Musuh terberat bagi manusia adalah "dia yang tidak berwujud", tidak terlihat, bahkan sulit untuk dikendalikan, dialah Setan. Semakin dilawan, membuat ia bertambah emosi dan mempersiapkan peralatan perang untuk menyerang balik, tidak bisa dengan cara-cara baik, ia akan mulai nakal dan bermain kasar, bahkan ia mampu memoles kebaikan menjadi kejahatan terselubung yang berujung pada nista; setan sangat ahli dibidang ini.
Setan sangat cerdas dalam memoles dan menciptakan mitasi-mitasi perilaku yang di luar nampak baik, namun menyimpan beribu-ribu kepalsuan. Setan tidak usah dicari, malah dia sendiri yang akan mencari-cari korbannya, sebab itulah misi dan kerjaan setan selama ini, sepanjang bunyi terompet sebagai pertanda Kiamat (masa akhir dunia) belum ditiupkan; ia merasa tidak puas, tak mengenal lelah, tidak kapok/jera, bahkan semakin banyak pengikut (korban) yang bisa direkrut, ia akan tambah bersemangat untuk menebar jaring-jaringnya ke seluruh umat di dunia.
"Setiap hari menjelang pagi, Iblis menggelar bala tentara (angkatan perang)nya di atas bumi ini, ia berpidato di hadapan mereka, dan berkata: "Barangsiapa yang bisa menyesatkan orang islam (hari ini), akan aku anugerahi mahkota di kepalanya". Salah satu setan menjawab, "Aku akan menggoda si Fulan sampai ia menceraikan istrinya", setan lain berkata: "(tidak hanya itu, setelah cerai) aku akan menggodanya untuk menikahi lagi", setan lain berkata: "Aku akan terus menggodanya sampai ia tidak patuh/taat lagi", setan lain berkata; "(Tidak hanya itu) aku akan membuatnya berbaikan (akur) kembali". Setan lain berkata: "Aku akan menggodanya sampai ia berzina". –untuk kesanggupan tersebut- Iblis (memberi nilai atas ide setan ini) ia berkata: "Yah, kamu yang berhak". Setan lain berkata; "Aku akan terus menggodanya sampai ia minum khamr (mabuk-mabukan)". Iblis menjawab; "Yah, kamu yang berhak", setan lain berkata: "Aku akan terus menggodanya sampai ia membunuh". Iblis menjawab: "Yah, kamu... kamu yang paling berhak".
Ternyata, tidak disadari, ajang rembug tiap hari telah dilakukan oleh lawan-lawan anda. Mereka berebut, berlomba untuk menggoda, menjerumuskan dan mencelakai, lalu menjebloskan ke dalam siksa dan kutukan. Bisa anda bayangkan, berapa juta kali mereka berencana menjahati anda tiap hari semenjak Iblis dan antek-anteknya diciptakan, serta berapa jumlah para prajurit Iblis yang tidak pernah mati, ia selalu ada dan terus ada sampai akhir dunia.
Sekalipun manusia sudah terjerat hasutan setan, tapi setan akan terus menjaring, melempar jauh sejauh-jauhnya dan menyesatkan manusia sesesat-sesatnya. Proyek terbesar setan adalah berbuat jahat sejahat-jahatnya, tidak cukup dengan mencuri, ia akan menggoda manusia untuk membunuh, tidak cukup itu, ia akan terus menggoda sampai manusia membunuhi para saksi mata, dan begitu seterusnya. Setan tidak akan meninggalkan manusia begitu saja tanpa kejahatan, walaupun dalam niat sekalipun, setan akan terus menerjang. "
...dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka sesesat-sesatnya".
--✼✼✼--
"...tatkala anak Adam dicipta, ia juga dibubuhi dengan hawa nafsu dan syahwat guna memperoleh kebaikan yang diinginkan, juga disertakan daya emosi (amarah) untuk membela diri dari sengala yang menyakiti. Setelah itu, ia dikaruniai akal sebagai pembimbing untuk selalu berbuat adil dalam menyeleksi sisi-sisi kebaikan dan kejahatan, tak lupa juga diciptakan setan pada tiap anak Adam yang bertindak sebagai perusak, penghasut serta motivator untuk berbuat ekstrim (berlebihan dan sikap-sikaap kelewat batas).
Nafsu, syahwat, ego, emosi, bahkan akal pikir manusia bisa dijadikan alat perang untuk menjahati diri manusia itu sendiri, juga orang lain.
Memang, setan dan iblis telah bersumpah, berjanji dan bertekad untuk berjuang keras mempengaruhi dan menyesatkan umat ini, lalu menjebloskan ke dalan api neraka. Inilah sumpah setan yang tertera dalam sebuah firman,
"Iblis berucap: "Demi kemuliaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya (yaitu anak cucu Adam), [82] Kecuali para hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka [83] Dan Allah berfirman: "Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran yang Ku-firmankan" [84] Sungguh Aku -pasti- akan memenuhi neraka dengan orang-orang sejenismu dan yang mengikuti jejakmu di antara mereka [85].
--✼✼✼--
SETAN DAN TUHAN. Dan sebenarnya setan tidak terlalu berharap dijadikan tuhan, tapi paling suka dan merasa berhasil jika manusia meninggalkan Tuhan yang Hak (artinya, berkelakuan musyrik). Bagi setan, menjadi tuhan, menjadi berhala, menyamar menjadi manusia penghasut, berkedok Yesus, Uzeir, Samiri (Samaritan), orang alim (kyai), ulama', ilmuwan, cendekiawan, filosof, teolog, astronom, seniman dan sebagainya; semua hanyalah sarana bagi setan untuk menuju puncak nista, atau ilmu jahat tingkat tinggi di alam setan, yakni ingkar terhadap Allah swt. Dan mereka paling suka jika manusia menuhankan setan itu sendiri dengan menuruti semua kehendak dan kemauan setan dengan jalan menjadi abdinya, ia semakin bersorak, mengucapkan selamat atas prestasi menjadi pengikut setia setan.
Nabi saw pernah menginformasikan tentang salah satu perbuatan setan yang sejak kini masih diperbincangkan dan dianut oleh sebagian orang. Pengaruh dari perilaku ini sangat luar biasa, orang bisa saling bertikai, bersengketa dan bertarung antar sesama, bahkan begitu kuat ia mencengkeram, terasa tercekik lidah di mulut untuk bisa berkata-kata. Senjata yang terkesan klasik tapi sangat mujarab untuk meruntuhkan iman dan kepercayaan terhadap Tuhan.
Dari 'Aisyah ra, Nabi saw pernah bersabda: "Setan akan mendatangi salah satu dari kalian, ia akan mengucap; "Siapa yang menciptakanmu?", oang itu akan menjawab: "Allah –azza wa jalla-", dan setan akan bertanya lagi: "Siapa yang menciptakan Allah?", jika kalian menemui jawaban seperti ini, maka katakan: "Aku beriman kepada Allah dan Rosul-Nya, sungguh (jawaban) ini akan membuat setan terusir (lari)"
Inti ajaran filsafat dan teologi yang berkembang di dunia, tak lepas dari isu tentang hakekat (ontologi), tapi ketika bersinggungan dengan konsep ketuhanan (theos), mereka hanya berusaha untuk menjawab pertanyaan setan tersebut di atas!?. Teori asal-usul alam produk para filosof Yunani Kuno seperti Thales, Anaximenes, Anaxagoras, Empedocles, Pytagoras, Parmenides dan lainnya melihat unsur alam sebagai pencipta yang mengisi benda-benda di dalam kosmik melalui proses nature, tatkala mereka menjelajah di alam pikirnya, terpikir ide bahwa harus ada yang menjadi 'inti dasar' awal sebuah penciptaan, lahirlah gagasan air, udara, api, apherion, dinamo dan unsur-unsur lainnya, sebagai ganti Tuhan.
Socrates yang masih terkunci di alam mitos Yunani, Deus, Zeus dan sebagainya, walaupun ia telah merubah jalur filsafat ke dalam ide-ide humanis (manusia), namun ia mulai mendeteksi esensi tuhan sebagai esensi murni yang tidak bisa secara pasti oleh logika akal dan semua yang maujud ini berasal dari esensi tersebut. Plato yang mencoba melahirkan konsep Demiurge (pencipta) dalam alam ide (idealisme, 'alam mitsal), lalu Aristoteles dengan konsep 'Premier Motor' (al-Muharik al-Awal) dalam dunia Realismenya.
Tiba saat Saint Anselm, Thomas Aquinas, Plotinus yang ikut memeriahkan ide-ide incarnasi, penjelmaan dan imanensi Tuhan pada Yesus. Dan filsafat mereka dijadikan dasar interpretasi 'Holy Bible' dan 'the Gospels', ibarat minyak pelumas bagi otak Kristiani dalam memahami ayat-ayat Injil.
Beralih ke filsafat modern, sebenarnya topik Tuhan tidak jauh berbeda dari filsafat-filsafat sebelumnya, hanya dikemas dalam corak rasionalis murni, diperkaya dengan hipotesa-hipotesa ilmiah. Ajaran filsafat di era ini semakin membludak, berawal dari Rene Descartes dari Perancis (1596-1650, Henry Berkley dari Irlandia (1685-1753); setelah itu, berhamburan filosof-filosof di Benua Eropa dan dataran Inggris, di Eropa muncul Spinoza (1634-1677) dan Leibniz (1646-1726), di Inggris David Hume (1711-1776), John Stewart Mill, Hamilton. Pada abad ke-19, Jerman memunculkan Immanuel Kant (1724-1803), Hegel, Schopenhauer dan lainnya, , hingga lahir gagasan "Kematian Tuhan" (Gott ist tot) dari Nietszche.
Menarik sekali, seakan arus pemikiran di dunai filsafat sudah terancang dan tertata rapi, walaupun sulit dipastikan benang merah yang menggaris bawahi tiap ujung akal kreatif manusia. Namun, pernahkah anda berpikir siapa dibalik alam ide-ide ini, serta rekan seperjalanan para filosof menuju dunia skeptis, lantaran pengkaji filsafat tulen tidak mengenal kata akhir dalam sebuah pencarian hakekat. Apa Allah yang mengatur semua ini!, mustahil, sebab Allah tidak pernah menyuruh siapapun menyekutukan-Nya. Jelas, setanlah pelakunya, cukup ia mengendus pikiran "siapa pencipta Allah?" –seperti yang diinformasikan Nabi saw- pada hati dan otak mereka, maka akal manusia secara otomasis akan tergiring ke alam atheisme (tak bertuhan), dualisme Tuhan (bertuhan dua), politheisme (bertuhan banyak) dan lainnya; dan setan tinggal memoles, menghiasi ide-ide mereka, baik dengan logika, retorika dan sastra supaya terlihat bahwa semua itu benar dan logis, padahal akal sudah diberi ruang gerak sendiri untuk berkarya, tapi setan telah mengajak mereka keluar dari batas-batas tersebut.
"Pencarian Zat Tuhan", merupakan senjata ampuh yang mampu memompa gojolak hati serta pemudaran akal dalam memaknai hakekat Tuhan, berusaha menerobos sekat ketidakterbatasan ilahi dengan trik-trik logika dan formasi akal yang biasa digunakan untuk menterjemahkan alam inderan namun dipaksa mencerna wujud ilahi, dan ternyata apapun yang terjadi, manusia akan hancur dan amblas, hanyut dalam misteri imajinatif (hayalan), fiktif (tidak nyata) serta manipulatif (tipuan) yang diciptakan oleh akal mereka sendiri.
Siapa yang menciptakan Tuhan (Allah)..?! goda setan kepada anak Adam, termasuk anda. Begitu halusnya, hingga anda tidak sadar bahwa pertanyaan ini cukup kasar, lancang, mengindahkan tata krama dan tidak etis bagi hamba yang shaleh; mempertanyakan Tuhan yang Maha Mulia dari mulut manusia yang hina.
Setan telah melempar pertanyaaan itu, sekaligus tantangan bagi siapapun juga, namun harus anda pahami bahwa dengan menjawabnya, tidak berarti anda telah mencari solusi secara tuntas, sebaliknya anda akan dibelak-belokan, diputar-putar dalam sebuah proses pencarian di alam pikir anda; itu artinya anda telah terjerat dalam jaring manipulasinya. Anda diajak untuk berkelana di tengah lautan yang sedang dilanda badai besar penyekutuan Tuhan, anthropomorphosis, penjasadan, reinkarnasi, apotheisme, atheisme dan sebagainya, diimbuhi angin topan berkabut tebal dari bisikan dan hasutan setan untuk terus menyelam, namun toh akhirnya anda karam ke dasar lautan. Artinya, anda sudah diombang-ambingkan oleh pikiran anda sendiri, dilepar kesana kemari oleh hayalan anda tentang Tuhan, dan akal hanya sekedar manggut-manggut tanda ia tidak tahu, tidak mampu, tidak berdaya, sebab ia hanya menjalankan instruksi si empunya; terkatung-katung di dalam ruang tunggu nasib, menanti kapan semua ini berakhir...
--✼✼✼--
SETAN DAN MANUSIA. Setan memiliki kemampuan yang luar biasa, menjadi apa saja dan dimana saja. Sebenarnya setan tidak jauh dari manusia, bahkan berada dalam diri manusia. Dan dalam kedekatan itulah anda dianjurkan untuk berhati-hati, waspada terhadap perilaku setan yang selalu memusuhi.
Shofiyah bin Huyai, istri Nabi saw, pernah menuturkan: "-di kala- Rosulullah saw sedang beri'tikaf, aku mendatanginya, berniat menjenguk beliau di suatu malam, aku sempat berbincang-bincang dengannya. (Tak lama) setelah itu, aku berdiri untuk pamitan, beliau juga ikut berdiri menyertaiku, dan (kejadian ini) terjadi di rumah Usamah bin Zaid, tiba-tiba 2 orang sahabat Anshar melintasi rumah dan Nabi saw melihat kedua orang itu berjalan tergesa-gesa, lalu Nabi saw memanggil mereka: "Tunggu!, jangan tergesa-gesa, (wanita) ini adalah Shafiyah bin Huyai (yaitu istrinya)". Dan keduanya menjawab; "Subhanallah, ya Rasulullah saw!, lalu beliau bersabda: "Sungguh, setan itu menjalar melewati setiap pembuluh darah dalam jasad anak Adam, aku khawatir dia (setan) menanamkan kejahatan di dalam hati kalian, atau (membisikkan) apa saja".
Salah satu sample sikap waspada Nabi saw menghadapi setan; memang beliau terjaga, berhati-hati dan sensitif terhadap hasutan setan, tapi tidak berarti orang-orang yang berada disekelilingnya juga berhati-hati, dan setan bisa merusak citra Nabi saw melalui orang-orang itu, kapan saja. Menanggapi hadist di atas, al-Khitabi mengatakan: "...dianjurkan bagi setiap manusia untuk –senantiasa- berhati-hati, waspada terhadap hal-hal yang tidak disuka, yang dapat menimbulkan fitnah dan prasanga, membuat hati berpikir aneh-aneh, serta mencari jalan selamat dari api neraka dengan menunjukkan diri terbebas dari keraguan orang lain". Imam Syafi'i menambahkan, "Nabi saw –dalam hadist ini- merasa khawatir terbersit hal-hal jahat (yang ditiupkan setan) dalam hati mereka, dan menjadikan kufur. Sikap Nabi saw ini sebagai tanda kasih sayang terhadap mereka, dan bukan ditujukan kepada beliau".
Lebih ditakutkan lagi jika keduanya berpikir macam-macam, berpandangan buruk terhadap Nabi saw atas kesalahpahaman yang terjadi di malam itu, jelas mereka akan merasa malu sendiri, sebab ternyata realita tidak seperti yang dikira, bahwa laki-laki dan wanita yang terlihat berduaan di malam itu adalah suami istri yang sah. Gejala buruk ini sudah tercium oleh beliau yang segera memanggil mereka dan memberitahu kebenarannya. Jawaban mereka sangat mengejutkan, subhanallah; bukti mereka sempat terbersit pikiran jahat, seakan Nabi saw bisa membaca gelagat ke arah negative thinking, mengerti bahwa setan telah membisikkan niat jahat dalam hati mereka.