Satu hal yang biasa dilupakan orang, terutama bagi para praktisi shalat, yaitu adzan. Seakan adzan ti- dak memiliki arti penting dalam perjalanan shalat, kadangkala ketika suara adzan dikumandangkan, tidak sedikit orang menganggapnya sekedar angin berlalu, apalagi jika si muadzin adalah orang tua yang sudah berumur, giginya banyak yang tanggal alias ompong, dengan suara seperti orang merintih tertatih-tatih ia berusaha menyuarakan adzan kayak dipaksakan, barang kali para pendengarnya bisa blingsatan karena merasa telinganya merasa terganggu...
Walaupun demikian, adzan sendiri memiliki makna dan hakikat yang luar biasa, apalagi jika anda bisa menangkap intisari yang terkandung di dalam tiap lantunan lafadz yang dibaca, bahkan bagi mereka yang mampu menghayati hakikat adzan dengan sejujur-jujur- nya, maka ia bisa terbawa arus kenikmatan yang mam- pu menggugah hati dan perasaan, –bisa jadi– ia akan meneteskan airmata secara tidak disadari.
Inilah yang terjadi pada Ibnu Abbas ra, putra paman Nabi saw, sosok yang sering dijadikan tauladan di kalangan para sahabat, dan untuk mengetahui cerita lengkapnya, simak kisah berikut:
"Dari Sa'id bin Jubair ra, ia bertutur: "Suatu saat, kita berada di samping Ibnu Abbas ra di salah satu mesjid di kota Thoif, (kala itu yang berada disana) saya, Ikrimah ra, Maimun bin Mahran ra, Abu 'Aliyah ra dan sahabat yang lain –semoga Allah meridloi mereka semua–, tiba-tiba seorang muadzin melantunkan adzan, sambil memulai adzannya: "Allahu Akbar Allahu Akbar", lalu tiba-tiba Ibnu Abbas ra menangis sampai serbannya basah dengan airmata, lehernya serasa dicekik (terisak-isak), dan kedua matanya memerah. –Melihat gelagat ini– Abu 'Aliyah bertanya: "Wahai putra paman Nabi saw (yakni Ibnu Abbas), apa arti tangisan dan kerisauan ini, kita –sama-sama– mendengarkan adzan, tapi kami tidak menangis, malah kami menangis karena terpenga- ruh tangisanmu (yang menggeruh)?",
Ibnu Abbas ra menjawab: "Jikalau manusia me- ngetahui apa (makna) yang diucapkan oleh seorang muadzin, niscaya mereka tidak akan mau beristirahat dan tidur sedikitpun", dan beliau ditanya: "Beritahukan kepada kami, apa yang dikatakan seorang muadzin itu!"
Beliau pun menjawab: "Apabila muadzin me- ngucapkan: "Allahu Akbar Allahu Akbar", –pada hakikatnya– ia me- ngatakan: "Hai orang-orang yang sedang sibuk dengan urusan dunia, berhentilah sejenak untuk mendengarkan adzan, istirahatkan badan, dan majulah, bergeraklah untuk menjalankan amalan ter- baik bagimu (yakni shalat)".
Dan apabila muadzin mengucapkan: "Asyhadu an laa ilaha illa Allah", –pada haki- katnya– ia mengatakan: "Aku ber- saksi bahwa seluruh penghuni langit dan bumi dari para makhluk Allah ta'ala, semua akan menjadikanku seba- gai saksi di sisi Allah ta'ala kelak di Hari Kiamat bahwa aku sudah mengajak kalian".
Apabila muadzin mengucapkan: "Asyhadu anna Muhammadan Rosulullah", –pada hakikatnya– ia mengatakan: "Se- luruh para Nabi, khususnya Nabi Muhamad saw akan menjadikanku sebagai saksi kelak di Hari Kiamat, bahwa aku sudah memberitahu kalian setiap hari sebanyak 5 kali.
Apabila muadzin mengucapkan: "Hayya 'ala Shalat", –pada hakikatnya– ia me- ngatakan: "Sungguh Allah telah menegakkan agama ini untuk ka- lian, maka tegakkanlah!".
Apabila muadzin mengucapkan: "Hayya 'alal Falah", –pada hakikatnya– ia me- ngatakan; "Menyelamlah kalian dalam rahmat Allah, dan ambillah saham kalian berupa petunjuk Tuhan itu".
Apabila muadzin mengucapkan: "Allahu Akbar Allahu Akbar", –pada hakikatnya– ia mengatakan: "Amal ataupun pekerjaan itu diharamkan (dila- rang) sebelum ia (hamba ini) menjalankan shalat".
Dan apabila muadzin mengucapkan: "Laa ilaha illa Allah", –pada hakikatnya– ia mengatakan: "Amanat 7 langit dan 7 bumi diletakkan di atas pundak-pundak kalian,( ) jika kalian ingin/mau, maka majulah bergerak untuk menjalankan shalat dan jika ka- lian tidak mau/ingin, kalian akan meninggalkannya atau mungkir...".( ). Betapa indah penghayatan Ibnu Abbas ra terhadap bacaan adzan... coba anda renungkan!, apa yang terjadi jika dalam pelaksanaan shalat anda nanti, hati, pikiran dan jiwa dihantarkan oleh suara adzan me- nuju ke arah penghadiran diri dalam ritual shalat.
Jadi tidak heran jika Ibnu Abbas ra ini seringkali, menggantikan posisi seorang muadzin, tidak bertindak sebagai pelaku adzan secara langsung, tapi bertugas di luar yakni ngoprak-ngoprak, atau memberitahukan sia- papun yang beliau temui di dalam perjalanan ke mesjid, mengingatkan bahwa waktu shalat telah tiba.
Disinyalir dari al-Hakim Turmidzi, saat ia meng- kisahkan kebiasaan Ibnu Abbas tatkala mendengarkan adzan, dan katanya: "Apa kalian tidak melihat Ibnu Abbas ra ketika sang muadzin hendak menguman- dangkan adzan, berarti beliau masih di tengah perja- lanan sedang dan selalu mengajak: "Ayo shalat, shalat!, kita sebenarnya dihidangi daging bakar yang menanti di atas pemanggangan; daging ini sedang menanti kita untuk disantap, jika kalian mau melahapnya, maka pergi dan shalatlah...!", demikian katanya. Dan shalat merupakan santapan rohani bagi siapapun yang ingin menikmati aroma kedamaian hati, batin yang tercerah- kan dengan Nur Ilahi.
Adzan tidak hanya trik 'pemberitahuan' waktu shalat ataupun 'panggilan' kepada kaum muslimin agar menjalankan tugas kehambaan, serta simbol 'pengingat' kebutuhan manusia terhadap Tuhan, tapi dibalik itu adzan adalah:
- Sistem penataan hati dan jiwa, sebab hati anda diperkenalkan dengan nilai-nilai keagungan.
- Mengingatkan tanggung jawabmu di hadapan Allah, kelak di akhirat.
- Menghormati fisik dan ragamu agar tidak terlalu lelah dan tegang, semua perlu diistirahatkan, mi- nimal merenggangakan otot-otot akibat kerja ke- ras; tidak sedikit orang yang stres gara-gara ter- lalu memaksakan pikiran dan fisiknya bekerja ke- ras, maunya sih menganut ajaran 'time is money', memang slogan ini sangat mujarab tapi kalau pikiran, otak, jiwa dan raganya diperlakukan seperti mesin (robot), jelas kasihan!, perangkat manusia ini memiliki hak dan batas maksimum... hormati hak-hak itu agar tubuh anda tetap sehat dan minimal 5 kali anda diajak untuk berpikir tenang dan jernih, sebab otak anda sudah fresh (segar) setelah ia diperas dalam beberapa jam...
Aktualisasi penghayatan ini serta efek positif pa- da mental anda, tergantung dari kemampuanmu men- cerna hakikat adzan itu sendiri; tiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda dan pengalaman yang ber- agam (variasi). Semakin kuat daya cerna yang dimiliki, didukung semangat yang tinggi untuk mendalami inti adzan, maka semakin cepat pula ia meraih kehalusan hati dan budi yang –selanjutnya– bisa dipergunakan di saat memperagakan kehadiran hati dalam ritual shalat secara praktis.