Khusyu'nya orang mukmin adalah kekhusyu'an kepada Allah ta'ala dengan cara menta'dzim (mengagungkan), mengijlal (memuliakan), penuh rasa hormat dan hidmat. Hati –dengan kekerasaanya– akan meleleh karena mengingat Allah ta'ala hingga terakumulasi (terkumpul) rasa kagum, malu dan cinta, mampu menyaksikan nikmat-Nya yang luar biasa terhadap diri dan semakin mengerti akan keburukan dan kejahatan yang selama ini dilakukan, selanjutnya hati -secara pasti- akan menjadi khusyu' dan akan berdampak pada seluruh anggota badan yang ikut pula terbawa khusyu' (tenang).
Adapun khusyu'nya orang munafik akan nampak jelas pada dzahirnya (lahiriah), seperti perilaku yang dibuat-buat, dipaksakan, direkayasa dan hati pun tidak akan khusyu' dengan segala kebohongan ini. Sebagian ulama mengatakan: "aku berlindung kepada Allah ta'ala dari kekhusyu'an orang munafik", ketika ia ditanya: "bagaimana khusyu'nya orang munafik itu?", ia menjawab: "Fisiknya terlihat khusyu' padahal hatinya sama sekali tidak khusyu'". Orang yang –benar-benar- khusyu' di hadapan Allah ta'ala adalah orang yang api nafsu dan syahwatnya telah padam, asap nafsu telah memenuhi rongga dadanya; asap itu nampak jelas dan cahaya kegelapan akan terpancar dari dalam tubuhnya. Sungguh syahwat dan nafsu akan mati karena bersentuhan dengan rasa takut dan berhidmat kepada Allah yang Agung, fisik dan anggota badan lainnya tidak lagi aktif (tidak berreaksi secara membabi-buta), hati pun akan terasa tenang, tentram dan damai.
Dzikrullah yang dilakukan dengan penuh ketenangan itu sebenarnya berasal dari curahan nur Tuhan, yang pada detik berikutnya akan membentuk orang yang –senantiasa- merendahkan diri di hadapan-Nya. Orang yang rendah diri serta orang yang tenang... ibarat dataran rendah yang bertanah landai, jika air dicurahkan maka air itu akan menggenang damai. Sama halnya, sikap rendah hati yang khusyu' dan damai seperti hamparan tanah lapang yang bernuansa hening dan tenang, dialiri oleh air sejuk pegunungan dan akan bersemayam sentosa disana.
Indikasi (pertanda) dzikir yang benar adalah bersujud di hadapan Allah ta'ala dengan sikap memuliakan-Nya, tunduk dan merasa diri hina, jiwa terasa rontok karena membayangkan dosa-dosa selama ini yang tak terhitung jumlahnya; bersujud yang –hampir- tidak memiliki kuasa lagi untuk bangkit, artinya tidak mau bangun lagi lantaran dirinya telah hanyut, tenggelam dalam keindahan... sampai ia benar-benar ingin sekali bertemu dengan Tuhannya (yakni ingin segera mati menemui Tuhan yang selama ini telah merawat, menyayangi dan menjaganya dengan baik, serta telah memberikan anugerah terindah dalam sujud).
Sedangkan hati orang yang sombong; hati terus bergolak dan bergejolak karena rasa congkak, membuat hati semakain panas terbakar (karena tersulut bara emosi dan nafsu)... bagai dataran berbukit yang terjal, arus sungai senantiasa mengombak jika air mengalir deras dari puncak.
Kondisi mereka seakan memaksakan anggota tubuh ini agar tetap tenang namun semua itu hanya sebuah rekayasa dan dibuat-buat agar bisa dilihat orang lain, sedangkan hati batininya seperti seorang pemuda yang berhati dingin (soft-man) padahal di dalamya tersimpan nafsu dan hasrat yang menggelora; ia berusaha menenangkan diri secara lahir seperti ular padang pasir atau singa hutan yang duduk tenang, bersikap santai menanti si korban lengah... dan siap menerkam".
Pilih dan pilah mana gaya orang khusyu yang benar dengan cara-cara yang positif, tidak suka mengedepankan emosi ataupun mengumbar nafsu demi kenikmatan sesaat. Lalu dari hati yang khusyu' ini, pergunakan waktu untuk belajar memahami makna batini ritual shalat, sebab isi shalat tidak hanya fisik tapi juga maknawi (mental dan spiritual).
Jika ditinjau lebih jauh, shalat itu –sebenarnya– terdiri dari beberapa tingkatan tergantung pada sikap, perilaku dan pola shalat yang dikerjakan serta hasil yang dicapai, sekitar 5 tingkatan shalat yang berkembang di kalangan umat manusia ini, yaitu:
- Tingkatan orang dzalim terhadap dirinya sendiri yang extra keterlaluan; ia paling suka mengurang-ngurangi wudlu', tidak menepati waktu, tidak menjaga batasan dan ketentuan shalat serta tidak melengkapi syarat dan rukun-rukun shalat.
Hukumnya adalah dosa, pelakunya kelak akan disiksa, dikutuk dan dijebloskan ke dalam neraka.
- Tingkatan orang yang menjaga shalat, termasuk tepat waktu, menjalankan ketentuan shalat dan melengkapi rukunnya yang dzahir, tetapi ia menyia-nyiakan peluang untuk berjuang melawan rasa was-was –artinya tidak mau berusaha keras menghilangkan was-was-; ia terus saja menjalankan shalat bercampur rasa was-was dan pikiran lainya, seperti melamun, berfantasi dan sebagainya.
Hukumnya, amalnya akan dihisab (dihitung) kelak di akherat.
- Tingkatan orang yang menjaga ketentuan dan rukun shalat, ditambah semangat berjuang melawan rasa was-was dan pikiran lainnya, tapi ia juga sibuk memerangi setan –dalam batin dan benaknya- agar tidak mencuri shalatnya; jadi, ia shalat dan berjuang (berperang) melawan setan pada saat yang sama.
Hukumnya, dimaafkan (ma'fu) dan dosanya dilebur (kafarah), ia masih tetap mendapatkan pahala.
- Tingkatan orang yang jika menjalankan shalat, ia berusaha menyempurnakan hak, rukun, ketentuan dan aturan shalat; hatinya tenggelam menjaga hak dan rukun shalat agar tidak sia-sia, bahkan tekadnya hanya terfokus pada penegakan shalat sebagaimana mestinya, mengerjakan dengan sempurna.
Hukumnya, ia mendapat pahala dari Allah ta'ala atas jerih payah menjaga shalatnya.
- Tingkatan orang yang menjalankan shalat seperti pada tingkatan sebelumnya, disamping itu, ia memposisikan hatinya persis di hadapan Allah ta'ala, menyaksikan dan berada dalam pengawasan Allah, cinta dan kemuliaan-Nya telah memenuhi hatinya, sehingga ia seakan melihat dan menyaksikan-Nya, rasa was-was dan obsesinya sudah musnah, tidak ada lagi penghalang antara diri dan Tuhannya.
Hukumnya, shalat seperti ini jauh lebih utama daripada seluruh isi langit dan bumi.
Silahkan anda menata diri, dan amatilah baik-baik!, di tingkat berapa anda kini berada...
Tingkatan 1 dan 2, benar-benar merugikan, keselamatan anda tidak akan terjamin jika ternyata anda menemui diri masih saja berkutat pada 2 tingkatan ini. Berbeda dengan tingkatan 3, 4 dan 5; karunia besar yang harus disukuri jika anda ternyata menemui diri berhasil dalam mempertahankan hati berkonsentrasi pada tingkatan ini; tapi yang perlu dipahami, kesuksesan usahamu merupakan anugerah terindah yang dicurahkan kepada para hamba Allah yang taat beribadah.