Minggu, 23 Februari 2025

Mengenali Paham dan Doktrin Imam Al-Maturidi

ALIRAN dalam teologi Islam ini dinisbatkan kepada Imam Abu Manshur Mahmud bin Mahmud Al-Maturidi. Sebutan Al-Maturidi dinisbatkan kepada daerah tempat tinggalnya, Maturid, salah satu desa di Samarkand, termasuk di wilayah Transoxiana (Ma Wara'a An- Nahr). Ada juga yang menyebutnya Maturit dengan ta' mutsanna. Di wilayah Transoxiana, AlMaturidi juga dijuluki Imam Ahlu Sunnah. Selain itu, dijuluki Al-Anshari, dinisbatkan kepada Abu Ayyub Al-Anshari, seseorang yang ketempatan Rasulullah ffi sewaktu hijrah ke Madinah. Ia juga disebut Imam Al-Huda, juga imam para teolog kalam di masanya.

Akan tetapi, buku-buku biografi yang ada tidak menyebutkan secara pasti tanggal kelahirannya. Tidak pula menceritakan keluarganya. Beberapa kalangan menduga kuat, ia lahir sekitar tahun 228}l.. Sebab, Al-Maturidi sempat berguru kepada Muhammad bin Muqatil Ar-Razi (w. 2a8 H.). Namun, ada semacam kesepakatary bahwa ia meninggal dunia pada tahun 333 H. Jika dugaan ini benar, berarti Al-Maturidi dikaruniai umur panjang; kurang lebih satu abad.Jenazahnya dikuburkan di Samarkand.l

Al-Maturidi belajar pada banyak syaikh. Ia belajar fikih dan ushul kepada Abu Bakar Al-Jauzani, Abu Nahr Al-Iyadh, Muhammad bin Muqatil Ar-Razi, dan Nashir bin Yahya. Semuanya adalah syaikh Madzhab Hanafi. Mereka juga termasukyang memberikan penjelasan atas Rasa'il AbiHanifah dan wasiat-wasiatnya, yang di tangan Abu Manshur Al-Maturidi kemudian beralih menjadi manhaj tersendiri di bidang ilmu kalam. Ia membenarkan dan membuktikan kebenarannya dengan dalil-dalil Iogika.16a7 Para sejarawan menganggap Al-Maturidi sebagai teolog kalam dari kalangan Hanafiyah. Dialah pendiri madrasah kalamiyah yang diberi nama sesuai namanya, Al-Maturidiyah. Di bidang akidah dan furu' fikih, mayoritas pengikut Hanafiyyah bergantung kepadanya, terutama mereka yang tinggal di negeri Transoxiana, Turki, Asia Timur, dan Asia Tengah secara umum

Di antara murid Al-Maturidi yang terkenal adalah Abu Al-Qasim Ishaq bin Muhammad bin Ismail, yang dikenal dengan Al-Hakim Assamarqandi (w. 340 H), Abu Muhammad Abdut Karim, yang dikenal dengan Al-Bazdawi(w. 390 H), Abu Al-layts Al-Bukhari. Melalui keempat imam itulah Madzhab Al-Maturidiyah tersebar di seantero Samarkand dan dunia Islam, terutama wilayah-wilayah yang tunduk pada Dinasti Ottoman.

Imam Al-Maturidi muncul pada masa-masa bersejarah yang sangat penting bagi sejarah pemikiran Islam, yaitu ketika Madzhab I'tizal (Mu'tazilah) menguasai para Khalifah Abbasiyah yang mendukung pemikiran Mu'tazilah, bahkan terkadang memaksakannya pada khalayak dengan pedang dan kekuasaan. Di sisi lain, kaum salaf dan pata almuhaddits yang berpegang teguh pada nash-nash shahih. menghadapi "rasionalisasi" yang diusung Mu'tazilah, dan dalam beberapa masalah akidah dikedepankan daripada nash. Pemikiran mereka meniadi ujian bagi umat Islam. Beberapa kalangan yang berpegang teguh pada dalil-dalil naqli bereaksi keras terhadap pemikiran dan pandangan Mu'tazilah yang tidak sejalan dengan akidah Islam yang benar.

Di tengah pePerangan antara mereka yang memegang teguh nash dengan yang mengedepan akal, muncullah Abu lvlanshur Al-Maturidi di wilayah Transoxiana, sebagaimana juga muncul Imam Abu Hasan A1- Asy'ari di Baghdad (w. 324 $. Masing-masing mereka menSusung semangat membela akidah Islam yang benar,yan1didasarkan pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah M yang shahih. Sekaligus, pada waktu bersamaan, sejalan dengan logika. Oleh karena itu, bagi siapapun yang membaca turats ketiga imam itu, akan mendapati mereka membantah Mu'tazilah yang mengedepankan akal daripada nash. Pada waktu bersamaan, mereka juga mengemukakan dalil-dalil akidah yang menggabungkan unsur nash dan logika. Dalam manhajmereka terlihat jelas nash dan logika itu bersaudara, bukan bertentangan, di dalam memandang akidah Islam

Al-Maturidi memiliki wawasan yang luas. Ilmu-ilmu keislamannya berlimpah. Ia menulis buku di bidang fikih, tafsir, dan ilmu kalam. Ia juga meloniarkan bantahan terhadap kelompok yang berseberangan, seperti Mu'tazilah dan Mujassimah, sebagaimana mereka membela Islam dari rongrongan Majusi, Watsaniyah (Paganis), dan sebagainya. Kitab-kitab yang menggambarkan kehebatannya di bidang ilmu-ilmu syariat, juga berisi bantahannya atas kelompok-kelompok yang berseberangan dengan Ahlu Sunnah wal ]amaah, antara lain:

  1. Kitab Ta'wilat Ahli As-Sunnah fi Tafsir Al-Qur'an. Salah satu jilidnya dicetak di Kairo.
  2. Al-lidal fiUshul Al-Fiqh
  3. Ushuluddin
  4. Al-Maqalat fi'llmi Al-Kalam
  5. At-Tauhid; fi Shahih Al-l'tiqad, yangdi-tahqiq dan dipublikasikan sejak beberapa abad yang silam
  6. Wahmu Al-Mtt'tazilah, yang merupakan bantahan atas Mu'tazilah;
  7. Raddu Awa'ili Adillat Al-Ka'bi, di bidang ilmu kalam;
  8. Radd Al-Ushul Al-Khamsahli AlBahili, yang merupakan bantahan atas Mu'tazilah;
  9. Ar-Raddu'ala Al-Qaramithah, mertpakan diskusi atas Bathiniyah
  10. Kitab Al-lmamah oleh salah seorang penganut Syiah di dalam mendiskusikan pemikiran-pemikiran mereka tentang imamah;
  11. Wa'id Al-Fussaq li Al-Ka'bi, yang mendiskusikan salah satu ushul AlI'tidzal.

METODE (MANHAJ) TEOLOGI AL-MATURIDIYAH

Al-Maturidi membangun manhaj berdasarkan teori ma'rifah dalam menghasilkan ilmu hakikat, yang dilandaskan tiga perkara. Demikian itu dikemukakan Al-Maturidi di awal Kitab At-Tauhid.Ia berkata, "lalan untuk mencapai ilmu tentang hakikat sesuatu itu ada tiga, yaitu; 'iyan (mengamati), akhbar (informasi) , dan nazhar (berpikir).1

Selanjutnya, ia menjelaskan, " Al-'lyan itu adalah mengamati sesuatu yang dapat diindera. Ilmu ini tidak terbantahkan. Dalam arti kata, tidak bisa dibilang tidak tahu. Barangsiapa bilang tidak tahu, berarti ia mengingkari hakikat sesuatu." Al-Maturidi menambahkan, "Barangsiapa seperti itu, ia tak ubahnya binatang. Sebab, ia mengingkari sesuatu yang dapat disaksikan dengan mata, dan dapat diindera. Tak ada yang mengingkari hal itu selain orang yang akalnya tertimpa bencana (bodoh)."

Al-Akhbar atau informasi, menurutnya ada dua macam, yaitu; al-khabar ash-shadiq (in{ormasi yang benar). Berangsiapa mengingkarinya, berarti ia keluar dari wilayahkhithab. Selanjutnya, ia digabungkan dengan mereka yang mengingkari hal-hal inderawi. Sebab, ia mengingkari sesuatu yang meliputi namanya, nasabnya, substansinya, nama jauharnya, dan nama segala sesuatu darinya. Padahal, ilmu tentang segala sesuatu ini dihasilkan oleh kita darikhabar atau informasi, bukan dari mengamati atau berpikir.

Bagaimana mungkin seseorang mengingkari sesuatu yang tidak ada di masa lalu, atau tidak ada pada saat itu, padahal itu diketahui menjadi sumber penghidupan dan makanannya, juga untuk menjaga kesehatannya. Semua itu diperoleh melalui informasi, bukan dengan mengamati. AlMaturidi mengetengahkan banyak dalil yang menunjukkan dibenarkannya menjadikan al-khabar ash-shadiq sebagai sumber ilmu tentang hakikat sesuatu.

Adapun an-nazhar al-aqli (berpikir) merupakan jalan untuk mencapai ilmu tentang sesuatu yang tidak dapat diindera atau samar, seperti ilmu tentang al-kulliyyat al-aqliyyah. Sebagai contotL ilmu tentang tandatanda kerasulary juga perbedaannva dengan sihir. Melalui akal, cahaya kebenaran dapat dibedakan dari gelapnya kebatilan. Atas dasar itu, Allah de menurdnkan dalil-dalil shahih yang menakjubkan tentang kebenaran Rasul dan Al-Qur'an.16

Seseorang tidak akan bisa membantah pemikiran, kecuali dengan pemikiran juga. Itu saja sudah cukup untuk menyanggah pernyataan mereka yang mengingkari pemikiran di dalammenghasilkan ilmu tentang hakikat sesuatu.

Dalam pandangan Al-Maturidi dan para pengikutnya, tidak semua khabar menghasilkan ilmu yakin. Hanya ada dua macam khabar yang menghasilkan ilmu yakin, yaitu: khabar yang mutautatir, dan khabar para Rasul. Sebab, keduanya terpelihara dari kesalahan dan kebohongan. Selain itu, keduanya diperkuat ayat-ayat yang menunjukkan kebenaran informasi mereka. Jadi, akal dan nash itu merupakan sumber untuk mengetahtiushul danfuru'agama.

Sebagai cabang pembahasan tentang wasa'il al-ma'rifah dalam teologi Al-Maturidiyah, mereka mengkaji penggunaa n khab ar ahad sebagai dalil termasuk apakah ia menghasilkan ilmu atau tidak? Apakah mengenal Allah itu diwajibkan oleh pemikiran atau diwajibkansyara'?

Dalam Kitab At-Tauhid,tast Al-Maturidi secara gamblang mengatakan bahwa khabar yang tidak mencapai derajat mutawatir wajib diamalkan. Akan tetapi, ia tidak mencapai tingkatan yakin dalam menghasilkan ilmu.

Dalam menyikapi khabar ahad, para pengikut Al-Maturidi juga mengikuti manhaj itu. An-Nashiri berkata, "Khabar ahad itu mewajibkan amal, tetapi tidak mewajibkan ilmu... Selain itu, akidah tidak dapat dibangun di atas pondasi khabar ahad. Sebab, ia tidak menghasilkan ilmu yakin." At-Tiftazani berkata, "Di bidang akidah, dengan memerhatikan keterpenuhan syarat, khab ar ahad hany a menghasilk an zhann.'

An-Nazhar Al-Aqli (berpikir) itu wajib menurut Al-Maturidiyah. Sebab, itu meniscayakan ma'rifatullah. Selain itu, baik dan buruk itu sesuai pertimbangan akal, bukan agama. Sebab, keduanya merupakan zat sesuatu. Akan tetapi, pengetahuan akal tentang sisi-sisi baik dan buruk tidaklah mutlak dalam segala sesuatu dan perbuatan, melainkan hanya pada beberapa saja. Ia berhubungan dengan hal-hal yang membahayakan dan bermanfaat bagi kehidupan saja. Sebab, Allah de menjadikan manusia

mampu membedakan, juga mengetahui yang terpuji dan tercela dalam segala sesuatu. selain itu, yang tercela Dia jadikan buruk dalam pandangan akal mereka, sedangkan yang terpuji dijadikan baik dalam pandangan akal mereka. Menurut akal mereka, lebih mengutamakan yang buruk daripada yang baik itu merupakan persoalan besar. Dan, menginginkan yang tercela, merupakan kebalikan dari yang terpuji.

Allah menjadikan yang ada pada diri mereka berganti-ganti, antara yang berbahaya untuk dihindari dengan yang bermanfaat untuk diminati. Demikian itu agar mereka mengenal Hari Akhir yang berisikan janji dan ancaman. selain itu, Allah juga memberikan mereka tabiat cenderung pada sesuatu. Dia perlihatkan pada akal mereka akibat yang baik dari menjauhi kebaikan yang dibenci tabiat, dan Dia juga perlihatkan pada akal mereka akibat yang buruk dari keburukan yang digandrungi tabiat mereka.1

Melalui pernyataan di atas, terlihat jelas perhatian Al-Maturidi dan murid-muridnya terhadap Peran pemikiran, termasuk urgensinya secara umum di dalam madzhabnya, sehingga dalam beberapa perso4lan ia mendekati Mu'tazilah

Hal ini menggambarkan perkembangan madzhab secara keseluruhan di tangan para sejarawan, sampai-sampai beberapa di antara mereka ada yang terus terang menyatakanbahwa akal itu merupakan salah satu huijah Allah $8. Sebelum datangnya syariat, kita wajib mencari pembuktian lewat akal. Adapun Rasul dan wahyu menjadi penyempuma agama dari petunjuk yang telah dicapai akal dalam hal ibadah, perintah, batasan, persoalan Hari Kiamat hingga berbagai sam'iyyatlainnya. sebab, iika hanya mengandalkan akal saja, akan menjadi masalah.1

Belakangan ini, ada beberapa golongan yang lebih mengedepankan akal daripada nash, ketika keduanya diduga bertentangan. Ia berhujiah dengan pendapatnya sendiri, sebagaimana dilakukan Mu'tazilah dan generasi terakhir Asy'ariyah, yaitu bahwa syariat itu ditetapkan oleh akal. Jadi, ketetapannya bergantung pada bukti mengagumkan atas kebenaran yang disampaikan. Dan, bukti tersebut ditetapkan oleh akal. Maka, jika agama membenarkan sesuatu yang didustakan akal-padahal ia merupakan saksinya -, niscaya keduanya sama-sama batal.1

Hal ini menjelaskan bahwa madzhab telah melalui beberapa tahap perkembangan di tangan para pengikutnya sesudah kepergian Al-Maturidi. Bagaimana pun, perhatian Al-Maturidi terhadap pemikiran, mengajaknya untuk menolak taklid, serta mewajibkan untuk mengenal agama dengan dalil yang shatrih, baik melalui pendengaran maupun pemikiran. Dua hal itulah yang menurutnya menjadi sumber pengetahuan agama. Tak lupa ia menjelaskan bahwa taklid di bidang akidah tidak bisa dimaafkan, karena masing-masing kita dituntut untuk mengetahui kebenaran agama yang dianutnya. Dan, itu tidak bisa dicapai dengan kebodohan.l

Dalam bab Asma' ua Ash-Shifaf, Al-Maturidi menilai, pembicaraan mengenai nama dan sifat Allah harus berlandaskan kaidah universal dan holistik sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur/an, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Mahn Mendenger, Mahn Melihnt" (AsySyura:11)

Kaidah ini merupakan landasan berpilak dalam menerima informasi mengenai sifat dan nama Allah. Semua nama atau sifat yang disebutkan dalam Al-Qur'an atau hadits wajib dipahami berdasarkan pondasi ini. Jadi, kita pun mengimaninya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an, tidak perlu menyamakan Allah dengan makhluk-Nya y angmemiliki kesamaan sifat. Sebab, kesamaan nama tidak lantas berarti kesamaan substansi yang diberi nama

Al-Maturidi menegaskan hal ini di banyak bagian Kitab At-Tauhid.la berkata, "Yang prinsip bagi kami, Allah memiliki sifat-sifat dzatiyah untuk menamakan diri-Nya, seperti; Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih). Sifat-sifat dzatiyah y ang kita sandangkan kepada-Nya, seperti Mengetahui Sesuatu dan Berkuasa Atas Segala Sesuatu, adalah sesuai kemampuan dan keterbatasan ungkapan kita. Karena pengetahuan tentang sifat-sifat itu diperoleh dari kesaksian, maka bisa dipastikan sama dalam pelafalan.l6s\adi, hanya soal pelafalan. Bukankah kata yang dipakai untuk menyifati-Nya, seperti'Alim (berilmu) dan Qadir (berkuasa) itu lebih mudah dipahami?

Kalau saja yang dibar,t'a para Rasul itu mengandung unsur tasybih (penyamaan Tuhan dengan makhluk), berarti mereka telah menjadi sebab pengingkaran tauhid.t6s8 Atas dasar inilah Al-Maturidi menentukan sikap dalam soal sifat-sifat Tuhan. Ia menetapkan bahwa Allah memiliki sifatsifat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an, tanpa mempertanyakan bagaimana, atau menyamakannya dengan sifat makhluk (tasybih), dan tidak pula menginterpretasikannya. Ia berkata, "Yang prinsip bagi kami, tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Allah. |adi, irri menafikan keserupaan dengan makhluk-Nya. Sebagaimana kami jelaskan, perbuatan dan sifat-sifat Allah tersucikan dari keserupaan dengan makhluk. Maka, kita wajib mengimani bahwa Allah Yang Maha Pengasih bertahta di atas singgasana, sebagaimana dijelaskan Al-Qur'an, dibenarkan oleh akal, dan tidak diinterpretasikan sama sekali. Kita mengimani apa saja yang dikehendaki Allah, termasuk segala sesuatu yang ditetapkan Al-Qur'an seperti ar-ru' y ah (penglihatan) dan sebagainya."

ika ada yang bertanya, "Bagaimana Allah melihat?" Jawab, "Tak perlu kamu tanyakan bagaimana. Sebab, pertanyaan bagaimana itu hanya untuk yang memiliki bentuk. Dia melihat tanpa dikaitkan dengan sifat berdiri, duduk, bersandar, bergelantung, tersambung, terpisah, menghadap, membelakangi, pendek, panjang, dan sebagainya... Tidak ada kandungan makna wahm di dalamnya, karena Allah Mahasuci dari hal itu.//1

Inilah manhajumum yang ditempuh Al-Maturidi dalam menyikapi sifat-sifat Allah. Demikian itu dinyatakan berulang kali dalam tafsir AlQur'an, setiap kali diperlukan. Itulah manhaj yang diisyaratkan Imam Malik dalam pernyataannya ketika ditanya tentang istiwa'.Ia menjawab, "lstiwa'itu dapat diketahui, tetapi bagaimana cara Allah bet-istiwa' tidak dapat diketahui." Jadi, cukuplah makna yang tersebut dalam Al-Qur'an sebagai sifat Allah, tanpa menentukan bagaimananya, pun tanpa zo ahm y ang menyerupakan Dia dengan makhluk-Nya. Al-Maturidi menaruh perhatian besar terhadap pernyataan sikapnya ini secara terus terang, khususnya dalam membantah Mu'tazilah, Mujassimah, dan Hasywiyah.16

Adapun ayat yang menyifati Allah seolah-olah memiliki "anggota badan" -seperti tangary memegang, mata, wajah-, atau menyifati-Nya seolah-olah merupakan jism - seperti seperti datang dan sebagainya-AlMaturidi menafikan semua itu dari Allah Jc. Penyandangan sifat-sifat ini kepada Allah tidak lantas berarti ia memiliki anggota badan atat jism. Sebab, ayat tersebut harus dipahami sesuai kaidah umum dalam Al-Qnr'a7'; "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat" (Asy-Syura:11). Ayat ini menghimpun penetapan sifat Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, sekaligus penafian keserupaan dengan makhluk-Nya. Sifat-sifat ini harus ditafsirkan berdasarkan makna linguistik yang diturunkan Al-Qur'an, bukan dengan makna tekstualnya. Alih-alih, lafazh tersebut digiring pada makna yang sesuai dengan Zat Allah. Karena itu kami katakan, "Yang dimaksud ayat ini, tentang bagaimananya, serahkan semua itu kepada Allah. Kata tangan memang muncul sebagai sifat Allah, tetapi di dalam bahasa Arab memiliki lebih dari satu makna, antara lain bermakna kekuasaan dan nikrnat. Begitu pula wajah dan mata. Semua sifat ini jangan dimaknai secara tekstual, supaya tidak menimbulkan tasybih. Biarkan makna yang sesungguhnya Allah saja yang mengetahui, kita tidak perlu menentukannya. Selain itu, tolak semua penafsiran yang bernuansakaniismiyyah di satu sisi, dan menganulir sifat di sisi yang lain." Al-Maturidi berkata, "Telah kami tegaskan bahwa yang menciptakan alam ini Esa dan eternal. Jacli, tidak ada yang menyerupaiNya... Sifat yang disandangkan kepada Allah d6 berbeda dengan sifat yang disandangkan kepada makhluk. Penetapan sifat-sifat ini kepada Allah tak ubahnya penetapan keberadaan-Nya. Oleh karena keberadaan-Nya tidak sama dengan keberadaan yang lain-Nya, maka begitu pula nama dan sifatNya tidak ada yang menyerupai atau sama.1

Di tangan para pengikutnya, Al-Maturidiyah terus berkembang setelah kepergiannya. Belakangan banyak yang secara terang-terangan menyatakan terjadinya silangpendapat di kalangan imam madzhab setelah kepergiannya mengenai masalah sifat, juga ayat mutasyabihat dan makna yang dimaksudkannya. Beberapa menyerahkan makna dimaksud kepada Allah $c, sebagian lagi berusaha menafsirkannya

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait