Selasa, 14 Januari 2025

Tegakkan Sholat

Lantas! apakah orang yang menjalankan shalat sampai terlalaikan dan terabaikan karena manusia memang tidak akan lepas dari sifat salah dan lupa, dosakah ia, atau sia-siakah pahalanya?. Bukankah Allah sendiri telah menyatakan: "Celaka bagi orang shalat yang menjalankannya dalam kondisi lalai, lebih tepatnya 'melalaikan shalat'?, bagaimana dengan sujud sahwi (sujud karena lupa/lalai), bukankah itu berarti syariat telah melegalkan orang shalat yang sempat lupa, mengapa tidak menyatakan shalatnya batal, tidak sah atau dosa..?!.

Dari sini, banyak orang berputus asa, ngambek dan merasa diri percuma melakukan amalan shalat aki- bat salah memahami ayat-ayat yang bertalian dengan 2 unsur yang nampak beda (dari sisi kulitnya), tapi jika seseorang cerdas memikirkannya, maka ia akan mene- mukan rahasia besar dibalik ayat dan kesesuaian yang saling mengikat, tapi mereka tidak mau dan tidak mam- pu melewati batas-batas ilmu serta menemukan inti ilmu itu sendiri sehingga dengan mudah mereka me- nyatakan: "Mending tidak usah shalat saja daripada sha- lat tapi masih diomongin 'celaka'!, jika memang anda berpikir seperti ini, anda tidak akan mendapatkan apa-apa selain dosa yang bertumpuk-tumpuk...

Shalat sangat spesial, sekaligus landasan agama yang paling asasi dan esensi, pantang ditinggalkan da- lam kondisi apapun bahkan disaat sakit sekalipun shalat harus tetap ditegakkan; semua alasan ditolak. Terlepas apakah anda khusyu' ataukah tidak tatkala menjalankan ritual shalat ini, anda akan tetap mendapatkan pahala. Berapa kelipatan imbalan yang akan disandang, hanya Allah ta'ala yang Tahu..?, sekali lagi, mohon diingat baik-baik: "Jangan sekali-kali anda membatasi kemurah- an Allah ta'ala terhadap hambaNya dengan bersikap putus asa dari rahmatNya, sebab rahmat ini sangat luar biasa, tidak mengenal ukuran dan batas".

Khusyu', ikhlas, menata hati dan batin telah menjadi materi pokok bagi perjalanan spiritual para ula- ma besar terdahulu. Kapasitas khusyu' dalam penataan hati menjadi tolok ukur kuantitas (besar-kecilnya) pahala yang akan diterima, dan Allah ta'ala akan memberikan nilai plus bagi mereka yang berusaha dan tetap menjaga kehadiran hati dalam shalat.

"Tidak berarti perhatian para ulama yang begitu besar pada ilmu batin (ilmu hati), menyebabkan mereka meninggalkan dan meremehkan kekuatan shalat secara fisik, malah mereka mengukuhkan pentingnya hati (ba- tin) ketika mengerjakan syariat (yakni, ilmu dzahir)."

"Pelaksanaan tuntutan syariat bagi mereka meru- pakan amalan ibadah yang bermihrabkan ilmu batin (il- mu hati), tidak hanya ritual-ritual dzahir belaka. Ritual shalat tidak akan berarti bagi pertumbuhan mental anda jika hati anda sibuk dengan urusan-urusan lain selain Allah ta'ala. Sungguh, Allah ta'ala memuji tingkah laku "orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya",

﴿ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾ [ سورة المؤمنون: 2]

dan mencela perilaku "orang-orang yang lalai terhadap (atau melalaikan) shalatnya",

﴿ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ﴾ [ سورة الماعون: 5]

Memang benar, mengerjakan amalan dzahir (syariat) tanpa diiringi amalan batin (hati, hakekat), me- nurut ajaran syariat bahwa aman ini akan mendapatkan imbalan (pahala); artinya, pahala ketaatan dan kepatuh- an terhadap perintah "menjalankan" kewajiban –seperti shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya– yang telah di- bebankan Allah ta'ala kepada para hamba, atau berhu- kum tidak berdosa. Dan inilah kondisi mayoritas ma- syarakat yang merasa puas menjalankan syariat dengan diiringan perasaan takut (khouf) dan masih mengharap-harap (thama') –artinya tidak ingin mencari nilai plus–. Karena itu, Syeikh Muhamad Abdurahman al-Kurdi dalam salah satu ceramahnya mengatakan; "Sungguh, termasuk rahmat Allah ta'ala terbesar terhadap kita se- mua, bahwa Dia telah berfirman:

﴿ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ﴾ [ سورة الماعون: 5]

dan bukan berfirman:

﴿ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ﴾

Pernyataan ini senada dengan pernyataan Ibnu Abbas ra dan Anas bin Malik ra( ), terutama Atho' bin Dinar yang pernah mengatakan: "Segala puji bagi Allah –alhamdulillah–, Allah ta'ala menyatakan:

عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

dan bukan berfirman:

فِي صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ﴾

jika tidak, maka orang yang lupa dalam shalatnya (yashu fi shalatihi), akan dimasukkan dalam kategori ayat ini padahal tidak demikian, khan!, maka itu jika anda lupa, segeralah mengoreksi dan menata diri kembali.

Seandainya Allah ta'ala tidak berfirman seperti ayat diatas, dan menggunakan kata "فِيْ" dan bukan "عَنْ" maka seluruh umat islam tidak akan terselamatkan (ka- rena sifat lupa itu telah menjadi watak dan fitrah), dan ibadah shalatnya tidak akan diterima secara mutlak dengan alasan apapun, tapi rahmat Allah ta'ala tidak menghendaki pendzaliman terhadap manusia dengan te- tap menghormati jerih payah mereka dalam berusaha khusyu', maka itu ayat itu menggunakan "عَنْ".

Apa rahasia dibalik bentuk firman tersebut?, ser- ta hakikat makna yang terkandung di dalamnya!.

Imam Ar-Rozi dalam tafsirnya mempertegas pe- nuturan pendapat yang berkembang kalangan para ula- ma' yang masih diperdebatkan (debatable) seputar ayat ini dan menyimpulkan: "Maksud ayat ini ('an shalatihim sahun) adalah orang yang senantiasa lupa atau lalai mengingat Allah ta'ala dalam semua gerakan shalat, ter- masuk bagian terkecil dari ritual shalat –artinya lupa segalanya–, dan hal ini hanya dilakukan oleh orang-orang munafik yang berkeyakinan bahwa shalat itu ti- dak penting atau tidak bermanfaat.

Adapun orang muslim yang meyakini bahwa di dalam shalat terdapat manfaat besar yang jelas-jelas mencolok di depan mata (faedah 'ainiyah), ia akan ber- usaha mencegah diri dan bersikap antisipatif jika tidak mengingat tuntunan agama, pahala dan siksa dalam bagian-bagian shalatnya, sampai bagian terkecil sekali- pun, namun kadangkala –yang namanya manusia, wajar jika– terjadi kelalaian dalam shalat, artinya lalai di bagi- an-bagian shalat. Jelasnya...

أَنَّ السَّهْوَ فِي الصَّلاَةِ مِنْ أَفْعَالِ اْلمُؤْمِنِ وَالسَّهْوَ عَنِ الصَّلاَةِ مِنْ أَفْعَالِ اْلكَافِرِ.

"sungguh, lupa di dalam bagian-bagian shalat adalah perilaku orang mukmin, sedangkan lupa terhadap shalat –atau melupakan shalat- adalah perilaku orang kafir dan munafik."

Sedangkan makna dari kata "سَاهُوْنَ" sendiri ada- lah 'tidak menepati waktu shalat dan tidak menjalankan tuntutannya –yakni syarat, wajib dan rukunnya–; arti- nya sikap 'tidak mau tahu' apakah ia shalat atau tidak? –baginya shalat ataupun tidak, sama saja–, inilah pen- dapat Sa'ad bin Abi Waqash, Masruk, Hasan dan Imam Muqatil.

Ketika Imam Zamahsyari ditanya tentang perbe- daan antara kata "عَنْ" dalam ayat tersebut dengan kata "فِي", beliau menjawab: Kata "عَنْ" ('an shalatihim sahun) mengandung arti 'orang yang melupakan' bahkan sam- pai 'meninggalkan shalat'( ), dan tidak begitu perhatian dengan shalatnya, inilah perilaku diantara orang-orang muslim yang munafik, sedangkan kata "فِي" mengan- dung arti lupa atau lalai yang terjadi akibat rasa was-was yang dihembuskan setan dan hadis nafs (bersitan, lamunan, pikiran atau krentek dalam hati), dan seorang mukmin tidak bisa terhidari dari sifat-sifat ini( ); maka itu tercipta tuntutan sujud sahwi dalam ajaran syariat.

"Kelalaian manusia dalam kaitannya dengan iba- dah dan shalat itu terdapat 3 bentuk dasar; pertama, kelalaian Rosulullah saw dan para sahabat ra yang di- lakukan secara terpaksa (tidak disengaja), sebagai tun- tutan ajaran sujud sahwi ataupun dengan praktik sunah dan nawafil( ). Kedua, kelalaian dalam shalat dan karena tidak tahu. Ketiga, kelalaian yang menjurus pada sikap meninggalkan dan tidak sampai mengqodlo' shalat, atau keluar dari waktu shalat, termasuk diantaranya shalat orang munafik. Shalat seperti ini lebih buruk daripada meninggalkan shalat, karena –sama saja– dengan mele- cehkan dan menghina ajaran agama dengan shalatnya tersebut.

PERBEDAAN SHALAT
Antara Orang Mukmin dan Munafik

Perbedaan kedua karakter sholat keduanya dapat dilihat dari beberapa segi :

  1. Kualitas

    Kualitas sholat orang mukmin jika sholat adalah فِيْ صَلاَتِهِمْ سَاهُوْنartinya Lupa atau lalai di dalam gerakan shalat; tetap mengerjakan hanya saja terlalaikan dan akan diampuni oleh Allah ta'ala (dima'fu), dan harus ditebus dengan sujud sahwi. Jika sholat orang munafiq mereka lebih cenderung عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُوْنَartinya Melupakan atau lupa terhadap shalat, tidak tepat waktu karena meremehkan shalat, dianggap sudah tak berarti; sebagai imbalan adalah klaim 'celaka' dan 'neraka'

  2. Keseriusan dalam niat

    Orang mukmin itu serius dalam niatnya. Dari awal sampai akhir memang diniatkan untuk menjalankan shalat, kelalaian itu sebenarnya tidak pada dirinya tapi fitrah lahiriyah yang muncul dari ketidaksengajaan. Sedangkan orang munafik tidak terlalu serius dalam menjaga niatnya. Dari awalnya memang ia tidak ada niatan atau maksud untuk menjalankan shalat, sehingga yang tampil hanya raga dan fisiknya yang iseng, berpikir daripada nganggur, dan sebagainya

  3. Keabsahan Sholat

    Orang mukmin selalu bisa digolongkan sebagai orang yang sholat sebenarnya. Shalat ini dijalankan sesuai aturan, baik syarat dan rukunnya dipenuhi, sehingga jika terjadi kesalahan ia segera sadar yang membenahi diri dengan sujud sahwi. Sedangkan orang munafik ibarat orang yang sholat tapi seperti tidak sholat. Orang ini tidak kenal aturan dan hukum, cenderung menabrak tuntuan shalat, baginya tata cara itu dianggap merepotkan dan terlalu bertele-tele.

  4. Kesadaran

    Orang mukmin jika menjalan sholat selalu menjaga kesadarannya. Menyadari diri bahwa shalat merupakan perintah Tuhan dan kewajiban seorang hamba yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Berbeda dengan orang munafik yang selalu dalam ketidaksadaran. Ibarat orang mabuk, apa yang dilakukan serba ngawur, guyonan, dalam benaknya shalat adalah mainan saja, ketawa-ketiwi secara tidak sadar, karena pikiran shalat sudah hilang.

  1. Nilai Sholat di hadapan Allah

    Orang mukmin inilah yang dalam sholatnya akan diterima di sisi Allah. Shalatnya tetap diterima Allah, walaupun kadangkala masih terlalaikan; bagi mereka surga. Namun berbeda dengan sholat orang munafiq, shalatnya akan ditolak, mereka dikecam dan dikutuk Allah karena mempermainkan ajarannya; bagi mereka neraka

Dari semua pernyataan di atas, hal terpenting bagi seorang hamba yang taat adalah menegakkan sha- lat dan berusaha menghindari shalat gaya orang muna- fik, dimana hati dan kelakuan tidak sejalan, dzahir (fi- sik) menunjukkan dirinya shalat tapi batin (hati) tersim- pan sebuah sikap pengingkaran; semoga kita tidak men- jadi orang-orang seperti ini, amin.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait