Sabtu, 28 Desember 2024

Ilustrasi Penerapan Ritual Sholat

"Apabila anda telah selesai bersuci dari najis dan hadats yang melekat pada badan, pakaian dan tempat shalat –semua harus suci dan bersih-, menutupi aurat mulai dari pusar sampai tumit (mata kaki) –untuk kaum lelaki, sedangkan kaum perempuan menutup seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan-, lalu menghadaplah ke arah kiblat dalam posisi berdiri, memadukan kedua kaki tapi tidak sampai rapat, berdiri tegak lurus. Selanjutnya –lebih baik- mengawali dengan membaca:

(Dikisahkan dari Ibnu Abbas ra, tatkala beliau menafsirkan penggalan Surat An-Naas:

﴿ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ﴾ [ سورة الناس: 5]

dan katanya: "Setan itu selalu bertengger pada hati manusia, jika seorang hamba sudah berdzikir kepada Allah ta'ala, maka setan itu pun akan bersembunyi dan jika ia lupa diri maka setan akan memunculkan rasa was-was dan gelisah dalam hatinya; upaya ini (yakni membaca Surat An-Naas) dilakukan dengan tujuan membentengi diri dari hal-hal yang dapat mengganggu suasana hati anda)".

Munculkan rasa malu pada hatimu jika anda ternyata memohon kepada Allah swt dengan hati yang lupa, dada yang menggelora karena was-was urusan dunia, kejahatan nafsu dan birahi. Maka itu, ketahuilah bahwa Allah swt selalu mendeteksi inner sense (isi batin) dan mengawasi hatimu.

Sungguh Allah ta'ala akan menerima shalatmu seukuran kadar kekhusyu'an, rasa pasrah, rendah diri dan kedekatanmu kepadaNya. Sembahlah Allah ta'ala dalam shalatmu, seakan-akan kamu menyaksikanNya, jika kamu memang tidak mampu menyaksikanNya maka tanamkan pada hatimu bahwa pengawasan Allah ta'ala tidak akan lepas sedetikpun.

Jika memang hatimu ternyata masih saja tidak bisa hadir, indera –seperti tangan, kaki, mata, dan te- linga– tetap tidak bisa diajak tenang (anteng), maka se- mua itu terjadi karena kelemahan dan ketidakmampuan mu mengetahui hakikat keagungan Allah ta'ala –akibat kecerobohan, ketidaktulusan, hati yang keras (atos), do- sa-dosa, dan sifat-sifat lain yang bisa menutup pintu hatimu dari pancaran Nur Allah ta'ala sehingga anda tidak mampu lagi menangkap sinyal-sinyal keagungan dan tidak semakin dekat kepadaNya–.

Maka itu, cobalah anda mengevaluasi dan me- nanamkan dalam benakmu bahwa orang shaleh ini (yakni anda) sedang diamati/diawasi oleh mata-mata keluargamu untuk mengetahui sejauhmana ayahnya se- dang menjalankan shalat, –mungkin, dengan cara ini– hatimu bisa hadir dan anggota badanmu merasa tenang, tapi (tidak cukup sampai disini, karena dalam tahapan ini hatimu masih tersimpan setetes sifat riya' dan niatmu sudah tidak lagi lillahi ta'ala, untuk itu anda harus) kembali menengok hatimu dan katakan: "Hai nafsu jahat!, apa kamu tidak merasa malu –melakukan semua ini– kepada Penciptamu dan Tuanmu?".

Dan jika anda sudah mampu melihat seorang hamba yang hina ini benar-benar hina, mengamati baik dan buruk (dalam pikiran dan nafsu ini, yang ternyata) tidak berasal dari Allah ta'ala –tapi karena dirimu yang selalu ceroboh dan lupa diri sehingga mengakibatkan dirimu harus merayu-rayu nafsu demi meluluhkannya–, maka anggota badanmu pun akan terbawa khusyu' dan shalatmu juga nampak bagus; setelah itu katakan lagi pada jiwamu (untuk mencuci hati dari kotoran), "hai nafsu jahatku!, ketahuilah bahwa Allah ta'ala selalu mengawasimu, tapi kamu kok tidak mau tunduk dan patuh pada keagunganNya!, apa Allah bagimu lebih kecil dibanding hambaNya ini, hai nafsu jahatku?, alangkah terlalu bodoh dan jahatnya kamu, alangkah besar permusuhanmu pada diriku?!.

(Kemampuan anda menghadirkan hati dalam shalat, atau keseriusan anda mendekatkan diri kepada-Nya ditentukan oleh sejauhmana anda mampu menge- kang nafsu dan syahwat, jika tidak maka hati akan ditindas nafsu, dikendalikan syahwat dan setan lebih leluasa merasuki hati dan mencemarkannya).

(Rayu dan ajak hatimu untuk terus berdiskusi, mencela nafsu, mencaci maki diri karena tidak tahu malu di hadapan Allah swt walaupun kadangkala butuh rangsangan dari luar –dalam kasus ini adalah keluarga–. Dan lakukan itu sampai hatimu merasa benar-benar tenang dan khusyu, namun kali ini khusyu'mu tidak murni karena Allah tapi karena faktor lain, maka itu bereskan sisa-sisa noda ini dengan terus memurnikan hati dan niat karena Allah ta'ala semata; luluhkan hati- mu seperti kata seorang penyair berikut ini:

يــَــا نَفْسَ وَيْحَكَ قَــــــــدْ أَتَـــاكَ هَوَاكَ
أَجِيْـبِـي فَــــــدَاعِي اْلحَقِّ قَـــــدْ أَتَـــــا كَ
كَمْ قَــدْ دُعِيْتَ إِلىَ الرَّشَــادِ فَتَعْرَضِيْ
فَــــــأَجَبْتَ دَاعِي اْلغَيِّ حِـيْنَ دَعَـــــا كَ

Hai nafsuku!, celaka kamu karena telah menuruti hasratmu;
dan terus kau ikuti, padahal penyeru kebenaran telah mendatangimu
Sudah berapa kali kau diajak bergabung ke arah petunjuk, tapi kamu
malah menolaknya; –sebaliknya– kau respon orang-orang yang menyerukan (suara) kejahatan tatkala ia mengajakmu... )

Obatilah hatimu dengan langkah tadi, barangkali cercaan dan cacianmu pada nafsu bisa menghadirkan hatimu di tengah-tengah shalat. Besar kecilnya (pahala) shalat yang layak anda terima disesuaikan dengan nilai kekhusyuan shalat; adapun jika anda tetap menjalankan shalat disertai rasa lupa diri seperti orang yang lupa ingatan, maka lebih baik anda bertaubat (istighfar) dan merenungkan kembali sebelum menjalankannya.

Apabila hatimu sudah bisa hadir, maka jangan memulai shalat sampai iqomat selesai dilantunkan, wa- laupun kala itu anda sedang shalat sendirian, jikalau anda sedang menunggu kehadiran para jamaah, maka lebih baik anda beradzan dan beriqomah sendiri. Jika anda hendak memulai shalat, berniatlah dan katakan pada hatimu: "aku hendak menjalankan shalat dhuhur –jika di waktu dhuhur– karena Allah ta'ala".

(Biasanya seseorang melafadzkan niat dengan mulutnya, tapi hatinya ngelantur, kosong dan tidak tertuju pada lafadz niat, didukung dengan lafadz yang berbahasa arab, bisa dijamin kalau mayoritas mereka tidak paham terhadap niatnya, apalagi kalau sudah terlalu hafal diluar kepala (sampek ngelontok atau apal ketepal), kemungkinan besar lafadz itu diucapkan sambil berlalu saja, atau hanya pemanis mulut belaka. Maka itu, anda harus mampu me-mbatin niat dalam hati dan diperkuat dengan melafadzkan niat...)

Hendaknya dilakukan dengan kehadiran hatimu tatkala membaca takbiratul ihram, jangan hilangkan niat dalam hati sampai bacaan takbir selesai. Angkat kedua tanganmu tatkala membaca takbiratul ihram, setelah meloloskan keduanya terlebih dulu searah pundakmu. Kedua tangan melebar dan jari-jari terbuka, jangan ter- lalu merekatkan ataupun terlalu terbuka dimana ibu jari searah lurus dengan cuping telinga dan ujung jari-jari persis di atas telinga. Jika posisi tangan sudah benar dan pas, setelah itu bacalah takbiratul ihram, lalu loloskan tangan pelan-pelan. Jangan mendorong tanganmu disaat mengangkat dan jangan pula terlalu meloloskan ke depan, juga ke belakang –dengan sekali sentak, seperti orang yang sedang marah atau emosi–, jangan pula mengibas-ngibas tangan ke kanan dan ke kiri. Apabila anda sudah meloloskan kedua tangan dengan tepat, maka hendaknya mengawali mengangat keduanya searah dada, muliakan tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri, lebarkan jari-jari tangan sebelah kanan se- panjang siku-siku sebelah kiri, dan jauhkan dari perge- langan tangan –tidak pada posisi antara pergelangan dan siku-siku–, sambil membaca seusai takbir, lafadz:

اَللهُ أَ كْبَر كَبِيْرًا، وَ اْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيْلاً

...aku mengagungkan Allah yang Maha Besar, aku perbanyak puji-pujian kepada Allah dan aku bertasbih (mensucikan) Allah ta'ala di waktu pagi dan petang.

(Apabila seseorang berdiri tegak menjalankan shalat, lalu ia mwngucapkan Allahu Akbar, maka setan akan datang membisiki hatinya: "Pikirkan ini, pikirkan itu", lalu setan mulai memunculkan hal-hal yang selama ini tersimpan rapi dalam benak serta mengeluarkan jurus-jurus fitnahnya –setan sengaja mengganggu shalat anda dengan cara ini–. Seorang praktisi shalat pun terbawa arus, disibukkan oleh semua pikiran dan uneg-uneg selama ini. Malaikat juga ikut membisikkan di teli- nga kanannya: "Konsentrasilah dan serius dalam shalat- mu", sedangkan setan di telinga kiri. Kala itu hati akan merasa terombang-ambing, saling bertentangan antara 2 hal yang berbeda, dan saling tarik menarik antara 'ya' dan 'tidak'. Jika ternyata ia memilih bisikan malaikat, maka malaikat akan menendang dan menyingkirkan setan, jika anda lebih memilih bisikan setan, maka malaikat akan mengecammu: "Celaka kamu, mampus kau!", padahal jika kamu mau menuruti kata-kataku, niscaya tiap gerak shalatmu akan dibalas dengan lim- pahan pahala yang tak terhitung jumlahnya dan seluruh dosamu akan diampuniNya".)( ) Dalam tahapan ini anda harus lebih berhati-hati, jangan sampai terbawa pikiran-pikiran jahat.

Inilah cobaan terbesar yang harus anda hadapi tatkala memulai shalat... anda akan berperang dengan diri anda sendiri, dalam batin anda akan berkecamuk bisikan-bisikan halus yang dapat mempengaruhi kekhu- syu'an hatimu dalam menjalani shalat, bahkan bisa me- rusak konsentrasi yang sudah anda bangun.

Setelah itu, bacalah:

﴿ إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾ [ سورة الأنعام: 79] ﴿ قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ [ سورة الأنعام: 162]

"...sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik (mempersekutukan Allah). Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan itulah yang diperintahkan (Allah) kepadaku dan aku adalah termasuk orang-orang yang menyerahkan diri (kepada-Nya)."

Selanjutnya hendaknya anda membaca ta'awudz –untuk membentengi diri dari godaan setan–:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ

"aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk".( )

Dan bacalah surat al-Fatehah dengan berusaha menyempurnakan bacaan tasydidnya( ), membedakan antara huruf (ض) dan (ظ) tatkala mengucapkan bacaan shalat. Seusai membaca surat al-Fatehah, hendaknya anda mengucapkan lafadz: "Amin (آمين)" dan jangan menggabungkan dengan lafadz: وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. Keraskan bacaan al-Fatihah di waktu shalat subuh, maghrib dan isya' persis pada rakaat pertama dan kedua, kecuali jika anda kala itu menjadi makmum, juga keraskan tatkala membaca: "Amin (آمين)".

Pada waktu shalat subuh, setelah al-Fatehah hendaknya anda membaca surat-surat yang panjang, pada waktu maghrib surat-surat yang pendek, di waktu dhuhur, ashar dan isya' surat-surat yang tidak panjang dan tidak pendek, seperti Surat al-Buruj atau surat lain yang sepadan, sedangkan surat yang dibaca di waktu shalat subuh seperti surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.

Jangan menyambung akhir ayat dengan bacaan takbir ruku' (takbir ketika mau melakukan ruku'), tapi pisahkan dan berilah jarak waktu diantara keduanya dengan seukuran bacaan: "Subkhanallah".

Dalam seluruh aktifitas pelaksanaan shalat, hen- daknya anda menundukkan kepala, pandangan tertuju ke arah tempat shalat (tepatnya pada posisi sujud), karena hal itu dapat memupuk semangat dan mem- bangkitkan kehadiran hatimu; jangan sekali-kali meno- leh ke kanan dan kiri (clingukan) di saat shalat.

Kemudian, bacalah takbir untuk melakukan ruku', dan angkat kedua tangan seperti ketika membaca takbiratul ihram, panjangkan bacaan takbir sampai posi- si ruku' sempurna, letakkan telapak tangan pada lutut dan biarkan jari-jari terbuka, pasang lututmu –dengan kuat–, luruskan punggung, leher dan kepala seperti se- lembar balok papan, jauhkan sedikit posisi siku-siku dari lambung kanan-kiri, berbeda dengan kaum wanita, dimana kedua siku saling merapat, sambil membaca tasbih, –lakukan penghayatan yang lebih serius dikala sujud, di sinilah inti shalat anda–:

سُبْحَانَ رَبِّـيَ اْلعَظِيْمِ

(Maha suci Tuhanku yang Maha Agung)

Dibaca sebanyak 3 kali, lebih baik menambahkan jum- lah tasbih menjadi 7 sampai 10 kali, jika anda shalat sendirian. Lalu, bangkit dari ruku sambil mengangkat kepala hingga seimbang (i'tidal), dan mengangkat kedua tangan sambil membaca:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

(Allah ta'ala telah mendengar orang yang memuji-Nya) apabila posisi sudah tegak lurus, maka bacalah:

رَبَّنَا وَ لَكَ اْلحَمْدُ، مِلْئُ السَّمَوَاتِ وَ مِلْئُ اْلأَرْضِ وَ مِلْئُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ

"Ya Tuha kami!, segala puji hanya milik-Mu semata, sebanyak isi langit, bumi serta isi dari segala yang Engkau kehendaki".

Apabila anda sedang menjalankan shalat subuh, maka bacalah qunut (mengenai bunyi qunut, hendaknya meniru bacaan Nabi saw dalam haditsnya) di rokaat kedua saat i'tidal (bangkit dan berdiri) dari ruku', lalu melakukan sujud sambil membaca takbir tanpa meng- angkat tangan; letakkan dahulu lutut menyentuh tanah, lalu tangan dan dahi secara terbuka (yakni, posisi tang- an), posisi hidung dan dahi datar menyentuh tanah, jauhkan sedikit posisi siku-siku dari lambung kanan-kiri, perkecil ruang antara perut dan paha –untuk kaum wanita tidak demikian–, letakkan kedua tangan di atas tanah searah pundak, dan tidak boleh selonjoran di atas tanah, lalu bacalah:

سُبْحَانَ رَبِّـيَ اْلأَعْلَى

"Maha suci Tuhanku yang Maha Mulia (Luhur)"

Dibaca sebanyak 3 kali, jika anda shalat sendiri bisa me- nambah sampai 7 atau 10 kali.

Kemudian, mengangkat kepala guna bangkit dari sujud sambil membaca takbir hingga posisi duduk seimbang, menduduki kaki sebelah kiri dengan telapak kaki kanan terbuka tegak, dan letakkan kedua tangan di atas paha dengan jari-jari terbuka, lalu membaca:

رَبِّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَارْزُقْنِي وَاجْبُرْنِي وَعَـافِنِي وَاعْفُ عَنِّـي

"Ya Tuhanku!, ampunilah, sayangi, berikanlah rizki, sehatkan dan maafkanlah diriku".

setelah itu sujud untuk kedua kali seperti sebelumnya, lalu bangkit dan duduk istirahat dalam setiap rakaat, dan jangan membaca tasyahud (artinya, tidak membaca kalimat syahadat seperti yang biasa dibaca di waktu tasyahud awal dan akhir).

Pada langkah berikutnya, anda berdiri dengan meletakkan kedua tangan menyentuh tanah, jangan mendahulukan salah satu kaki (alias sikile balapan) ketika akan mengangkat badan untuk berdiri, mulailah dengan membaca takbir irtifa' (bangkit) beberapa saat menjelang berdiri dari duduk istirahat (istirokhah), panjangkan bacaan takbir hingga posisi anda berada di tengah-tengah bangkit menuju berdiri, hendaknya duduk istirahat ini dilakukan secara singkat dan enteng.

Selanjutnya, jalankan lagi rakaat kedua seperti pada rakaat pertama, awali membaca ta'awudz terlebih dahulu, kemudian duduk pada rakaat kedua untuk tasyahud awal; pada duduk tasyahud ini letakkan tangan kanan di atas paha kanan dengan jari-jari tertutup, kecuali jari telunjuk dan ibu jari, kedua jari ini diloloskan (dibiarkan terbuka), isyaratkan dengan jari telunjuk tangan kanan ketika membaca: (إِلاَّ الله) "illa Allah" bukan pada kata (لاَ إِلَهَ), "laa ilaha" sedangkan jari-jari tangan kiri masih tetap terbuka, dan diletakkan di atas paha sebelah kiri; lalu duduklah di atas kaki kiri dalam tasyahud ini sebagaimana pada saat duduk antara dua sujud, sedangkan pada tasyahud akhir yang disebut duduk mutawarik (pangkal pantat), dan sem- purnakanlah dengan membaca doa-doa ma'tsurat (doa-doa Nabi saw) setelah membaca sholawat kepada Nabi saw, kala itu letakkan pangkal pantat sebelah kiri di atas tanah dengan kaki kiri keluar dari daerah pantat tersebut, kaki kanan tetap diposisikan tegak, jika sudah selesai, lalu membaca:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ

"(aku ucapkan) salam dan rahmat Allah kepada kalian".

sebanyak 2 kali, sambil menoleh ke kanan-kiri sampai bisa terlihat pundak kanan-kiri. Berikutnya, berniat keluar dari ritual shalat dan niatkan salam itu kepada kedua malaikat kanan-kiri (Roqib-Atid) serta seluruh kaum muslimin. Selesai sudah sekelumit penjelasan tentang tata cara shalat jika dilakukan sendirian.

Sekali lagi, asas dan pondasi shalat terletak pada sikap khusyu', dan kehadiran hati tatkala mengucapkan bacaan shalat dan mengingat Allah ta'ala disertai pema- haman terhadap makna tiap bacaan. Imam Hasan Basri ra pernah mengatakan: "Setiap shalat yang hatinya tidak dihadirkan (atau diikutsertakan), maka akan lebih cepat mendatangkan kutukan"( ), wallahu a'lam.

Seusai shalat, munculkan perasaan khawatir dan sedih, takut seandainya jika shalatmu tidak diterima lantaran dosa-dosa selama ini, ketepatan (accurate) prak- tik shalat yang terlalu minim; anda pun tidak tahu pasti 'apakah anda telah menjalankan sesuai kewajiban, atau malah menyia-nyiakannya!'. Juga, berdoalah kepada Allah ta'ala agar –berkat kebaikan dan fadhalNya– Dia menerima shalatmu, sebagaimana Allah ta'ala juga akan mengingatkan atau menyadarkanmu terhadap shalat tatkala anda menjalaninya, tidak pula menyiksamu karena dosa-dosa yang membuatmu hina sampai lupa terhadap shalat –lantaran dosa ini yang menjadikanmu tidak lagi memikirkan kewajiban–, dan tanamkan rasa takut dalam hatimu jikalau anda tidak bisa lagi shalat di waktu yang akan datang.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait