturidiyah membantah paham tsanawiyyah (dualisme ketuhanan) dan sebagainya di dalam bukubuku para pengikutnya.

HIKMAH

Al-Maturidiyah juga berbicara mengenai hikmah dan alasary melalui soal yang dilontarkan syaikh mereka, "IJntuk apa Allah menciptakan makhluk?" Jawabannya meliputi pendapat berbagai kelompok Islam yang mendapatkan pertanyaan ini. Ada yang mendukung dan menjelaskan, ada pula yang menolak. Selanjutrrya syaikh menetapkan pendapatnya mengenai hikmah di balik perbuatan Allah S6. Menurutnya, Allah menciptakan makhluk untuk sebuah hikmah yang diketahui oleh-Nya. Pendapat ini didukung oleh dalil dari AlQur'an dan Sunnah, termasuk juga logika dan kesaksian inderawi. Allah memberikan perintah dan larangan, juga janji dan €u:rcaman. Akal secara instingtif menilai baik yang baik, dan menilai buruk yang buruk. Tidaklah mungkin perbuatan Allah itu hampa hikmah, karena itu menandakan keburukan yang tidak patut bagi kesempurnaan-Nya. Pun karena Allah menciptakan makhluk, itu menunjukkan Keesaan dan hikmahNya. Mak4 makhluk harus mengetahui hal itu.

Segala sesuatu yang Punya kekurangary berarti tidaklah bijaksana. ]ika saja tidak ada manfaat bagi orang yang beriman, tidak pula bahaya bagi orang yang bermaksiat, tentulah perintah dan larangan menjadi tidak bermakna. hrilah inti kesia-siaan. Dan, Mahasuci Allah dari semacam itu.

Semua yang disampaikan Rasul tentang hikmah dan kebijaksanaan Allah, sudah cukup bagi yang ingin berpikir dan merenungkan alam semesta ini. Di antara tanda-tanda hikmah-Nya adalah penciptaan manfaat dan bahaya, juga kebaikan dan keburukan. Sebab, bisa jadi sesuatu menjadi berbahaya pada suatu waktu, tetapi bermanfaat di waktu yang lain. Atau, sesuatu menjadi buruk bagi seseorang, tetapi baik bagi yang lain. Akal manusia tidak mampu mencerna secara detil masalah seperti ini.

Berpijak dari semua itu, maka kita wajib mengimani bahwa Allah ds mempunyai hikmah tertentu di balik ciptaan-Nya secara umum. Allah berfirmary " Seandainy n IQmi hendak membuat suatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami, jika Kami benar-benar menghendaki berbuat demikian" (Al-Anbiya': lT. Dan Allah berfirman,"Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak aknn dikembalikan kepadn IGmi 7 " (Al-Mukminun: 115).

Adanya pasangan atau kebalikan sesuatu merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang bersifat mutlak. Selain itu, menunjukkan bahwa di balik ciptaan Allah terdapat hikmah yang tersembunyi. Jika manusia mencermati dengan seksama hikmah Allah di dalam ciptaan-Nya, alih-alih mengetahui hikmah tersebut, mereka pasti akan menyadari keterbatasan akal mereka.

AN-NUBUWWAH DAN KEBUTUHAN TERHADAP RASUL

  1. Al-Maturidi menjelaskan kebutuhan manusia terhadap Rasul disertai dalil-dalil yang menguatkan, antara lain bahwa akal tidak gramPu mengetahui yang bermanfaat dan berbahaya secara rinci dalam setiap sesuatu, baik menyangkut urusan agama mauPun dunia. Selalu dibutuhkan seseorang yang dapat ditanya dan memberikan manfaat dari pengalamannya. Dari itu, wajiblah mengakui kerasulary pun bahwa akal membutuhkannya dalam urusan agama dan dunia. Manusia itu pada prinsipnya menyukai keabadian. Oleh karena itu, mereka mencari yang bermanlaat, karena yang diharapkan abadi dikhawatirkan binasa. Maka, Allah pun menjadikan yang haram dan yang halal, perintah dan larangan, termasuk di dalamnya janji dan ancaman, agar tiap-tiap manusia mengetahui miliknya dari apa-apa yang bukan miliknya.
  2. Kalaupun akal mampu menggiring manusia untuk mengenal Allah secara global, tetapi ia tidak mampu mengetahui yang wajib dan mustahil bagi hak Allah. Selain itu, tidak mampu mengetahui perintah dan larangan-Nya, segala yang wajib disyukuri, juga yang menyeretnya keluar dari keimanan. Semua ini bergantung pada pengutusan Rasul.
  3. Terkadang akal ditimpa keraguan, syubhat, dan gangguan yang menghalangi aktivitasnya. Untuk menghindari itu, diperlukan seseorang yang dapat membantunya. Maka, harus ada utusan sebagai anugerah Allah bagi para makhluk-Nya.

Syaikh Al-Maturidi mengemukakan banyak bukti-bukti logika mengenai kebutuhan manusia terhadap diutusnya Rasul, untuk membantah klaim Brahmaisme dan paham-paham lain yang mengingkari Rasul, juga yang menyatakan cukup dengan akal tak perlu Rasul.16e1 Syaikh hanya fokus pada tiga dalil yang dianggap prinsip untuk menegaskan kebutuhan manusia terhadap Rasul. Dan, pada vraktu bersamaary membantah klaim paham-paham yang mengingkarinya:

  1. Munculnya perselisihan di tengah manusia yang dipicu persoalanpersoalan tertentu, sehingga masing-masing pihak mengaku paling benar, namun tidak ada di antara mereka yangbertindak sebagai hakim yang memutuskan dan menyatukan mereka pada satu kebenaran. Perselisihan adalah pangkal dari kerusakan. Hal seperti ini dihukumi buruk oleh akal. Akal membutuhkan seseorang yang membantunya dntuk mengenal yang baik dari yang buruk. Daru tidak ada yang lebih tahu mengenai hal itu selain yang menciptakannya. Oleh karena itu, harus ada Rasul atau utusan dari sisi Allah untuk menjelaskan kepada manusia yang berdampak baik dan buruk bagi mereka.
  2. Sebagaimana diketahui, ulama berlomba untuk mengenali kebutuhan manusia dan maslahat mereka dalam urusan agama dan dunia. Sebagian memiliki yang tidak dimiliki sebagian yang lain. Jika benar terjadi saling unggul-mengunggulkan di kalangan manusia, maka sudah tentu yang di sisi Allah lebih unggul. Bahkan, lebih maslahat bagi manusia. Maka, Dia pun mengajarkan yang di sisi-Nya melalui para Rasul.
  3. Wacana mengenai kebajikan dan kejahatary kebaikan dan keburukan, mengalami pro dan kontra. Terkadang sesuatu dihukumi halal oleh akal, tetapi dilarang pada waktu yang lain. Demikian itu menggambarkan keterbatasan akal. Oleh karena itu, diperlukan seseorang yang dapat mengajarkannya untuk mengenal kebenaran yang hakiki, tanpa dipengaruhi tendensi hawa nafsu dan kepentingan pribadi.16

MENEGASKAN KEBENARAN RASUL

Para Rasul itu memiliki sifat jujur dalam menyampaikan amanah dari Tuhan mereka. Syaikh mengemukakan beberapa dalil mengenai hal itu, antara lain:

  1. Berdalil dengan keadaan para Nabi di antara kaumnya. Mereka ratarata dikenal sebagai pribadi yang baik oleh rekan-rekannya, amanah, juga jujur. Alhasil, itu mengusir keraguan terhadap mereka, terlabih bagi yang sudah mengenalnya sejak kecil hingga dewasa. Tak pelak, mereka dikenal sebagai pribadi yang suci dan bertakwa. Akan tetapi, kaum yang lain belum tentu seperti itu. Mereka juga tidak tumbuh dan berkembang dengan prinsip-prinsip luhur ini. Hal ini menunjukkan bahwa siapapun yang diutus Rasul pada mereka, berarti mereka terjaga dari aib. Mereka terlindungi dari kehinaan. Inilah bukti empiris dan historis.
  2. Terdapat beberapa bukti nyata dari Allah berupa kejadian luar biasa yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain, yang berbeda dengan sihir dan praktik perdukunan. Pun yang menundukkan akal pada penguasanya.

Syaikh berbicara tentang perbedaan sihir dengan tanda-tanda kenabian. Tujuannya, untuk menjelaskan bahwa tanda kenabian tidak bisa diklaim oleh selain Rasul. Sebab, tanda itu datangnya dari Allah. Maka, tidak akan diberikan untuk memperkuat seseorang yang pembohong, dukury dan pembangkang. k'ri adalah dalii temporal untuk menguatkan logika, yaitu kejadian luar biasa yang dimiliki seorang manusia tidak mungkin bersumber dari selain Allah, dan itu tidak untuk menguatkan para pembohong dan yanp; mengaku Nabi. Adapun bukti kebenaran Nabi Muhammad g" meliputi tanda-tanda kenabian sebelumnya. Semuanya tanda-tanda inderawi, selain juga disertai tanda-tanda maknawi, yakni Al-Qur'an, yang membuat setiap lisan kelu, dan menjadikan akal tak kuasa mendatangkan satu ayat atau satu surah sepertinya

Syaikh menegaskan, ftasul itu terjaga dari kesalahan, kebohongan, dan kelalaian. Maka, ia menyifatinya dengan keadaan terbaik, sebagaimana beliau disifati oleh Al-Qur'an dan Sunnah. Beliau lebih baik dari bulan purnama, lebih wangi dari minyak misik, lebih lembut dari sutera, keringatnya hampir-hampir bisa dijadikan minyak wangi. Bahkan, dalam hal penampilary tak seorangPunyang disifati lebihbaik dan indah daripada beliau. Semua itu menunjukkan beliau terlepas dari kekurangan. Tuhan telah menghiasinya sebaik mungkin, sehingga tak dipungkiri beliau berhak menyandang gelar sebagai makhluk terbaik. Beliau sama sekali tidak diketahui berbohong, tidak melakukan dosa, tidak lari dari hadapan musuh, dan tidak pula berakhlak keji... Beliau tidak menipu, tidak berkelahi, tidak berbuat keji, dan sama sekali tidak mementingkan dirinya sendiri.

Allah S6 telah menguatkannya dengan banyak tanda-tanda inderawi, seperti bulan yang terbelah, merintihnya pepohonan, kepasrahan batu, bertasbihnya kerikil, bertambah banyaknya makanan yang sedikit, musuh yang didoakan tertimpa bencana kemudian dimohonkan pertolongan hingla mereka tertolong, juga mukjizatlsra' dan Mikraj... Barangsiapa mencermati dengan seksama keadaan para Rasul berikut mukjizatnya, pasti akan mendapati bukti-bukti logika dan naqli yang menunjukkan kenabian beliau

SYAFA'AT NABI MUHAMAD SAW

Al-Maturidi menetapkan bahwa Rasulullah ffi- dapat memberikan syafaat, karena Al-Qur'an dan hadits menetapkan itu bagi beliau. Syafaat Rasulullah diperuntukkan juga bagi pelaku dosa dan maksiat, bukan semata bagi yang taat saja, sebagaimana dikemukakan Mu'tazilah.

Kebutuhan pribadi yang tidak berdosa dan tidakbermaksiat terhadap syafaat tidak seperti kebutuhan mereka yang berdosa dan bermaksiat. Syaikh berkata, "Menurut kami, syafaat itu bagi pelaku dosa dan maksiat. Sebab, yang tidak berdosa dan bermaksiat tidak membutuhkan syafaat." Syafaat yang diberikan kepada pendosa merupakan buah dari kebajikan yang diperbuatnya.l6

Syaikh membantah pendapat Khawarij dan Mu'tazilah yang mengingkari syafaat. Ia menjelaskan bahwa syafaat yang dipahami mereka didasarkan pada analogi alam gaib atas alam nyata. Ini keliru dari banyak sisi, baik secara logika maupun nash. Pada akhirnya, mereka mengatakan keabadian surga dan neraka, berikut keabadian penghuninya masingmasing. Mereka menolak klaim Al-Jahm bin Shafwan yang mengatakan surga dan neraka itu fana'. Begitu juga membantah mereka yang mengatakan bahwa gerak penghuninya juga fana' .Pendapat ini didasarkan dalil aqli dan naqli

Allah $a menjadikan surga sebagai tempat yang suci dari berbagai kemaksiatan. |ika memang pada akhimy a fana', pastilah ada aib paling besar di situ. Padahal, seseorang tidak akan tenangl6% berada dalam kehidupan yang pada akhirnya hilang. ]ika berakhir fana', maka akan menjadi nikmat bagi penghuninya. Maka, ketika dibersihkan dari seluruh aib, keabadian lebih pantas bagi penghuninya. Jika ini disifatkan pada surga, maka begitu pula terhadap neraka.

HAKIKAT IMAN

Sebagaimana Imam Abu Hanifah, Al-Maturidi berpandangan bahwa iman itu hanyalah pembenaran dengan hati. Dalam hal ini, ia berbeda pendapat dengan yang mengatakary iman itu adalah pernyataan dengan lisan, pembenaran dengan hati, dan pembuktian dengan perbuatan. Pendapatnya ini juga didasari dabl aqli dannaqli.Ia berkata, "Yangpaling berhak beriman itu adalah hati. Dalilnya, aqli dannaqli. Sebagai dalil naqli, Allah ik berfirman, "Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, 'Kami telah beriman,' padahal hati mereka belum beriman" (AlMa'idah : 41). Dan Allah $a berfirman, "Orang-orang Arab Badui berkata, 'Kami telah beriman.' Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah "Kami telah tunduk (lslam)," karena iman belum masuk ke dalam hatimu"' (Al-Hujurae 14). Ayat ini menampik keimanan yang diucapkan oleh lisan mereka, karena iman tidaklah masuk ke dalam hati mereka. Andaikata iman itu cukup dengan lisan, pastilah karena perkataan mereka akan disebut beriman. Syaikh menuturkan banyak ayat Al-Qur'an yang membantah keimanan itu dengan lisan. Begitu pula yang mengatakan bahwa pembuktian dengan perbuatan merupakan bagian dari iman.

Sementara itu, sebagai dalil aqli, ia berkata, "Iman itu agama, dan agama itu keyakinan. Adapun yang meyakini itu adalah hati, bukan lisan. Bukan pula perbuatan anggota badan." Menurutnya, makna kontekstual memperkuat pendapatnya. Sebab, iman menurut bahasa bermakna membenarkan dengan hati, sebagaimana firman Allah; "Engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benlr" (Yusuf: 17)

Selanjutnya, Al-Maturidi berpindah pada topik lain yang tidak kalah penting. Secara tegas ia menyatakan, oleh karena keyakinan itu merupakan perbuatan hati, maka tidaklah sah jika di bawah paksaan. Sebab, tak seorang pun mampu menguasai hati. Mungkinkan kita mengetahui seseorang yang tidak dapat berbicara; apakah ia beriman atau tidak? Padahal, hatinya yakin dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian itu menegaskan bahwa hati adalah tempat keyakinan, bukan lisan. Perintah beriman memang diucapkary akan tetapi dengan berpikir dapat diketahui hakikatnya, yaitu bahWa semua itu merupakan perbuatan hati. Dimakruhkan seseorang lisannya bilang kafir, padahal hatinya merasa tenang dengan keimanan. Itulah hakikat dari seruan Al-Qur'an yang disertai bukti-bukti.

Al-Maturidi dan para pengikutnya membantah pendapat Murji'ah dan Jahmiyah yang mengatakan bahwa iman itu adalah pengetahuan saja. Menurutry a, irja' (penrndaan atau penangguhan) itu ada dua macam; terpuji dan tercela. Irja'yangterpuji adalah: menangguhkan para pelaku dosa besar hingga Hari Kiamat dan tidak memutuskan secara pasti apakah ia masuk surga atau neraka. Sebab, bisa jadi mereka menerima syafaat Rasulullah. Beliau bersabda, "Syafaatku bagi para pelaku dosa besar di kalangan umatku. Maka, ditangguhkan urusanmerekakEada Allah.likaDiaberkehendak, mereka akan disiksa. Akan tetapi, jikaDiaberkehendak, mereka akan diampuni, dan diterimakan kepada mereka s! afasf."

Konon, Mu'tazilah mengatakan, "Murji'ah adalah mereka yang menangguhkan para pelaku dosa besar dan tidak menempatkan mereka di surga atau neraka." Hal ini juga diceritakan dari Abu Hanifah.1

Al-Maturidi sependapat dengan Mu'tazilah dalam pernyataan di atas. Ia berkata, "Penangguhan ini benar dan pantas diutarakan.'/1

Adapun irja' atau penangguhan yang tercela, dinisbatkan oleh Syaikh kepada Qadariyah danlabariyah, karena terdapatcelaan bagi mereka dalam hadits; "Dua golongan di kalangan umatku yang tidak akan mendapatkan syafaatku, yaitu Qadariyah dan Murji'ah." Syaikh menafsirkan murji'ah (yr.g menangguhkan) dalam hadits ini adalah |abariyah, karena mereka sependapat dengan Qadariyah;16e8 menilai bahwa iman itu makhluk. Menurutnya, iman tidak boleh disertai istitsna', seperti mengatakan, "Saya insya Allah beriman." Sebab, menurutnya, menyatakan keimanan itu harus mutlak tanpa istitsna'(mengatakan insya Allah). Ia membantah mereka yang membolehkan pernyataan keimanan disertai istitsna' , seperti Mu'tazilah, Khawarij, dan Hasywiyyah.l6e Menurutnya, Islam dan iman itu satu dalam urusan agama, meskipun berbeda istilah dan pengungilupurr.

QADHA' DAN QADAR

Menurut Al-Maturidiyah, masalah q adha' dan q adar er at hubungannya dengan kehendak Tuhan, serta keterikatan keduanya dengan penciptaan perbuatan (khalqul af al). Jika telah ditetapkan bahwa Allah menciptakan perbuatan, berarti tetap pulalah kehendak-Nya, berikut takdir-Nya atas perbuatan itu.

Qadha'adalah menentukan sesuatu sesuai haknya. Boleh menyebut perbuatan manusia sebagai qadha'Allah, karena memang Dialah yang menciptakan dan menghendakinya. Adapun qadar adalah sesuatu yang keluar dari ketiadaan menjadi ada sesuai kehendak-Nya. Atau, menjadikan segala sesuatu apa adanya, baik atau buruk kebajikan atau kejahatan, hikmah atau kebodohan.lTm Inilah penafsiran atas firman Allah Sg, "Sungguh, Kami menciptakan segala sesuafu menurut ukuran" (Al-Qamar: 49)

Iman terhad ap qadar merupakan salah satu rukun Islam, sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril yang terkenal, ketika ia berkata, "Hendaknya engkau beriman kepada qadar, yang baik mauPun yang buruk, yang manis maupun yang pahit." Qadha' Tuhan meliputi kebaikan dan keburukan' Sementara itu, Mu'tazilah berpandangan, Allah tidaklah menentukan maksiat dan kekafiran. Dan, seseorang tidak boleh berdalih dengan qadha' dan qadar atas maksiat yang diperbuatnya. Ada tiga alasan, antara lain:

  1. Allah-lah yang menentukan dan menciptakan. Apapun yang ditentukan dan diciptakan Allah, tidak diketahui siapapun, kecuali setelah ia berikhtiar dan melakukannya. Seseorang tidak boleh menyalahkan Allah atas apa yang diperbuatnya sendiri
  2. Ilmu, kehendak, dan qadha'Allah tidak mempengaruhi seseorang atas apapun yang diperbuatnya; tidak mendorong dan memaksa mereka. Mereka dibiarkan dengan pilihan dan keinginannya yang merdeka
  3. Tak seorang pun terbetik dalam benaknya ketika melakukan sesuatu, bahwa Allah-lah yang menentukan itu. Alih-alih, ia merasa telah menentukan pilihan dan menginginkannya'l7oi Biasanya, seperti itu dijadikan dalil dalam kebatilan. Padahal, setiap orang tahu bahwa yang dilakukan adalah atas pilihannya sendiri' Syaikh sepakat dengan Mu'tazilah bahwa nama-nama yar.g buruk tidak pantas dinisbatkan kepada Allah, atau yang dianggap buruk. Adalah makruh menyandangkan kekafiran dan kejahatan kepada Allah, termasuk pada qadha' dan qadar-Nya. Sebab, Allah hanya disifati dengan perbuatan-Nya sendiri, bukan perbuatan hamba-Nya. Kejahatan dan keburukan itu bersumber dari manusia, bukan dari Allah.

Dalam banyak masalah teologis, Al-Maturidiyah terlihat moderat. Ia berada di posisi tengatr, antara Mu'tazilah dan Asy'ariyah. Akan tetapi, secara umum mereka lebih cenderung pada Asy'ariyah daripada Mu'tazilah.

Oleh karena itu, banyak pihak dari kalangan Al-Maturidiyah dan Asy'ariyah yang menulis risalah untuk menjelaskan perbedaan antara dua kelompok ini. As-subki menuturkan dalam Thabaqat-nya bahwa antara Al-Hanafiyah dengan Asy'ariyah terdapat tiga belas masalah khilafiyah; enam di antaranya merupakan perbedaan yang mendasar, sedangkan sisanya hanya sebatas perbedaan redaksional. Sementara itu, Al-Bayadhi menyebutkan lima puluh permasalahan khilafiyah. Ia berkata, "Seluruhnya merupakan perbedaan yang sesungguhnya." Syaikh Zadah berkata, "Ada empat puluh permasalah an."

Apapun adanya, kedua'madzhab ini sangatlah berdekatan. Dalam bab akidah, bersama ahlul hadits dan kaum salaf, keduanya sama-sama mewakili pendapat Ahlu Sunnah wal Jamaah

Sebagaimana kami paparkan di depan, istilah Ahlu Sunnah wal jamaah meliputi Asy'ariyah dan Al-Maturidiyah, termasuk al-muhndditsun. Akan tetapi, jumlah pengikut Asy'ariyah lebih banyak di belahan dunia ini, terutama di benua Afrika, bagian timur dan selatan Asia, dan anak benua Hindia - melayu, Indonesia, dan sekitarnya. Selain itu, di beberapa wilayah Arab, seperti Syam dan Irak. Sementara itu, Al-Maturidiyah tersebar di anak benua Hindia, Afganistan , Tranzoxiana Turki dan sekitarnya, seperti dari Balkan dan timur Eropa.

Para pengikut Al-Maturidiyah dan peneliti mengakui persebaran Asy'ariyah di dunia Islam, meskipun interpretasi mereka berbedabeda. Seorang peneliti asal Turki, Husain Atai, berkata, " Ar-Razi telah memberikanorientasibaru dalam ilmu kalam. Trenbaru ini menyebabkan tersebarnya Madzhab Asy'ariyah. Sebaliknya, berpengaruh terhadap berkurangnya minat terhadap Madzhab Al-Maturidiyah. . ."

Seorang berkebangsaan Mesir yang secara spesifik meneliti AlMaturidiyah, Ali Abdul Fattah Al-Maghribi, berkata, "Pendapat-pendapat Al-Asy'ari tercatat lebih tersebar dibandingkan Al-Maturidi dan AthThahawi. Banyak sekali pengikutnya dari tokoh-tokoh bangsa yang mempelajari madzhabnya secara lebih luas dan mendalam. Di pundak merekalah tersebar madzhab ini ke seanteo dunia Islam..."1

Apapun adanya, sesungguhnya para imam teolog kalam dalam setiap generasi tidak lepas dari para pengikut Al-Asy'ari. Sebagai contoh, Al-Baqilani (403 H),Ibnu Furuk (406), Al-Juwaini (478), Al-Ghazali (505), Asy-Syahrastani (548), Ar-Razi (606), Al-Amadi (631), Al-Baidhawi (685), Al-Iji (756), At-Tiftazani (793), Al-]urjani (816) dan sebagainya yang hidup semasa dengan mereka maupun yang sesudah mereka, semuanya memiliki peran penting dalam memperkuat Madzhab Asy'ariyah dan memperluas area persebarannya di kalangan umat Islam. Terlebih didukung oleh konstelasi politik, sosial, dan pemikiran.lT

jika Asy'ariyah patut berbangga dengan prestasi para tokoh itu, maka Al-Maturidiyah pasca perintisannya di masa-masa pertama oleh dua imam, yaitu Imam Abu Hanifah a'"r (w. 150 H) dan Imam Abu Manshur A1- Maturidi (w.333 H.), jugamemilikipara tokoh. Sebutsajayang di diwilayah Transoxiana, khususnya kota Nasf, ada Abu Al-Mu'in An-Nasaf, (508 H), penulis Bahr Al-Kalam dan At-Tabshirah, dan sebagainya. Selain itu, ada juga Najmuddin Umar An-Nasafi (537 H.), penulis Al-Aqa'id An-Nafsiyyah yang terpublikasi secara masif. Selain itu, ulama anak benua Hindia dan Afganistan dari kalang an Ad-Duyubnidiyyun dan sebagainya, seperti Anwar SyahAl-Kasymiri, Syaikh Muhammad Asyraf Ali At-Tahanuwi- (penulis Al-lntibahat Al-Mufidah fi Hilli Al-lsytibahat Al-Jadidah-(1362 H), AlFarhari - (penulis Arz -Nibras). Selain itu, ulama Turki, khususnya di bawah Dinasti Ottoman, seperti Khidhr Beik, Al-Kafawi (990 H.), Abu As-Su'ud Al-Imadi, Mula Khasru, Ala Ali Al-Qari, Thasy Kubra Zadah,Ismail Haqqi, el-nay'adhi - (penulis lsyarat Al-Haram min lbarat Al-lmam), dandua syaikh penutup al-muta'akhkhirun, yaitu: Mushthafa Shabri- (penulis Mataqif Aqli wa Al-llmi wa Al-Alim Minallahi Rabb Al-Alamin wa Anbiya'i Al-Mursalin) - dan Muhamm ad Zahid Al-Kautsari - (penulis At-T ahqiqat Ad-D aqi q ah w al Ar a' As- S adi dah fi At- Turats Al-lslami bi Ammah ut a' Ilmi Al-Kalam As- Sunni bi Khnshshah, wa Al-Maturidi bi Wajhin Akhashsh).17

Semoga Allah merahmati semuanya, juga memberikan balasan terbaik atas nf,sihat keagamaan mereka, serta pengabdian mereka terhadap umat Islam.

PROF. DR. MUHAMMAIL AS-SAYYID AL-LULAINID

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait