Senin, 02 Desember 2024

Mematikan Tuhan, Gott ist tot

Tahun 1844 telah lahir seorang filsuf bernama Friedrich Nietzsche ; satu-satunya orang yang secara tegas dan lantang menyatakan "Tuhan sudah mati", tertuang dalam "Also sprach Zarathustra (Thus Spake Zarathustra)", namun ungkapan ini pertama kali muncul dalam "Die fröhliche Wissenschaft (The Gay Science)", seksi 108 (New Struggles), dalam seksi 125 (The Madman), dan untuk ketiga kalinya dalam seksi 343 (The Meaning of our Cheerfulness).

Sosok Nietzsche yang selama bertahun-tahun mengembara di dunia pikir dan akal, mengkaji melalui karya-karya besar filosof zaman itu, mulai dari filsafat Yunani Kuno, sampai pada filsafat modern, seperti Fichte, Schopenhauer, Hegel dan lainnya, yang memiliki corak nihilisme, pantheisme dan free will (kebebasan mutlak). Gaya Nietzsche sebagai pemikir bebas (free thinker) yang menuntut untuk berpikir skeptis sebagai dasar pijakan ke arah pencarian kebenaran.

"Seorang pencari kebenaran, tidak cukup hanya murni mengabdikan pada tujuan saja, tapi ia harus memantau dan mengawasi segalanya dan berposisi sebagai seorang skeptis (ragu), karena pencinta kebenaran itu mencinta bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk/demi kebenaran itu sendiri walaupun harus bertentangan dengan keyakinan (dogma)nya sendiri. Apabila ia dihadapkan pada sebuah ide yang berlawanan dengan prinsipnya, maka ia harus –tegas, tidak ragu-ragu- menentang prinsip itu... jangan menjadi penghalang antara ide dan ide lain yang berlawanan; tak akan ada seorangpun yang mencapai kebenaran, pemikir yang tidak menjalankan petuan ini... kamu harus mempersiapkan diri, menyatakan diri untuk berperang, jangan kau khawatirkan kemenangan ataukah kekalahan yang akan kamu terima, sebab itu bukan urusanmu, rapi urusan kebenaran."

Berbeda dengan filosof lain, ia lebih berani dan lantang menulis seluruh fase ke dalam buku, terlepas benar dan salah, ia hanya mencari... dan terus mencari, tanpa memikirkan 'apa kata orang', yang terpenting hanyalah bagaimana mendapatkan sebuah kebenaran murni.

Dan dalam pencarian itulah, ia berbenturan dengan segala konsep filsafat hidup, bertemu dan berpisah dalam sebuah pencapaian. Garis besar filsafat Nietzsche merupakan rangkuman studi filsafat yang dinalar akal pikirnya yang skeptis, yakni:

  1. Filsafat Yunani, cukup ekstrem ia mempelajari filsafat ini hingga lahir buku "Die Geburt der Tragödie" (Kelahran Tragedi) tahun 1872.
  2. Filsafat Agama, mempelajari selurug agama yang tersebar di dunia, bukti nyata itu terwujud dalam Zarathustra, tokoh utama dalam buku Also sprach Zarathustra. Agama Kristen –agama leluhurnya- yang ditelaah lebih detail, namun ia bersikap kontra, bahkan cenderung memusuhi ajaran ini, tertuang dalam buku Der Antichrist (Sang Antikristus) tahun 1889, lalu agama Yahudi yang dibenci. Sempat ia mengenyam studi islam, yang secara implisit ditulis dalam Also sprach Zarathustra.
  3. Teori Darwin dalam asal usul manusia yang melatari ide Übermensch (Superman); lalu Pessimisme Schopenhauer dan Atheisme ala Karl Marx yang membuka wacana filsafat baginya

Apa yang mendasari konsep Kematian Tuhan?, Tuhan apa yang sudah mati itu? tidak saja mati, tapi Tuhan telah dibunuh?, katanya.

Sungguh tragis nasib Tuhan yang mati terbunuh, tapi apalah daya memang Tuhan dalam konsep tertentu bisa mati mengenaskan. Itulah konsep Tuhan Yesus, hingga Nietszche berani mengambil keputusan tegas jikalau Tuhan sudah Mati; dialah tuhan orang Kristiani, tertera dalam seksi 343 (The Meaning of our Cheerfulness) dari buku Die fröhliche Wissenschaft, "peristiwa terpenting yang telah terjadi –yaitu Tuhan telah Mati, keyakinan terhadap Tuhan orang Kristen yang tidak lagi bisa dipercaya (unbelievable)- sejak kini, mulai menebarkan awal bayangannya ke seluruh benua Eropa, yang nampak terbukti nyata bagi segelintir orang saja...".

Kecaman pedas dituduhkan kepada para pendeta yang telah merekayasa agama langit demi menutupi kepala dari debu (sembunyi dari dosa), dan katanya:

"Lihatlah tempat-tempat yang dibangun oleh para pendeta itu!, yang disebut Gereja. Tempat itu tiada lain, hanya gua-gua yang dipenuhi aroma dupa. Dan apakah roh akan naik ke tingkatnya dibawah pancaran cahaya palsu ini?, atau di dalam ruang berkabut yang mengajarkan manusia (ajaran) tentang pendosa (dalam konsep Kristiani, bahwa anak manusia telah membawa dosa sejak lahir)!, memerintahkan mereka naik ke tingkat ilahi dengan menaiki perahu?..

Lebih baik, aku melihat perilaku shameless (tidak tahu malu) ini daripada aku melihat mata ini berubah malu dan menyatakan setia (terhadap perilaku itu)...

Mereka berpikir ingin hidup seperti mayat, kain hitam terhias menutupi mayat-mayat mereka, apabila mereka berceramah, yang tersebar hanya aroma bau mayat.

Dan orang yang bersanding hidup dengan mereka, bagai hidup di tepi sungai yang hitam gelap, dimana ia nyaris tidak bisa mendengar apapun selain suara katak yang sedang dilanda kesedihan. [Thus Spoke Zarathustra: Second Part, xxvi – the Priests]

Dan apa yang terjadi ketika seseorang mempelajari kebendaan, materi, fisik, jasad di dalam alam Tuhan?, semua itu identik kematian, musnah dan binasa yang akan tercipta. Titik cela ini sebenarnya ini tertuju pada konsep Kristiani yang menciptakan ajaran yang serba semrawut (membingungkan), inkarnasi Tuhan dan Manusia, Penjasadan Tuhan, dosa turunan, penebusan dosa dan sebagainya, sehingga Nietzsche menyindir dalam "the Madman" (salah satu seksi dari Die fröhliche Wissenschaft), entah siapa simbol dari the madman (orang gila, sinting) ini!. Dan inilah kisahnya:

"Apa kalian mendengar orang gila itu, seusai ia menyalakan lampu (lentera) di siang bolong, ia berlari-lari di gang-gang tengah pasar, sambil berteriak-teriak tiada hentinya, "Aku mencari Tuhan!, aku benar-benar mencari Tuhan!". Tatkala melintasi orang-orang yang tidak percaya terhadap Tuhan (atheis) yang sedang duduk-duduk santai di sana, mereka pun tertawa terbahak-bahak melihat aksi orang gila ini.

Salah seorang ngomong, "Apakah kita sudah kehilangan Tuhan?", dan yang lain menyahut, "Apakah dia berlari-lari kayak anak kecil?", atau, "Dia bersembunyi di suatu tempat?", "Apa dia takut terhadap kita-kita ini?", "apakah dia sedang menyelam ke dasar lautan?", "Apakah dia pindah ke tempat lain", demikianlah, mereka berceloteh ngomong sana-sini, pada saat yang sama mereka tertawa terkekeh-kekeh.

Segera orang gila ini mendekati mereka, mengambil posisi di tengah, dan mulai membodoh-bodohi mereka, karena ucapan dan pandangan mereka itu. Ia pun berkata sambil teriak (menatap tajam ke arah mereka), "Dimana Tuhan?", aku akan memberitahu kalian! Kita semua telah membunuhnya, kamu dan aku! Kita telah membunuh tuhan itu!. Akan tetapi, bagaimana cara kita melakukannya hal itu?, bagaimana bisa kita menguras lautan, yang memberi sepon (sponge) untuk membersihkan seluruh horizon di langit?, Apa yang kita lakukan tatkala ia membebaskan bumi dari panas matahari?, kemana dia sekarang? Ke arah mana geraknya membimbing kita?, apa semakin jauh dari matahari?, bukankah kita yang mendorongnya lebih jauh?, mungkin ke belakang, ke samping, ke depan atau ke segala arah?, masih adakah yang tertinggi dan terendah?, bukankah kita kehilangan jejak (nyasar), bagai menyeberangi sesuatu yang sama sekali tidak ada?, tidakkah kita merasakan kehampaan yang sama?, bukankah udara kini lebih dingin dari sebelumnya?, bukankah waktu terasa selalu malam, dan semakin larut malam?, apa tidak seharusnya kita menyalakan lampu sejak pagi hari?, apa kita tidak mendengar suara gaduh penggali kubur yang sedang mendem tuhan?, apa kita tidak mencium bau anyir pembusuhan tuhan?, ternyata tuhan-tuhan itu juga membusuk!

Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita yang telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri?, sungguh, yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan dosa apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah dosa besar dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]?..

Dari sini, si orang gila, para pendengarnya mulai berpikir; giliran mereka kini yang terdiam seribu bahasa, melihat si orang gila tanpa mengerti apapun. Akhirnya, ia melemparkan lampu itu ke tanah, terpecah dan mati..

[Die fröhliche Wissenschaft , seksi 125]

--✼✼✼--

Tidak sampai disini, pada tahun 1960-an, ide Kematian Tuhan mulai merayap, merasuk pada jiwa zaman, terlahir tokoh-tokoh atheis dalam dunia teologi yang senada dengan Nietzsche, diantaranya Gabriel Vahanian, Paul van Buren, William Hamilton dan Thomas J. J. Altizer, serta rabi Yahudi Richard Rubenstein. Konsep kematian ini menurut pada teolog di atas memiliki corak yang beragam, sehingga jika ia seorang Kristiani, maka terpaksa ia harus berusaha keras mempoles ajarannya dengan sentuhan interpretasi yang lebih halus, yang terkadang secara tak sadar merubah inti ajaran Gereja.

Vahanian, dalam the Death of God, menyimpulkan bahwa "bagi pikiran modern "Tuhan telah Mati", tapi ia tidak memaksudkan bahwa Tuhan sudah tidak ada lagi". Sebuah apologi yang absurd, ia telah mencoba tapi tetap saja tidak bisa menutupi sikapnya yang terpelintir, apa arti sebuah kematian?, yaitu tidak ada atau binasa, namun dengan cerdasnya ia menyatakan Tuhan itu mati tapi tidak binasa, tuhan itu masih ada dalam keadaan mati, katanya. Ia pun terjebak dalam stigma filosofis, berlarian di alam pikirnya, dan terseret untuk memperjuangkan sebuah visi, yaitu 'manusia membutuhkan suatu budaya pasca-Kristen dan pasca-modern yang telah ditransformasikan, untuk menciptakan suatu pengalaman yang baru tentang yang ilahi." Sungguh luar biasa, mungkin ia ingin menciptakan ajaran Neo-Kristiani yang ditransformasikan, tapi apa bentuknya!, apapun pola yang ditawarkan, sebuah dogma agama terlalu sukar untuk diujikan.

Van Buren dan Hamilton dalam menanggapi isu Kematian Tuhan, -barangkali- ia merasa terpojok dalam lubang skeptis, yang akhirnya ia berusaha 'menawarkan masyarakat sekular pilihan tentang Yesus sebagai manusia teladan yang bertindak di dalam cinta kasih. Perjumpaan dengan Kristus dari iman akan terbuka dalam sebuah komunitas gereja." Sebuah langkah bunuh diri, sebab ia harus berhadapan dengan para pendeta senior yang mengakui Yesus adalah Tuhan anak, bagian dari Trinitas. Dengan melepas atribut ilahi pada diri Yesus, sama halnya dengan membongkar sendi-sendi ajaran Kristiani yang telah dipertahankan selama berabad-abad.

Dan jika ia seorang Yahudi, maka landasan pemikiran yang dianut adalah menghancurkan dan merusak citra Tuhan, serta memutar balik doktrin dan dogma yang ada. Bukti mencatat perilaku orang Yahudi sampai nenek moyang tertua sekalipun, mereka berinstink sama. Dalam konsep kematian ini, diwakili oleh Rubenstein yang secara teknis ia mengatakan, berdasarkan Kabbalah , bahwa Tuhan telah "mati" dalam menciptakan dunia. Namun demikian, bagi budaya Yahudi modern, ia berpendapat bahwa kematian Tuhan terjadi di Auschwitz. Dalma karya Rubenstein, kita tidak mungkin lagi percaya kepada Allah dari perjanjian Abrahamik. Ia merasa bahwa satu-satunya kemungkinan yang tersisa bagi orang Yahudi adalah menjadi orang kafir, atau menciptakan makna mereka sendiri.

Ketika akal manusia mencermati dan berusaha mengerti hakekat Tuhan, ia pasti akan terganjal dalam ruang terbatas, lemah dan tidak memiliki kuasa untuk bernafas bebas. Sebab itu, Nietzsche berasumsi bahwa tuhan-tuhan itu hanyalah simbol-simbol hasil kreasi otak manusia pencinta seni dan sastra, ia menganjurkan agar manusia tidak melampaui –dalam proses penalaran- batas-batas indera; inilah sisi lain dari pemikirannya.

Dalam seksi 108 (New Struggles), Nietzsche mengakui bahwa manusia itu wajar jika ia meninggal.

"...setelah Budha meninggal, manusia menyaksikan bayangannya dalam rentang waktu berabad-abad, sebuah bayangan ngeri dan menakutkan. Tuhan telah –dinyatakan- mati, tetapi begitulah ciri manusia, dimana kelak ia akan kembali ke alam baka...".

Alam baka versi Nietszche tidak seperti yang nampak pada tulisan di atas, banyak interpretasi yang ditawarkan namun ia memilih alam Nirvana dalam pemikiran Budha, maka itu ia cenderung menganggap alam ini sebenarnya tidak ada, yang kekal adalah nirvana, dimana roh manusia bersemayam setelah mati; konsep reinkarnasi dan nihilisme melatari gagasan ini. Lagi-lagi, Nietszhe masih terpeleset dalam menanggapi makna hidup di alam indera...

--✼✼✼--

Tak jauh beda dengan Yesus Kristus, jika ia adalah tuhan, seharusnya ia kekal dan abadi, namun ternyata ia telah mati, bahkan dibunuh dalam sebuah rekayasa cerdas dari kelompok tertentu. Bagi Altizer, "Tuhan telah menjelma di dalam Kristus dan telah memancarkan rohnya yang imanen yang tetap ada di dunia meskpun Yesus mati". Analogi yang sama sekali tidak tepat, apabila tuhan telah menjelma dalam diri Kristus, jelas –kala itu- Tuhan telah kehilangan kekuasaannya, citra Tuhan yang Suci telah tercoreng dengan proses penitisan pada manusia yang fana' (punah), didukung dengan perwujudan Tuhan melalui fase-fase melahirkan dari rahim ibu, melewati rute yang biasa dilalui manusia normal. Dan kata-kata "roh" menjadi polemik sendiri untuk diperdebatkan, apakah Tuhan memiliki roh?!, atau Tuhan adalah Roh (arwah)!.

Secara tegas, islam memangkas habis ide-ide kebendaan, materi dan bentuk lain, baik yang terlintas ataupun yang tidak terlintas dalam otak manusia. Sebab Tuhan orang islam itu Suci dari segalanya, tidak sama dengan apapun dan tidak bisa disamakan oleh siapapun,

﴿لَيْسَ كَمِثْلِه شَيْءٌ﴾ سورة الشورى ١١

"Tidak ada sesuatupun yang menyerupaiNya". [Qs asy-Syura : 11].

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait