Alhamdulillah wa Syukru li Allah; segala puja puji hanya untuk Allah semata, Tuhan yang berkuasa menunjukkan jalan dari kegelapan menuju cahaya, dari kesesatan ke arah hidayah. Tiada daya dan upaya bagi/untuk siapapun tanpa restu-Nya, setiap hamba akan selalu mengharap inayah dan ampunan-Nya, sungguh manusia tidak memiliki kuasa apapun terhadap diri dan dunia luar tanpa dukungan Allah 'azza wa jalla.
Shalawat dan salam tetap terpanjatkan kepada nabiyuna wa syafi'una, Muhammad saw, beserta keluarga, para sahabat dan seluruh kaum muslimin. Semoga, Allah ta'ala memberkahi mereka dan kita semua berkat Nur Muhammad, amin.
Alkisah, suatu saat saya diberi kesempatan mengisi sebuah 'untaian kata' di sebuah mushola kecil –bernama Babus Shofa– di kawasan kompleks Griya Permata Alam (GPA) Ngijo, Malang oleh ustadz senior dalam acara rutinan yang diadakan masyarakat setempat; sebut saja 'Majlis Taklim'.
Seperti biasa, –seusai acara– digelar sesi 'tanya jawab' seputar masalah agama, dan diantara pertanyaan yang dilontarkan oleh salah seorang jamaah berbunyi: "Mengapa rizki saya selalu macet, usaha dan bisnis kok gitu-gitu aja, padahal shalat sudah saya tunaikan, kenapa Tuhan memperlakukan saya seperti ini?", saya pun menjawab dengan sepantasnya.
Sepulang dari pengajian tersebut, saya menyempatkan diri mampir ke rumah 'kenalan lama' –yang sudah seperti saudara sendiri–, dan pada saat yang sama, ia menanyakan: "Bagaimana shalat yang baik dan benar itu?"; di tengah perjalanan pulang, saya merasa tergelitik dan berusaha merenungi sesuatu dibalik pertanyaan yang nampak sepele ini tersebut, 'kira-kira, ada apa, yah?'.
Setibanya di rumah, saya pun sempat berpikir: "Mengapa orang bertanya tentang shalat?, bukankah shalat itu sudah dijalankan selama bertahun-tahun?!, jikalau melihat persona orang-orang itu, saya yakin mereka sangat mengerti tentang prosedur shalat yang benar sesuai ajaran Rosulullah saw, –baik, rukun, syarat wajib dan sunah shalat– dari guru-guru mereka. Namun, saya berpikir lain, mungkinkah yang dimaksud, adalah: "Adakah hal lain selain ritual fisik dan gerak yang harus disertakan di dalam ritual suci shalat ini?".
Dari sini, saya mulai mengkaji, membuka lembaran kitab-kitab lama... membuat catatan kecil seputar hakekat shalat, lalu saya kumpulkan dalam sebuah tulisan yang berjudul "Risalah Shalat: Menata Hati, Menggapai Makrifat".
Dari sini, saya mulai mengkaji, membuka lembaran kitab-kitab lama... membuat catatan kecil seputar hakekat shalat, lalu saya kumpulkan dalam sebuah tulisan yang berjudul "Risalah Shalat: Menata Hati, Menggapai Makrifat".
Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan 'khusnudzon' (positif thinking) saya terhadap mereka yang telah bertanya, sebab tidak berarti orang yang ditanya lebih pintar daripada yang bertanya, ataupun lebih tahu soal agama.
Hanya saja keinginan untuk menata diri dan berbagi informasi seputar shalat yang mendasari tulisan ini, semoga Allah ta'ala memberikan hidayah serta menunjukkan jalan yang lurus, dan isi (muatan) tulisan ini tidak jauh dari apa yang tertuang dalam wahyu dan sunah Rosulullah saw.
Judul tulisan ini, yaitu: "Risalah Shalat: Menata Hati, Menggapai Makrifat" merupakan kilasan tentang ritual shalat, tapi yang perlu digarisbawahi "bukan penjelasan tentang syarat, rukun ataupun lainnya yang biasa dikaji dalam ilmu fiqih, sebab bahasan ini sudah terlalu banyak beredar di kalangan ulama fiqih dan lebih detail; namun yang dibahas dalam tulisan ini hanyalah sistem penataan hati dan jiwa saat menjalankan shalat, lebih mengarah pada formasi mental, rohani dan batini, atau –jika boleh diistilahkan– psikologi shalat, muatan isi dan nilai-nilai spiritual yang sepantasnya dilalui, dijalani dan diterapkan oleh seorang praktisi shalat."
Sebab, penyakit hati yang paling kronis dan susah disembuhkan adalah penyakit "keras hati", hati yang atos jika disertakan dalam shalat, maka shalat itu akan dianggap aneh dan dirasa asing oleh pelakunya, jika terus dilulu (dimanjakan) maka shalat akan dipandang sebagai rangkaian gerak-gerak iseng tanpa makna... tidak sedikit orang berpikir demikian; dalam benaknya –mungkin- shalat itu tiada bedanya dengan senam pagi, jika sempat, akan dijalankan, dan jika tidak sempat, akan ditinggalkan, seakan shalat tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap kehidupannya.
Untuk menelusuri materi psikologi shalat ini, langkah awal dan paling vital adalah 'menata hati' dan 'memperhalus jiwa' agar lebih sensitif melakukan penghayatan serta lebih cerdas dalam menangkap intisari bacaan dan gerakan shalat...
Hal pertama yang harus ditanamkan dan diupayakan seserius mungkin adalah "Melatih Hati untuk Khusyu", dengan tetap menjaga hati, menata niat, berusaha mengekang nafsu agar tidak kelayapan (pelampiasan hasrat sampai lepas kendali). Dengan kata lain 'melatih konsentrasi', bukan konsentrasi pikiran tapi lebih mengfokuskan pada konsentrasi hati, yakni inti penghayatan, renungan, membongkar 'siapa aku' untuk mengenal Dia yang Esa.
Sebagai penyeimbang (balance), seorang penegak shalat harus diperkenalkan dengan gaya dan model "Khusyu': antara Orang Mukmin dan Orang Munafik", agar ia bisa meraba-raba, menyeleksi, lalu mempertimbangkan mana corak khusyu' yang lebih baik dari yang terburuk, yang asli dari yang mitasi.
"Makna Rohani Ritual Shalat"; orang berasumsi bahwa shalat itu hanya terdiri dari gerakan dan bacaan secara fisik atau dzahir belaka tanpa intervensi (keikutsertaan) hati, sehingga secara tidak sadar ia telah kehilangan banyak kesempatan untuk merasakan nikmatnya shalat. Rasa nikmat, enak, senang dan bergairah sebenarnya bukan hasil tata olah fisik, tapi merupakan efek nyata dari olah mental, latihan jiwa dan kesensitifan hati dalam merasakan ritual itu sendiri, sedangkan olah fisik akan menghasilkan energi kesehatan, kesegaran dan kebugaran. Shalat memiliki 2 dimensi ini, sehat jiwa raga, mental tidak uring-uringan dan fisik tidak sakit-sakitan, hati tenang dan perilaku tidak urakan.
Lalu berinjak pada "Penerapan Ritual Shalat", artinya bentuk-bentuk pelatihan, mengenal posisi hati dalam gerakan shalat secara praktis dimana asas dan pondasi shalat terletak pada sikap khusyu', serta kehadiran hati tatkala mengucapkan bacaan shalat, dan hati selalu ingat kepada Allah ta'ala disertai pemahaman terhadap makna tiap bacaan.
Berikutnya, bagaimana orang bisa "Memulai dengan Keyakinan dan Doa..", seringkali orang memulai hanya sekedar memulai, setiap langkah yang diambil tidak bertumpu pada dasar; nah untuk memulai ritual shalat ini si pelaku harus mempunyai keyakin dan percaya penuh terhadap anugerah Tuhan. Dalam dunia bisnis, banyak orang yang sudah terbiasa gagal di awal usahanya, rencana yang semula sudah tersusun rapi menjadi berantakan dan meleset dari target, tapi ia tetap berusaha keras walaupun sudah mengeluarkan modal yang cukup banyak, tapi orang tidak terbiasa gagal di awal menjalani kerohanian shalat, lantaran tidak menjadikan 'keyakinan' sebagai modal utama dalam ritual ini. Doa befungsi sebagai langkah pemantapan diri dalam rangka mengharap ridlo, meminta petunjuk dan hidayah Allah ta'ala; sangat efektif untuk meningkatkan rasa keyakinan kepada-Nya.
Berdasarkan keyakinan ini, hendaknya anda "Mulai sejak dini", jangan ditunda, segera dikerjakan mumpung masih memiliki kesempatan, dan tiada guna suatu penyesalan saat ajal datang menjemput. Maka itu, "Tegakkan shalat! Dengan menyebut nama Allah dan mengharap ridlo-Nya. Tetapi, jangan sampai anda lupa, jagalah hati agar tetap "Ingat, walau hanya sedetik", semua usaha ini insyallah akan membawa hasil. Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan amalam para hamba-Nya yang patuh dan taat beribadah. Disaat anda melakukan ini, jangan sekali-kali meninggalkan doa, sebab usaha dan upaya kita, jika tidak diiringi dengan doa akan terasa semakin jauh dari tujuan. Doa ibarat magnet yang memiliki daya tarik dan daya dorong bagi spirit kita agar selalu bergairah, semangat dan sumringah dalam menjalankan semua aktifitas.
Melengkapi masalah gerak hati dalam shalat, perawatan hati agar selalu terjaga, tersadarkan dengan selalu dzikir; saya akan menuli sekilas tentang "Cahaya Hati" dan "Ibadah Hati" beserta efek-efeknya terhadap perkembangan fisik dan mental, bagaimana mempertahankan cahaya itu agar tetap bersinar dan bagaimana bentuk ibadah hati!, menurut para praktisi dan pakar sufi yang sudah bertahun-tahun menempa hati, hanya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Apa tujuan yang dicapai?, yaitu 'makrifat billah'; shalat merupakan proses menggapai inti makrifat, menghayati kata 'siapa aku dan siapa Engkau', membangun spirit 'kesadaran diri' tentang aku yang tidak berdaya dan Engkau yang berKuasa, aku yang butuh dan Engkau yang Kaya, aku yang kecil dan Engkau yang Mulia. Disinilah letak keyakinan itu bersemayam, dengan mengenali dirimu maka anda akan mengenali Tuhanmu; makrifat diri adalah kunci sukses menuju makrifat ilahi, semoga Allah menarik diri kita semua ke dalam naungan 'arsy-Nya yang megah, semegah-megahnya.
Sekian, semoga bermanfaat terutama bagi diri saya dan mohon doa dengan setulus-tulusnya agar diberkahi ilmu yang manfaat, akhir hidup yang baik dan dikumpulkan dengan para kekasih Allah ta'ala, serta ketulusan niat. Tiada harapan bagi saya, selain ridlo Allah ta'ala dan pendekatan diri kepada Dzat yang Kuasa melalui jalur ilmu dan amal.
Ya Allah!, berkatilah diriku dengan tangisan merdu dari kefakiranku kepada-Mu dalam setiap shalatku, karuniani aku sebuah "kehangatan" dari pancaran Nur-Mu, isilah hati ini dengan keyakinan, perkuatlah dengan rasa 'percaya' dan 'khusnudzon' kepada-Mu. Terima kasih atas petunjuk-Mu, dan lestarikan hidayah ini sampai aku mati, menemui orang-orang yang Engkau cintai, karena aku merasa tidak pantas bertemu dengan-Mu...
"Sambungkan hati dan batinku dengan para wali-Mu, terutama 'guru' yang menunjukkan 'jalan' ini kepada-Mu", Amin.
Wa maa tawfiq illa billah, wa Huwa al-Qohiru fawqo 'Ibadihi, wa laa hawla wa laa Quwata illa billah al-'Aliy al-'Adzim.
MUHAMAD ABDULLAH AL-AMIRY
Khodimul 'Ilmi wal Ulama
DAFTAR ISI
Pengantar - 7
Mukadimah - 15
Melatih Hati untuk Khusyu' - 23
Khusyu': antara Orang Mukmin dan Munafik - 31
Makna Rohani Ritual Shalat - 37
Penerapan Ritual Shalat - 47
1. Memahami Gerakan dan Posisi Shalat - 59
2. Memahami Bacaan Shalat - 67
Memulai dengan keyakinan dan doa - 85
1. Mulai sejak dini - 91
2. Tegakkan shalat - 101
3. Ingatlah! walau hanya sedetik - 109
4. Jangan lupa berdoa - 123
Akhiran - 133
1. Cahaya Hati - 133
2. Ibadah Hati - 136
Ziyadah: Hakekat Adzan - 139
Catatan kaki - 145
Referensi - 157