Rabu, 25 Desember 2024

Makna Rohani (Spiritualitas) Ritual Sholat

Secara global, tepatnya 'garis-garis besar haluan shalat' yang seyogyanya ditanamkan dalam hati dan pikiran seorang 'penegak shalat' adalah menjelaskan visi-visi yang mencakup beberapa hal yang bersifat batini, rohani, dan psikologis, diantaranya:

  1. Khifdhul Janah –melemaskan otot, rileks dan persendian, tidak terlalu tegang, melepaskan segala bentuk kepenatan hati dan pikiran dalam otak-.

    Orang habis kerja keras, dianjurkan untuk beristirahat dulu sampai ia merasa lega dan fresh (segar). Seperti halnya orang yang dilanda kantuk berat, ia tetap dianjurkan untuk istirahat dan tidur sejenak demi melepaskan lelah dan pegal-pegal akibat kecapekan. Tercantum dalam sebuah hadits shahih, "Apabila salah satu kalian merasakan kantuk berat, hendaknya ia beristirahat sampai ia tertidur (terbawa rasa kantuk yang sangat berat). Sesungguhnya, apabila salah satu kalian melaksanakan shalat padahal ia sedang dilanda kantuk yang –kala itu- barangkali ia tidak sadar telah beristighfar, lalu ia mulai mencacat (cela) dirinya sendiri –setelah kesadarannya kembali-".

    Dalam hadits lain, "Apabila salah satu kalian dilanda kantuk sedangkan ia sedang menjalankan shalat, hendaknya ia menyudahi shalatnya dan beristirahat (tidur sejenak) sampai ia benar-benar paham terhadap ucapannya (sendiri)".

  2. Menjaga sikap khusyu'. Pikiran ataupun bersitan yang melintas dalam otak, jangan sampai diumbar dan dibiaarkan merajalela, sebab dapat merusak konsentrasi, jika tidak dikendalikan maka pikiran itu akan terus merambat kemana-mana semakin terbawa arus angan-angan, andapun –akhirnya- menjadi 'melamun' dan 'berfantasi'.

    Sebagian ulama' salaf berkata: "Barangsiapa yang masih mengetahui situasi kanan dan kirinya, padahal ia sedang menjalankan shalat, maka –sama saja- dengan tidak shalat".( ) Dari Hakam bin 'Uyainah, ia pernah berkata: "Barangsiapa yang tatkala shalat masih memikirkan kanan kirinya, maka sama saja ia tidak shalat".

  3. Menunjukkan rasa rendah diri –dihadapan Dzat yang Agung-, terutama dikala sujud, dan posisi ini paling mujarab bagi seseorang untuk melakukan doa( ), bahkan Ibnu 'Arabi menganjurkan anda untuk memperbanyak doa dikala sujud, karena anda kini berada pada posisi terdekat dengan Tuhannya, didukung oleh sebuah hadits Nabi saw: "Hamba yang paling dekat kepada Tuhannya (adalah) posisi dimana ia sedang bersujud (kepada Allah ta'ala), maka itu perbanyaklah doa".( ) Nabi juga sering berdoa dalam posisi ini.

    Tidak ada kedekatan yang lebih dekat daripada sujud dan tidak ada doa yang paling mujarab kecuali mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt. Apabila anda berdoa tatkala posisi bersujud, maka berdoalah dengan tetap menjaga (suasana) kedekatan hati yang semakin meningkatkan kedekatan yang dicari, yakni Allah ta'ala, anda khan sudah tahu bahwa Allah swt sangat dekat kepada hamba-Nya, dimanapun dan kapanpun hamba itu berada".( ) Maka itu, manfaatkan sebaik-baiknya...

  4. Kehadiran hati (Hudhuril Qolb); tiap gerak fisik dan lahiri tidak mempengaruhi gerak hati untuk tetap tenang, ingat dan fokus. Menjaga konsentrasi, dan membuang pikiran-pikiran yang mengusik hati.
  1. Menghilangkan rasa was-was; rasa gejolak hati dan nafsu, gelisah ataupun tidak yakin terhadap apa yang sedang dikerjakan.

    Seorang Ahli Hikmah pernah berkata: "Jika seseorang berwudlu' disertai rasa was-was, tidak dilakukan dengan penuh rasa ta'dzim; dan (jika seseorang) shalat disertai rasa was-was dan berpikir soal urusan dunia, maka sebenarnya shalat itu tidak diterima".( ) Atau tidak pantas disebut shalat...

  2. Membuang uneg-uneg, hasrat nafsu atau krentek ati yang tidak menentu, baik dzahir maupun batin.
  3. Menjaga fisik (raga) tetap tenang, tidak banyak usik dan berisik, apalagi usil.

    Dari Nabi saw, beliau pernah melihat seorang laki-laki sedang shalat sambil bermain-main dengan jenggotnya –seperti mengusap-usap, mengelus atau memegangi–, lalu beliau pun bersabda: "Jikalau hati orang itu khusyu', maka khusyu' –tenang– pula fisik (raga)nya".( ) Hati dan jiwa yang khusyu (tenang) akan mempengaruhi ketenangan raga dan jasadnya dalam shalat.

  4. Menundukkan kepala dan pandangan tertuju pada tempat sujud.

    Suatu saat, Nabi saw pernah menjalankan shalat dengan mendongakkan pandangannya ke atas (langit), dan tatkala ayat ini turun, yakni ayat:

    ﴿ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾ [ سورة المؤمنون: 2]

    "(yakni) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya". [Qs. Al-Mukminun 2], lalu beliau pun langsung mengalihkan pandangannya ke bawah, tertuju ke arah tempat bersujud".( ) Sebagian ulama' mengatakan, "Hati yang khusyu' adalah ketika seseorang mampu mengikat penglihatan mata agar tidak jelalatan

  5. Meletakkan sesuatu sesuai posisi dan proporsinya, tangan kanan di atas tangan kiri, jangan sekali-kali menciptakan gerakan-gerakan yang tidak termasuk dalam ritual shalat, dan berusahalah mengerjakan shalat sesempurna mungkin.

    Hasan Basri ra sempat bertutur, dari Nabi saw bahwa beliau pernah bersabda: "Maukah kalian aku beritahu tentang sejahat-jahat pencuri?", para sahabat menjawab: "Tentu, wahai Rosulullah saw", lalu beliau bersabda: "Yaitu, orang yang mencuri shalatnya", mereka pun bertanya: "Bagaimana cara orang yang mencuri shalatnya?", beliau menjawab: "Orang yang ruku' dan sujudnya tidak dilakukan secara sempurna".( ) Artinya, orang yang mencuri hak-hak Allah ta'ala, bukankah seorang pencuri dibilang pencuri karena ia telah mengambil sesuatu yang bukan hak atau miliknya!.

  6. Bertafakkur (berpikir, memahami dan menghayati) tiap bacaan shalat. Tidak berarti anda melamun, mengkhayal, berandai-andai, berangan-angan dan sebagainya, sebab hal itu akan menyibukkanmu dengan urusan lain selain Allah ta'ala. Bertafakur memiliki 2 mata, 'mata hati dan mata akal pikir', 2 sisi baik dan dan buruk, jika anda bisa meletakkan dengan baik dan benar, maka anda akan meraih cinta sejati dari Tuhan.
  7. Membangkitkan rasa hormat (khidmat) tatkala membaca takbiratul ihram.
  8. Khudlu' (menunduk karena tunduk, berserah diri karena pasrah) tatkala melakukan ruku'. Yakni, khudlu'il jawarih, fisik yang menunjukkan sikap rendah diri dan rasa hormat.
  9. Khusyu' (merendahkan diri, mengagungkan Allah yang Mulia) tatkala bersujud. Yakni, Khusyu'il Qalb, sikap hati yang merasa kecil dan tak berarti.
  10. Memuliakan dan mengagungkan Allah swt tatkala bertasbih –terutama dikala membaca subhanallah... ditengah-tengah ruku' dan sujud–.
  11. Musyahadah –seakan menyaksikan keagungan dan kekuasaan Allah ta'ala– tatkala ber-tasyahud, baik tasyahud awal maupun akhir. Bukankah anda membaca kalimat syahadah disaat duduk tasyahud?, itu artinya sebuah sikap 'kesaksian diri' dan pengakuan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhamad adalah utusan-Nya.
  12. Mengharap fadhilah dan rahmat Allah ta'ala tatkala mengucapkan salam –di waktu tasyahud akhir–.
  1. Takut (al-khouf) kepada Allah ta'ala jikalau ada kesalahan, kecerobohan di tengah-tengah ritual setelah ia selesai (bubaran) dari menjalankan shalat.
  2. –Setelah semua selesai- ia berusaha sebaik mungkin mencari ridha Allah swt di kehidupan nyata dengan tetap berusaha berbuat baik, menjaga hati dan tidak suka emosi, tidak mengumbar amarah, dan sebagainya, sebab mungkin ditengah-tengah atau beberapa saat seusai shalat ia akan merasa tenang dan damai, tapi selepas itu musuh lama terus akan menggangu agar anda lupa dan terjerumus dalam kegelapan, musuh ini bernama setan.

Inti shalat –sebenarnya– terletak pada sikap "khusyu" yang tidak dibuat-buat, tidak direkayasa, ataupun tidak untuk alasan lain selain Allah swt. Dalam "Aysar Tafasir" karya As'ad Humed disebutkan, "Hati yang khusyu' adalah hati yang dilandasi rasa takut kepada Allah ta'ala, serta hati yang tenang, tentram dan damai. Syeikh Muhamad Amin al-Kurdi malah menambahkan: "...indera (al-jawarih) –mata, telinga, mulut dan seluruh anggota tubuh– juga akan ikut arus ketenangan (anteng) hati".

Khusyu' dalam shalat itu akan bisa dicapai oleh orang yang hatinya hening dan hanya terpaku pada shalat, tidak menyibukkan diri, baik hati, pikiran ataupun otak dengan urusan lain selain shalat yang bisa mempengaruhi anggota lainnya, seperti mata dan telinga kala itu benar-benar dinonaktifkan dari hal-hal yang menganggu; dan hasilnya, shalat akan terasa nyaman, tentram dan damai, impian hidup yang tak ternilai harganya bagi hamba yang ingin mencapai 'makrifat billah', wallahu a'lam.

"Jika anda akan menjalankan shalat, hendaknya berusaha –semampunya– melupakan segala urusan dunia serta penghuninya –keluarga, anak, tetangga beserta masalah dan keruwetannya–, menghadapkan diri kepada Allah swt seakan esok akan/sedang terjadi kiamat. Ingat dan hayati dalam setiap posisimu bahwa anda berada di hadapan Allah swt, antara kamu dan Allah tidak ada penterjemah (perantara) lain, Allah swt selalu menatapmu, dan akan menyelamatkanmu –jika serius–. Pahami dan camkan baik-baik!... dihadapan siapakah anda kini berdiri!, tentu saja di hadapan Allah azza wa jalla, Sang Penguasa Jagad Raya".

Konon ekspresi wajah para sahabat bisa berubah karena efek kerinduaan yang memuncak agar bisa bersegera menghadap Tuhan dalam shalat. Apabila Sayidina Ali ra sedang berwudlu', wajahnya terlihat putih bersih, hingga suatu saat beliau ditanya: "Wahai Amirul Mukminin!, kami melihat anda, jika selesai berwudlu' kondisi anda nampak berbeda (artinya bisa berupa rasa sumringah, senang dan bahagia, seperti orang yang akan bertemu dengan seorang penguasa atau pemimpin dunia). Dan beliau menjawab: "Karena aku tahu di hadapan siapa aku berdiri (dalam ritual suci ini). Dikisahkan tentang sebagian Tabi'in, apabila hendak menjalankan shalat, raut muka, warna wajah dan fisiknya bisa berubah indah. Jika ditanya, ia menjawab: "Apakah kalian tahu, di hadapan siapa aku berdiri dan kepada siapa aku bermunajat!?".

Adakah dan mampukah kita melakukan itu?, jelas mampu dan ada kok buktinya. Seperti, Rabi'ah al-Adawiyah yang pernah berkisah, –suatu ketika– ia menjalankan shalat di sebuah al-bawari (tempat, pekarangan belantara, gurun tandus yang belum pernah terjamah tangan manusia) dan tatkala ia bersujud –tiba-tiba- matanya kemasukan serabut tebu, lebih menarik lagi bahwa ia sama sekali tidak merasakan apapun, dan baru sadar ketika shalat itu sudah selesai".

Dari Muslim bin Yasar ra, ia pernah berkata kepada keluarganya: "...ketika aku sedang menjalankan shalat dan kala itu kalian sedang berbincang-bincang (bercengkerama ria), sungguh aku sama sekali tidak mendengar semua ucapan kalian".

Dikisahkan tentang Yakub al-Qori': "Tatkala ia menjalankan shalat, tiba-tiba datang tukang sulam pakaian dan langsung mencuri serban yang dipakai Yakub, lalu si tukang tadi membawa pergi ke markas dimana komplotan para pencuri itu berkumpul. Tatkala mereka tahu pemilik serban itu ternyata Yakub, maka si tukang disuruh mengembalikan kepada orang shaleh yang sedang shalat tersebut –yakni Yakub-, "Kami takut akan do'anya", kata mereka. Si Tukang akhirnya terpaksa kembali lagi dan menaruh serban di pundak Yakub sambil meminta maaf atas kelakuannya. Selesai menjalankan shalat, Yakub diberitahu tentang kejadian ini dan dengan santai ia menjawab: "Aku –sama sekali– tidak merasa kalau ada orang yang mengambil dan menaruh kembali serban di pundakku".

Manusia dalam kehadiran hati disaat shalat, terdapat 2 golongan: orang khas dan orang awam. Orang khas ketika akan menjalani shalat, ia akan menghadapi dengan penuh rasa hormat –bangga bahwa ia akan menghadap Allah yang Agung–, dan tiap bacaan dalam shalat diucapkan dengan penuh rasa yakin (mantep) dan percaya diri, menjalankan dengan penuh rasa ta'dzim (mengagungkan Allah swt secara total), dan seusai shalat ia merasa takut kepada Allah swt; takut kalau terjadi kesalahan akibat kecerobohan diri sehingga membuatnya semakin jauh dari rahmat Allah ta'ala

Adapun orang awam, ketika hendak menjalani shalat, ia dipenuhi rasa lupa diri, tiap bacaan shalat diucapkan dengan sikap jahl (tidak tahu/bodoh, artinya tidak mau tahu soal arti, makna yang maksud, apalagi menghayati), dilaksanakan dengan hati was-was, dan seusai shalat ia merasa aman (maksudnya, ia merasa yakin, tak terpikir bahwa shalat yang dilakukan itu masih belepotan, dan ia tetap berlenggang dengan rasa cuek seakan tidak pernah terjadi apa-apa).

Orang terakhir ini sebenarnya telah tertipu, kok bisa dengan shalat yang acak-acakan dan terkesan tidak serius tapi berpikir ia telah menjalankan shalat dengan sempurna, bukti bahwa ia tidak mau mawas diri, mengevaluasi serta mengoreksi shalatnya; atau ia telah terpesona oleh shalatnya yang sebenarnya masih perlu diperhitungkan lebih cerdas.

Shalat seperti inilah yang menjadi sasaran (object) yang sedang digarap dalam tulisan ini. Dan untuk mencapai shalat yang perfect –dan layak diacungkan jempol– maka 'gerak hati' dan 'gerak fisik' harus dipoles (direparasi) dengan sebaik-baiknya, dengan cara menerapkan sistem penataan hati dan penempaan jiwa agar batin merasa khusyu' serta menenangkan raga, sehingga mampu mencetak seorang mukmin yang sehat jiwa raga. Semoga kita semua dituntun, dibimbing serta diberi kelancaran dalam upaya meniti jalan Tuhan ini, jalan hakikat amin.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait