Senin, 27 Januari 2025

Nilai Sebuah Keyakinan dalam Sholat

Perlu diingat!, maqom anda hanya mencoba dan berusaha, selanjutnya untuk konsekuensi baik dan bu- ruk tidak perlu anda pikirkan, sebab masalah ini bukan urusanmu tapi urusan Allah ta'ala (min amrillah) yang memiliki kemurahan tiada batas. Lalu, sampai kapan usaha itu berakhir?, sampai anda menemui ajal (mati) –dengan alasan kata al-yaqin bimakna al-ajal aw al-maut–, dan dalam sebuah tafsir dijelaskan, sampai datang suatu 'keyakinan'. Terinspirasi dari sebuah fiman:

﴿ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ﴾ ﴿ وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ﴾[ سورة الحجر: 98-99]

"...maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat). Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu sebuah keyakinan". [Qs. Al-Hijr : 98-99]

Jikalau anda mempergunakan ayat ini untuk me- maknai sujudmu, maka anda akan mengetahui bagai- mana proses memurnikan shalat itu sebenarnya. 'Ber- tasbihlah', bukankah anda membaca sub- khana robbi al-a'la wa bihamdihi, bahkan di kala ruku' pun anda bertas- bih, simaklah kesesuaian antara lafadz pada bacaan su- jud dengan ayat tersebut, yaitu kata "sabakha" (mensu- cikan) dan "hamdihi" (memuji); lalu jadilah anda orang-orang yang bersujud, dan sujud merupakan inti dari pada ritual shalat. Sebab dalam sujud tersimpak banyak sekali rahasia terindah yang dianugerahkan Allah ta'ala.

Selanjutnya, 'sembahlah Tuhanmu sampai anda merasakan suatu keyakinan, atau muncul keyakinan da- lam hatimu', dari sini semakin jelas bahwa kewajiban- mu hanya 'menyembah', 'beribadah' atau 'shalat', ada-pun 'keyakinan' itu akan datang dengan sendirinya, ti- dak bisa dicari-cari, dilacak, ataupun diupayakan, tapi sebuah berkah, karunia serta anugerah Allah ta'ala un- tuk anda semua, para praktisi shalat.

Hasan Basri ra pernah mengatakan: "Seorang hamba tidak akan meyakini adanya surga dan neraka dengan seyakin-yakinnya kecuali ia telah khusyu' dan merasa malu (di hadapan Tuhan), merendahkan diri dan istiqamah (menjalankan syariat) serta terus membulat- kan tekadnya (dalam berjuang, mujahadah) hingga ajal menjemput".( ) Kapan keyakinan itu tumbuh?, disaat hati anda khusyu' dan merasa malu atas sikap diri yang selalu berbuat jahat dan menjahati Tuhan, atau disaat anda menunjukkan essensi diri yang hina di hadapan Tuhan dan menjalankan syariat karena perintahNya ti- dak karena alasan lain, maka di tengah-tengah kondisi seperti inilah keyakinan itu akan muncul dan sebuah kebenaran itu akan terbukti jika anda mau menjalankan sesuai ajaran. Imam Ghazali sendiri menemukan keya- kinan "tidak melalui rakitan kata-kata (retorika, logika) ataupun menyusun dalil-dalil, tapi berkat Nur Tuhan yang disemayamkan dalam hati seorang hamba; nur ilahi ini merupakan kunci segala ilmu dan makrifat".

Inti kelahiran sebuah keyakinan itu terletak pada 'saat anda merasakan dan mencicipi suatu amalan', terutama shalat. Ibarat sate, anda akan merasakan enak dan lezatnya daging sate itu di saat anda memakannya, pada saat yang sama anda akan meyakini bahwa sate itu benar-benar enak dan lezat. Sekali-kali anda tidak akan merasa yakin terhadap indahnya shalat selama anda sendiri tidak mau shalat.

Apa anda tahu, bagaimana prosesi lahirnya se- buah keyakinan?. Abu Sirri al-Bahili pernah berkata: "Memperhatikan amalan (action, practice, kerja) bisa me- lahirkan ide-ide atau gagasan, ide akan memberikan al-'ibrah (pelajaran), 'ibrah ini kelak akan melahirkan juga sebuah hazm (keputusan yang diambil berdasarkan per- timbangan yang matang), hazm akan melahirkan 'azm (kebulatan tekad), 'azam akan melahirkan sebuah keya- kinan, keyakinan ini akan melahirkan rasa butuh, kebu- tuhan ini akan melahirkan rasa cinta dan cinta akan me- lahirkan keinginan yang kuat untuk segera 'bertemu' (bersua dengan yang dicinta)".

Segala aktifitas manusia tidak akan lepas dari ke- rangka pikiran di atas. Jika anda mau melakukan eva- luasi dan koreksi terhadap segala perilaku secara positif, niscaya anda akan meraih hasil yang cukup fantastis dan berguna bagi masa depan anda.

Dalam ajaran tasawuf, keyakinan (al-yaqin) itu termasuk pada bagian al-ahwal yang bersifat mentalitas bukan al-maqom yang bersifat fisik, dan keyakinan itu bersifat wahbiyah, artinya berkah dan anugerah yang berada di luar usaha manusia, ahwal akan diberikan Allah ta'ala kepada para hamba sesuai usahanya disaat ia berada dalam al-maqomat; al-maqom inilah yang menjadi tugas dan urusan manusia dalam upaya meraih makrifat billah, ditengah-tengah menelusuri jalan ibadah pada fase-fase maqomat akan ditandai dengan kondisi mental yang merupakan berkah dan anugerah dari Allah ta'ala sebagai label kesuksesan (kelulusan).

Ibarat sebuah perlombaan –karena memang ma- nusia pada hakeikatnya dianjurkan oleh Allah ta'ala ber- lomba-lomba dalam berbuat kebaikan( )–, maka usaha anda untuk lari, berjalan, tersandung batu, terseok-seok, penat, pusing, pegal-pegal, lelah/letih dan sebagainya, semua itu disebut fase maqomat (al-maqom), dan setelah anda berhasil mencapai finish (batas akhir), anda akan merasa gembira dan bahagia, terkadang sampai mene- teskan airmata karena rasa bahagia itu menggelora tiada terkendali; mental anda yang merasa gembira itulah yang disebut ahwalat (al-ahwal).

Sekarang, kalau anda saya tanya: "Darimana rasa gembira itu muncul?", disini orang kadangkala salah pa- ham lagi, sebagian berkata: "Itu dari kita sendiri", kalau saya boleh berpendapat, sama sekali tidak demikian, "rasa gembira itu dari Tuhan, sebab jika memang keba- hagiaan itu dari anda, lalu kenapa anda tidak bisa me- ngendalikan rasa bahagia dan gembira, kadangkala sam- pai pingsan karena tidak kuat menahannya; dari mana airmata, perilaku salah tingkah dan perasaan serba tak menentu itu muncul!, padahal kala itu anda dalam kon- disi bahagia khan!", disitulah sisi kemanusiaan anda se- benarnya, 'manusia akan tetap menjadi manusia untuk selamanya'; dalam pasal-pasal hidup manusia, sering- kali si pelaku tidak menyadari peran kuasa Tuhan da- lam segala aktifitasnya, wallahu a'lam.

Praktik shalat adalah maqam anda, sedangkan keyakinan adalah kondisi mental (ahwal) yang akan anda temui dan rasakan; buah amal anda. Lalu, apakah keyakinan itu?, lebih jelasnya, anda perlu menyimak jawaban persoalan ini dalam kisah berikut:

Konon Abu Usman ra berkata, aku mendengar Sirri as-Suqthi ra menyatakan: "Apa kalian tahu apa itu 'al-Yaqin' (keyakinan)?", dan lanjutnya, 'yakin' itu ada- lah ketenangan hati dan jiwa disaat mengerjakan sesu- atu yang dibenarkan serta diperkuat oleh hati; hati me- rasa tenang dan tentram, tidak ada rasa takut dan geli- sah yang dihembuskan setan, ketakutan itu sama sekali tidak berpengaruh pada jiwanya –artinya mantep tak tergoyahkan–; hati juga merasa aman sentosa, tidak ri- sau terhadap gemerlap dunia yang sedikit maupun ba- nyak, apabila hati gundah karena kebaikan –berupa nik- mat dan rizki yang diterima–, maka sama sekali hatinya tidak terbersit oleh uneg-uneg untuk meninggalkan atau melemahkan dari kebaikan yang telah diniatkan (arti- nya, rizki dan nikmat yang diterima akan dimanfaatkan sebaik-baiknya demi meningkatkan angka kebajikan), hati orang yang yakin terasa tenang dan terpatri di da- lamnya seakan-akan telah menjadi watak dan sifatnya; sungguh anda tidak akan memperoleh manfaat apapun tanpa pertolongan Allah ta'ala, dan hanya akan terjadi jika Allah memang menghendaki.

Ketahuilah, bahwa semua makhluk itu tidak me- miliki sesuatupun atau tidak punya kuasa mutlak atas dirinya serta tidak mampu meraih sesuatu tanpa ban- tuan Allah ta'ala untuk menenangkan hati orang yang yakin kepadaNya, (sebab keyakinan itu) bukan dari makhluk; orang yakin hanya akan berharap kepadaNya dan tidak takut kepada siapapun selainNya, seluruh intervensi makhluk akan hilang dari hatinya, ia tidak lagi mengharapkan apapun dari mereka, tidak pula takut, ti- dak memasrahkan fisik, harta dan badan ini kepada me- reka; tatkala orang yang yakin ini benar-benar mengeta- hui semua fakta tersebut, maka dirinya akan merasa terhormat, kuat dan merasa butuh –sebutuh-butuhnya– kepada Allah ta'ala dalam segala hal dan urusan, bukan kepada selainNya".

Memang benar sabda Nabi saw; "Tidak ada se- suatupun pemberian Allah ta'ala kepada hamba yang le- bih berharga daripada 'keyakinan' (rasa mantep).

Keyakinan merupakan awal dan akhir dari se- buah perjalanan dan proses, meyakini bahwa hal itu akan terjadi dan dapat dicapai dengan berusaha sesuai petunjuk atau aturan yang telah disediakan; inilah sikap yang diawali suatu keyakinan. Jika ia benar-benar telah mencapai tujuannya secara nyata, maka keyakina itu semakin mantap dan terbukti benar; disinilah letak akhir sebuah keyakinan. "Yakin saat menjalankan, se- makin yakin setelah membuktikan".

Anda harus meyakini bahwa orang yang mene- gakkan shalat itu akan diberi imbalan pahala dan surga, kelak anda akan diyakinkan lagi dengan wujud nyata dari pahala dan surga.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait