Sabtu, 18 Januari 2025

Ingat Allah Walau Sejenak

Dalam menjalani prosesi shalat, hilangkan semua rasa dan sikap yang menghalangimu untuk tidak 'mengerjakan', seperti jangan berpikir susah, rumit atau menanamkan sikap pesimis, jangan mau gagal sebelum melangkah, terutama saat latihan penggemblengan jiwa dan mental untuk khusyu'. Saya –bi idznillah- akan memberikan 3 bentuk strategi penataan hati yang bisa anda lakukan sebelum shalat, sedang shalat atau diluar shalat –semoga ini bisa membantu serta membuka cara pandang anda terhadap shalat–, rinciannya sebagai berikut:

1. Sebelum shalat (pra-shalat); pikirkan dan tanam- kan dalam hati anda bahwa anda esok akan mati atau mungkin sebentar lagi.

Untuk proses ini setiap orang berbeda dalam me- nangkap makna dari sebuah kematian, apapun ben- tuk dan pola pikir kematian dalam hatimu, resapi intisarinya sampai hatimu merasa tergetar, ngeri dan takut jikalau anda mati ternyata masih mening- galkan hutang dan tanggungjawab seperti terhadap anak istri dan lainnya, apalagi hutang terhadap Tuhan; bukankah tiap manusia telah mengikat janji untuk taat dan memikul amanat, jika masih belum ditunaikan berarti anda masih meninggalkan tang- gungan hutang kepadaNya.

Lalu, bawalah setiap getaran hatimu itu masuk ke dalam arena ritualisasi shalat, sehingga tatkala anda membaca "Allahu Akbar", akan tertanam da- lam hati dan benakmu bahwa Allah memang Maha Agung dan Berkuasa atas segala nasib para hamba, termasuk kematianmu.

2. Sedang shalat; menghadirkan hati dalam tiap ge- rakan shalat dengan memaknai tiap bacaan yang di- ucapkan ketika sujud, ruku' atau gerakan lainnya, bacaan-bacaan ini sebenarnya memiliki makna spe- sial yang tersimpan kekuatan dahsyat dibalik ba- caan yang mampu mengantarkan perilaku dan ge- rakmu, serta mempengaruhi jiwamu –anda boleh juga menyebutnya 'mantra'–.

Selanjutnya, rasakan getaran hatimu dan fokus- kan penghayatanmu pada posisi-posisi shalat, dan jangan meninggalkan 2 aspek ini, yaitu posisi dan bacaan, keduanya memiliki ikatan kuat yang mam- pu menyatukan jiwa dan fisikmu dalam satu tujuan mulia, berupa kesadaran diri dan pengakuan mut- lak terhadap keagungan Allah ta'ala.

Seringkali orang mengucapkan bacaan shalat tapi hati tidak diajak berjalan beriringan secara harmo- nis dengan bacaan tersebut, cenderung melupakan makna itu sendiri, akhirnya pikiran keluyuran entah kemana, jika saja ia bisa menyatukan hati dan ucapan dalam posisi shalat, niscaya Allah akan menganugerahi secercah cahaya pada dirinya. Apa hakikat cahaya itu?, masalah ini menjadi rahasia antara Allah ta'ala dan hambaNya saja.

Dan berkaitan dengan bacaan shalat, sebenarnya tidak susah kok, sebab rangkaian lafadznya hanya sedikit, mudah dan diulang-ulang, bahkan waktu 5 menit tidak terlalu lama untuk menyelesaikan se- mua ritual shalat, dari sisi bacaan murni.

3. Diluar shalat (pasca-shalat); memupuk hati, mengembangkan potensi kekhusyu'an dimana saja.

Seringkali orang merasa susah menata hati ke- tika hendak menjalankan shalat, masalahnya hanya satu, yaitu hati kurang dipupuk dengan cara dzikrullah, atau nur yang bersemayam di dalam hatinya tidak dikembangkan dengan amalan baik li ridla Allah, akhirnya semakin menjauh dari Tuhan.

Di sisi lain, hati sudah terlalu keras (atos) sehing- ga susah ditempa, maka itu hati seperti ini sulit mencerna dan mengenali sinyal-sinyal dari Tuhan. Tujuan inti dari langkah ini adalah memperhalus hati sehingga lebih sensitif dalam menerima sinyal tersebut.

Inti strategi pertama adalah 'menata hati dan menanamkan kesadaran diri' bahwa anda sedang ber- ada di hadapan Tuhan yang Agung, yang bisa mela- kukan apa saja terhadap anda. Pada strategi kedua, 'hati diajak dan diikutkan bermain aktif dalam perjalanan rohani', di langkah ini hati sudah tidak lagi ditata tapi dihadirkan (khuduril qolb). Sedangkan strategi ketiga, adalah 'proses pemupukan hati, memoles jiwa agar tetap ingat kepada Allah ta'ala walaupun berada diluar shalat'. Untuk apa?, agar anda bisa lebih mudah mela- kukan proses pada strategi pertama, sebab hati kala itu terus dipupuk, dirawat dan dipelihara secara terhormat; dan hasil yang akan dicapai (dirasa) adalah "kehalusan hati dan budi".

Selanjutnya, kriteria amalan, cara dan waktu yang tepat untuk menjalankan salah satu atau ketiga- nya, anda yang lebih tahu!, sebab pengalaman hidup, cara pandang, kecocokan setiap orang tidak sama( ); mungkin amalan mengingat mati tidak sesuai bagi anda lantaran pernah terjadi trauma yang mengakibatkan anda sering teriak-teriak histeris jika mendengar kata 'mati', jika seperti itu, anda jangan menggunakannya tapi cari cara lain yang bisa membantu menata hati, memperhalus nurani dan sebagainya. Intinya, berusaha- lah mengingat Tuhan dengan cara mengingati dan mengenali diri walau cuman sedetik...

Anda tidak diharuskan berhasil dalam satu waktu, tapi lakukan secara bertahap, yang cocok dan sesuai dengan watak dan pembawaanmu, tidak usah dipaksa-paksa sebab nanti bisa mutung (putus asa) dan jika dituruti malah akan semakin jauh dari jalan Tuhan, sampai kapanpun anda tidak akan pernah merasakan ketenangan sejati jika didesak-desak dan dipaksa-paksa; kerjakan semua itu semampunya.

Guna mendukung kerja, memperteguh spirit (se- mangat), serta memperbulat tekad anda. Saya akan menjelaskan –sekelumit– tentang struktur kerja shalat secara mental, bentuk ilustrasinya seperti ini:

Terdapat 2 unsur psikologis (kejiwaan, mental) yang harus ditanamkan oleh seorang praktisi shalat agar kerja yang dilakukan membuahkan hasil dan tepat sa- saran, yaitu:

  1. KHUSYU', yaitu kondisi mental (suasana hati) yang berpangkal dan berakar di dalam hati, be- rupa rasa hormat dan bangga, rendah diri dan merasa dirinya kecil. Lalu, mentalitas ini akan merangsang seluruh indera (anggota badan), baik moral, etika, sopan santun ataupun peri- laku yang bersifat amali (praktis); semua ini akan terbentuk apabila seorang praktisi shalat dalam menjalankan shalat diiringi dengan hati yang selalu terjaga (awakening) dan hati yang selalu sadar (consciousness).
  2. KEHADIRAN HATI (hudhuril qalb); yaitu mengha- dap atau menyambut shalat, mengikuti (muta- ba'ah) setiap arah dan arahan shalat –artinya menyimak dengan seksama kemana shalat itu tertuju–, menyesuaikan ucapan dan tindakan, tidak berpaling dari ritualisasi shalat, tidak me- nyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak terla- lu penting, fisik dan hatinya tidak mudah ter- curi ataupun terpancing perhatian dari luar (ke- colongan), baik disengaja ataupun tidak. Ter- inspirasi dari ayat:
  3. ﴿ الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ﴾ [ سورة المعارج: 23]

    "Yaitu, orang-orang yang melanggengkan shalatnya (maksudnya, kontinyu atau istiqamah)". [Qs. Al-Ma'arij 23]

Apabila para praktisi menyibukkan diri dalam shalat dengan sengaja, atau sejak awal ia telah dikuasai oleh perasaan lain seperti was-was, lalu ia terus saja memaksa diri dan melanjutkan shalatnya, padahal su- dah diberitahu sebelumnya, maka inilah yang dimaksud dengan 'terputusnya kontinyuitas' (incontinuity) –alias ti- dak istiqamah, tidak mau melestarikan suatu amalan–.

Adapun kesibukan diri akibat merasuknya al-khowatir (seperti pikiran, obsesi, bersitan hati dan uneg-uneg) yang berada diluar kehendaknya –artinya tidak disengaja–, padahal ia sudah berusaha semampunya mengusir khowatir ini setiap kali merasuk ke dalam hati- nya. Kita mengharap, semoga inilah yang menjadi object (sasaran) 'ampunan Tuhan' (al-'Afw al-Ilahi). Sebab, "Allah –sama sekali– tidak memaksa seorang hamba, me- lainkan sesuai kesanggupan"( ), dan "...itulah discount (ke- ringanan, kemudahan) dari Tuhan kalian, sekaligus rahmat -bagi hambaNya-..." [Qs. Al-Baqarah : 176]

Gabungan 2 unsur psikologis ini akan meleng- kapi ritualisasi shalat, tapi masih membutuhkan unsur lain yang bersifat praktis (amali) yang berfungsi menjaga dan merawat shalat, yaitu:

  1. Perawatan shalat; yakni tidak meninggalkan, tidak memotong (tidak mengurangi) atau tidak terputuskan dari shalat –artinya, tepat waktu dan tidak mengakhirkan shalat–, terinspirasi dari ayat Qs. Al-Ma'arij 34:
    ﴿ وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ﴾ [ سورة المعارج: 34]

    "Orang-orang yang menjaga shalat mereka".
  2. Perawatan antar shalat; yakni tidak memisahkan waktu antar shalat –artinya, tidak mencampur aduk, atau tidak membaurkan antar waktu shalat, apalagi memborong dalam satu waktu–, misalnya shalat subuh dikerjakan di waktu dhuhur, atau shalat 5 waktu diborong dalam satu waktu, terinspirasi dari ayat Qs. al-Mukminun 9 :

  3. ﴿ وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ﴾ [ سورة المؤمنون: 9]

    "Orang-orang yang menjaga (antar) shalat-shalat mereka."

Ruh dan jiwa manusia juga memerlukan santap- an (makanan) rohani bagi kesehatan mentalnya, dalam hal ini adalah shalat. Jika waktu shalat telah tiba dan ia terlambat menyantap hidangan ini, maka –ibarat se- buah pohon– dahannya telah mengering dan bunganya layu. Artinya, hidangan itu tidak fresh (segar) lagi dan menjadi layu, telah hilang aroma kelezatannya, sehing- ga rasanya berbeda dengan shalat tepat waktu, terasa hambar.

Paduan 2 unsur psikologis dan praktis; inilah format shalat yang dapat menjauhkan diri anda dari perbuatan keji dan munkar. Juga, merupakan sifat shalat yang dapat menenangkan hati dan menentramkan jiwa, karena shalat seperti ini dijalankan 'dengan' dan 'untuk' berdzikir kepada Allah ta'ala. ( ) Lihat sketsa berikut:

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait