
Dalam menyikapi masalah sifat-sifat Allah, Al-Maturidi mengkombinasikan antara dalilnaqli dengan dalll aqli.Selain berdalilkan ayat AlQur'ary ia juga menambahkan dalil-dalil akal, yaitu dengan memerhatikan alam semesta. Di sinilah terlihat sifat-sifat Sang Pencipta, mulai dari Berilmu, Berkeinginan, Memiliki Kekuasaan, dan Hikmah. |adi, di dalam manhajnya, ia menggabungkan antara cahaya akal dengan syariat. Pada dasarnya, jika Allah memutlakkan suatu sifat, berarti ia disifati dengan perbuatary ilmu, dan sebagainya. Penyifatan diri-Nya itu sudah pasti azali. Itu menunjukkan bahwa ZatYang Mahakuasa berbuat atas pilihan dan kehendak-Nya. Sifat yang di dalamnya mengandung tanda-tanda hikmah, menunjukkan ilmu dan hikmah
Abu Al-Mu'in An-Nasafi tokoh Al-Maturidiyah - berk ata, " P at a syaikh Rahimahumullah di kalangan kami berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang mengatakan ayat iti mutasyabihat sehingga tidak bisa dipahami secara tekstual dan tidak pula perlu ditafsirkan, melainkan cukup meyakini bahwa yang dikehendaki Allah itu benar.
Namun, di antara mereka ada pula yang sibuk menelisik kemungkinankemungkinan maknanya, selain makna tekstualnya. Mereka mengatakan, kami mengetahui beberapa kemungkinan makna yang tidak menafikan tauhid dan eternalitas. Tidak pula memastikan yang diinginkan Allah, kaema tidak ada dalil yang dapatmemastikannya sehingga bisa ditentukan beberapa makna."
Tentang makna itu sendiri, Nuruddin Ash-Shabuni berkata, "Ahlu Sunnah (maksudnya Al-Maturidiyah) memiliki dua metode:
Pertama, menerima dan membenarkannya, serta menyerahkan takwilnya kepada Allah, sembari menyucikan-Nya dari hal-hal yang meniscayakan tasybih.Itulah metode salafus shaleh di antara kami.
Keduu, rnenerima dan mencari penafsiran yang pant asba$Zat Allah
Generasi terakhir dari mereka berpandangan bahwa takwil itu hanyalah pantas bagi ahlun nazhar (golongan yang bisa menggunakan kemampuan olah pikirnya), sedangkan penyerahan pantas bagi kaum awam.'1
Dalam hal ini, Al-Maturidiyah -sebagaimana Ahlu Sunnah - sepakat bahwa sifat-sifat Allah itu azali, bukan baru.
Al-Maturidi berkata, "Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui dengan sendiri-Nya, Mahakuasa dengan sendiri-Nya, dan Mahahidup dengan sendiri-Nya. Sifat-sifat-Nya bukanlah selain Dia."
Adapun generasi terakhir dari pengikutnya mengatakan - sebagaimana diutarakan Asy'ariyah-, yaitu bahwa sifat Allah. itu bukanlah Zat-Nya, cian bukan pula selain Zat-Nya. Jadi, menurut mereka, Allah itu MahaMengetahui disebabkanilmu. Dalamarti kata, Dia Maha Mengetahui karena memiliki ilmu. Dary ilmu-Nya itulah makna yang eternal, yang melekat pada Zat-Nya, dan menjadi penambahnya.
An-Nasafi mengisyalatkan beberapa golongan di antara Al-Maturidi dan para pengikutnya. Ia berkata, "Mayoritas syaikh kami mengatakan, Dia Maha Mengetahui karena Dia punya ilmu, dan begitu seterusnya terkait sifat-sifat yang lain... Padahal, Syaikh Abu Manshur airij; mengatakan, sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui dengan sendiri-Nya, Mahahidup dengan sendiri-Nya, dan Mahakuasa dengan sendiri-Nya. Demikian itu tidak dimaksudkan untuk menafikan sifat. Sebab, ia menetapkan sifat pada setiap yang disifati, serta menyertai dalil penetapannya."
Di antara yang mernbedakan Al-Maturidiyah adalah ketika menetapkan sifat penciptaan. Mereka menilai sifat penciptaan ini termasuk sifat-sifat Allah yang eternal dan melekat pada Zat-Nya. Demikian itu berdasarkan firman Allah M, " Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, 'ladilah!' Maka jadilah sesuatu itu" (Yasin:82). Sifat ini berhubungan dengan probabilitas (al-mumkinat) pada saat ada. Atau dengan kata lain, pada saat keluar dari tidak ada menjadi ada. Inilah yang berpengaruh dalam kemungkinan, karena telah keluar dari wilayah kemungkinan menuju keberadaan yang sesungguhnya (al-wujud al-fi'Iiy. Mereka membedakan antara sifat penciptaan dengan sifat kekuasaan, dalam hubungan masing-masing dengan kemungkinan. Mereka berkata, "Kekuasaan itu berhubungan dengan kernungkinan pada saat Dia mungkin dalam Zat-Nya, dan cocok kekuasaan berhubungan dengan-Nya. Saat Dia mungkin itulah dianggap sebagai maqdurat al-qudrah (halhal yang mendukung Dia kuasa). Akan tetapi, tidak ada hubungannya dengan kekuasaan manakala hal-hal yang mungkin keluar pada wujud atau keberadaan yang sesungguhnya. Itu terjadi karena sifat penciptaan. Kekuasaan meniscayakan adanya sesuatu yang menjadikan-Nya kuasa, bukan yang menjadikan-Nya ada. |ika meniscayakan-Nya ada, berarti dialah yang mengadakan dan menciptakan-Nya. Oleh karena itu, AlMaturidiyah membedakan antara ada (wuiud) dan pengadaan (iyjad), atau ciptaan (khalq) dengan penciptaan (takhliq)- sifat penciptaan inilah yang mempengaruhi pengadaan wujud, atau penciptaan suatu ciptaan. Bukan sifat kekuasaan. Sebab, kekuasaan Allah itu berhubungan dengan adanya sesuatu yang mungkin (wujudul mumkin), sedangkan penciptaan berhubungan dengan pengadaannya.
Al-Maturidiyah menyodorkan pertanyaan penting; jika sifat penciptaan itu eternal, mengapa yang diciptakan tidak eternal juga? Demikian itu meniscayakan hubungan antara penciptaan dengan ciptaan, seperti hubungan kekuasaan, ilmu, dan kehendak dengan hal-hal yang dikehendaki dan yang diketahui, agar segala sesuatu terjadi pada waktu yang telah ditentukan. Tak seorang Pun boleh memahami, bahwa penundaan ciptaan menandakan ketidakmampuan. Sebab, adakalanya sesuatu dikehendaki pada waktu tertentu, tetapi jika Allah tidak menghendakinya, maka tidak akan terjadi. Adapun jika diinginkan sesuai waktu yang dikehendaki Allah, maka itu akan menjadi bukti kekuasaan dan implementasi kehendak-Ny a.
Al-Nlaturidiyah mayakini eternalitas sifat penciptaan berdasarkan firman Allah M, " sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepndanya, 'ladilah!' Maka jadilah sesuatu itu" (Yasin:821. Andaikata penciptaan dan sesuatu yang diciptakan itu satu, tidak perlu menyebutk an " kLtn" dan tidak pula ".fa y akun" dalam kalimat penciptaan. Allah menggambarkan penciptaan dengan kata"kltn" , sedangkan sesuatu yang diciptakan dengan kata"fa yakufl", ini menunjukkan bahwa penciptaan itu berbeda dengan sesuatu yang diciptakan. Pun bahwa penciptaan itu eternal, bukan baru. Sedangkan sesuatu yang diciptakan itu baru, karena ada pada waktu benar-benar ada.
Begitulah. Di antara sifat yang paling mendapat perhatian dari para teolog kalam di kalangan Ahlu Sunnah adalah; sifat Kalam (Berbicara). Al-Maturidiyah telah menetapkan sifat kalam bagi Allah lk, sebagaimana disebutkan dalam Kitabullah danSunah Rasul-Nya. Menurutnya, sifat ini tergolong azaliyah dzatiyah. Dalam hal ini, selain menggunak an dalil naqli, Al-Maturidiyah juga menggunakan dalil aqli. Al-Qrr'an menuturkan sifat kalam Allah. Dia berfirman, "Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung" (An-Nisaa':164). Dan Allah berfirman, "Dan jika di antarakaummusyrikin ada yangmemintaperlindungankepadnmu,maknlindungilah agar dia dapat mendengar firman Allah" (At-Taubah:5).Dengan begitu, Allah itu berbicara, dan Dia mempunyai pembicaraan (Kalam). Al-Maturidi mengisahkan kesepakatan mengenai hal itu.
Adapun menurut dalil aqli, ZatYang Mahakuasa dan Maha Mengetahui jika tidak berbicara, berarti tertimpa bencana atau cacat. Mahasuci Allah dari yang seperti itu. Jadi, Dia pasti berbicara. Terlebih dalam dunia nyata, yang tidak bisa berbicara berarti cacat. Mahasuci Allah dari makna-makna yang meniscayakan Dia buta, tuli, dan bisu.1668 Firman Allah Ss didengar oleh Nabi Musa berupa huruf dan suara yang diciptakan oleh-Nya. Ini menegaskan bahwa Allah memperdengarkan kalam-Nya kepada Musa melalui huruf dan suara yang diciptakan oleh-Nya. Apakah Al-Maturidiyah berpendapat Kalamullah terhadap Musa itu merupakan pembicaraan ruh, sebagaimana dikemukakan Asy'ariyah ?166e Syaikh Zadah menceritakan kepada kami bahwa beberapa pengikut Al-Maturidi mengatakan itu kalam nafsi, tetapi boleh disimak. Sebab, tidak mustahil bagi Allah untuk memberikan kekuatan pada seseorang agar dapat menyimak kalam nafsi. Namury sebagian yang lain di kalangan pengikut Al-Maturidiyah menampik itu bukan kalam nafsi. Dalam pandangan mereka, supaya pembicaraan dapat didengar, mempersyaratkan adanya huruf dan suara. Al-Bayadhi mengatakan, "Suara dan huruf merupakan syarat dan tanda sesuatu bisa didengar. Itulah yang menentukan sesuatu bisa didengar atau tidak.t'1
Al-Maturidi menegaskan perbedaan antara firman Allah dengan perkataan makhluk. Sebab, perkataan kita terdiri dari huruf dan suara, sedangkan firman Allah tidaklah demikian. Perkataan yang tersusun dari suara itu tergolongbaru, sedangkan firman Allah itu azali dan eternal. Menurut Al-Maturidi, menyebut firman Allah tersusun dari suara dan huruf itu hanyalah majaz, bukan makna yang sesungguhnya. sebab, pendengaran berhubungan erat dengan suara. Sesuatu yang tidak bersuara, tidak mungkin dapat didengar.
Firman Allah juga tidak terdiri dari huruf dan suara. Maka, tidak mungkin dapat didengar, kecuali melalui perantaraan suara yang diciptakan oleh-Nya, sebagaimana diperdengarkan kepada Musa. Berarti, tidaklah keliru menyebut Kalamullahyang terdengar seperti ini sebagai majaz.
Al-Maturidi mengetengahkan banyak dalil yang menunjukkanbahwa suara yang terdengar itu adalah kalam. Allah Sg berfirman, " D an j ika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia, supaya ia mendengar firman Allah...(At-Taubah:6)
Kelihatannya, yartg terdengar dari Rasulullah M bukanlah Kalam Allah yang sesungguhnya. Begitu pula perbincangan melalui wahyu, tidak ada unsur pendengaran. Wahyu melontarkan makna ke dalam hati. Begitu pula wahyu yang disampaikan melalui utusan (malaikat Jibril), yang terdengar adalah suara Rasulullah, bukan suara utusan itu.1
Menyoal perbuatan manusia, Al-Maturidiyah berada di tengahtengah, antara Mu'tazilah yang menafikan perbuatan manusia sebagai makhluk Allah dan menisbatkannya pada manusia sendiri, dengan Asy'ariyah yang menafikan perbuatan manusia sebagai ciptaan manusia sendiri dan menisbatkannya kepadakasab (hasil usaha). Akan tetapi, mereka men#ikan kekuasaan insani berpengaruh terhadap perbuatan ini. Menurut Al-Maturidi, perbuatan manusia itu diciptakan Allah dengan kekuasaanNya yang mutlak dan tunduk pada kehendak-Nya yang bersifat umum, tetapi dapat dikerjakan oleh manusia dengan ikhtiar dan keinginannya yangmuhdatsah (baru).Jadi, perbuatan itu disandarkan kepada Allah dalam hal penciptaan-menjadikannya ada dari tidak ada-dan disandarkan kepada manusia dalam hal pengerjaan. Penyandaran ganda ini tidaklah bertentangan satu sama lain. Sebab, sisi penyandarannya terpisah.
Abu Manshur mengemukakan beberapa dalil yang mendukung kesahihan pendapatnya ini, baik bersifat aqli maupun naqli. Pada waktu beramaan, Al-Maturidiyah membantah Mu'tazilah yang memerdekakan kekuasaan manusia untuk melakukan perbuatan dari kekuasaan Allah. Menurut mereka, hal itu bertentangan dengan nash-nash yang menyatakan bahwa Allah menciptakan dan menjadikannya ada. Begitu pula bertentangan dengan akal, karena bagaimana mungkin sesuatu yang tidak masuk dalam kuasa-Nya berada di dalam kerajaan-Nya.
Di sisi lain, membantah dalil-clalil ]abariyah, karena meniscayakan kesia-siaan bagi adanya perintah, larangan, dan pengutusan para Rasul.1
Allah jualah yang memberikan perintah, larangan, janji, dan ancaman. Allah dc berfirman, "Lakukanlah apa saja yang kalian inginkar" (Fushshilat: 40). Qan Dia berfirman, "Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan" (As-Sajdah: 17). Pada saat bersamaan Allah berfirman, "Allablah yang m e n cip t akan s egal a se su atu " (Az-Zurnar: 62l. Dan Dia berfirmary " D an D ial ah Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan" (Ash-Shaffat: 96). Ayat-ayat ini dan lainnya menunjukkan bahwa Sang Pencipta yang menjadikan sesuatu ada dari tidak ada adalah Allatu tidak ada Tuhan selain Dia. Tidak ada Pencipta selain Dia. Selain itu, ayat ini juga menunjukkan bahwa manusia pula hakuntukmemiliki untukmelakukanatau tidak. Jadi, naqli maupun aqli secara tegas menyatakan bahwa dalam hal pengadaan, itu disandarkan kepada Allah. Adapun dalam hal melakukannya disandarkan kepada manusia. Masing-masing mengetahui dengan sendirinya bahwa ia memilih yang dilakukannya.r6
Ulama sepakat bahwa tidak ada Pencipta selain Allah. Kalau saja yang menciptakan atau mengeluarkan dari tidak ada menjadi ada-sebagaimana firrnan Allah $4, "Adakah pencipta selain AllahT" (Fathir: 3)-sebagaimana dikatakan M u'tazilah, maka berarti mengakui adanya pencipta selain Allah. Ketika seseorang langsung melakukan suatu perbuatan, berarti ia mampu mengerjakannya karena dibuat mampu oleh Allah. Tidak boleh ia mampu karena dibuat mampu oleh siapa saja yang tidak punya kemampuan untuk melakukan. Di sinilah letak pertentangan.l6Ta Selanjutnya, Al-Maturidi menuturkan dalil-dalil atas kebenaran madzhabnya, yang pada akhirnya menegaskan kesalahan Madzhab Mu'tazilah dan Jabariyah. Hakikat ini seiring berkelindan dengan pendapat kaum salaf yang mengatakan, "Allah-lah yang menciptakan perbuatan, dan manusia mengerjakannya atas ikhtiamya sendiri."1675 Dengan begifu, ia telah mempertemukan ayatayat yang tampak bertentangan, yartg dijadikan dalil oleh Mu'tazilah dan Jabariyah berdasarkan sudut pandang masing-masing. Sikap Al-Maturidiyah ini berbeda dengan Asy'ariyah dengan adanya tambahan kebebasan kehendak (hurriyyatul iradall dan ikhtiar dalam diri manusia. Di situlah letak tanggung jawabnya.
Di antara cabang masalah penciptaan perbuatan menurut para teolog kalam berhubungan dengan masalah kemampuan manusia. Termasuk, apakah kemampuan tersebut sudah ada sebelum, atau bersamaan dengan perbuatan itu sendiri? Dan, apakah ia cocok bagi perbuatan sebaliknya atau tidak? Menurut pendapat yang rnasyhur di kalangan Mu'tazilatr, kemampuan tersebut sudah ada sebelum perbuatan, dan cocok bagi perbuatan sebaliknya
Sementara itu, Asy'ariyah menilai, kemampuan tersebut bersamaan dengan perbuatan, dan tidak cocok bagi perbuatan sebaliknya. Kemampuan yang cocok bagi ketaatan, pada saat yang bersamaan tidak cocok bagi kemaksiatan.
Al-Maturidi menjelaskan hal itu secara rinci. Ia berkata, "Bagi kami, yang disebut kemampuan itu pada dasarnya ada dua macam:
Pertama, sebab dan alatnya benar dan sah. Kemampuan seperti ini mendahului perbuatan, tidak terikat dengan perbuatan tertentu, meskipun perbuatan tidaklah sempurna kecuali dengannya. Ini merupakan nikmat Allah yang wajib disyukuri. Nah, kemampuan inilah yang meniscayakan taklif lunfuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Jika tidak memiliki kemampuan ini, seseorang tidaklah dibebani perintah dan larangan sama sekali.1
Kedua, kemampuan yang berbarengan dengan perbuatan. Suatu perbuatan tidak akan terjadi kecuali dengannya. Kemampuan dimaksud adalah dalam memilih dan memprioritaskan perbuatan. Dengan kemampuan ini, perbuatan terasa ringarr.l6n Tentang kedua kemampuanini, Al-Maturidi mengemukakan dalil-dalil Al-Qur'an, salah satunya firman Allah d6, " Makfr, barangsiapa tidak marnpu, (cukuplah baginya) membei makan enam puluh orang miskin" (Al-Mujaditah:4). Dan Allah $6 berfirman, "Kalau sajakami tnampu, pastilah kami keluar bersama kalian." Di dalam ayat pertama, kemampuan dimaksud mengungkapkan perolehan alat dan kesanggupan, seperti memiliki makanan untuk sejumlah enam puluh orang miskin. Sedangkan di dalam ayat kedua, menggambarkan kepemilikan alat-alat untuk berperang. Adapun dalil kemampuan jenis kedua terdapat dalam firman Allah " Merekn tidak mampu mmdengar kebcnaran) dnn tidak dapat melihnt(nya) " (Hud: 20). Dan, Allah berfirman, " Sesungguhnya kamu tidak akan mampu bersabar bersamaku." Di dalam ayat pertama di atas, kemampuan dimaksud adalah hilangnya pendengaran dan penglihatan. Demikian itu bisa bermakna hakiki, bisa pula liermaknamajazi. Adapun di dalam ayat kedua, kemampuan dimaksud adalah hilangnya kesabaran Musa ketika perahu ditenggelamkan, dan ketika anak kecil dibunuh
Banyak sekali dalil yang dikemukakan Al-Maturidi berkenaan dengan dua jenis kemampuan ini. Akhir dari perbincangannya dengan Mu'tazilah menegaskan kesalahan madzhab mereka. Termasuk dengan Asy'ariyah yang mengatakan bahwa kemampuan tidak lain berbarengan dengan perbuatan.1
Dalam pandangan Al-Maturidi, kemampuan itu cocok bagi suatu perbuatan dan kebalikannya/ sebagaimana diceritakan dari Abu Hanifah dan para pengikutnya.l6
Kesahihan pendapatnya dibuktikan dengan sebab terjadinya suatu perbuatan bisa bersumber darinya, bisa pula dari kebalikannya. Lidah itu bisa berbicara jujur, bisa pula berbohong. Tangan itu bisa menjulurkan sedekah, bisa pula terjulur untuk mencuri. Kedua kaki bisa menyeret seseorang ke masjid, bisa pula menyeretnya untuk merampok. Jadi, dari sudut pandangan seperti ini, kemamPu.rn seseorang itu bisa menjadi sebab ketaatary bisa pula menjadi sebab kemaksiatan. Jika kemampuan tidak cocok bagi kebalikannya, maka perbuatan manusia pasti karena dipaksa, bukan atas pilihannya sendiri. ]ika itu terjadi, perbuatannya tidak patut diperhitungkan; apakah mendapat pahala atau siksa. Percuma, karena tidak ada unsur keinginan dan ikhtiar dalam perbuatan manusia
KEBERADAAN (WUJUD) ALLAH TA'ALA
Al-Maturidiyah menjadikan ke-huduts-art alam sebagai bukti bahwa ia ada yang mengadakan atau menciptakan. Oleh karena itu, ia memulai Kitab Tauhid-nyadengan membuktikan bahwa alaminihudufs (baru), baru kemudian membuktikan bahwa Allah itu ada
Ke-huduts-an alam ini ia buktikan dengan datll naqli maupun aqli. Mula-mula ia buktikan dengan pendengaran (maksudnya, Al-Qur'an), kemudian logika. Keduanya sama-sama merupakan sumber pengetahuan. Di dalam Al-Qur'an Allah berfirman, "Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu." Dalam arti kata, Dialah Allah yang menciptakan segala yang ada di langit dan bumi. Adapun pembuktian dengan indera, segala sesuatu yang ada di dalam semesta ini, baik yang kecil mauPun yang besar, bisa dipastikan membutuhkan yang lain. Indera menyaksikan bahwa seluruh yang ada di alam semesta ini membutuhkan yang lain. Dan, kebutuhan meniscayakanhuduts. Oleh karena itu, alam ini berarti huduts (kebaruan). Al-Maturidi mengemukakan banyak dalil tentang ke-huduts-an alam ini,sebagian diambil dari Mu'tazilah, dan sebagian lagi dari para filsuf. Sebagai contoh, dalil perubahary gerak dan diam, iuga jauhar dmr/ardh.1
Setelah itu, berpindah pada pembuktian keberadaan Allah. [a berkata, "Bukti bahwa alam ini muhdats telah kami jelaskan. Kami juga menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu sepertinya di alam nyata ini, yang bergabung atau terpisah dengannya. Hal ini menegaskan bahwa persatuan atau perpisahan itu karena lainnya. Sejatinya, di dalam membuktikan keberadaan Allah, banyak sekali kita temukan dalil-dalil akal yang dikemukakan oleh AlMaturidi, antara lain:
- Andaikata alam ini ada dengan sendirinya, tidak ada waktu yang lebih pantas, tidak ada keadaan yang lebih baik, dan tidak ada pula sifat yang lebih patut. Akan tetapi, jika alam ini ada pada waktu, keadaan, dan sifat tertentu, berarti jelas itu bukan ada dengan sendirinya. Jika masih diklaim ada dengan sendirinya, maka segala sesuatu boleh menentukan bagi dirinya sendiri keadaan dan sifat terbaik. Jika itu terjadi, apalah arti kejahatan dan keburukan. Akan tetapi, kejahatan dan keburukan itu ada di alam ini. Jadi, ini menunjukkan bahwa alam ini ada karena yang lain.
- Andaikata alam ini ada dengan sendirinya, maka ia pun akan kekal dengan sendirinya. Selain itu, ia akan berada dalam satu keadaan yang sama. Oleh karena alam ini tidak bisa kekal dalam satu keadaan, ini menunjukkan bahwa ia ada karena lainnya
- Setiap substansi terkumpul di alam ini, termasuk bagian-bagian yang 'bertolak belakang atau bertentangan. Ini tidak mungkin terjadi kalau tidak ada yang mengumpulkan. Nah, demikian itu pasti memiliki hikmah dan tujuan tertentu. Persatuan atau perkumpulan di tengah perbedaan ini menunjukkan adanya yang menyatukan. Begitulah Al-Maturidi membuktikan keberadaan Allah berdasarkan konsepsi akal. Itulah cara dia membantah orang-orang kafir yang mengingkari keberadaan Allah.
- Salah satu dalil yang dipakai Al-Maturidi dalam hal ini adalah dalil al-'ilyah, menggunakan dua konsep pemikiran; al:illah al-fa'ilah (sebab yang aktif) dan al:illah al-ghaibah (sebab yang gaib). |adi, alam ini adalah akibat penciptaan dari ketiadaan. Juga akibat dari penyatuan substansi-substansi di dalamnya yang berbeda-beda. Sebagaimana perahu dan tulisan itu adalah akibat dari penulis dan pembangunan/maka alam ini pun juga akibat dari Pencipta yang menjadikannya ada dari ketiadaan. Ini dalil logika yang tidak terbantahkan.l6
Begitu jug,a al-'illah al-ghaibah (sebab yang gaib), sesungguhnya konsepsi akal tentang keadaan alam yang berubah-ubah, termasuk di dalamnya ketelitian pembuatan dan tanda-tanda perhatian terhadap manusia dengan ditundukkannya segala sesuatu kepadanya, menunjukkan penafian kesia-siaan dari satu sisi, juga menunjukkan adanya hikmah dan tujuan tertentu di sisi yang lain. Menurutnya, alam ini adalah cermin untuk melihat sifat-sifat Tuhan, akal harus dapat membaca hal itu sebisa mungkin.l6& Itulah bukti kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Dan, itulah bukti adanya Pencipta Yang Mahabijaksana