Jumat, 24 Januari 2025

Aktivasi Pemrograman Indera dalam Sholat

Dalam menjalankan ritual sholat, peran indera snagat penting dalam menjaga kestabilan emosi dan kekhusyuan agar terhindar dari gangguan yang akan merusa konsentrasi kita dalam ibdah ini, sehingga perlu langkah aktivasi atau special technique dalam menundukkan indera-indera ini. Lalu, bagaimana cara dan prosesnya!.

Cukup sederhana, hanya perlu pematangan dan latihan saja, persisnya seperti ini:

"Mulut anda sedang membaca, telinga menerima sinyal suara berupa getaran-getaran, mata tetap terfokus dan tidak ikut bermain aktif dalam penghayatan tetapi pandangan tertuju ke arah sujud, selanjutnya suara yang ditangkap oleh telinga akan ditangkap, diolah dan di- proses lebih lanjut oleh hati dengan cara dipahami, di- resapi, direnungkan, dihayati dan ditanamkan dalam hati sehingga muncul sebuah proses 'penghayatan', tapi yang perlu dicatat bahwa dalam proses ini anda akan mendapat tarikan-tarikan kuat dari akal dan otak yang cenderung melempar makna lahir sejauh-jauhnya.

Sebab akal pikiran akan menarik ulur ke dalam sebuah proses penalaran, padahal shalat tidak dikhusus- kan untuk menalar, mengolah akal, berfilsafat ataupun berpikir-pikir, tapi berdzikir. Simak firman ini:

﴿ إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي﴾ [ سورة طه: 14]

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah (azza wa jalla), tidak ada Tuhan (yang Hak) selain Aku, maka itu sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu (berdzikir)." [Qs Thaha : 14].

Walaupun bacaan itu –misalnya– tidak bersuara keras, tapi sebisa mungkin dapat didengar oleh telinga anda dan tidak perlu berteriak, sebab bisa mengusik ke- tenangan orang lain, lakukan seakan anda sedang mem- beritahu diri sendiri tentang sebuah rahasia (top secret).

Perlu dicatat bahwa proses ini belum final, arti- nya bukan satu-satunya, juga bukan puncak dari sebuah latihan, setiap orang memiliki cara yang berbeda, trik dan format pelatihan yang tidak sama, tapi mengarah pada satu tujuan, yaitu 'penghayatan'.

Sebagian orang menggunakan proses seperti ini: "Tatkala ia membaca atau melantunkan ayat-ayat ilahi, ia membayangkan dengan cara menghadirkan tulisan ayat dalam benak dan di alam pikirnya, seakan ia mem- baca ayat itu sendiri dengan mata lahirnya". Namun proses ini banyak ditentang, sebab akan menjadikan seseorang syirik (musyrik), tapi jika diperdalam lebih lanjut, proses ini mungkin lebih sesuai bagi seorang pemula, dengan catatan 'bukan sebagai puncak latihan', tapi awal langkah menuju penghayatan sampai lafadz-lafadz itu hilang dari alam pikirnya, sehingga yang ter- sisa hanyalah makna dan intisari dari ayat. Allah swt mengetahui isi hati seorang hamba, selama diniatkan tidak menyekutukan Allah ta'ala dalam shalatnya, dan Allah ta'ala akan membantu menghapuskan lafadz itu dan menggantikan dengan ilmu-ilmu ilhami dariNya. Maka itu, perbanyak berta'awudz kepada Allah ta'ala semata-mata agar diselamatkan dari hati yang syirik dan godaan setan yang terlaknat.

Dan "orang yang berdzikir kepada Allah ta'ala dengan hati dan lisannya itu ibarat genangan air yang tertutup buih (busa), lalu angin bertiup menerpa buih-buih ini dan menghempaskannya ke pinggir, akhirnya air itu terlihat bersih dan jernih; semakin kencang tiupan angin, maka air itu semakin bergelombang, membuyarkan buih dan membuangnya ke tepian, air pun semakin jernih, sehingga menjadi air murni yang berada di dalam tengah (pusat) genangan.

Setiapkali dzikir itu diulang-ulang atau diucap- kan berkali-kali, terus berlanjut tanpa henti, maka dzikir ini mampu menambahkan kekuatan dalam hatinya, meningkatkan kejernihan dzikir sampai langit dan bumi terpenuhi dengan cahaya (nur) dzikirnya; demikian pe- nuturan al-Hakim Turmudzi.

Bagaimana dengan shalat!, yang di dalamnya anda sedang berdzikir dengan hati dan lisan; lisan anda mengucapkan bacaan shalat dan hati anda melakukan penghayatan. Bisa jadi, nur dalam hati anda mampu memenuhi rongga (ruang) langit dan bumi; semoga kita dikaruniai Allah ta'ala hati yang bisa mencicipi nur ilahi seperti ini, amin.

Yang terpenting adalah mau menjalankan dan berusaha menghayati bacaan dengan hati dan lisan –semampunya, sekuatnya¬–, selanjutnya Allah ta'ala yang akan menilai, 'apakah anda layak ataukah tidak' untuk menerima karunia terbesar ini.

Saat anda –misalnya– mengucapkan kata "Allahu Akbar", apa yang anda kerjakan adalah berusaha me- lakukan penghayatan terhadap makna lafadz agung ini, seperti dalam ilustrasi berikut:

"Tuntutan bagi orang yang menjalankan shalat, apabila berdiri di hadapan Allah ta'ala, maka yang harus dicamkan adalah kepada siapa ia harus bermunajat; apabila ia mengucap: "Allahu Akbar" –katakan (bisikkan) ke dalam telingamu seperti membisikkan sesuatu (ke- pada orang lain) untuk diajak mencari emas dan berlian, jika telinga sudah bisa menangkap sinyal suara dari mulut dan mempu membangkitkan efek kemauan–, maka perasaan yang timbul ialah seakan ia berada di hadirat (hadapan) Tuhan yang Agung lagi Mulia; Dzat yang menjaga dirinya agar tidak berpaling kepada yang lain, menjauhkannya dari dosa-dosa agar tidak terlalu disibukkan dengan masalah di luar ingat kepada Allah ta'ala; inilah rahasia mengapa proses pembukaan shalat disebut "Takbiratul Ihram" –yang artinya, memperbesar rasa hormat–.( ) Dan keyakinan terhadap keagungan itu akan terproses melalui penghayatan.

Kalau anda, disaat takbir ini –misalnya– tidak mampu memperbesar rasa hormatmu kepada Allah, maka pada langkah-langkah berikutnya dalam shalatmu akan sedikit terganggu dan tidak berjalan mulus. Anda bisa membayangkan, bagaimana sikap anda meng- hadapi 'orang terhormat', apakah anda akan bersikap sombong, cengengesan, ngelantur, atau hal-hal lain yang menjadi ciri orang yang tidak memiliki rasa hormat?.

Katakan kepada diri anda sendiri mau memilih bersikap 'tidak punya rasa malu' di hadapan Allah?, ataukah anda merasa malu?. Orang yang tidak punya rasa malu, pada hakikatnya, orang ini tidak tahu diri dan tidak menyadari betapa banyak hutangnya kepada Allah, betapa pelitnya ia mensyukuri diri dengan meng- hormatiNya; berbeda dengan orang yang memiliki rasa malu, ia akan menyadari betapa kecil dan tidak ber- harganya di hadapan Allah ta'ala, bukti kebaktian shalat 5 kali dalam sehari, sama sekali tidak berarti jika diban- dingkan dengan limpahan rizki dan anugerah yang tak terhitung jumlahnya kepada anda.

Sekali lagi, orang awam –mungkin- akan berpikir bahwa proses penghayatan seperti ini akan tetap susah, merasa terbebani dan dipandang sangat rumit karena mereka harus berusaha keras memahami makna ba- caan, padahal mereka sendiri tidak mengerti sama se- kali tentang bahasa arab, atau hanya memiliki pema- haman yang sangat minim. Bagaimana semua ini bisa dilakukan oleh mereka!?.

Okey, konsepsi dasar ajaran agama ini adalah "Allah ta'ala tidak pernah memaksa hambaNya mela- kukan sesuatu di luar kemampuan. Atas dasar ini, untuk orang awam bisa melakukan ritual shalat seperti biasa, tapi tetap menjaga konsentrasi, bedanya hanya tidak memahami bacaan saja. Demi mendukung proses ini, konsentrasi tertuju pada suara bacaan yang berasal dari mulut, seakan anda mendengarkan suara bacaan anda sendiri. Insyallah, anda akan mendapatkan berkah dari ayat-ayat al-Quran, sebab orang-orang membaca ayat itu walaupun tidak paham, ia tetap akan mendapatkan pahala. Semoga berkah al-Quran membantu mengiringi dan memudahkan langkah kita memperoleh hidayah. Lebih dari itu, semoga kita semua dikaruniai ilham serta diajarkan ilmu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, atau ilmu yang tak pernah diketahui darimana berasal ('ilmu maa lam ya'lam); itulah ilmu laduni, berasal dari pancaran Nur Ilahi yang ditancapkan ke dalam hati seorang hamba. Karena al-Quran itu sendiri adalah nur (cahaya), seperti tertuang dalam ayat:

﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُم بُرْهَانٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا﴾ [ سورة النساء: 174]

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (yakni al-Quran)". [Qs. An-Nisaa' 174]

Singkatnya, orang awam terfokus pada suara dan bunyi bacaan yang ditangkap oleh pendengaran; sedangkan -tingkat berikutnya- terfokus pada suara dan makna bacaan shalat. Paham dan tidaknya anda takala memperdengarkan ayat-ayat al-Quran, Allah ta'ala akan tetap memberi pahala dan balasan yang setimpal, dan semoga saja balasan itu berupa terkuaknya rahasia ilahi yang bersumber dari cinta Allah, wallahu a'lam.

--❈❈❈--

Upaya anda selama ini bertujuan untuk menja- lankan dan merasakan kekhusyu'an dalam shalat dan proses ini tidak cukup dilakukan hanya sekali atau dua kali saja, tapi harus berkali-kali, membutuhkan latihan yang panjang, kerja keras yang bisa memakan waktu bertahun-tahun lamanya. Hal itu wajar, karena setan tidak akan membiarkan anda terlalu dekat dengan Allah swt, ia akan mengeluarkan semua jurus dan menempuh segala cara untuk menghasut, mengkecoh dan mem- bodohi siapapun yang mendirikan shalat dan mengingat Tuhan. Memang setan diciptakan sebagai musuh ma- nusia yang nyata dan anda tidak akan bisa lari dari ser- buan setan sebab ia akan terus mengejar-ngejar anda sampai kapanpun, jalan satu-satunya adalah mengha- dapi dan melawan trik-trik setan dengan gagah.

Contoh kongkrit adalah upaya Ibnu Hatim yang berusaha keras menjaga kekhusyu'an shalat selama hampir 30 tahun di masa hidupnya.

Alkisah, suatu ketika sahabat Hatim ra –diantara sahabat yang paling zuhud di masanya- datang bertamu ke rumah 'Isham bin Yusuf ra dan 'Isham pun bertanya: "Hai Hatim, apa kamu telah memperbagus shalatmu?, "Ya", jawab Hatim.

Lalu 'Isham melanjutkan pertanyaannya: "Bagai- mana cara kamu menjalankan shalat?", Hatim pun men- jawab: "Apabila mendekati waktu shalat, aku melaku- kan tata cara penyucian hati dan fisik dengan berwudlu' yang pantas (berhati-hati), lalu aku memposisikan diri- ku pada tempat dimana aku akan menjalankan shalat sampai semua anggota badanku terasa tenang (anteng), seakan aku sendiri melihat ka'bah berada di antara ke- dua kelopak mataku (antara dahi), posisi ka'bah aku luruskan ke arah dadaku, dan hanya Allah yang tahu isi hatiku kala itu, -aku bayangkan- seakan kakiku berada di tengah shirot (titian penyeberangan sebagai garis atau batas penentu nasib seorang hamba, selamat ataukah tidak, jika saja seorang hamba berhasil melewati titian ini, maka selamatlah dirinya, tapi celaka bagi orang yang berjalan terseok-seok karena memikul beban dosa yang amat berat, apalagi jika ia sampai terjatuh, ter- sungkur dalam lembah api neraka, nasib tragis bagi para pendosa), sedangkan surga kuposisikan di sebelah ka- nanku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut di bela- kangku, dan aku mengira inilah akhir shalatku.

Kemudian, aku membaca takbiratul ihram deng- an rasa rendah diri, mengucapkan bacaan shalat dengan bertafakur (berpikir, merenungkan dan menghayati), melakukan ruku' dengan rasa tawadlu', bersujud deng- an penuh rasa tunduk, patuh dan pasrah diri, lalu aku duduk dengan sempurna, dan aku membaca tasyahud dengan penuh harap dan takut kepada Allah ta'ala, aku ucapkan salam dengan ikhlas, aku bangkit dari shalat –dan posisiku berada- antara harapan dan takut, dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap bersabar".

'Isham pun bertanya: "Hai Hatim, begitukah cara shalatmu?", "Memang demikian", jawab Hatim. 'Isham bertanya lagi: "Sudah berapa tahun kamu shalat seperti itu?", Hatim menjawab: "Sudah hampir 30 tahun".

Dan jawaban ini membuat 'Isham meneteskan air mata, meratap tangis, seraya berkata: "Aku sama sekali tidak pernah menjalani shalat seperti itu seumur hidupku, tak satupun".( )

Yakinkan diri bahwa anda bisa khusyu', kalau- pun tidak hari ini, mungkin esok. Selama manusia mau berusaha dan mengakui keterbatasan diri dan tetap ber- juang serius, kelak pasti akan menuai hasil.

Minimal, terdapat 5 hal yang bisa dirasakan, dan merupakan hasil-hasil yang akan dicapai oleh orang yang mengingat Allah swt, terutama bagi hamba yang menegakkan shalat; diantara hasil yang akan diunduh seusai menjalankan shalat dan mengingat Allah ta'ala, sebagai berikut:

  1. Mendapatkan ridla Allah ta'ala; -jikalau Allah sudah ridla maka segala kebutuhanmu akan di- cukupi, dimanja dan disayangi oleh Tuhan-.
  2. Semakin bersemangat menjalankan ketaatan kepadaNya; -jikalau orang sudah merasakan nikmatnya ibadah dan shalat, niscaya ia akan merasa ketagihan (kecanduan), ingin terus me- nikmati indahnya dzikir.
  3. Terlindungi dari setan; -bagaimana tidak!, anda telah dicintai Allah dengan segala upayamu mendekatiNya-. Setan akan terpental dengan sendirinya, jika ia berani mendekati anda lan- taran dalam hatimu kini telah bersemayam Nur Ilahi yang mampu menghanguskan setan.
  4. Kehalusan hati dan budi; sensitif dalam me- nangkap dan menerima sinyal Nur Allah se- hingga hatinya dipenuhi cahaya terang dari hidayah. Segala aktifitas yang dikerjakan akan terasa mudah dan berjalan mulus, seakan ada yang menuntun jalanmu dengan tepat dan pasti, Dialah Tuhanmu sendiri, Allah ta'ala.
  5. Dicegah dari segala maksiat; -anda akan dijaga, di saat anda berbuat seakan muncul rasa, feeling, bisikan yang kuat untuk meninggalkan maksiat dan menjalankan shalat, itulah firasat yang berasal dari ilham Allah kepada kepada anda, wallahu a'lam.

Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah ta'ala, baik dan buruk suatu ibadah tergantung dari ke- mauan dan kerja keras kita untuk mencari jalan selamat (munajat). Namun, perjalanan ibadah dan hidup seorang hamba tidak -selamanya- mulus seperti dalam benak- nya, karena ada pihak lain yang tidak akan rela dan tidak akan merasa bosan untuk menghancurkan umat ini, menghambat jalan ke surga, apalagi mereka yang sedang dilanda semangat mendekatkan diri kepada Allah ta'ala, Pengayom seluruh umat manusia, dan setan paling doyan menggoda dan menyasarkan para pencinta Tuhan...

Tanpa 'inayah (pertolongan) dan fadlolNya semua usaha akan sia-sia!.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait