Madzhab Al-Asy'ari -yang disebarkan oleh para pengikutnyaberkembang dan menyebar luas ke seluruh penjuru negeri Islam. Ini semua disebabkan beberapa faktor yang melatarbelakanginya, di antaranya:
1. PROFIL IMAM AL-ASY'ARI, SANG PENDIRI MADZHAB
Al-Asy'ari merupakan sosok yang mempunyai beberapa sifat khusus dan karakteristik yang menyebabkannya dapat diterima oleh masyarakat, yang tentunya faktor utama itu adalah keilmuannyayanrmendalam.
Karya-karya beliau sangat banyak, yang oleh para peneliti biografinya disebutkan karyanya mencapai 200-an kitab dan risalah. Karya-karya tersebut tergolong buah karya yang agung , yang sebagiannya terdiri dari dua belas kitab pembahasan, ada yang satu kitab terdiri dari empat puluh jilid, dan ada pula satu kitab yang memuat berbagai disiplin ilmu dengan berbagai permasalahan.262 Di antara kitab-kitab tersebut ada sebuah kitab yang berbicara tentang tafsir Al-Qur'an yang konon terdiri dariTOjili6.zos Beberapa karyanya secara keseluruhan mayoritas berisi tentang pokokpokok madzhab dan sanggahan atas para pengeritiknya. Baik mereka dari orang Islam sendiri atau lainnya dari agama lain atau orang-orang Atheis, dan menyingkap tentang kekuatan hujjah dan positifisme teorinya, serta perpaduan gerakan ilmiah pemikiran yang popular pada masanya, kemudian menerangkannya -dalam bentuk lain- ke dalam kitab-kitab dan karya-k ary any a; sebagai sanggahan atas banyak permasalahan di dunia Islam. Ia menulis kitab dan literatur yang memuat beberapa jawaban atas kaum Thabari, Khurasan, Sairafi, Arjani,ll.tsmani, Jurjani, Dimasyqi,Washithi, Baghdadi, dan lain sebagainya.
Kitab-kitabnya ini berada di tangan para murid dan sahabatnya, dan tersebar di antara mereka. Mereka merujuk kitab-kitab ini dan menukil apayang di dalamnya,yang meliputi pendapat dan permasalahannya.26s Ibnu Faurak menuturkan beberapa perkataan Al-Asy'ari yang ia ringkas dari32 kitab dan catatary yang tidak bisa kita nikmati kecuali hanya Kitab Al-Luma'.2
Kepribadian Al-Asy'ari yang memiliki ilmu melimpah dengan berbagai bidangnya, disertai kezuhudan dan ibadahnya, kehidupan kerohanian dan hubungaruryaytrtgdekat dengan Allah; semua ini terungkap dari perkataan sebagian ulama Asya'irah tentang diri Al-Asy'ari yang mengatakary "Imam Al-Asy'ari merupakan seorang master dalam ilmu tasawuf, sebagaimana dalam ilmu kalam dan ilmu-ilmu yang lainnya"'
Kemudian mereka - Asya'irah - mengatakan, "Ijtihad Imam Al-Asy'ari dalam masalah ibadah merupakan perkara yanganeh."2
Sebagian orang yang pernah hidup sezaman dengan Al-Asy'ari menuturkan, "Belum pemah ditemukan orang yang lebih hebat dari AlAsy'ari. Belum pernah juga terlihat seorang ulama yang begitu pemalu dalam urusan dunia, dan sangat giat dalam urusan akhirat, yang melebihi Al-Asy'ari."
Tak mengherankan jika seorang yang hebat, y angmengomParasikan antara ilmu dan kezuhudan serta kekuatan dalam berakidah ini memberikan pengaruh kuat dalam mengokohkan madzhabnya dalam urusan akal dan hati, sebagaimana juga memberikan pengaruh dalam penyebaran dan keberlangsungan madzhabnya ini.
2. KEMBALINYA PADA SYI'AR AL-QU/AN DAN AS-SUNNALL SERTA MENGIKUTI MADZHAB ULAMA SALAF DAN IMAM AHMAD BIN HANBAL YANGBANYAK DIIKUTI OLEH MAYORITAS ORANG MUKMIN SAAT IFU
Terlebih jika yang dimaksudkan adalah mereka para sahabat, tabi'in dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Karena mereka adalah sebaik-baik penghuni masa, yaitu orang-orang yang telah dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya.
Al-Asy'ari dalam mukaddimah Kitab Al-Ibanah menuturkan tentang sikapnya yang mengikuti para ulama salaf dan sebagamana dituturkan oleh para ulama hadits dan Sunni dalam Kitab Maqalat Al-lslamiyyin.2
Al-Asy'ari mempelajari literatur ulama salaf dalam hal menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah, dari sebagian gurunya yang di antaranya Zakariabin Yahya As-Saji, seorang ulama terpercaya.2
Ibnu Taimiyah ketika mengomentari pemikiran Asy'ari ini menyebutkan perkataan sebagian ulama yang telah mengatakary "Paham Asy'ari begitu diminati karena penisbatannya kepada madzhab Imam Hanbal."271 Selanjutnya ia mengatakan, "Al-Asy'ari dipuji karena dua hal yakni kecocokannya dengan ahli hadits serta sanggahannya terhadap orang yang tidak sesuai dengan hadits. Setiap orang yang mencintai Al-Asy'ari dan rela untuk membantunya."
Dalam hal ini dikatakan tentang Al-Asy'ari, "Al-Asy'ari mempunyai kesesuaian dengan madzhab Ahlu Sunnah dan hadits tentang sifat-sifat Allah, takdir, lmamah, syafaat, telaga, shirath, dan timbangan amal. Ia juga menyangkal pendapat Mu'tazilah, Qadariyah, Rafidhah, dan Jahmiyah. Disamping ia juga bersesuaian dengan As-Sunnah dan hadits maka AlAsy'ari diterima oleh para pengikutnya.2
Dapat dikatakan bahwa Al-Asy'ari telah sepakat dengan ulama salaf dalam beberapa masalah lainnya, selain yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah tadi, seperti pendapat tentang melihat Allah di akhirat, dan bahwa taklif (pembebanan) itu dasarnya adalah syara' bukan akal seperti pendapat Mu'tazilah, dan juga tidak diperbolehkan menggunakanlafazh wujub/wajib dan memberikannya kepada Allah, dan bahwa iman adalah ucapan dan amal yang bisa bertambah dan berkurantg,"3 meski iman jika yang dimaksudkan adalah pembenaran sebagaimana menurut ahli bahasa dan ayat-ayat Al-Qur'an,27a maka hal itu tidak dianggap sebagai perbedaan yang hakiki dengan pendapat ulama salaf, akan tetapi hanya perbedaan dari sisi lafzhi (secara lafal saja), karena sesungguhnya amal-amal adalah efek iman yang dengannya bisa menghindarkan dari pengkafiran bagi orang yang berdosa besar, dan bahwa orang yang berdosa besar merupakan orang mukmin yang maksiat, yangmana orang seperti ini dalam kehendak Allah untuk disiksa atau diampuni-Nya, akan tetapi tidak akan disiksa selamanya di neraka.
Al-Asy'ari memiliki pendapat yang berbeda dengan sebagian madzhab lain tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah,27s akan tetapi kesamaanantara dia dan madzhab lain lebih banyak dari perselisihannya
3. PEMIKIRAN MODERAT IMAM AL-ASY'ARI
Al-Asy,ari dan para pengikutnya mencoba mengambil pendapat moderat yang berbeda dengan golongan lain, sehingga dari kemoderatan inilah ia mendapatkan respon dari mayoritas masyarakat. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Al-Juwaini, bahwa Al-Asy'ari mengambil langkah moderat dalam sifat-sifat ketuhanan, dalam satu sisi antara paham Mu'tazilah, Jahmiyah, dan Rafidhah, dan di sisi lain paham mujassimah dan musyabbihah. Begitu juga tentang melihat Allah nanti di akhirat. Dalam'hal perbuatan manusia, Asy'ariah menganut paham moderat antara Jabbariyah dan Mu'tazilah, dan dalam hal pelaku dosa besar menganut paham moderat antara Murji' ah dan Mu' taz 1lah.2
Tentang hal ini, Ibnu Khaldun mengatakan, "sebelum A1-Asy',ari telah diketahui bersama ada penyimpangan pada ajaran a}arna, yaitu dengan adanya pembahasan ayat-ayat y ang mutasy abih y angmengarah pada taj sim dan berani keluar dari ayat-ayal tanzih (yu.g melarang atau menyalahkan pendapat mereka tentang takwil mereka itu), kemudian datang golongan Mu'tazilah yang berseberangan dengan pendapat tersebut. Mu'tazilah berpendapat bahwa harus menjeneralisasikan tanzih di setiap hal sampai menafikan s rtat-srtatma'ani dafisrtalilmu, qudrat, iradat, dmhayat Allah, yang hal ini tentunya akan memunculkan masalah baru lagi, yaitu adanya bilangan dalam sifat q adim.Kemndian datanglah Al-Asy'ari dengan mengambil jalan tengah antara pendapat pertama dengan pendapat kedua. Caranya adalah dengan menafikan tasybihdan menetapkan sifat-srtatma'ani bagi Allah dan membatasi tanzih pada batasan yang telah dibatasi oleh para ulama salaf dengan mendatangkan dalil-dalil yang mengkhususkan keumumannya.2
Dalam hal ini, Al-Maqriziz78 dan Muhammad Abduh (1905 M) juga memberikan tanggapan dengan mengatakan, "sesungguhnya metode AlAsy'ari telah diikuti oleh beberapa pembesar ulama seperti Al-Baqilani, Imam Al-Haramain, dan Al-Asfariyani yang mengambil jalan tengah atau moderat, yang menamai dirinya dengan sebutan Ahlu Sunnah wal Jamaah,zTe yang telah berhasil mengalahkan dua kekuatan besar di hadapan mereka yaitu; kekuatan zhahiriyah dan kekuatan radikal.2
4. BEBERAPA ULAMA AHLI ILMU KALAM MENISBATKAN DIRINYA ATAU BERAFILIASI KEPADA MADZHAB AL-ASY'ARI
Mereka mencurahkan perhatian dengan mendukung, menjelaskan pandangan-pandangan Al-Asy'ari menguatkan posisinya, dan ikut memberikan kontribusi dalam menyebarkan pendapat Al-Asy'ari dan melawan pendapat yang bertentangan dengannya.
Di antara mereka itu terdapat banyak pembesar ulama yang mempunyai kedudukan penting dalam khazanah peradaban Islam dan dalam kehidupan masyarakat Islam. Kalaulah mereka membangun madzhabnya sendiri tentunya mereka mampu melakukannya, dikarenakan kemampuan dan keilmuan mereka yang mumpuni. Namun mereka lebih memilih untuk mengikrarkan diri sebagai penganut Madzhab Al-Asy'ari. Mereka mempunyai peran besar dalam penyebaran Madzhab Asy'ari dan nrenjaga eksistensinya.
Ibnu Asakir misalnya mengakui keutamaan Al-Asy'ari karena ia mengetahui ulama-ulama yang berfiliasi kepadanya. Jikalau Al-Asy'ari bukan seorang yang mumpuni, pastilah mereka para ulama itu tidak akan mengikutinya.
Para ulama besar yang mengikuti pendapat Al-Asy'ari sangatlah banyak, yang jikalau kita ingin menyebutkannya satu persatu niscaya kita akan merasa keberatan. Adapun menyebutkan sebagian mereka adalah untuk sekadar memperlihatkan nama besar Al-Asy'ari.2
Berikut ini beberapa nama ulama besar yang menisbatkan dirinya pada Madzhab Al-Asy'ari:
- Abu Bakar Al-Baqilani (403 H)
- Abu Bakar bin Faurak (406 H)
- Abu Ishaq Al-FaraYini (418 H)
- Abdul Qadir Al-Baghdadi (429 H)
- Abu Nu'aim Al-Ashbahani (430 H)
- Abu Bakar Al-Baihaqi (458 H)
- Al-Khatib Al-Baghdadi (463 H)
- Abu Al-Qasim Al-QusYairi (465 H)
- Abu Al-Ma'ali Al-fuwaini (478 H)
- Al-Kiya Al-Harasi (504 H)
- Abu Hamid Al-Ghazali (505 H)
- Al-Qadhi bin Musa Al-Yahshibi (544 H)
- Muhammad bin Abdul Karim Asy-Syahrastani (548 H)
- Abu Al-Qasim bin Asakir (571 H)
- Fakhruddin Ar-Razi (606H)
- Saifuddin Al-Amudi (631 H)
- Izzuddin Abdul Azizbin Abdussalam (660 H)
- Ibnu Daqiq Al-'Id (685 H)
- Abdul Wahab bin Ali As-Subki (771H)
- Ibnu Khaldun (808 H)
- Taqiyyuddin Al-Maqrizi (845 H)
- Abdurrahman As-SuYuthi (911 H)
Masih banyak nama-nama ulama setelahnya yang menisbatkan diri mereka pada Asy'ari, meski mereka berbeda latarbelakang keilmuannya/ seperti Al-Baihaqi dan Ibnu Asakir dalam bidang hadits, Al-Khathib AlBaghdadi, Ibnu Khaldun dan Al-M aqrizidalam bidang sejarah, dan mereka yatlg menguasai studi tentang aliran-aliran dan literaturnya seperti Abdul Qadir Al-Baghdadi, Al-Isfariyani, dan Asy-Syahrastani
selain itu ada di antara mereka yang ahli tasawuf, seperti Abu Nu'aim dan Al-Qusyairi, dan para penulis kitab fikih dan ushul fikih, seperti Al Juwaini, Ibnu Abdissalam, dan As-Subki. Ada pula sebagian dari mereka yang memiliki kemiripan dengan pemikiran Mu'tazilah ataupun filsafat, dan sebagian lainnya ada yang menguasai berbagai disiplin ilmu seperti Al-Ghazali dan Fakhruddin Ar-Razi.
5. PARA PEJABAT TINGGI PEMERINTAHAN DAN KEMENTRIAN JUGA IKUT MEMBANGUN DAN MENYEBARKAN MADZHAB AL-ASY'ARI.
Di antara mereka itu adalah Al-Hasan bin Ali Ath-Thusi Nizham Al-Mulk (485 H). Dia seorang ilmuwan dan getol membangun lembaga-lembaga pendidikan di berbagai daerah. Dicatat oleh para penulis, bahwa ia telah membangun madrasahmadrasah di Baghdad, Balkh, Naisabur, Bahrah, Asfahan, Bashrah, Tiberistan, dan Mosul. satu pendapat mengatakan bahwa di setiap kota di Irak dan Khurasan terdapat sekolahan yang dibangunnya.2
Nizham Al-Mulk mendirikan sekolah-sekolah tersebut untuk melawan sisa-sisa pemikiran Buwaihiyah yang diwariskan oleh kesultanan Saljuk.283 Peran lain Nizham Al-Mulk adalah, mendatangkan beberapa ulama besar seperti Al-Juwaini dan Al-Ghazali ke madrasah-madrasah yang dibangunnya, dan mereka inilah yang mempunyai pengaruh dalam penyebaran madzhab Ahlu Sunnah wal ]amaah ala Al-Asy'ari.
Tokoh lain yang mempunyai peran besar dalam madzhab ini adalah shalahuddin Al-Ayyubi di hari-hari pemerintahannya kepada seluruh masyarakat dan terus menerus berlangsung di kalangan Bani Ayyub, kemudian beralih ke raja-raja Turki (Mamalik).2
Al-Maqrizi menyebutkan bahwa Muhammad bin Tumart (524 H) memiliki peran dalam menyebarkan Madzhab Asy'ari ke daerah Maghrib (Maroko dan sekitarnya).,
Dapat dikatakan bahwa afiliasi para pejabat pemerintahan bagi suatu madzhab akan membuat perkembangan madzhab tersebut menjadi pesa! sebagaimana afiliasi Daulah Utsmaniyah terhadap Madzhab Hanafi, yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan madzhab ini. Namun hal ini tidak dapat digeneralisasikan karena terkadan Syangterjadi adalah sebaliknya. Salah satu contoh, Madzhab Mu'tazilah yang dibangun olehAlMakmun dan para penerusnya. ]ustru karena hal ini masyarakat menjauhi dan memusuhi Al-Makmun karena buruknya hubungan Mu',tazilah dengan para penentangnya seperti yang lakukan Mu'tazilah terhadap Imam Ahmad dan lainnya yang menjadi pemicu masyarakat beralih ke Madzhab Ahlu Sunnah wal Jamaah.
Sejarah Madzhab Al-Asy'ari tidak juga mulus selamanya karena madzhab ini juga tidak bisa terhindar dari cobaan-cobaan terorganisasi oleh para penentangnya, di antaranya adalah fitnah yang dilancarkan oleh Al-Kandari.28
Bisa jadi dengan ketekunan ilmiah yang tercurahkan untuk meniaga kemoderatan aliran ini, turut serta memberikan peran besar dalam penyebaran madzhab ini. Tidak ketinggalan pula para pendiri universitas dan yayasan-yayasan besar di antaranya Al-Azhar Asy-syarif di Mesir, Al-Qarwiyin di Fez Maroko, clan Az-zaitunah di Tunisia, turut pula memberikan sumbangsih penyebaran madzhab ini'2
Begitulah, semua faktor-faktor di atas berperan besar dalam pengenalan dan penyebaran Madzhab Asy'ari ke seluruh penjuru ne8aranegara Islam sebagaimana diutarakan oleh Al-Maqrizi. Sehingga sampai hari ini (abad ke-9 H) tidak tersisa lagi aliran-aliran yang menentangnya.2
Jika kita menengok masa sekarang ini, maka kita menemukan syaikh Musthafa Abdurraziq (1947 M) menyebutkan bahwa kebangkitan modern bagi ilmu kalam mengacu pada persaingan antara Madzhab AlAsy,ari dan madzhab Ibnu Taimiyah. Kemudian ia menambahkan, "Dan sampai sekarang pemenangnya adalah masih diduduki oleh Madzhab Al-Asy'ari."2
Dari data di atas dapat disimpulkan dua poin penting berikut:
- Penyebaran kitab-kitab Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul eayyim dan Adz-Dzahabi telah memberikan pengaruh, di saat Syaikh Musthafa Abdurraziq mempublikasikan penilaiannya di atas, yang membuat pendapat Ibnu Taimiyah menjadi terkenal dari sebelumnya, juga menjadikannya lebih dapat diterima oleh masyarakat. Meskipun, penilaian Musthafa Abdurraziq tidak sampai pada batas publikasi, melainkan penilaian ini memberikan efek pemikiran dan politik yang telah tampak di paroh kedua abad ke-20 Masehi.
- sebagian kitab-kitab ilmu kalam kontemporer bertujuan meng;eritik Madzhab Al-Asy'ari. Dan, terkadang disertai dengan ajakan meninggalkannya untuk menuju kepada Madzhab Mu,taziiah atau yang lain.2e, Bisa jadi serangan-serangan ini mendorong para penganut Madzhab Al-Asy'ari untuk memperbarui ijtihad mereka, dan menyiapkan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan dan kritikan-kritikan yang dilontarkan oleh banyak pihak, untuk menjaga eksistensi mereka yang telah mengakar selama lebih dari seribu tahun
- Prof. Dr. Abdul Hamid Mailkur