Jumat, 03 Januari 2025

Memaknai Bacaan-Bacaan Sholat

Bismillah; inti dari pemahaman terhadap bacaan, sekaligus pintu masuk ke arah penghayatan adalah 'telinga' yang berfungsi untuk mendengar. Tapi yang perlu dicatat, inti dari bahasan ini adalah "mendengar" bukan telinga itu sendiri, sebab telinga hanya salah satu alat mendengar, sedangkan alat lain yang lebih ampuh adalah hati, karena hati juga memiliki kemampuan (potensi) untuk mendengar, wallahu a'lam.

Kini, akan dijelaskan 2 hal penting dalam proses memahami isi bacaan, juga termasuk cara memperkuat keyakinan dan cita rasa shalat yang sehat, yaitu:

  1. Kekuatan 'mendengar'.
  2. Fungsi indera dan cara mengkondisikannya.

KEKUATAN "MENDENGAR"

Apa itu 'pendengaran'!, dan pengaruh kekuatan pendengaran terhadap ibadah!, terlebih awal kita akan berbicara sekilas tentang 'apa itu ash-Sima'?.

Imam al-Jurjani mengatakan, bahwa as-Sima' (pendengaran) adalah "suatu kekuatan (potensi) yang ter- simpan dan tersalurkan pada syaraf yang terpasang dalam lekukan cuping telinga (concave of auditory meatus), berfungsi menangkap sinyal suara melalui udara (angin) yang sampai pada telinga, lalu diolah dan diadaptasikan oleh saraf-saraf genderang pada telinga".( )

Aristoteles, lebih lanjut, menjelaskan bagaimana proses mendengar, telinga merupakan alat yang ber- fungsi untuk mendengar, sedangkan hewan tidak me- miliki kemampuan mendengar pada semua alat fisik- nya, seperti pada manusia, karena di dalam telinga ter- pasang inti udara yang bisa bergerak jika mendapat rangsangan dari luar, ini hanya dimiliki oleh manusia.

"dalam indera pendengaran (yaitu telinga) ter- pasang inti udara yang menyatu secara alami, apabila udara dari luar itu bergerak maka inti udara yang berada di dalam telinga pun akan merespon sinyal getaran bunyi...", kata Aristoteles. ( )

Jelas, bahwa alat mendengar adalah telinga, dan bagian tubuh dari indera lainnya tidak memiliki potensi mendengar seperti pada alat ini, karena di dalam telinga telah tersimpan inti udara yang mampu menangkap sinyal udara dari luar –udara ini bisa berupa getaran, suara dan bunyi–.

Tapi, selain indera manusia yang dzahir ini, ter- dapat alat lain yang memiliki kemampuan mendengar bahkan lebih sensitif dibanding telinga, yaitu 'hati'. Dan hanya orang-orang tertentu yang mampu mengaktifkan 'pendengaran hati', terutama bagi orang yang bergelut di dunia sufi, sebab aktifitas mereka bergerak dan ber- proses dalam ruang lingkup hati, sehingga mereka men- definisikan 'pendengaran' sebagai berikut:

"aura rohani (batini, ruh, hati, spiritual) yang di- sulut (dirangsang) oleh sentuhan ilahi –artinya hem- busan atau pancaran yang bersumber dari nur Tuhan– dalam suara (bunyi) dan mampu menggetarkan isi hati. Apabila aura ini sudah tersebar ke dalam hati yang suci dan ruh yang murni, maka akan melahirkan penge- tahuan yang datang langsung dari Tuhan (makrifat ilahi); jika aura ini terus tersebar, merasuk pada jiwa yang kotor dan hati yang termahjub (terhalangi dari pancaran Nur Ilahi), maka hanya akan membangkitkan naluri hewani dan syahwat saja, sedangkan nur ilahi itu sen- diri akan menjauhi anda.

Jadi, "As-Sima' –dalam kamus mereka– adalah salah satu bentuk mengolah jiwa atau menggembleng hati (riyadhah ruhiyah) yang biasa dijalani oleh orang-orang yang meniti jalan Tuhan dalam upaya men- sucikan dan membersihkan diri...".( )

Bahkan 'mendengar' yang diiringi dengan sikap 'mematuhi apa yang telah di dengar' merupakan jargon keselamatan orang mukmin sebagai simbol ketaatan kepada Tuhan; mereka tergolong orang yang beruntung dunia akhirat, tersebut dalam sebuah ayat:

﴿ إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ [ سورة النور: 51]

"Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, apabila mereka dipanggil (diajak) kepada (jalan) Allah dan rasulNya agar rasul ini menghukumi (memberikan putusan terhadap) permasalahan di antara mereka, maka mereka pun menjawab. "Kami mendengar, dan kami patuh". Mereka itulah orang-orang yang beruntung." [Qs. An-Nur 51].

Inilah bentuk jawaban yang jujur, tegas serta bertanggung jawab terhadap panggilan Tuhan, bukan tipe jawaban orang yang suka membangkang; disuruh shalat malah mencari-cari alasan dan dalih agar bisa meninggalkan, seorang mukmin sejati pantang mela- kukan pendurhakaan seperti ini.

Jangan seperti orang-orang kafir yang paling hobi membantah dan mendurhakai Tuhan; tidak baik se- orang hamba berlaku seperti dalam gambaran firman: "dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata: "Kami mendengarkan, padahal mereka sebe- narnya tidak mendengarkan." [Qs. Al-Anfal 21]. Artinya, telinga mereka mendengar, tapi hati mereka ingkar, melawan serta memberontak, lantaran hati mereka tuli, terhijab dari penerimaan sinyal keagungan Ilahi.

As-Sima' ini memiliki faedah yang luar biasa, yang tak kalah pentingnya dengan mata; pendengaran merupakan salah satu sarana pengetahuan dan alat (instrument) kenikmatan, melalui alat ini seorang hamba akan bisa mengetahui Tuhannya sehingga ia mengerti kewajiban yang harus dijalankan, berupa ibadah dan ketaatan terhadap perintah. Di sela-sela anda mende- ngarkan al-Quran, majlis ilmu, majlis dzikir dan nase- hat, semua ini mampu mendorong ke arah ketaatan. Karena dalam majlis-majlis seperti ini, hati dan pikiran anda dijejali dengan suara-suara halus dari Tuhan.

Simak ayat al-Quran di bawah ini, dan renungi dengan hatimu, kira-kira apa yang anda tangkap...

﴿ وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ﴾ [ سورة المائدة: 83]

"Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad) –berupa ayat al-Quran–, maka kamu akan melihat mata mereka bercucuran air mata karena telah mengetahui kebenaran wahyu, seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Quran dan kenabian Muhammad saw)." [Qs. Al-Maidah: 83]

Maha suci Allah ta'ala yang telah memberikan kemampuan luar biasa kepada para hambaNya, hanya dengan mendengar saja, hati mereka sampai tergetar merasakan kenikmatan terindah dalam menghayati ayat-ayat suci, sehingga fisik mereka pun ikut tergetar selaras dengan getaran bunyi dari lantunan ayat ilahi, juga menimbulkan respon psikis yang luar biasa, yakni cucuran airmata. Air mata dan tangisan manusia me- rupakan anugerah terbesar bagi para hamba Allah yang selalu mendekatkan diri kepadaNya.

Mohon disimak dan dihayati ayat di atas... lalu cobalah anda merenungkan sendiri 'bagaimana proses penghayatan ayat yang dibaca, mampu meresap sampai mengetuk kedalaman hati seorang hamba, sehingga berdampak pada fisik dan raganya; semoga anda dan kita semua diberkahi kenikmatan ini, amin.

FUNGSI INDERA DAN CARA MENGKONDISIKANNYA

Kini, kita akan mencoba mengupas sedikit ten- tang cara mengaktifkan fungsi indera dalam rangka mendalami proses memaknai bacaan shalat, dengan tu- juan menghindari kecaman Tuhan terhadap orang yang melupakan inti (esensi) shalatnya, tapi tidak memahami ucapannya sendiri, akhirnya terkesan ngelantur seperti orang mabuk yang setiap ucapannya tidak berarti sama sekali. Dan Allah ta'ala melarang anda shalat seperti orang mabuk, tersebut dalam sebuah ayat:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ﴾ [ سورة النساء: 43]

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sekali-kali mendekati shalat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu benar-benar mengerti apa yang kamu ucapkan." [Qs. An-Nisaa' 43]

Setiap indera manusia memiliki fungsi masing-masing, tapi di dalam shalat, indera memiliki fungsi yang sangat spesial, juga disaat prosesi penghayatan ter- hadap bacaan, namun perlu dicatat bahwa tidak semua alat-alat indera tersebut diaktifkan, tapi hanya beberapa saja yang bertautan dengan 'mendengar', yaitu:

1. MATA

Mata diusahakan khusyu' dan pandangan terfo- kus pada tempat sujud, hanya itu saja. Tidak boleh menoleh sana sini apalagi harus berpaling; sebab pandangan menjadi bukti konsentrasi seseorang. Jika mata sudah mulai jelalatan, tidak terfokus pada satu arah, maka konsentrasi akan buyar, minimal anda tidak bisa tenang. ( )

Dalam sebuah hadits dijelaskan: "Aku telah me- nyuruh kalian menjalankan shalat, jika kalian se- dang shalat maka jangan berpaling (al-iltifat), sebab tatapan Allah ta'ala akan selalu tertuju pada wajah seorang hamba selama ia tidak menoleh".

Berpaling atau menoleh yang dilarang dalam shalat –kata Ibnu Qoyim al-Jawzi– terdapat 2 ba- gian; pertama, keterpalingan hati dari ingat kepada selain Allah ta'ala. Kedua, keterpalingan pandangan mata –artinya suka jelalatan–. "Dan Allah akan me- natap hambaNya selama hamba ini menghadapkan diri (terfokus dan konsentrasi) dalam shalatnya"( ), jika hati dan pandangannya berpaling maka Allah ta'ala juga akan berpaling darinya".( )

2. TELINGA

Telinga berfungsi mendengarkkan bacaan shalat, baik bacaan imam maupun bacaan sendiri. Dan mengunci telinga dari mendengarkan suara-suara lain selain suara mulutnya, jika anda mendengar suara berisik, gaduh, atau suara sumbang lainnya, maka cepat tutup telinga –tapi jangan menutup dengan tangan, hanya perlu dibuang dan tidak usah didengar lebih lanjut–, jangan sampai kecolongan atau tertarik untuk mendengarkan suara luar sebab bacaan shalat yang keluar dari mulut anda akan terasa terputus akibat gangguan suara luar, maka dengan sendirinya penghayatan anda akan buyar.

Pasang telinga!, seakan anda berada dalam pro- sesi kematian (sakaratul maut) dan salah seorang kerabat anda –yang berada disampingmu– sedang membimbing anda membacakan kalimat suci tepat di dekat telinga, anda cermati 'bagaimana respon anda saat menerima sinyal suara tersebut!'.

3. MULUT

Mulut berfungsi untuk mengucapkan kata-kata. Sinyal suara saat mengucapkan bacaan akan di- kirim ke genderang telinga melalui jalinan saraf.

Diharapkan, anda memperbagus bacaan shalat, silahkan anda membayangkan, "jikalau suara anda tidak enak didengar oleh diri sendiri, bagaimana orang lain akan tersentuh; disini –bayangkan– anda sedang merayu, membisiki telinga sendiri agar mau diajak konsentrasi dalam proses penghayatan, ka- dangkala cukup dengan suara saja seseorang bisa hanyut dalam doa, bahkan mampu menggetarkan hati dan merontokkan isi jiwanya dari noda dosa.

4. OTAK DAN PIKIRAN

Hindarkan otak dari memikirkan sesuatu yang ti- dak bermanfaat. Otak dalam benak ini, biasanya suka mengajak orang melamun, berfantasi atau me- rantau ke dunia maya. Otak –kata Imam Ghozali– bersifat multi-fungsi, yaitu common sense, meng- khayal, berpikir, mengingat dan menghafal. Jika otak bekerja, bisa anda bayangkan berapa banyak bentuk dan bayangan yang akan bermunculan, karena otak memang menyimpan data dan infor- masi yang selama ini diterima dari indera; jika anda terbawa arus kerja otak, maka secara otomatis anda akan melamun di alam pikiran.

Maka, sedini mungkin dinonaktifkan... disadari atau tidak, ketika sedang shalat semua pikiran yang tidak pernah terlintas akan bermunculan dengan sendirinya, bahkan sampai ke masalah dapur pun akan merasuki pikiran seorang ibu rumah tangga, dari masalah terkecil sampai yang paling nyata, apalagi jika seorang praktisi sedang dilanda emosi, jiwanya sedang kalut dan menyimpan amarah, maka disaat shalat ia akan berusaha mencari-cari cara ataupun terbawa pikiran bagaimana ia bisa membalaskan dendam, –dan saya yakin– mereka akan menemukannya cara itu, sebab dibalik pikiran ini bergentayangan tangan-tangan setan melalui bisikan nafsu guna merusak konsentrasi anda.

5. HATI

Hati berfungsi merenungkan dan menghayati isi dan makna, kehadiran hati sangat mempengaruhi gerak-gerak lahiriyah (fisik), mampu menampung perasaan dari nuasa keagungan ilahi. Hati diajak meresapi apa yang terkandung dalam sebuah ba- caan shalat. Peran hati sangat penting dalam proses ini, sebab hati inilah yang akan menerima dan me- lancarkan efek-efek, yang selanjutnya akan meng gerakkan rasa dari unsur kenikmatan ke seluruh tubuh.

Sedangkan indera-indera lainnya, akan mengi- kuti aktifasi dari gerak indera di atas. Seperti, jika badan tidak bisa diam berarti ia sedang gelisah, maka anda bisa menganalisa bagian-bagian tertentu dari indera-indera tersebut di atas, sehingga anda tahu bagian mana yang harus diperbaiki, direparasi ulang, serta dibenahi agar dapat merasakan ketenangan secara total.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait