Minggu, 15 Desember 2024

Memaknai Sholat ala Kaum Sufi

Segala puja puji bagi Allah yang telah menaruh lathoif (titik halus) rahasia-Nya dalam hati kaum 'Arifin (ahli makrifat billah), menjadikan 'kejelasan' dan 'penjelasan' sebagai media untuk mengantarkan orang-orang yang meminta bimbingan petunjuk ke arah jalan Tuhan. Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw yang ucapannya paling fasih dan keterangannya paling jelas diantara semua para nabi; juga kepada keluarga, sahabat serta seluruh ulama' syariat yang telah mengamalkan tuntunan syariat Tuhan secara nyata.

Shalat menjadi sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar, hukumnya tidak bisa diganggu gugat, yaitu wajib 'ain. Meninggalkan shalat berarti melanggar ketetapan Allah swt, mencederai citra manusia sebagai hamba yang taat; siapapun yang berani merangsak dan menyatakan 'boleh meninggalkan shalat', maka ia akan berhadapan langsung dengan kutukan Tuhan. Ritual shalat beserta konsekuensinya hanya dapat diketahui antara Allah dan hamba saja, tidak ada pihak ketiga. Siapa yang tahu kalau seseorang itu khusyu' dan tidak tatkala menjalani shalat...!, selain itu pahala shalat, besar kecilnya, akan ditanggung dan dijamin oleh Allah swt secara langsung.

Sungguh, di dalam shalat terkandung rahasia besar yang tidak bisa dilukiskan oleh kata-kata. Kala itu, anda sedang menyelami samudera makrifat; kesuksesan anda tergantung pada keseriusan dan kegigihan mencari 'apa itu'; tentang wujud 'apa itu', hanya Allah yang akan memberitahu hakekatnya.

Namun, tatkala shalat itu dijalankan, orang tidak mudah menerima begitu saja dan sebenarnya di dalam hatinya berkecamuk perang batin, saling tarik antara percaya dan tidak.

Di sisi lain, ternyata bermunculan masalah-masalah yang selalu menghantui benak para praktisi shalat, terutama saat hati mereka tidak connect (tidak sambung) dengan hasil yang dicapai, antara kenyataan dan angan tidak sejalan, bukti yang dinanti-nanti tak kunjung datang; bukankah orang shalat -dalam hati kecilnya- menginginkan sesuatu? apapun bentuknya?, ingin tenang, damai, hidupnya lurus atau hati yang mantep tak tergoyahkan dalam menghadapi ujian (cobaan), dorongan untuk berbuat baik, dilapangkan rizki, diberkahi kesuksesan, kelancaran bisnis yang dapat meraup untung sebanyaknya dan sebagainya; inilah bentuk-bentuk angan yang selalu diidam-idamkan dan ketika angan itu tak tersampaikan, batin mereka pun protes, berontak, lalu mulai mencari-cari 'siapa yang perlu disalahkan' sebagai ajang amuk mereka dan seringkali Tuhan dijadikan sasaran.

Lebih fatal lagi, ada orang shalat karena nggak enak sama tetangga, maklum ia baru pulang dari nyantri, kembali dari perantauan demi menuntut ilmu ataupun belajar agama ke luar negeri sehingga jika nampak tidak aktif keluar masuk mesjid. ia merasa dirinya terbebani; sebenarnya, aktifitas apapun yang jalankan, semuanya tergantung dari ragam niat yang ditanamkan dalam hatinya.

Ini pula yang melatarbelakangi lahirnya sebuah pertanyaan: "Apakah orang shalat itu berarti ia telah mendirikan bershalat...!?, belum tentu. Begitu banyak gaya dan pola orang yang menjalankan shalat –mulai gaya yang dicipta dan dibuat-buat agar nampak terkesan khusyu' ataupun gaya shalat orang nyantai seakan-akan ia telah sampai pada tingkat makrifat padahal hatinya berkecamuk ragam niat yang tak menentu sampai pada yang benar-benar khusyu'-, kadangkala mereka tidak jujur dengan shalatnya bahkan jarang orang menjalankan shalat sesuai dengan aturan syariat seperti yang sejujur-jujurnya dijalankan oleh Rosulullah saw.

"Orang shalat itu –versinya- banyak sekali dan beragam (variatif), tapi orang yang mendirikan( ) shalat itu berjumlah sedikit, bahkan jarang sekali, Allah swt menyebut orang-orang mukmin dengan sebutan: ﴿وَاْلمُقِيْمِيْ الصَّلَاةَ﴾( ) "(orang) yang mendirikan shalat", sedangkan orang-orang munafik disebut oleh Allah ta'ala dengan nama "orang shalat" begitu saja, seperti teguran Allah ta'ala dalam sebuah firman:﴿فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ ۞ ٱلَّذِيْـنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ﴾ [الماعون : ٤-٥]"maka, celakalah bagi orang-orang shalat, yang lupa diri terhadap shalatnya". [Qs. al-Ma'un : 4-5]

Allah swt menyebut orang-orang mukmin dengan kata 'mendirikan shalat' yang berarti "menegakkan, melanggengkan, menjaga waktu shalat, menyempurnakan ruku' dan sujudnya".( )

Seharusnya, dengan shalat orang khan menjadi baik, sopan, dekat kepada Tuhannya, pasrah serta memiliki nilai-nilai positif sebagai imbas dari keimanan yang benar dan kuat, tapi realita tidak selalu berkata demikian, bahkan tak terhitung orang muslim yang semakin nyasar, terlena dalam maksiat, tertipu cita-cita duniawi hingga ia menyakinkan diri –secara pasti- bahwa dunia ini adalah segalanya. Kadangkala, orang mengeluhkan shalatnya: "Kenapa diriku ini kok nggak sugeh-sugeh (tidak kaya raya), masih saja melarat, susah dan merana... kurang apa aku beribadah, shalat sudah kulakukan, juga puasa dan ibadah lainnya...!", dan kalau boleh dijawab: "Yaah... kurang banyak bos".

Ibnu Mas'ud ra pernah berkata: "Siapa saja yang shalatnya tidak mendorong untuk menjalankan kebaikan (makruf), dan tidak malah menjauhi kejahatan (munkar), maka orang itu (tidak akan semakin menambah kedekatan diri kepada Allah ta'ala) justru malah semakin jauh dari (petunjuk) Allah swt". Lalu Ibnu Mas'ud mengutip sebuah firman Allah swt:

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ

"...dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu dapat mencegah (seseorang) dari perbuatan keji dan munkar; dan hendaknya ingat Allah yang Maha Besar".( )

Artinya, shalat yang benar-benar ditegakkan, dimantapkan dan diistiqomahkan mampu menjaga diri agar tidak terjerumus dalam maksiat...

Imam Fahr ar-Rozi dalam tafsirnya "Mafatihul Ghoib" malah menjawab: "Bagaimana shalat –anda- bisa menjauhkan diri dari perbuatan munkar dan maksiat, lha wong shalatnya terbentuk dari sumber-sumber riya' (mencari pamrih) dan lupa diri".( ) Artinya, shalat yang dijalankan masih belepotan riya', dibuat untuk mencari nama baik dan shalat seperti ini sudah tidak murni lagi, bahkan mungkin tidak layak disebut shalat yang benar sebab ia tidak jujur terhadap dirinya sendiri; bagaimana ia akan sampai pada apa yang dituju jika tidak melalui jalan yang benar ataupun jalur yang resmi, cenderung nyasar dan ngawur, lalu apa yang bisa diharapkan dari shalat seperti ini?.

Apalagi jika hanya mengeluhkan soal rizki, merasa rizki macet, merasa cobaan hidup tidak pernah tuntas, himpitan masalah yang tak pernah reda dan akhirnya muncul rasa/sikap malas, ogah-ogahan, pesimis dalam menjalani hidup karena ia merasa Tuhan sudah tidak sayang lagi kepadanya, tersuntik oleh rasa tidak percaya terhadap Yang Kuasa, atau su'udzon kepada-Nya karena dalam pikirannya, Allah tidak lagi adil terhadap umatnya. Sungguh tidak baik seorang hamba Allah berpikir demikian...

Rosulullah saw dalam sebuah hadits qudsi menyatakan: Allah berfirman: "Wahai anak cucu Adam, yakni manusia!, Setiap hari Aku sudah memberikan rizki kepadamu, tapi kamu malah merasa sedih, tiap hari pula umurmu semakin berkurang tapi kamu malah bertambah senang, kamu –sebenarnya- serba berkecukupan tapi ternyata kamu meminta lebih yang akan membuatmu semakin memburuk –seperti semakin berpaling dari Tuhan karena terlena, terpesona dan hanyut dalam glamoria dunia-, tidak dengan sedikit kamu merasa puas dan tidak dengan banyak pula kamu merasa kenyang".( )

Itulah manusia, diberi sedikit minta banyak, diberi rizki banyak masih merasa kurang, kewajiban dilupakan dan hak disepelekan tapi uniknya mereka meminta lebih, na'udzubillah.

Orang baik tidak akan berburuk sangka, dan jangan lakukan itu..!, "jangan sekali-kali anda berburuk sangka kepada Allah ta'ala dalam hal/kondisi apapun, sebab anda tidak tahu kapan akhir nafasmu terhenti diantara tarikan dan hembusan nafas dalam tubuhmu, maka itu berbaik sangka kepada-Nya dan jangan sebaliknya, anda sebenarnya tidak tahu "jangan-jangan Allah swt mencabut nyawamu –lantaran ajal sudah tiba- disaat kamu sedang berburuk sangka (su'udzon) kepada-Nya".( ) sedangkan pintu taubat sudah tertutup rapat, kemana anda akan lari disaat malaikat maut menghapirimu dan mempertanyakan tentang 'apa saja yang anda lakukan di dunia?', dan anda tidak bisa berbohong kala itu bahwa anda telah berburuk sangka kepada Allah ta'ala.

Memang benar, mengharap ridla Allah ta'ala dan bersikap khusnuzdon (berprasangka baik) kepada-Nya, adalah salah satu tingkatan orang-orang yang meniti jalan Tuhan (salik) dan nuansa hati orang-orang yang bertakwa; tertulis dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah dari Jabir ra, Rosulullah saw bersabda:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ يَقُـوْلُ: « لاَ يَمُوْتَـنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّـنَّ بــِاللهِ ». رواه إبن ماجهِ

Dari Jabir ra, saya mendengar Rosulullah saw bersabda: "Tak seorangpun pantas mati diantara kalian, kecuali ia berprasangka baik kepada Allah ta'ala". [HR. Ibnu Majah]. Tidak berarti khusnudzon itu berlaku di saat kita berangan-angan tentang sesuatu; iman yang benar adalah iman yang sudah terpatri di dalam hati dan dibuktikan dengan tindakan. ( )

Orang yang meniti jalan Tuhan, seperti kata Syeikh Muhamad Najamudin al-Kurdi, harus memeriahkan, mengisi dan menghidupkan hati dengan pola-pola keimanan yang pernah diajarkan ulama' Ahli Sunah. Ibnu 'Arabi sempat berkata: "barangsiapa yang membangun imannya dengan bukti, argumentasi dan dalil belaka maka imannya tidak bisa dipercaya, sungguh ia akan terpengaruh dan tersulut dalam unsur-unsur perdebatan; keyakinan tidak hanya ditetapkan atau dimantapkan berdasarkan dalil-dalil akal belaka, tapi harus mendapat pengakuan dari sentuhan hati yang terdalam."( ) meminjam kata-kata Muhamad al-Ghozali: "Sedikit amalan yang disertai dengan kesadaran hati dan nurani, jauh lebih baik daripada banyak amalan tapi tidak memiliki ruh atau tidak bernyawa".( ) Ibarat orang beramal, terasa berbeda antara orang yang punya hati dan yang tidak punya hati, orang yang diberi pun ikut merasakan imbas hati orang yang beramal tersebut.

Tulisan ini akan membahas tentang makna shalat dalam rangkaian ritual gerakan shalat secara aplikatif (terapan) dari sudut sufistika, spiritualita, rohani dan batini; artinya bagaimana seorang hamba menghadirkan hati dan pikiran dalam shalat, fisik boleh shalat tapi hati seringkali ngglambyar entah kemana. Dan, (tulisan ini) tidak membahas lebih jauh tentang shalat dari sisi ilmu fiqih, syarat, rukun dan sebagainya, lebih khusus pada sistem penataan hati dan batin disaat menjalani shalat... bismillah wa laa tawfiq illa billah.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait