Selasa, 31 Desember 2024

Memahami Gerakan dan Posisi Sholat

Lebih spesifik akan dijelaskan, bagaimana posisi hati dan apa yang seharusnya anda lakukan ketika berada dalam posisi terpenting dalam gerakan shalat, misalnya tatkala berniat, membaca iftitah (takbiratul ihram), mengucapkan bacaan shalat, ruku', sujud dan tasyahud.

1. BERNIAT

Niat merupakan sebuah keharusan bagi seorang hamba baik dalam diam maupun gerak.

« إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بــِالنِّـيَّــاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِ ئٍ مَا نَـــوَى»

"Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niat dan setiap orang akan melakukan apa yang diniatkan"( ), niat seorang mukmin lebih baik/utama daripada amal perbuatan nya –tapi tidak berarti amal itu tiada berguna, bah- kan sebagai bukti kejujuran hati–.

Niat itu berbeda-beda sesuai waktu dan tempat, dan jiwa orang mukmin yang berniat itu berada dalam kelelahan yang nyata –bahkan kadangkala ia harus mengeluarkan tenaga extra untuk menjaga niatnya–, bagi orang lain yang tidak berniat mung- kin akan merasa tenang-tenang saja, padahal tidak ada yang lebih sulit bagi seorang hamba daripada menjaga niat (dan tiap orang memiliki kemampuan yang tidak sama dalam upaya ini).( )

Kelelahan dan tanggungjawab inilah yang sebe- narnya menjadi alasan mengapa orang berniat baik, pasti diberi pahala oleh Allah ta'ala walaupun be- lum dikerjakan; dan jika sebuah amalan sudah di- kerjakan, maka ia akan mendapatkan dua kali lipat, bahkan mungkin berlipat-lipat, hanya Allah ta'ala saja yang paling tahu persis kelipatan suatu pahala.

2. MEMULAI SHALAT

Apabila anda sudah menghadapkan wajah ke arah kiblat, hadapkan wajahmu kepada Allah yang Hak, jangan bersikap have fun (suka-suka) –atau ber kelakuan sak enake dewe, ngelantur, angop, tolah-toleh atau melirik kanan-kiri– karena anda bukan ahli inbisath (suka-suka, have fun), berdirimu kini di hadapan Allah, dan ingatkanlah dirimu seakan anda berada di sebuah acara apel akbar –dan memang di Hari Kiamat akan digelar apel akbar dimana segala amal perbuatan akan dihitung, sedangkan anda kini sedang mempersiapkan modal shalat untuk me- nyambut apel tersebut–, berdirilah di atas kedua kaki dengan rasa takut dan mengharap ridla Allah ta'ala, buang jauh-jauh dari hatimu pandangan ter- hadap dunia dan manusia, keluarkan intention (tuju- an, cita-cita, keinginan dan permintaan)mu kepada-Nya sebab Allah ta'ala sama sekali tidak akan me- nolak dan tidak juga menyia-nyikan hambaNya yang mau meminta.

Apabila anda mengucapkan: "Allahu Akbar", ma- ka ketahuilah bahwa Allah sama sekali tidak mem- butuhkan pengabdian dan dzikirmu kepadaNya itu, karena 'rasa butuh' hanya dimiliki orang-orang fakir lagi miskin, itulah ciri atau sifat makhluk bu- kan Tuhan, namun Allah ta'ala sendiri menugaskan kepada para hamba untuk selalu mendekatkan diri, mengharapkan ampunan dan rahmat-Nya dan pasti akan menjauhkan mereka dari kutukan dan siksa. Tertulis dalam sebuah ayat:

﴿ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَىٰ وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا ۚ ﴾ [ سورة الفتح: 26]

"...lalu Allah menurunkan ketenangan batin kepada Rasul-Nya serta kepada orang-orang mukmin; dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat "takwa", mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya..." [Qs Al-Fath : 26],

pada ayat lain:

﴿ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ ﴾ [ سورة الحجرات: 7]

"akan tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan men- jadikan keimanan itu indah di dalam hatimu" [Qs Al-Hujurat : 7]

Kesuksesan besar bagi setiap hamba dalam upa- ya mendekatkan diri adalah apabila ia telah men- dapatkan cinta Allah ta'ala dan RosulNya. Bersyu- kurlah kepada Allah ta'ala karena menjadikanmu berhak berdiri di hadapanNya, karena "Dia (Allah) adalah "Ahlu at-Taqwa" dan "Ahlul Maghfiroh"( ), artinya Tuhan yang mana seluruh makhluk, baik yang berada di langit maupun di bumi patut (layak) bertakwa kepadaNya dan berhak memberikan am- punan kepada siapapun yang bertakwa.( ) Jika Allah sudah cinta, apapun yang diminta seorang hamba pasti akan diterima.

3. MEMBACA BACAAN SHALAT

Berta'awudz terlebih dahulu, sebagaimana yang dianjurkan dalam sebuah firman:

﴿ فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ﴾ ﴿ إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴾ [ سورة النحل: 98-99]

"Apabila kamu membaca Al-Quran, maka berta'awudzlah (meminta perlindungan diri) kepada Allah dari (godaan) setan yang terkutuk. Dan setan –sama sekali- tidak memiliki kuasa terhadap orang-orang yang beriman dan orang yang bertawakal (pasrah diri) kepada-Nya" [Qs. An-Nahl : 98],

Dan pada ayat berikutnya: "Sesungguhnya kekua- saannya (yakni setan) hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin (penguasa)"( ), ayat lain: "...barangsiapa yang berkawan dengan setan, tentu dia akan menyesatkannya".( )

Ingat terhadap janji dan sumpah Allah ta'ala yang tertulis dalam wahyuNya dan janji itu pasti akan terwujud, tidak akan meleset sedikitpun na- mun semua itu tergantung pada 'bagaimana cara anda membaca kalam Allah yang termuat dalam kitabNya!', cobalah membaca dengan tartil dan hayati maknanya, pahami dengan hatimu, berhenti sejenak ketika membaca ayat-ayat yang berisi 'janji dan ancaman', 'tauladan dan nasehat', 'perintah dan larangan' serta 'muhkamat dan mutasyabihat'.

Dikhawatirkan, anda lupa diri dengan menyia-nyiakan tuntunan Allah ta'ala disaat anda menjalankan tuntunan itu sendiri.( ) Artinya, anda shalat demi menjalankan kewajiban, tapi disaat yang sama anda telah menyia-nyiakannya karena shalat anda masih perlu dipertanyakan...

4. RUKU'

Ruku'lah seperti ruku' orang yang hatinya khusyu' dan anggota badan yang tertunduk, sem- purnakan ruku'mu –jangan seperti orang yang ber- malas-malasan–, turunkan volume gairahmu –tidak terlalu semangat, grusa-grusu– dalam menjalankan perintahNya, lantaran anda sebenarnya tidak akan mampu menunaikan kewajiban tanpa pertolongan-Nya, juga tidak akan mencapai ridla Allah tanpa kasihNya, tidak akan mampu mencegah maksiat tanpa penjagaanNya, tidak akan selamat dari siksa api neraka tanpa ampunanNya.

قَـالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : « لَنْ يُدْخُلَ الْجَنَّةَ أَحَدًا عَمَلُهُ »، قَالُوْا: وَلاَ أَنْتَ يــَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: « وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ مِنْهُ بِـرَحْمَةٍ ». رواه مسلم

Rosulullah saw pernah bersabda: "Tak seorang pun akan masuk surga dengan/karena amalnya", para sahabat bertanya: "Tidak juga anda, wahai Rosulullah?", beliau menjawab: "Tidak juga aku, hanya saja Allah ta'ala melindungi/menjagaku dengan rahmat (kasih sayang)Nya". [HR Muslim]( )

5. SUJUD

Bersujudlah kepada Allah seperti sujudnya orang yang mutawadli' (rendah diri), yang memahami bahwa dirinya tercipta dari tanah yang diinjak-injak oleh seluruh makhluk, terbentuk dari sperma (mani) yang dipandang hina dan jijik oleh siapapun.

Apabila anda memikirkan asal usul manusia, menghayati proses pembentukan dari air dan lumpur, maka rasa rendah diri di hadapan Allah akan semakin memuncak, dan ia akan berkata pada dirinya sendiri: "Sungguh celaka kamu, mengapa kamu mengangkat kepalamu dikala sujud?, kenapa tidak mati saja sekalian di hadapanNya, Allah ta'ala telah menjadikan sujud sebagai sebab dan simbol kedekatanmu kepadaNya?

﴿ كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب ۩﴾ [ سورة العلق: 19]

"Bersujudlah dan dekatkan dirimu (kepadaNya)" [Qs. Al-Alaq 19].

Barangsiapa yang mendekatkan diri, ia akan ter- bebaskan dari memikirkan sesuatu selain Allah, jaga sifat sujudmu sesuai ayat ini: "dari tanah itulah Kami menjadikanmu dan kepada tanah itu juga Kami akan mengembalikanmu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kesempatan lain"( ). (Yakni, dikala sujud hayati hakikat dirimu, siapa dan dari- mana kamu berasal, pahami bahwa diri anda ter- buat dari sesuatu yang hina. Mintalah bantuan ke- pada Allah semata, jangan kepada yang lain.( )

6. TASYAHUD

Setelah memujiNya, ucapkan shalawat kepada kekasihNya, sebab cinta Nabi tersambung dengan cinta Allah, taat dan mengikuti Nabi berarti taat dan mengikuti Allah ta'ala,( ) Allah memerintahkan NabiNya memintakan ampunan untukmu,( ) Allah ta'ala memang memerintahkanmu bershalawat ke- pada Rosulullah saw.( ) Tasyahud (kesaksian) sebenarnya berisi pujian dan pernyataan rasa syukur kepada Allah ta'ala, memaksudkan untuk meminta tambahan kebaikan dan anugerah, maka itu buang jauh-jauh segala dakwaanmu (artinya, jangan berasumsi yang ber- macam-macam, ataupun berpikir yang aneh-aneh), jadilah hamba Tuhan yang suka mengabdikan diri kepadaNya dengan ucapan dan perbuatan. Allah ta'ala yang telah menciptakanmu sebagai hamba, dan Dia juga yang menyuruhmu agar menjadi se- orang hamba yang ta'at beribadah.

Seusai pelaksanaan shalat, Allah ta'ala menyu- ruhmu berbuat yang lainnya, yaitu ibadah yang sama-sama menjadi kewajiban sebagai seorang hamba, yaitu mencari rizki, menghidupi anak istri dan aktifitas apapun guna mencukupi kebutuhan hidup, dengan kata lain 'memikirkan urusan perut'; semua ini dilakukan demi menjaga keseimbangan dunia dan akherat, lahir dan batin, karena manusia akan hidup di dua tempat, kini dan esok, kini yang fana' (musnah) dan esok yang baqa' (kekal); persiapkan dirimu untuk menghadapi hari esok. Termaktub dalam sebuah firman:

﴿ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ [ سورة الجمعة: 10]

"Apabila shalat sudah dijalankan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah seseringnya supaya kamu beruntung." [Qs. al-Jumu'ah : 10]

Simak ayat ini baik-baik, ketika anda shalat, ma- ka sebenarnya anda sedang berdzikir, ingat kepada Allah ta'ala, seusai shalat anda disuruh mencari karunia-Nya dengan diiringi ingat kepadaNya, sebab ibadah itu tidak hanya shalat saja; artinya disaat bekerja dan men- jalankan tugas-tugas keduniaan, anda dituntut ingat ke- pada Tuhan, mengapa demikian?, agar anda selalu men- dapat untung, tidak rugi dunia akherat. Keuntungan tidak hanya berupa materi, tapi juga immateri; jangan anda terpeleset ke dalam pemikiran bahwa ketika anda tidak untung materi, berarti anda rugi, pikiran seperti ini sebenarnya tidak benar. Begitu banyak orang ber- limpah materi tapi setelah itu ia memilih bunuh diri. Keuntungan hakiki terletak pada kecerdasan meman- faatkan materi itu sendiri, disinilah sifat-sifat legowo, bersyukur dan ridla. Dan insyaallah, selama manusia ti- dak meninggalkan Tuhannya, niscaya Tuhan pun tidak akan meninggalkan anda menderita...

'Kemuliaan' hamba itu terletak pada sejauhmana ketaatanmu kepada Allah ta'ala, dan 'kehinaan' itu ter- letak pada sejauhmana kamu mengkhianati dan men- durhakaiNya.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait