Selasa, 21 Januari 2025

Jangan Lupa Berdoa Seusai Sholat

Doa itu ibarat slogan pengobar jiwa atau pem- bangkit energi yang menyemangati seluruh aktifitas se- buah kelompok, dan doa bukanlah omongan orang yang suka berpangku tangan atau angan-angan orang yang bersikap pasif, tapi sebuah inspirasi yang keluar dari suara kebenaran, pencerahan dan keyakinan yang dipergunakan sebagai motivator bagi manusia dalam menghadapi masalah hidup dan keruwetan zaman; ser- ta rangsangan untuk tetap bertahan.

Doa merupakan strategi penentuan sikap mental dan jiwa yang layak dijadikan pegangan; serta suara pe- rubahan (voice of change) ke arah yang lebih baik, dengan membangun mentalitas yang dilandasi niat, terkristal dalam semangat yang kuat dan tekad yang bulat untuk beraction (berbuat, bekerja, bergerak, bertindak) dalam naungan iman, ampunan dan keadilan Tuhan; disam- ping itu, doa juga melandasi sikap tidak terlalu menyi- bukkan diri dengan segala urusan dunia berserta kepe- likan hidupnya, tidak kedunyan.

Dengan metode ini, akan terbentuk sosok yang perfect atau jempolan baik fisik maupun mental (jiwa), agama dan dunia akan terjalin secara sempurna.

Sebagian orang berpikiran, kalau doa itu tiada lain adalah 'sikap negatif' (sikap tidak membangun yang apatis) atau sentiment terhadap hidup, bukankah orang yang berdoa itu berarti mengajukan permohonan (hajat) dan menanti jawaban saja?, katanya.

Jika doa seperti yang mereka pikirkan, dimana doa hanya dianggap sekedar pengulangan angan dan menanti solusi di hari esok yang tidak jelas baginya, maka doa seperti ini akan sia-sia dan tidak berarti apa-apa, tidak dianggap disisi Allah ta'ala.

Sesungguhnya doa itu yang pertama dan utama adalah menentukan arah dan tujuan, merancang ide dan gagasan, ataupun mengsketsa tujuan hidup, membuat planning dan menyusun langkah. Nabi Ibrahim as sendi- ri tatkala berdoa, ia menyatakan:

﴿ رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ﴾ [ سورة إبراهيم: 40]

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap menegakkan shalat; ya Tuhan kami, mohon terimalah doaku..." [Qs. Ibrahim : 40]

Dan dalam doanya ini beliau menjadikan 'shalat' sebagai metode hidup dan pekerjaan para hamba dalam meniti jalan-jalan makrifat.

Lalu, dimana mereka kini yang telah berani mempersempit dan memperkecil volume shalat, mere- ka menjalankannya dengan bermalas-malasan –seperti orang yang hidupnya tidak bergairah–.( ) walaupun mereka sudah diperingatkan tentang ciri-ciri orang mu- nafik yang 'jikalau shalat, mereka menjalankannya de- ngan bermalas-malasan, dan semangat itu timbul lantar- an tatapan mata-mata manusia yang tertuju padanya; mengapa harus begini!, amalan seperti ini selayaknya dihindari oleh hamba yang ingin merasakan nikmatnya shalat, hanya orang munafik saja yang bisa terbujuk oleh amalan-amalan yang menurutnya baik tapi sebe- narnya tersia-sia...

﴿ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا﴾ [ سورة النساء: 142]

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah ta'ala, dan Allah akan membalas tipuan mere- ka. Dan apabila mereka mendirikan shalat, mereka menja- lan kannya dengan bermalas-malasan. Mereka bersikap riya' (mencari pamrih dengan shalatnya) di hadapan manu- sia. Dan tidaklah mereka menyebut (ingat) kepada Allah kecuali sedikit sekali." [Qs. An-Nisaa : 142]

Padahal doa adalah senjata ampuh bagi seorang mukmin sejati dikala menghadapi segala macam rinta- ngan dan berbagai bentuk masalah, baik kutukan mau- pun cobaan; diberitahukan dalam hadits Nabi saw,

عَـنْ عَـلـِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَـالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : «اَلدُّعَاءُ سِلاَحُ اْلمُؤْمِنِ، وَعِمَادُ الدِّيْنِ، وَنُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ » رواه الإمام الحاكم.

Dari Ali bin Abli Thalib ra, ia berkata: "Rosulullah saw pernah bersabda: "Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama serta cahaya langit dan bumi". [HR. Imam Hakim](

Selain itu, doa itu sendiri adalah otak dari ibadah, karena di dalam doa terkandung sikap 'menampakkan rasa butuh dan lemah di hadapann Allah yang Maha Kaya dan Kuasa terhadap segalanya, walaupun sekilas terkesan tidak dikabulkan karena alasan doa yang tidak memenuhi syarat diterima, atau alasan tidak dikabulkan itu menjadi langkah terbaik bagi hamba berdasarkan pengetahuan (ilmu) Allah ta'ala.

Kini, masalahnya adalah orang yang berdoa itu seringkali tidak memiliki etika, moral atau sopan santun di hadapan Tuhan, mereka berbuat seenaknya sendiri dan mengira hal itu baik padahal tidak etis, misalnya saja yang acapkali terjadi di lapangan, adalah:

  • Berdoa dengan serius dan bersikeras agar doanya segera dikabulkan dengan cepat sehingga ia bisa merasakan hasilnya secara langsung; aneh sekali, memang Tuhan bisa diperintah-perintah sesuai keinginannya?.
  • Mereka cenderung menanti-nanti serta menung- gu kapan jawaban itu bisa turun segera..., penan- tian yang tidak diiringi dengan ikhtiar (usaha); penantian dan harapan memiliki komposisi yang berbeda jauh; orang boleh berharap, tapi tidak dianjurkan untuk dinanti-nanti.
  • Lebih unik lagi, mereka berdoa dengan tidak me- mahami isi doanya, jadi sebenarnya mereka tidak tahu apa yang diminta... karena memang keba- nyakan doa tertulis dan terlafadzkan dengan ba- hasa arab. Akhirnya mereka menantikan sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu 'apa itu!, lantaran mereka tidak tahu muatan doanya.
  • Kadangkala mereka tidak cerdas bahwa apa yang diminta itu sebenarnya sudah dikabulkan, tapi karena terus menanti secara membabi-buta, akhirnya mereka tidak tahu dan tidak menyadari bahwa permintaan sudah dikabulkan. Kalau su- dah seperti ini, apa yang mereka tunggu?!.
  • Bahkan ritual doa ala mereka ini seringkali dila- kukan secara serampangan, ngawur dan masih belepotan dengan dosa; mana ada orang memin- ta dengan berkotor ria.

Padahal Allah ta'ala sudah berjanji bahwa siapa- pun yang mau memohon dan meminta, pasti akan dibe- ri; dan janji itu sama sekali tidak akan meleset sedikit- pun, tersebuat dalam firman: "Dan apabila para hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Muhamad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku sangatlah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila memo- hon kepada-Ku, maka itu hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepa- da-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran". [Qs Al-Baqarah : 186]

Dan, kenyataan di lapangan dan perilaku para pendoa tidak seperti ini, lebih lanjut sesuai dengan bu- nyi ayat: "Allah akan mengabulkan setiap permintaan hambaNya, maka itu hendaknya segala sesuatu yang diinginkan Allah ta'ala dijalankan, dan seharusnya ia beriman kepadaNya, seta meyakini kalau Allah pasti mengabulkan... namun ternyata orang berbuat sebalik- nya, mendurhakai Allah ta'ala dengan harapan segala apa yang diminta segera dikabulkan, khan aneh!.

Kesalahan orang kini bertumpuk-tumpuk, sudah tidak menjalankan segala yang disuruh, ditambah lagi tidak yakin, tidak percaya kepada Allah ta'ala (nggak percoyo karo Pengerane), tapi segala yang diminta ingin segera dikabulkan, ini khan aneh!, minta dimanja tapi selalu melawan, ibarat anak kecil yang meminta uang jajan kepada ibunya tapi ketika disuruh ia mungkir, membangkang malah semakin melawan dan cenderung melecehkan, coba anda pikir!, anak macam apa ini...

Jangan takut jikalau doa anda tidak dikabulkan, Allah itu Maha Kuasa dan Bijaksana kepada semua makhluk; hanya saja anda semua tidak mengetahui se- cara pasti dalam bentuk dan cara apa Allah ta'ala meng- kabulkan doa anda. Dan dalam ketidaktahuan inilah, anda diminta untuk tidak tergesa-gesa mengambil ke- putusan bahwa Allah itu begini dan begitu, padahal anda hanya berprasangka saja. Cobalah luangkan waktu sedikit untuk menghayati hadits ini:

عَنْ أَبِى سَعِيْدٍ أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ قَالَ: « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ بِدَعْوَةٍ، لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحِمٍ، إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَا، قَالُوْا: إِذًا نُكْثِرُ؟ قَالَ: اَللهُ أَكْثَرُ».

Dari Abi Sa'id al-Khudri ra, bahwa Rosulullah saw pernah ber- sabda: "Tiada satupun orang muslim yang berdoa (kepada Allah ta'ala) selama doa itu tidak terkandung unsur dosa dan memutuskan tali silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari 3 hal; (yaitu) doanya segera dikabulkan, atau Allah akan menyimpan doa itu untuknya demi modal kelak di akherat, atau mungkin Allah ta'ala akan menjauh- kannya dari keburukan (bisa berarti nasib sial, derita, duka, dan lainnya) seukuran apa yang diminta dalam doa tersebut. Lalu para sahabat ber- tanya: "Apabila kita memperbanyak doa?", beliau pun –dengan tegas– menjawab: "Allah ta'ala juga akan meningkatkannya".

Coba anda berpikir, kurang apa sih Allah ta'ala mengasihi makhlukNya, Dia sudah terlalu welas kepada kita semua, hanya saja anda kurang peka. Dan etika berdoa yang paling aktual adalah disaat anda bersujud dalam ritual shalat, bahkan tiap bacaan shalat itu sendiri sudah terkandung doa dan permohonan, dimana anda berada dikala bersujud itu?.

Padahal Allah ta'ala sudah menegaskan kuasa- Nya kepada manusia, tertulis dalam firman:

﴿ أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ ﴾ [ سورة الزمر: 36]

"Bukankah Allah telah mencukupi hambaNya." [Qs Az-Zumar : 36]

Bisa juga dikatakan, kurang apa sih Allah berbuat baik, menjaga, merawat, mengurus serta mencukupi se- mua kebutuhan seluruh umat manusia di dunia, terma- suk anda semua.

Salah seorang Ahli Hikmah suatu ketika ditanya: "Kita sudah berdoa dan memohon, tapi kenapa doa itu tidak dikabulkan, bukankah Allah ta'ala telah berfir- man: "berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya doa itu pasti akan Aku kabulkan",( ) orang bijak ini menjawab: "Se- bab doa tak terkabulkan, karena dalam diri kalian terda- pat 7 hal yang membuat doa itu tertolak", ia ditanya lagi: "Apa 7 hal tersebut?", akhirnya ia pun mengata- kan: "7 hal itu adalah –disini saya hanya menyebutkan 4 saja dari 7 hal tersebut–,

  1. Kalian sudah dibenci oleh Tuhan, malah tidak meminta ampunan dan ridlaNya; artinya kalian telah melakukan perbuatan yang mendatangkan murka Allah, namun kalian tidak mau mengakui dan tidak menyesali segala perbuatan kalian.
  2. Kalian menyatakan diri sebagai hamba (abdi) Tuhan tapi tidak bersikap seperti layaknya se- orang abdi/hamba; artinya seorang hamba akan selulu menuruti kata-kata tuannya dan tidak se- makin membangkang.
  3. Kalian membaca al-Quran tapi tidak memenuhi tuntutan isi dari ayat-ayat tersebut; artinya tidak direnungkan, tidak dihayati dan tidak mau me- muliakan kehendak Tuhan yang tertuang dalam isi ayat-ayat al-Quran.
  4. 4. Kalian mengklaim diri sebagai umat Muhammad, tapi tidak menjalankan sunahnya; artinya kalian lebih suka mempraktikkan adat istiadat para lelu- hur, sedangkan perilaku Nabi saw sendiri tidak ditiru, malah cenderung dibuang saja....

Sketsa pemikirannya seperti ini, apapun yang anda lakukan dan masalah apapun yang sedang anda hadapi, anda pasti berusaha untuk mencari solusi guna keluar dari jaring-jaring masalah yang menghimpit, nah disaat anda sedang mencari inilah, maka diperlukan se- buah ketenangan batin agar otak menjadi jernih, pikiran menjadi terbuka yang siap menginput data-data. Lalu, dalam upaya mendapatkan ketenangan ini, salah satu cara adalah menjalani shalat, menghadap Tuhan guna meminta petunjuk, tapi yang perlu digarisbawahi ada- lah apa anda bisa khusyu' dikala anda galau dan resah memikirkan masalah yang sedang anda hadapi?, jelas tidak. Disinilah, letak dan posisi doa itu berada, disaat anda tidak memiliki kuasa apapun, baik dalam shalat –yang seharusnya khusyu' tapi ternyata tidak bisa–, ataupun masalah lainnya, anda perlu petunjuk atau arahan, bimbingan dan hidayah Tuhan.

Dan bentuk pentunjuk ini juga beragam bentuk dan cara, misalnya tiba-tiba bertemu dengan seseorang yang tidak pernah anda kenal, lalu ia menunjukkan cara, atau disaat ngobrol-ngobrol secara tidak sadar anda menemukan cara dalam benakmu yang bisa membantu mengatasi masalah, dan masih banyak cara Allah ta'ala memberikan petunjuk kepada anda, tinggal bertanya tentang media: "lewat apa atau melalui siapa!". Manusia seringkali tidak cerdas dalam menangkap sinyal itu sendiri, padahal Allah ta'ala sudah memberikan jalan. Cara paling aktual adalah berupa 'ilham',

Berdoalah seikhlasnya... sebab doa itulah yang selalu mengantarkan segala aktifitas, membimbing dan mengarahkan anda kepada jalan Allah ta'ala. Bukankah anda sedang meniti jalan Tuhan, maka itu ikutilah pe- tunjuk Dia yang memiliki jalan, membuat rambu-rambu syariat yang aman agar sampai pada tujuan dengan selamat, tidak nyasar, tidak pula tersesat, jika ternyata terjadi kesalahan akibat kealpaan dan kecerobohan diri yang mengakibatkan anda tersesat jalan, maka segera- lah kembali ke jalur yang benar, insyaallah anda akan dibantu oleh Allah ta'ala selama anda serius mencari dan berusaha.

﴿ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ﴾ [ سورة العنكبوت: 69]

"Dan orang-orang yang berjihad (mencari ridla) Kami, maka sungguh Kami akan menunjukkan mereka ke jalan Kami." [Qs Al-Ankabut 69]

Allah ta'ala tidak akan meninggalkan hambaNya sendirian, cinta dibalas cinta dan murka –artinya jika anda mencaci maki, menyepelekan serta mengutuk-ngutuk Tuhan– maka akan dibalas dengan murka pula oleh Allah ta'ala; dan inti tawakal adalah melepaskan ego (keakuan) beserta attributenya dan belajar menanam- kan jiwa pasrah secara total, jiwa dan raga.

Sekalipun anda shalat sampai kaki bengkak, mata sayu tak pernah tidur –karena terlalu larut dalam dzikir, tapi jika tidak berada di jalan Allah ta'ala, maka semua itu akan sia-sia dan percuma sebab pada hakikatnya anda telah tersesat. Imam Ghozali pernah menuturkan tentang hakikat ibadah, dan katanya: "Ibadah adalah mengikuti jejak Nabi saw dalam perintah dan larangan, jika anda melakukan suatu amalan, sedangkan amalan itu tidak diperintahkan oleh Nabi saw, maka amalan ini tidak pernah dianggap sebagai ibadah tapi merupakan sikap pendurhakaan (maksiat) kepadanya, walaupun amalan itu berbentuk puasa dan shalat... bukankah puasa di hari raya 'Ied itu juga dilarang!

Sebagian Ulama pernah berkata; "Barangsiapa taat kepada Allah ta'ala (tunduk dan patuh menjalani perintahNya), berarti ia telah berdzikir (ingat) kepada-Allah ta'ala, walaupun ia sedikit berpuasa, shalat dan membaca al-Quran. Dan barangsiapa yang durhaka ke- pada Allah ta'ala (berbuat maksiat dan melanggar perin- tahNya), berarti ia tidak dzikir (ingat) kepada Allah ta'ala, walaupun ia banyak berpuasa, shalat dan mem- baca ayat-ayat suci al-Quran".

Nah, untuk memperteguh keimanan dan rasa percaya diri kepada Tuhan agar anda selalu dijaga, ma- ka salah satu langkah preventif (pencegahan diri dari musuh-musuh Tuhan yang paling hobi menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan) adalah membentengi diri dengan cara 'berdoa' dan memohon petunjukNya. Semoga kita dijadikan sebagai hamba yang selalu ber- ada dalam jalan Tuhan, amin.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait