Selasa, 07 Januari 2025

Memulai Sholat dengan Keyakinan dan Doa

Shalat menjadi mahal harganya dan sangat berarti bagi seorang muslim sejati, ketika orang yang menegakkan shalat merasakan manfaatnya, ataupun mungkin ia dikaruniai kenyamanan hati dalam menjalankan segala aktifitas karena daya tarik shalat yang mampu menciptakan efek-efek positif bagi jiwa raganya, maka ia tidak akan berhenti sedetikpun untuk shalat dan ingat kepada Allah ta'ala, ia akan merasa kecanduan, terasa ada yang hilang dalam hidup ini jika sekali saja tidak menjalankannya. Jangankan untuk shalat, ketinggalan shalat berjamaah sekali saja membuat hati mereka serasa teriris, seakan menyesali diri untuk selamanya.

Pernah mendengar orang yang bernama Hatim ra, seorang ahli zuhud dan ahli ibadah di era sahabat. Konon ia sempat tertinggal shalat jamaah sekali saja, –akhirnya berita ini tersebar di kalangan rekan-rekannya, mungkin saja mereka bertanya-tanya, tidak biasanya ia tertinggal shalat berjamaah–, lalu sebagian sahabatnya menjenguk Hatim –namun betapa kaget– ternyata ia menangis tersedu-sedu, sambil berbicara: "kalaupun salah seorang kerabatku meninggal dunia, separuh pen- duduk Balakh akan menjengukku; dan kini aku hanya tertinggal satu kali shalat berjamaah dan yang hadir ha- nya segelintir sahabatku saja; sungguh kalaupun semua anak-anakku meninggal dunia akan lebih mudah bagiku menerima kenyataan ini daripada harus tertinggal shalat berjamaah ini".

Mungkin setelah anda membaca, lalu merenung- kan setiap kata dan ucapan di atas, akan timbul sebuah pertanyaan yang –sebenarnya– timbul dari sikap putus asa, atau undur diri anda sebelum melangkah:

  1. Orang itu khan Hatim!?, wajar jika ia berpikir dan berbuat demikian, selain ia tergolong seorang saha- bat, juga telah memupuk shalatnya yang super khusyu' ini selama hampir lebih dari 30 tahun. Sedangkan kita khan hanya orang awam, orang kecil yang bodoh tidak tahu agama, atau –misal nya– orang yang baru mengenal agama.

    Apalagi jika dicermati penjelasan tentang konsep dan tata cara mencapai kekhusyu'an dalam shalat, ditambah dengan penggemblengan hati dengan terus berdzikir (ingat) kepada Allah ta'ala, melatih diri agar tetap konsekuen, belum lagi cara-cara lain, misalnya mengingat mati atau lainnya... apa mung- kin dalam waktu sekejap saja bisa melakukan se- mua itu, bahkan demi menjalankan kekhusyu'an yang sangat rumit ini bisa memakan waktu berta- hun-tahun, mungkin sampai mati belum tentu shalat yang dicari terlaksana.!

  2. Kalau membayangkan setiap bacaan shalat dan renungan yang begitu panjang terhadap tiap gerak- an shalat yang memiliki makna rohani yang luar biasa, apa tidak terlalu lama kita shalat bahkan bagi orang Arab yang paham bahasa arab pun akan ter- seok-seok menerapkannya, ditambah lagi dengan kondisi kita sebagai orang non Arab yang kurang atau mungkin tidak memahami bahasa arab?, apa harus belajar dulu bahasa arab agar bisa mencapai kekhusyu'an dalam shalat...?.

Sungguh dunia ini sangat berarti, jangan disia-siakan untuk terus berupaya membekali diri dan me- ngumpulkan modal guna menghadapi kehidupan kekal nanti (yakni akhirat), celaka bila terjadi sebaliknya, yaitu menjual akherat hanya untuk kepentingan dunia. Allah ta'ala sudah menyempurnakan agama ini dan juga sudah mewanti-wanti bahwa penyakit 'lupa akherat' ini akan terjadi dan bakal ada salah satu hambaNya yang akan berpikiran seperti itu.

Ketahuilah, selama manusia mengangankan hi- dup kekal di dunia, maka angan-angan dan impian ter- hadap dunia tidak akan terputus, jiwanya tidak akan merelakan diri melepaskan kenikmatan dunia ini begitu saja, pemuasan hasrat terhadap maksiat atau yang lain; dan setan akan semakin bersemangat untuk mengetuk-ngetuk hatinya agar bertaubat di lain kali saat umur ini akan berakhir.

Ibnu Abbas ra pernah berkata, tatkala beliau me- nafsirkan ayat di bawah ini:

﴿ بَلْ يُرِيدُ الْإِنسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ﴾ [ سورة القيامة: 5]

"Bahkan, manusia itu maunya berbuat dosa terus menerus".

Yakni, suka mendahulukan dosa dan maksiat, tapi mengakhirkan sesal dan taubat; ia paling hobi ber- kata: "Nanti saja saya bertaubat" sampai maut datang menjemput; ia masih saja berbuat dosa, akhirnya ia mati dengan bergelimang dosa. Hati-hati dengan 'mati mendadak' seperti tabrakan, terjatuh atau terpeleset dan langsung mati, jika seperti ini, tidak ada peluang untuk mengeluh, pintu taubat telah tertutup rapat.

Bunyi ayat di atas selengkapnya,

﴿ لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ﴾ ﴿ وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ﴾﴿ أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُ﴾ ﴿ بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُ﴾ ﴿ بَلْ يُرِيدُ الْإِنسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ﴾ ﴿ يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ﴾ ﴿ فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ﴾ ﴿ وَخَسَفَ الْقَمَرُ﴾ ﴿ وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ﴾﴿ يَقُولُ الْإِنسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ﴾﴿ كَلَّا لَا وَزَرَ﴾ ﴿ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ﴾ [ سورة القيامة: 1-12]

"Aku bersumpah demi Hari Kiamat; dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (al-lawamah); apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulang mereka?; (jangan berpikir) demikian, sebenarnya Kami berkuasa penuh menyusun ulang jari jemari mereka dengan sempurna. Bahkan, manusia itu maunya berbuat maksiat terus menerus. Dan ia berkata: "Kapan yah, Hari Kiamat itu datang?".Maka, apabila mata mereka telah ter- belalak (ketakutan); apabila bulan telah hilang cahayanya; matahari dan bulan ditabrakkan; pada hari itu, manusia (mulai tersadarkan), ia pun berkata: "Ke mana tempat ber- lari?". Sekali-kali tidak!, tidak ada tempat berlindung bagi mereka!; pada hari itu, hanya kepada Tuhanmu sajalah tempat kalian kembali. [Qs. al-Qiyamah 1-12]

Dari Juwaibar ra, dari Dhahak ra, dari Ibnu Abbas ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: "Halaka al-Musawwifin" –هَلَكَ اْلمُسَوِّفِيْنَ–, dan al-musawwifin ini adalah orang selalu berkata 'sawfa atubu' (nanti saja, se- bentar lagi, kapan-kapan saja saya bertaubat), padahal kewajiban setiap orang adalah bertaubat kepada Allah ta'ala setiap waktu sampai ajal menjemput, itulah orang taubat nasuha. Tapi, kalau ia tidak mau bertaubat, ma- lah menunda-nunda waktu, maka peluang dibukanya pintu taubat akan hilang begitu saja, dan ampunan Tuhan pun akan terhindarkan darimu.

Apabila mata orang ini mulai terbuka, kenyataan dan kebenaran telah terungkap disaat detik-detik men- jelang kematian, malaikat maut sudah mengintip dan siap mencabut nyawanya, terketuklah –dalam hatinya– perasaan 'hilang harapan' terhadap dunia, baru ia mulai tersadarkan diri dari mabuk hasrat dunia, kala ia akan menyesali sikapnya yang kelewat batas ini, dan hampir bunuh diri menyadari penyesalan yang tak berarti, dihantui rasa sesal, terbayang seandainya ia bisa kem- bali lagi ke dunia untuk bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, merengek-rengek kepada Allah azza wa jalla agar dihidupkan kembali ke dunia supaya dapat memperbaiki diri dan memperbanyak berbuat baik, namun ternyata permintaan mereka tidak bisa dikabul- kan, akhirnya antara sakaratul maut (sekarat pati) dan penyesalan diri bercampur aduk, padahal jauh-jauh hari Allah ta'ala sudah memperingatkan semua itu, supaya mereka bisa mempersiapkan diri menghadapi mati,

﴿ وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ﴾ ﴿ وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ﴾﴿ أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ﴾ [ سورة الزمر: 54-56]

"...kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak tertolong lagi. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab dengan tiba-tiba, sedangkan kamu tidak menya- darinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah ta'ala, sedangkan aku termasuk orang-orang yang telah memperolok-olokkan (agama Allah)". [Qs. Az-Zumar : 54-56](

Allah ta'ala tidak seperti dalam bayangan manu- sia, juga tidak bisa dikuasi sehingga anda tidak bisa se- enaknya berkehendak. Allah ta'ala hanya memberikan peluang dan kesempatan kepada anda, itu pun di dunia sebagai ruang beraksi dan berreaksi bagi manusia.

Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang yang mengalami penyesalan tiada arti, karena tidak pintar memanfaatkan peluang ini, dan hendak- nya terus mencoba dan berusaha mencari keselamatan diri sebelum terlambat... maka itu:

  1. Mulai sejak dini;
  2. Tegakkan shalat;
  3. Ingatlah! walau hanya sedetik;
  4. Jangan lupa berdoa

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait