Kamis, 19 Desember 2024

Melatih Hati untuk Khusu

Langkah awal yang harus dilakukan adalah menjaga hati, menata niat, berusaha mengekang nafsu agar tidak kelayapan (pelampiasan hasrat sampai lepas kendali).

Inti dasar rangkaian ritual shalat yang paling penting, bahkan –mungkin- menjadi prasarat diterimanya shalat adalah khusyu'. Dan khusyu' dalam hati para hamba tidak muncul secara tiba-tiba tapi melewati sebuah proses pendadaran mental, latihan olah jiwa dan bimbingan hati secara kontinyu, hingga pada puncaknya hati tidak keras (tidak atos), namun lembut dan halus melebihi lembutnya kain sutra, hati mudah tersentuh tiap kali mengucapkan bacaan shalat ataupun mendengar lantunan ayat.

"Hati yang halus dan lembut itu terlahir dari proses penggemblengan dengan cara 'berdzikir' (ingat kepada Tuhan), dan Allah swt mengharuskan para hamba-Nya berhati khusyu' (lembut, halus, batin terasa sejuk), semua itu akan sirna jika hati telah lupa diri, tidak sadar akan hakekat dzikirullah. Dijelaskan dalam sebuah ayat:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُه زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا

"sesungguhnya orang-orang mukmin itu, jika berdzikir kepada Allah-ta'ala-, hati mereka merasa tergetar karena ingat kepada Allah; dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya, maka keimanan mereka semakin bertambah (meningkat)...". [Qs. Al-Anfal : 2].

Suatu ketika, Imam Hasan Basri didatangi seseorang yang mengeluhkan hatinya yang keras (atos), dan beliau menjawab: "Luluhkan hatimu (artinya, memperhalus atau melelehkan) dengan cara berdzikir kepada Allah ta'ala"( ), dan lanjutnya: "Sebenarnya, majlis dzikir dapat menghidupkan ilmu, sedangkan –efeknya- hati akan muncul rasa khusyu'; hati yang mati dapat dihidupkan dengan berdzikir, bagaikan air hujan yang mampu menumbuhkan tanaman yang telah mati". Selaras dengan bunyi syair:

بِذِكْرِ اللهِ تـَرْتـــَاحُ اْلقُلُوْبُ وَدُنْيــَانَا بِذِكْرَاهُ تُطِيْبُ

Dengan dzikir, hati terasa tenang dan tentram,
juga dengan dzikir, dunia kita akan terasa indah, baik dan menyenangkan

Dzikir kepada Allah swt adalah cara pertama dan utama dalam melembutkan hati yang keras. Cara lain bisa dicapai dengan jalan 'menjenguk orang sakit, melayat jenazah dan mengingat sekarat mati'. Konon 'Aisyah ra pernah ditanya salah seorang sahabat: "Apa obat bagi hati yang keras?", jawab 'Aisyah: "Suruhlah orang itu –membiasakan diri- menjenguk orang sakit, melayat jenazah dan mengingat mati".

Solusi yang ditawarkan Malik bin Dinar berbeda dengan 'Aisyah, tatkala didatangi orang yang mengeluhkan hatinya dan ia berkata: "Biasakan diri berpuasa, jika hati masih keras maka tambah lagi frekwensi puasanya, dan jika hati masih tetap saja keras maka sedikitkan atau kurangi makan".

Dipertegas oleh Yahya bin Mu'adz, bahwa lapar itu adalah nur dan kenyang itu api; syahwat itu seperti kayu yang habis terbakar dilahap api, dan api tersebut tidak akan padam sampai ikut membakar habis pemiliknya".( ) "Dan lapar itu dapat memperhalus hati", kata Ibrahim bin Adham.( ) Abu Imran al-Jashash berkata, aku mendengar Abu Sulaiman mengatakan: "Apabila hati telah lapar dan haus, maka hati pun akan bersih dan halus (lembut); apabila hati kenyang, ia akan buta".( ) Imam Fudhoil pernah mengatakan: "Terdapat 2 perkara yang dapat mengeraskan hati, yaitu banyak tidur dan banyak makan".

Singkatnya, perhalus hati dan jangan biarkan hati itu keras terlalu lama, sebab hati yang sekeras batupun bisa dilelehkan dengan tetesan air dari Nur Tuhan dan untuk memunculkan nur pada hati bisa dilakukan dengan memperbanyak amalan terutama berdzikir. Diantara amalan preventif (pencegahan diri) agar tidak terlalu jauh dari jalan Tuhan, sekaligus mampu memperhalus budi dan hati, yaitu:

1. BERDZIKIR KEPADA ALLAH TA'ALA

Imam al-Ghozali menegaskan. "penyucian dan pembersihan hati hanya bisa dilakukan dengan cara berdzikir", mensinyalir dari sebuah hadits Nabi saw: "Sesungguhnya hati itu bisa saja berkarat sebagaimana besi yang berkarat, dan bisa dikilapkan dengan dzikrullah (ingat kepada Allah ta'ala)"

2. MENJENGUK ORANG SAKIT

Menyadarkan diri agar bisa menghayati detik-detik manusia akan dikuburkan, meninggalkan dan ditinggalkan keluarga; anak, istri, kerabat dan tetangga yang lambat laun akan melupakan anda, dan kini siapa yang akan peduli terhadapmu jika di saat-saat hidup di dunia tidak mau mengamalkan amalan ahli surga ataupun tidak mendekatkan diri –dengan dzikir- terhadap Allah ta'ala yang memiliki segalanya; sungguh penyesalan itu tiada guna dikala kuasa tidak lagi dimiliki.

3. MELAYAT JENAZAH

Merenungi diri anda yang kelak akan bernasib seperti itu, tidak ada upaya, tiada kuasa pada diri, dan bayangkan nasib anda berada di tangan-tangan para pelayat yang mengangkat-angkat tubuh anda dikala hendak dikuburkan, tidak bisa protes ataupun mengaduh; dan cermati bagaimana mayat itu dikebumikan, anda akan seperti itu sendirian di liang lahat, anda hanya bisa terdiam, tidak bergerak juga tidak mampu berontak.

4. MENGINGAT MATI

Akhir hidup yang tak bisa ditawar-tawar, hanya menunggu saat ajal menjemput, sudah siapkah anda menjawab tiap pertanyaan malaikat, walaupun anda pintar berbahasa arab namun bukan jaminan anda akan lulus dari ujian, kemampuan menjawab ditentukan oleh amal dan keikhlasan tatkala di dunia, sebab mulut, telinga dan anggota badan yang lain telah terkunci, dimana suatu saat akan musnah, membaur menjadi tanah hanya amalmu yang mendampingi nasibmu di hadapan malaikat.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَـالَ: قَـالَ لِـي رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : « إِعْمَل ِللهِ رَأْيَ اْلعَيْنِ كَأَنَّكَ تَـرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَـرَاهُ فَإِنَّهُ يَـرَا كَ، وَأَسْبَغْ طُهُوْرَ كَ وَإِذَا دَخَلْتَ اْلمَسْجِدَ، وَاذْكُرِ اْلمَوْتَ فِي صَلاَتِكَ، فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا ذَكَرَ اْلمَوْتَ لَحَرِىٌّ أَنْ يُـحْسِنَ صَلاَتَهُ، وَصَلِّ صَلاَةَ رَجُلٍ لاَ يَظُنُّ أَنْ يُصَلِّى صَلاَةً غَيْرَهـَا، وَإِيـَّـاك وَكُلَّ أَمْرٍ يَعْتَذِرُ مِنْهُ ».

Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Rosulullah saw pernah berkata kepadaku: "Berbuatlah (beramal) karena Allah seakan-akan kamu dimata-matai, dan seakan kamu menyaksikan Allah ta'ala jika kamu tidak bisa melakukan itu maka tanamkan pada hatimu bahwa Allah selalu mengawasimu; apabila kamu hendak memasuki masjid maka perbagus/percantik penampilanmu, ingatlah mati dalam setiap shalatmu karena jika seseorang bisa mengingat mati dalam shalatnya niscaya shalatnya menjadi layak dan bagus (baik, atau indah), dan bershalatlah seperti shalat orang yang tidak mengira akan shalat selain shalat yang sedang dijalankan itu –atau shalat selamat tinggal-; waspadalah terhadap segala hal yang mempersulit dirimu (atau tidak berusaha mencari-cari alasan agar bisa meninggalkan shalat)".

5. BERPUASA

Salah satu bentuk latihan kesabaran, dan menjaga hati agar selalu berdzikrullah; adalah menanamkan sikap mawas diri bahwa Allah selalu memantaumu di setiap saat; puasa memiliki andil besar dalam memupuk rasa mawas diri ini, selain itu rahasia dan guna puasa hanya bisa diketahui secara pasti antara dia dan Allah belaka.

6. MENGHINDARI PERUT KENYANG

Atau mempersedikit makan dan mengoreksi tiap makanan yang masuk ke perut, halalkah atau haramkah!, bagaimana doamu bisa terkabul, permintaanmu akan diterima Allah ta'ala jika fisikmu tumbuh dari kotoran-kotoran haram, lantas anda berharap besar terhadap perlindungan di akherat dengan kondisi seperti ini, akankah Allah swt melindungimu dari api neraka sedangkan posisimu terhina di hadapan-Nya...!

7. TIDAK MEMPERBANYAK MAKAN DAN TIDUR

Hidup dunia ini sangat bernilai harganya dalam mempersiapkan diri guna menghadapi akherat, sangat rugi orang yang menyia-nyiakan kesempatan ini, disaat nanti harta, jabatan dan lainnya sudah tidak lagi bisa membantu, apa lagi yang bisa anda harapkan?. Banyak makan membikin orang malas, tubuh terasa lemas, tak bergairah, sedangkan banyak tidur membuat orang terlena.

Lalu, kapan seseorang bisa dikatakan khusyu' serta apa ciri ataupun tanda hati orang khusyu'. Tersebut dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْـرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : «أَتـَاكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ، هُمْ أَلْيَنُ قُلُوْبًا وَأَرَقُّ أَفْئِدَةً ». رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rosulullah saw pernah bersabda: "Kalian akan didatangi kelompok 'Ahli Yaman' (orang kanan karena posisi kedekatannya dengan Tuhan), mereka adalah orang-orang yang hatinya paling lembut dan nuraninya paling halus". [HR Imam Muslim].

Mengapa hati diberi sifat lembut (al-layin), karena hati itu dilembutkan dengan kasih sayang (rahmah), sebab kasih sayang inilah yang mampu menyirami segalanya, semakin hati dipenuhi rasa sayang, semakin lembut hatinya; dan sekeras apapun watak seseorang akan dengan mudah meleleh, jika dihadapi dengan sikap lemah lembut.

Di sisi lain, potongan hati yang dzahir ini merupakan bejana atau wadah bagi potongan hati batin, apabila hati sudah halus maka nur yang bersemayam di dalamnya akan menjalar ke arah dada, selanjutnya akan mempengaruhi hati dzahir.

Jadi, 2 ciri khas yang hanya dimiliki orang khusyu', yaitu 'kelembutan' dan 'kehalusan', mengapa demikian?, karena orang seperti ini selalu berusaha menempa hati dan menggembleng jiwanya untuk sebuah tujuan, biasanya ilmu ini disebut 'Ilmu Batin' atau 'Ilmu Hati', wallahu a'lam.

Setelah anda belajar melatih, menata hati, memperhalus jiwa-jiwa yang keras dan kasar agar bisa khusyu', tenang serta terkendali, pada tahap selanjutnya anda perlu mengetahui corak orang khusyu' itu seperti apa!, jangan sampai anda berusaha khusyu dengan cara-cara yang salah dan tidak tepat.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait