Sabtu, 11 Januari 2025

Mulailah Sholat Sejak Dini

Manusia hidup dalam mencapai cita-cita, pasti akan berhadapan dan dihadapkan dengan berbagai tantangan (rintangan), itulah stempel sirkulasi hidup ini. Ketika anda membayangkan sosok seorang Hatim ra, jangan berpikiran Hatim ra yang sudah beribadah selama hampir 30 tahun lebih, yang mungkin kala itu ia sudah berumur 50-an tahun jika ia memulai menghitung hari-hari belajar khusyu' sejak berumur 20-an tahun. Tapi pikirkan bagaimana ia mengawali ritual shalat seperti itu ketika ia masih berumur 20-an tahun... jika saja ia terpengaruh dengan uneg-uneg betapa berat, susah atau rumit, mungkin saja ia tidak akan menjadi Hatim ra yang sudah berumur 50-an tahun tersebut.

Lalu, apa yang mendasari upaya keras Hatim untuk selalu berusaha berbuat seperti itu?, hanya satu kunci jawabannya, yaitu "tidak berputus asa (optimis) dari rahmat Allah ta'ala" dan tidak terlalu hanyut ataupun terbuai dengan urusan dunia sampai harus melupakan akhirat sama sekali, selain itu Hatim ra sudah enjoy dengan hati yang tenang sehingga shalat sudah mendarahdaging dalam tubuhnya, menjadi wa- tak dan hobi dimana ia merasa kehilangan jika tidak menjalankan shalat dengan khusyu' sekali saja, bahkan mungkin ia akan menambah frekwensi shalat dengan menjalankan shalat sunah (nawafil).

Kita sudah diberi pesan agar tidak berputus asa (pesimis dan apatis), pupuklah sikap optimis dalam menjalani hidup dan beribadah, seperti anjuran Tuhan dalam sebuah firman:

﴿ ۞ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ﴾ [ سورة الزمر: 53]

"Katakanlah: "Hai para hambaKu yang telah malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah ta'ala. Sesungguhnya Allah azza wa jalla akan mengampuni dosa-dosa semuanya". [Qs. Az-Zumar : 53]

Diantara bentuk sikap 'kelewat batas' adalah berpikir bahwa sesuatu itu akan/bakal terjadi, padahal belum pernah dikerjakan, ataupun meyakini bahwa se- suatu itu pasti terwujud dengan kehendaknya sendiri, padahal semua masih terkurung dalam 'angan-angan', bukan 'kenyataan'; sebenarnya vonis berat, susah atau tidak mampu bisa menganggu anda untuk sampai pada tujuan, sedini mungkin hindari penyakit ini.

Sikap pesimis bisa mematikan rasa dan sema- ngat manusia untuk melangkah... memang manusia pe- nuh dosa dan hampir tidak bisa lepas secara total dari noda ini tapi Allah telah membuka pintu taubat selebar-lebarnya bagi para hamba, ibadah memang agak sedikit susah tapi dibalik semua itu tersimpan kenikmatan yang luar biasa; seseorang harus bersusah payah, berani menghadapi rintangan jikalau ia ingin mendapatkan mutiara yang tersimpan indah di dasar samudera.

Misalnya, anda ingin menerapkan apa yang telah dikisahkan dari Anas bin Malik ra, ia pernah berkata: Rosulullah saw pernah berkata kepadaku: "Berbuatlah (beramal) karena Allah seakan kamu dimata-matai, dan seakan kamu menyaksikan Allah ta'ala jika kamu tidak bisa melakukan itu maka tanamkan pada hatimu bahwa Allah ta'ala selalu mengawasimu; apabila kamu hendak memasuki masjid maka perbagus/percantik penam- pilanmu, ingatlah mati dalam setiap shalatmu karena jika seseorang bisa mengingat mati dalam shalatnya niscaya shalatnya layak disebut bagus (baik dan indah), dan bershalatlah seperti shalat orang yang tidak mengi- ra akan bisa shalat lagi selain shalat yang sedang di- jalankan itu –atau shalat selamat tinggal– ; waspadalah terhadap segala yang mempersulitkan (ataupun tidak berusaha mencari-cari alasan yang dibuat-buat agar bisa meninggalkan kewajiban)".( ) Mempercantik penampil- an, artinya menghiasi diri dengan keindahan bentuk fisik seperti memakai wangi-wangian, rapi, bersih dan berpakaian putih bersih seperti yang disunahkan Nabi saw, inilah bukti rasa hormatmu kepada Tuhan.

Dalam benak anda mungkin terbersit pikiran bagaimana hanya dengan mengingat mati saja, shalat bisa menjadi lebih baik dan indah; jangankan untuk itu, untuk mengingat mati saja susah sekali, sudah berkali-kali melayat jenazah, tapi tidak pernah tuh sampai ter- pikir 'ingat mati' yang sebenarnya, apalagi sampai mempengaruhi hati dan nurani, sehingga hati menjadi lebih sensitif dan mudah tersentuh, terhenyak oleh fenomena orang mati!?. Tidak banyak orang yang mau dan mampu melakukan penghayatan mati, karena hati mereka telah beku dan mengeras terlalu lama. Sungguh, betapa banyak orang mengerjakan sesuatu tapi tidak mengerti apa yang sedang diperbuat... mungkin karena hati dan pikiranya telah buta (termahjub), tipe orang yang jauh dari petunjuk Tuhan. Atau, cara penghayatan anda yang kurang tepat.

Konon, seorang laki-laki mendatangi Umi Darda' ra, ia mengeluhkan tentang hatinya yang keras (atos), Umi Darda' pun memberikan komentarnya: "Memang, keras hati merupakan penyakit hati yang paling ber- bahaya, tapi cobalah perhalus dengan suka menjenguk orang sakit, melayat jenazah dan amati baik-baik prose- si peletakan mayat di liang lahat", lalu laki-laki ini mela- kukannya (seperti yang diintruksikan oleh Umi Darda'), ia mulai belajar melihat dan menyaksikan sendiri cara-cara yang dapat mempermudah hati agar tidak keras; setelah beberapa hari, ia kembali mengunjungi Umi Darda' hanya untuk mengucapkan: "Terima kasih, se- moga Allah ta'ala membalas kebaikanmu", katanya.( ) Cobalah meletakkan diri bahwa dikala anda menyak- sikan ritual pemakaman mayat, bayangkan bahwa yang sedang di kubur itu diri anda sendiri...

Sebenarnya anda sudah diberi pengarahan oleh Nabi saw sendiri dalam masalah 'penghayatan mati', tertuang dalam sebuah hadits:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِى ﷺ قَالَ: «كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ اْلقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا، فَإِنَّهَا تَرُقُّ اْلقَلْبَ وَتَدْمَعُ اْلعَيْنِ وَتُذْكِرُ اْلآخِرَةِ فَزُوْرُوْا وَلاَ تَقُوْلُوْا هِجْرًا ». رواه البيهقي

Dari Anas ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: "Aku pernah melarang kalian ziarah kubur, maka kini Aku tidak melarangmu ziarah kubur; sebab ia bisa menghaluskan (melembutkan) hatimu, membuat airmata menetes (karena penghayatan terhadap tragedi manusia dikala mati), mengingatkanmu pada Hari Akherat. Maka itu, berziarahlah!, dan jangan berkata pada orang lain (yang ingin berziarah kubur): "Minggat kau, atau enyah kau...!" [HR. Imam Baihaqi].

Amatilah dengan seksama!, renungkan, hayati dan camkan baik-baik apa yang terjadi pada detik-detik manusia dikubur dalam liang lahat, dan ambil pela- jaran dari fenomena ini!, pikir masak-masak atau per- timbangkan apa yang bakal terjadi di hari seluruh umat manusia dibangkitkan, yakni Hari Kebangkitan.

Kalau saya bertanya kepada anda: "Untuk apa anda shalat?", anda mungkin menjawab: "Untuk mena- ta hati dalam menjalani hidup dan yang terpenting ada- lah merasa 'tentram' dan 'damai' dalam menikmati ke- indahannya. Tapi... seringkali terjadi kesalahpahaman yang dilakukan para praktisi shalat, apa itu?, 'orang shalat berusaha mencari-cari ketenangan, atau berusaha untuk tenang', jika saya bertanya: "Apakah anda kini telah tenang?", saya katakan: "Tidak" walaupun anda menjawab iya, yang saya maksud bahwa apakah anda benar-benar tenang dengan berusaha mencari-cari kete- nangan di tengah-tengah menjalani shalat!, pernyataan ini sebenarnya tidak tepat sasaran jika anda menjawab iya, sebab yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu 'anda menjadi tidak tenang', kok bisa?, bagaimana anda bisa tenang kalau dikala shalat anda sedang mencari-cari sesuatu... yang terjadi malah suka gerak, usreg dan umeg, was-was, gelisah, pokoknya seperti orang bingung deh!, walaupun yang dicari itu berupa ketenangan, secara otomatis anda akan terbawa untuk mencari-cari suasa- na, kondisi, situasi agar bisa tenang (khusyu'); inilah konsep kepastian hukum ilahi.

Nah, bagaimana solusinya?, 'kerjakan saja shalat itu, dipenuhi syarat dan rukunnya, diterapkan sistem penataan hati, dijaga dan diingat, berusaha semam- punya', dan hiraukan segala urusan ketenangan yang membikin pusing itu... jika anda sudah bisa melakukan hal ini, maka ketenangan itu akan muncul secara otomatis, tidak disadari dan tanpa diminta, tidak perlu anda mencari-cari; pokoknya hati tiba-tiba terasa enak dan nyaman!, lagian apa mungkin anda bisa tenang kalau masih pusing memikirkan sesuatu!, yaitu mikir tenang. Janganlah mencari-cari sesuatu yang bukan hak- mu!, tapi jalani hakmu dahulu, jika itu sudah anda laku- kan maka yang anda cari akan tercapai (ketemu) dengan sendirinya, disadari ataupun tidak.

Seperti 'orang mencari pahala dengan jalan bersedekah', sebenarnya tidak perlu anda mencari-cari pahala, ataupun memikirkannya, masalah terpenting adalah apa sedekah anda layak mendapatkan pahala?, yang perlu dipikirkan bagaimana anda bisa ikhlas, ber- buat tanpa pamrih, menghindari pantauan orang dan sebagainya, bukan balasan pahala itu sendiri; sebab pa- hala itu sudah disiapkan oleh Allah ta'ala, bahkan dicari ataupun tidak, anda sudah mendapat jatah dari Tuhan atas sedekah tersebut, anda mau ataupun tidak, sebab "Allah tidak akan pernah mengingkari janji".

Dikhawatirkan, jangan-jangan pahala itu sirna karena kesibukan anda mencari-cari pahala –na'udzu billah–, mungkin amalannya "...ibarat batu licin yang di atasnya ditaruh tanah, kemudian batu itu diterpa hujan lebat, lalu menjadilah batu itu bersih kembali (tidak ber- tanah lagi) karena sudah tersapu oleh air hujan. Dan anda itu sebenarnya tidak mampu menguasai sesuatu- pun dari apa yang mereka usahakan secara mutlak", jelasnya bahwa anda cukup berusaha, sedangkan urus- an yang lain telah menjadi kuasa Allah ta'ala, entah itu berupa pahala, ketenangan, rizki, kesehatan atau lain- nya, hanya Allah ta'ala yang lebih Mengetahui bentuk imbalan yang pantas bagi anda.

Jauh-jauh hari sudah diberitahukan dalam aturan ajaran ini, seperti dikisahkan dari Muhamad bin Jubair ra, ia pernah berkata: "Suatu hari, Rosulullah saw hen- dak mengutus Mu'adz ke kota Yaman (sebagai duta besar), pada waktu pemberangkatan sudah tiba, beliau datang ikut serta melepas kepergiannya, lantas Mu'adz berpamitan, sambil berkata: "Wahai Rosulullah saw, saya mau berangkat tugas, mohon nasehatnya?, dan beliau menjawab: "Hai Mu'adz!, bertaqwalah kepada Allah semampumu, kerjakan amal perbuatan –seperti shalat, zakat, puasa dan lainnya– sekuatmu selama kamu mampu, berdzikir (ingat) kepada Allah disamping pepohonan dan bebatuan (artinya dimana saja ia ber- ada), jika kamu terantuk dosa maka segeralah bertaubat kala itu juga, jika rahasia maka lakukan secara rahasia dan jika terlihat maka perlihatkan (tampakkan)".

Simaklah baik-baik!, begitu indah petuah Rosu- lullah saw kepada Mu'adz, tidak hanya untuk dia tapi termasuk juga anda, kerjakan amalan agama ini seperti yang telah dituntutkan kepadamu semampunya, sekuat tenaga, Allah ta'ala akan tetap memberi pahala karena kesungguhan dan keseriusanmu, dimanapun dan kapan- pun anda berada; jikalau ternyata suatu saat anda ber- buat dosa maka jangan menunda-nunda untuk segera bertaubat, beristighfar meminta ampunan Tuhan kala itu juga, jika dosa itu sangat rahasia seperti dosa yang anda lakukan kepada Allah ta'ala secara pribadi (bainaka wa bain Allah) maka rahasiakan, tidak usah dibeberkan kepada siapapun, sebab itu rahasiamu dan tidak baik membeberkan aib sendiri, tapi jika dosa itu nampak seperti menyakiti hati orang lain, maka jangan sekali-kali disembunyikan, anda harus meminta maaf secara terbuka dan jujur kepada yang bersangkutan.

Bahkan sebelum anda bertanya-tanya tentang bagaimana menjalankan syariat islam beserta ajarannya dengan benar, sebenarnya Ibnu Abbas ra sudah meri- wayatkan sebuah hadits yang cukup mewakili masalah anda, ketika ia menafsiri ayat Allah swt:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ﴾ [ سورة آل عمران: 102]

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa; dan janganlah sekali-kali kamu meninggal dunia (mati) melainkan dalam keadaan beragama Islam". [Qs. Ali Imran : 102]

Para sahabat bertanya: "Wahai Rosulullah saw!, apa maksud kata حَقَّ تُقَـاتِهِ (sebenar-benar takwa)?, be- liau menjawab: "(Yaitu) mengingat Allah, yang berarti tidak pernah melupakanNya, taat dan patuh yang ber- arti tidak pernah mendurhakaiNya". Mereka pun ber- tanya lagi: "Wahai Rosulullah saw!, siapa yang akan kuat melakukan itu?", lalu turun ayat yang berbunyi:

﴿ فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ ...﴾ [ سورة التغابن: 16]

"Maka, bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupanmu...".

Didukung hadits lain, dari Abu Hurairah ra, Abdurahman bin Shakhr ra, ia pernah mengatakan: "Aku mendengar Rosulullah saw bersabda: "Segala apa yang aku larang kepada kalian, maka jauhilah; dan se- gala yang aku perintahkan, maka kerjakanlah sesuai ka- dar kemampuan kalian. Kehancuran umat-umat terda- hulu yang datang sebelum kalian diakibatkan terlalu banyak bertanya (alias suka ngeyel dan tidak mau kerja) dan menentang para Nabi mereka".( ) Shalat adalah salah satu dari kewajiban agama dan jalankan shalat itu menurut kesanggupan anda...

Tiada resep yang paling mujarab untuk mengha- dapi segala rintangan selain dengan bersabar, sebab apa- pun rintangan itu kelak pasti terselesaikan, hanya saja tidak secara otomatis tapi melalui sebuah proses dari bimbingan Tuhan, tinggal menanti saat yang tepat; tidak selamanya orang hidup dalam penderitaan.

﴿ فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ﴾ [ سورة غافر: 55]

"...maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah ta'ala itu benar (tak akan meleset sedikitpun), dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah (bershalatlah) seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” [Qs. Al-Mukmin : 55].

Jangan khawatir!, tidak ada yang terbuang per- cuma dari setiap amalan anda, segala aksi positif akan mendapatkan imbalan positif pula dari Allah dengan syarat anda harus bertahan dan bersabar, dijelaskan da- lam sebuah firman: "Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang-orang yang mau berbuat baik".

Hal mendasar yang perlu diingat adalah jangan terbuai dengan berusaha memperoleh sebuah kekhu- syu'an disaat anda tidak bisa khusyu', apalagi sampai ngambek tidak mau shalat gara-gara tidak bisa khusyu', malah anda tidak akan pernah bisa tenang (khusyu') untuk selamanya. Jalankan saja dengan tetap berusaha sesuai aturan... Allah paling Tahu apa yang ada dalam hati dan mengerti semua usahamu, jika anda benar-benar telah mengerjakan sekuat tenaga dan berupaya keras untuk khusyu' walaupun sedetik, niscaya Allah ta'alaa akan membalasnya; jika anda tidak serius dan bergurau saja, maka jelas anda akan celaka, seperti nasib shalat orang munafik.

"Jangan terbuai", berarti segala yang anda pero- leh itu berasal atau gara-gara anda, tapi rahmat dan ka- runia Allah ta'ala; itu artinya jangan terbujuk dengan perbuatan baikmu, sebab di dalam pengakuanmu ini tersimpan unsur 'lepas diri dari kuasa Tuhan', padahal siapa sih yang memberikan pahala itu?, anda sendiri, perbuatanmu, Tuhan, ataukah orang lain!, camkan ini baik-baik.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait