Teori penyatuan Zat Tuhan kepada jasad Isa al-Masih (Yesus) ataupun jiwanya, sempat disangkal oleh ilmuwan muslim, Abdurahman al-Iji, dengan alasan bahwa penyatuan 2 hal yang berbeda itu tidak mungkin, sebab:
- Bila keduanya menyatu (manunggal), dan bentuk aslinya masih ada (atau tidak merubah bentuk asal), maka hal itu mustahil, bukan manunggal namanya.
- Bila keduanya menyatu, dan salah satu dari bentuk keduanya hilang, juga tidak mungkin, sebab sesuatu yang "tiada (al-'adam)" tidak bisa manunggal dengan yang "ada (al-wujud)", selain itu tidak mungkin Tuhan Allah tidak ada; (melihat kasus penitisan pada Yesus, yang wujud itu dia, berarti pihak lainnya (yaitu Tuhan) yang tidak wujud).
- Bila keduanya menyatu, dan bentuk keduanya hilang, maka yang terlahir adalah sosok baru (pihak ketiga); hakekat keduanya menjadi sirna, tapi mustahil Tuhan Allah itu musnah, Dia pasti ada (wajib al-wujud).
Singkatnya, jika Tuhan dan Yesus menyatu, maka -pertama- tidak mungkin sifar Tuhan dan Yesus itu masih ada, sebab keduanya masih terpisah; -kedua- tidak mungkin salah satu dari Tuhan dan Yesus itu tidak ada, entah siapa!, Yesus jelas ada dan nyata, berarti Tuhan yang tidak ada, dan itu juga tidak mungkin sebab Tuhan itu wajib Ada; -ketiga- kedua-duanya tidak ada, berarti muncul wujud baru, perpaduan keduanya, tapi ini juga tidak mungkin, sebab akan menyebabkan Tuhan tidak ada, karena membaur dengan wujud baru yang berbeda dengan Tuhan ataupun Yesus.
Menengok di awal abad ke-5 M, setelah Yesus meninggal, perdebatan sengit terjadi antar Gereja dan Konsili (Sidang Sinode) seputar interpretasi Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus, Logos dan sifat-sifat ketuhanan lain yang tersebar di ayat-ayat Injil; era kritis bagi kaum Kristiani. Mereka menyepakati ide "keesaan", tuhan yang satu, tetapi pertentangan terjadi ketika menterjemahkan qnome (oknum) dalam Trinitas, "apakah Tuhan Anak sama dengan Tuhan Bapa?, apa Tuhan anak memiliki satu karakter, atau 2 karakter manusia dan tuhan?, apa tuhan atau manusia lebih tinggi dari manusia lainnya?, apa Roh Kudus terimanen, berasal dari Tuhan Bapa saja, atau keduanya Bapa dan Anak?, apa Yesus itu Sabda (logos, al-kalimah) atau anak saja; atau Sabda dan Anak itu sama (sinonim)?, apa Sabda adalah Tuhan Bapa, atau Allah?.
Dan setiap konsili yang digelar, Konsili Efesus (tahun 431), Konsili Kaldea (tahun 451), Konsili Nicea –sama sekali- tidak menjelaskan secara rinci dan jelas tema-tema interpretasi di atas. Tema ini mulai diungkit lagi menjelang abad ke-16 dan mereka bersepakat seperti penafsiran para leluhurnya, yaitu unsur ilahi, atau ilahi Yesus.
Sekalipun di urut sampai ke akar-akarnya, "konsep" manunggal dilihat dari sisi manapun, hal itu tidak mungkin, wallahu a'lam.
--✼✼✼--
Perlu diketahui, proses apotheisasi tidak hanya mengarah pada alam ruh, tapi juga alam fisik, artinya penuhanan terhadap materi alam dan benda. Jauh sebelum ini, kaum Stoicis -bagian dari para filosof Yunani Kuno- berperanan penting dalam menciptakan dunia angan ala ajaran animisme klasik atau paganistik, dan filsalat mereka bergerak seputar penunggalan dan penyatuan Tuhan terhadap benda, bagaimana prosesnya?, terbukti dalam penciptaan dan pembentukan alam.
Kata mereka, "alam ini adalah makhluk hidup yang bernyawa, memiliki roh yang meliputi seluruh bagian terkecil yang mencipta, tumbuh dan berkembang; semua bagian tersebut adalah jiwa dari alam atau disebut juga tuhan. Esensi dari jiwa ini tidak berbeda, bahkan sama dengan fisik alam, jadi tuhan dan alam merupakan wujud tunggal... sedangkan roh dari alam sendiri adalah api suci, hanya saja api suci ini tidak sama dengan api-api lainnya; ia azali yang mencakup ide-de (pikiran), serta sebab semua yang maujud. Api suci juga abadi, kekal dan tak pernah mati, sebenarnya yang musnah itu hanya kulit luar atau bentuk lahir saja." Point-point penting dalam ajaran ini, adalah:
- Tuhan adalah api suci pertama, artinya api adalah asal usul alam, dari api inilah segala yang maujud itu terbentuk.
- Tuhan dan alam ibarat jasad dan roh, atau fisik dan jiwa.
- Jiwa adalah api yang berasal dari api suci, terpencar dalam benda, sebagaimana tuhan terpencar di dalam alam, hanya saja ia memiliki centrum (pusat), titik utama yang terletak di hati (inti) alam.
- Tuhan dan alam itu satu yang menyatu, tuhan adalah sebab wujud sekaligus roh alam.
Berbicara tentang benda, unsur, elemen alam, dan fisik, pada puncaknya akan mengarah pada kematian, musnah, lebur atau sirna. Jika tuhan harus menyatu -walau konsep manunggal itu absurd (mustahil)- dengan sesuatu yang fana', maka tuhan pun akan tersangkut fana' (musnah).