Senin, 09 Desember 2024

Tuhan yang Haq itu Allah

Melihat konsep tuhan yang plural (banyak), tidak hanya plural dalam sifat, perilaku tapi juga jati-diri (dzat)nya; termasuk 'yang menciptakan', artinya tuhan-tuhan yang dikenal manusia telah diciptakan tidak hanya oleh akal, tapi juga ego, yang melahirkan ide-ide tentang incarnasi, apomorphosis, dan sebagainya. Dan jika ditilik, dikupas lebih dalam, hampir semua entry-entry (isian) data yang dimasukkan ke dalam otak dan akal manusia berakar pada peran setan beserta kaki tangannya.

Setan dengan segala cara, bentuk dan kreasi manipulatif yang sangat halus membuat manusia terkecoh, sangat sukar membedakan titik-titik samar agar menjadi jelas dalam rekayasa setan karena kabut yang dihembuskan setan sangat tebal dan gelap, yang pada puncaknya, akal tertutup dan ego memuncak menjadi fanatik buta dan paling hobi menyatakan ini dan itu seputar hekekat Tuhan.

--✼✼✼--

Lalu, siapa Tuhan yang Hak diantara tuhan-tuhan itu!, jawabnya, ada dan tidak. Tidak artinya tidak ada Tuhan yang Hak diantara tuhan-tuhan yang disebutkan pada sesi-sesi sebelumnya, sebab mereka semua merupakan hasil kreasi akal dan ego, serba cacat dan tidak sempurna, kembali pada posisi penciptanya yaitu akal yang lemah, terbatas dan tidak sempurna. Ada, itu artinya bahwa Tuhan yang Hak itu sebenarnya eksis, bukan bentukan akal dan ego, atau bukan akal yang menentukan sifat-sifat tuhan, tapi justru Tuhan sendiri yang memberitakan jati-diri (dzat) dan siapakah Dia!, Tuhan yang layak dipertuhankan, dijadikan dan diakui sebagai Tuhan, karena Dia memiliki kriteria sebagai Tuhan yang Hak, itulah Allah swt.

﴿ ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ ﴾ سورة الحج : ۶

"hal itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah Tuhan yang Hak..." . Artinya, Allah-lah Tuhan yang sebenarnya, yang wajib disembah, yang berkuasa atas segalanya.

--✼✼✼--

Konon, orang-orang Yahudi –seperti riwayat Ikrimah dari Ibnu Abbas- mendatangi Nabi saw, lalu bertanya: "Hai Muhamad!, inikah Allah yang menciptakan makhluk itu?, trus siapa yang menciptakan Allah sendiri?, merah padam raut muka Nabi sae menahan emosi, lalu datang Jibril menenangkan beliau, dan berkata: "Tenang Muhamad, tahan emosimu", turunlah firman Allah: "Katakan, bahwa dialah Allah, Tuhan yang Tunggal (Esa)...", setelah diberitakukan kepada mereka, malah balik bertanya: "Sebutkan ciri dan sifat-Nya, bagaimana bentuk lengan dan tangannya", mendengar ucapan tersebut, Nabi saw semakin marah melebihi kemarahan sebelumnya. Maka datanglah Jibril membawa firman Allah;

﴿ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ ﴾ سورة الأنعام : ۹۱

"Dan mereka tidak akan mampu memprediksikan Allah dengan sebenarnya" [Qs. Al-An'am : 91].

Lain lagi dengan orang Kristiani, suatu saat –seperti riwayat Atha' dari Ibnu Abbas- datang para utusan Nejran, mereka bertanya kepada Nabi saw: "Sebutkan ciri dan sifat tuhanmu kepada kami, apakah ia terbuat dari batu yaqut, emas atau perak?, lalu beliau menjawab: "Allah itu bukan dari apapun dan tidak dari siapapun, sebab Allah yang mencipta segalanya", dan turun firman: "Katakan, bahwa dialah Allah, Tuhan yang Tunggal (Esa)...", mereka pun menyangkal: "Allah itu Satu, dan kamu juga satu", dan sabda beliau: "Tidak ada yang menyerupai-Nya". Mereka bertanya lagi, "adakah sifat lain?", Nabi saw menjawab: "Allah itu shomad", mereka bertanya, "Apa itu shomad?", "Shomad adalah tempat manusia menggantungkan diri menyerahkan semua keperluan hidupnya", jawab beliau. "Adakah sifat lainnya?, beliau menjawab: "Allah itu tidak melahirkan", tidak seperti Mariam (Bunda Maria) yang melahirkan anaknya (Yesus), "Allah juga tidak dilahirkan" tidak seperti Isa al-Masih yang dilahirkan dari kandungan Maria, "Dan Allah tidak memiliki sekutu, tak satupun", artinya tidak serupa dengan siapa/apapun diantara makhluk-Nya.

--✼✼✼--

TUHAN ITU BERNAMA ALLAH. Nama-nama tuhan yang ditawarkan akal bersifat multi-theis (tuhan banyak). Nama memiliki peranan penting dalam jati-diri tuhan, tapi pemilihan nama menentukan keakuratan tersendiri agar bisa dinyatakan bahwa dia itu tuhan yang benar.

Kata "Allah" berbeda jauh dengan "tuhan", atau nama-nama lain yang tersebar di dunia. Singkatnya, Allah itu pasti tuhan, tapi tidak setiap tuhan itu Allah, diperjelas dalam sebuah firman: "Sesungguhnya Tuhan kalian adalah (atau bernama) Allah, yang tidak ada Tuhan lain selain Dia..."

Dalam sejarah dikenal tuhan Zeus, Deus (yang memberi), Brahma (yang disembah), Shiva (yang merusak mematikan), Wisnu (yang mencinta), dan sebagainya. Lebih menarik lagi tuhan Yahudi, seperti Yahweh (YHWH, the Lord), Adonai (my Lord), El (deity), Elohim, Elyon, Roi, Shaddai, Zebaot. Dan sebenarnya nama-nama itu bukan tuhan, tapi sifat yang lekatkan pada tuhan oleh penganutnya, dan hingga kini mereka belum menjawab pertanyaan tentang, "Siapa Tuhan mereka?", sebab jawaban itu selalu mengarah pada sifat-sifat dan perilaku, tidak menuju langsung pada ism-dzat (nama diri).

Nama-nama itu dalam konsep islam disebut asmaul husna, nama-nama berdasarkan sifat dan karakter, bukan hakekat dari nama tuhan itu sendiri. Seperti, Deva berarti tuhan yang memberi, maka dalam konsep islamnya adalah al-Mu'thi, dan al-Mu'thi bukan ism-dzat tapi ism-sifat, sebab ism-dzat adalah Allah. Inilah yang berkembang di seluruh kajian religi dan konsep teologi di dunia; dan di ajaran manapun.

Dulu mungkin orang-orang Yahudi menyembah Allah yang Esa, tapi sesuai bergulirnya waktu dan watak asli mereka yang suka membikinn ulah, mengubah teks-teks kitab sucinya, akhirnya memilih nama tuhan berbentuk plural, yaitu Elohim.

Allah adalah ism-dzat bagi Tuhan yang Hak, didukung dengan ism-sifat sebagai nilai keagungan Tuhan, namun dalam wacana religi dunia, mereka menerka, memilih lalu menyangka ism-sifat sebagai ism-dzat bagi tuhan-tuhan mereka.

Ibarat Abdullah sebagai ism-dzat (nama diri, jati-diri), maka ia bisa memiliki nama panggilan (laqab) yang bermacam-macam, dan nama panggilan berbeda dengan nama diri, seperti orang baik, berhati mulia, dermawan dan sebagainya.

Orang kristiani seringkali menggunakan kata "Allah' dalam kitab suci mereka, tapi hal itu tidak membuktikan bahwa islam dan kristen memiliki ajaran yang sama, sebab dalam ajaran Kristiani, konsep tuhan telah kehilangan kredibilitasnya sebagai Tuhan yang Esa.

--✼✼✼--

ALLAH ITU ESA (Tunggal). "Tidak ada satupun tuhan yang layak dijadikan tuhan, selain Allah azza wa jalla". tuhan itu Esa, dan dari-Nya segalanya menjadi ada. Seringkali orang tidak cerdas memaknai kata "dari-Nya", orang Kristiani mengatakan bahwa Isa al-Masih itu dari-Nya, dengan mengartikan bahwa Yesus itu anak-Nya, karena berasal dari Allah, kata mereka. Hubungan 'dari-Nya' mereka maknai dengan hubungan Bapak-Anak, tapi orang Islam memaknai tidak berupa nisbah-silsilah, tapi nisbah-kholqiyah (hubungan penciptaan).

Jadi, Isa al-Masih itu diciptakan seperti Pencipta terhadap makhluk-Nya, sedangkan orang Kristiani meyakini Isa al-Masih itu dilahirkan dari rahin Maria dengan proses incarnasi (penitisan) dari Tuhan, akhirnya Isa ikut-ikutan menjadi tuhan karena ia mendapat penitisan roh Tuhan, melalui perantara Roh Kudus. Dan mereka mengatakan Trinitas (satu dalam 3 oknum) yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan uniknya mereka tidak pernah menjadikan Maria sebagai tuhan, tapi sekedar wanita suci.

Konsep monotheisme teologis islam lebih memilih jalan kemurnian sebagai ide dasar Tuhan yang Satu, tidak mengenal oknum-oknum atau lainnya. Susu murni, yang diambil langsung dari sapi-sapi perah, jauh lebih berharga dan berkualitas dibanding susu-susu yang telah tercampur dengan zat-zat lain, bisa jadi ia tidak steril dalam kondisi tertentu.

--✼✼✼--

ALLAH IRU SHOMAD. (diper-TuanAgung-kan), tempat mengggantungkan segala urusan. "Untuk apa tuhan itu ada!, mengapa mereka mencari-cari tuhan, sampai harus memuja dan memperlakukan tuhan-tuhan itu melebihi dirinya?

Harapan dan cita menjadi bagian terpenting dalam hidup, tatkala manusia berhadapan dengan kemelut dan ia merasa tidak mampu menyelesaikan sendiri maka ia akan cenderung mencari-cari kepada siapa harus mengadu, kepada manusia atau lainnya!, setelah ia sadar bahwa manusia tidak lagi mampu membantu, ia akan senantiasa mencari-cari hingga berakhir pada keyakinan pada kekuatan lain yang tak terlihat, yang memiliki andil dalam tiap kejadian hidup. Dari sini akan terlahir sebuah proses pengkultusan dan penuhanan...

Tapi proses ini terpacu oleh instink atau naluri yang selalu butuh kepada sesuatu, tapi tidak terarah pada satu titik melainkan beberapa titik, muncul konsep arwah pada benda yang diyakini sebagai sang penolong dan pencegah terjadinya petaka. Tatkala arwah-arwah itu terbukti bohong, attau tidak mampu lagi memberikan perlindungan, maka mereka akan mencari tuhan lain yang lebih hebat, begitu seterusnya. Sampai kapan?, sampai mereka menemukan tuhan yang dicari, yaitu Tuhan yang Hak.

Dan wahyu Qurani telah membantu memperkenalkan kepada manusia sebuah esensi tuhan yang bisa dimintai pertolongan dan perlindungan. Tuhan yang memiliki kesempurnaan dan sifat-sifat luhur tanpa batas, yaitu Allah azza wa jalla.

Allah swt memiliki sifat Penolong, Pemberi rizki, Penyantun hamba-Nya, Penyelamat dan sebagainya. Cukup Allah sebagai jaminan atas terpenuhinya segala kebutuhan hidup manusia.

﴿ وَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَوْلَاكُمْ ۚ نِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ﴾ [ سورة الأنفال: 40]

"Maka ketahuilah bahwa Allah adalah Pelindungmu. Dia adalah Sebaik-baik pelindung dan penolong"

Dan Allah sebagai tuhan yang memiliki kuasa penuh atas gerak gerik alam, langit dan bumi, memiliki satu sifat luhur, tanda kasih dan ngeramut kepada seluruh hamba-Nya, yaitu Allah tidak pernah ingkar terhadap janji-janji-Nya, sedangkan janji Allah kepada para hamba sangat banyak dan menguntungkan, tapi mayoritas manusia tidak mengetahui karena tidak sadar dan lupa terhadap anugerah Tuhan.

﴿ وَعْدَ اللَّهِ ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾ [ سورة الروم: 6]

"Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui"

Manusia ibarat abdi atau hamba yang harus berbakti kepada Allah yang diper-TuanAgung, jika ia membaktikan diri secara benar dan tulus maka segala kebutuhannya akan dituruti, bahkan ia akan dimanja-manja oleh Allah yang Maha Kaya.

--✼✼✼--

ALLAH ITU DZAT YANG SUCI. Suci dari kebendaan dan murni dari segala perumpamaan.

Bukan sejenis manusia ataupun benda hidup lainnya, karena memang tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan. Tidak berkembang biak, tidak tumbuh dan tidak mengikuti arus hukum alam.

Banyak sifat-sifat Allah yang tertulis dalam wahyu, namun jika hakekat sifat menjadi perdebatan ideologis, maka lambat laun ia akan terseret juga pada alam indera, ilustrasi itu timbul dari ruang imajinasi manusia dalam berpikir dan bernalar.

Walau manusia diberi hak untuk mentakwilkan sifat-sifat tersebut, tetap saja Allah yang paling tahu hekekatnya. "...padahal tidak ada yang lebih mengetahui ta'wilnya melainkan Allah, serta orang-orang yang mendalam ilmunya, yang berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami..."

Sekalipun mereka mengetahui tentang takwil ayat-ayat yang memiliki interpretasi bendawi, tapi toh etika tauhid masih mengharuskan mereka untuk meyakini bahwa semua ayat-ayat itu dari Allah swt. Tapi baik Yahudi, Nasrani dan sebagaian orang islam, menyatakan lain, mereka melupakan inti kebenaran tauhidi bahwa dibalik semua model takwil yang berkembang di alam teologi dan religi terdapat kebenaran sejati yang hanya Allah yang tahu secara pasti.

Orang Yahudi malah lebih parah, mereka tidak hanya menafsirkan ayat-ayat Taurat secara benar, tapi merusak dan memasukkan ide-ide tuhan bendawi dalam ajaran asli Musa as, sampai pada teori anthropomorphis (penjasadan, penyerupaan), tidak semakin memuliakan Allah yang Suci, sebaliknya malah mencoreng citra Tuhan yang Hak. Hanya mereka yang menyatakan tuhan itu bersenggama, lupa, menyesal bahkan sempat baku jotos (duel) dengan Yakub dan anehnya bukan manusia yang kalah melainkan tuhan yang babak belur. Entah darimana ide ini muncul, jika diteliti dan dikaji, hanya setan yang berani mencaci maki Tuhan yang Hak, mengajari mereka tata cara bersilat lidah, mempermainkan kata, merubah teks suci taurat menjadi sebuah kitab lelucon.

Tuhan Yesus dalam ajaran Kristiani terlahirkan dari rahim Maria melalui proses kelahiran natural, keluar dari lubang sang bunda, seperti layaknya anak manusia yang lain.

Orang kafir masih bersikukuh pada ajaran nenk moyangnya, "jika dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". mereka menjawab: "Cukuplah apa yang kami dapat dari nenek moyang kami", dan akan tetap mengikuti jejak nenek moyang mereka walaupun nenek moyang itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?

Mitos, legenda, patung, neraca, arwah leluhur telah menjadi santapan pikiran mereka selama berabad-abad, dan yakin bahwa perilaku leluhur mereka itu benar dan sesuai aturan teologi yang sah, padahal tidak demikian. "bahkan mereka berkata: "Sungguh kami telah menemui nenek moyang kami menganut suatu agama, dan dengan mengikuti jejak mereka, kami menjadi orang yang mendapat petunjuk".

--✼✼✼--

ALLAH ITU BAIK DAN BIJAKSANA. Bukan tuhan setan yang selalu menjerumuskan, bukan tuhan akal yang selalu bertindak 'tidak pada proporsinya', bukan tuhan ego yang selalu membuat masalah semakin semrawut.

Allah sebagai Tuhan yang Baik, tidak pernah berbuat jahat tanpa alasan , jikalau keburukan yang diterima seorang hamba, karena memang hamba itu yang memilih jalan hidup mendurhakai Allah swt. Perintah Allah swt tidak ada yang merugikan, menjerumuskan ataupun menyakitkan hamba-Nya, malah perintah itu memiliki nilai positif bagi kehidupan lahir dan batin. Dan di sisi lain, Allah juga membuat hukum larangan, itu berarti pesan Allah agar berhati-hati, sebab dibalik larangan terdapat banyak kerugian, penderitaan dan petaka.

Selain Allah itu Baik, Dia juga Bijaksana dalam mengadili atau memberi hukum kepada hamba-Nya. Siapa yang salah, ia akan mendapat hukuman, sebab ia termasuk berbuat dosa. Jika dosa itu terkait antara Allah dengan hamba-Nya, maka ampunan Allah selalu menanti setiap hamba yang mau bertaubat, jika dosa itu terkait antar hamba, maka Allah memberikan kedua hamba yang bersengketa untuk menyelesaikan dengan baik, berdasar pada prinsip 'tidak saling mendzolimi'. Untuk pahala, Allah memiliki nilai hitung tersendiri, berdasar pada kemurahan Allah swt, betapa banyak hadits yang berisi muatan pahala, bahkan terdapat pahala yang hanya diketahui Allah dari amalan yang berpahala sangat spesial.

Tidak hanya itu, jika orang mau merenungkan tentang hakekat hidup ini, maka niscaya ia akan menyakini kebaikan Allah yang sangat luar biasa. Orang kafir –misalnya- yang jelas-jelas mendurhakai, bahkan mencaci maki Allah, tapi mereka masih mendapat nikmat dari kasih Allah, jikalau Allah tidak baik, mungkin seluruh orang kafir di dunia akan dimelaratkan oleh Allah, disengsarakan, dikutuk dan disiksa. Tapi kenyataan mereka masih bisa menikmati hidup ini dengan berlenggang dada, menunjukkan kesombongan seakan menantang Allah yang memberinya rizki.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait