Manusia itu diciptakan (makhluk), ada dari tiada, terbentuk dari benda-benda, lalu ditiupkan nyawa dalam tubuhnya hingga ia dinyatakan hidup, tanpa nyawa berarti musnah. Manusia terdiri dari ruh dan fisik (jasad), itu sudah menjadi realita.
Manusia lebih dari hanya sekedar jasad yang hidup dan bergerak, tidak serupa dengan hewan yang hanya makan, minum, melahirkan... tidak demikian!, dalam diri manusia terdapat nilai plus yang membuat ia menjadi makhluk lain yang berbeda, hanya ia yang memiliki kekuatan yang tidak terdapat di dunia hewani.
Semenjak manusia dilahirkan, merasa bahwa dalam dirinya memang terdapat kekuatan yang berada diluar ikatan zaman, batas waktu dan selalu bekerja aktif, baik dalam alam sadar dan tidak sadarnya (tidur)... dan ia menemui –tanpa diminta-mita- bentuk-bentuk yang seakan tak habis-habisnya, bentuk itu adalah hayalan, imajinasi dan mimpi. Bentuk itu acapkali kembali dalam tiap mimpi-mimpi tentang ingatan (memori) di masa silam, seakan lahir dan terbentuk dari kejadian sehari-harinya...
Jadi, terdapat kekuasan yang tak terlihat, tidak bisa dijangkau indera, dan tidak diketahui yang menyelimuti manusia dan bekerja aktif di dalamnya.
Ketika manusia melihat tragedi 'kematian', dimana yang hidup menjadi tiada/musnah, jasad pun menjadi hancur, maka hatinya dipenuhi rasa takut, khawatir, gundah dan resah, karena melihat akhir dirinya yang kelak akan bernasib sama, yaitu mati, terbungkus dalam ketidakadaan, dan zat/fisik yang akan hancur yang dilihat itu –kelak- adalah aku.
Manusia mungkin tidak takut mati karena rasa sakit sekarat pati (sakaratul maut) tatkala ajal menjemput, tapi karena ia akan menjadi tidak ada (punah) dan kehilangan diri/zat-nya yang selalui menyertainya.
Tiap manusia memiliki ruh yang berbeda, artinya ruh Cak-Dul dengan Cak-Dung yang mendekam dalam jasad kedunya tidak sama. Lalu, adakah orang yang berpendapat bahwa ruh mungkin sama pada tiap anak manusia yang bisa menitis pada siapa saja, disinilah akan lahir kosep "incarnasi" (tanasukh al-Arwah, penitisan roh). Sehingga roh itu tidak akan tenang jika tidak sampai ke alam Nirvana, yaitu roh yang dianggap baik. Sedangkan roh jahat akan kembali ke bumi menitis pada hewan, tumbuhan atau manusia, untuk mensucikan diri kembali hingga bisa diterima Nirvana disaat mati; ini adalah ide dasar ajaran Budha.
Dan konsep tentang penuhanan manusia, didasari ide tentang hidup dan mati, jasad dan roh..
--✼✼✼--
Selanjutnya, bagaimana jika roh Tuhan yang menitis pada manusia?, mungkinkah hal itu terjadi?, dan siapa penganutnya?, dari ide-ide ini akan muncul gagasan yang disebut "Apotheization" (at-Ta'lih, theisme) terhadap siapa roh itu menitis, dengan istilah yang beragam, misalnya:
- Isa Al-Masih (Yesus); yang dianggap Tuhan Anak atau Anak Tuhan oleh kaum Kristiani dengan segala bentuk metafor-nya.
- Uzair (Ezra); Anak Tuhan menurut versi orang Yahudi.
- Ali bin Abi Tholib; sebagai titisan Tuhan dalam ajaran Abdullah bin Saba' yang berjiwa Yahudi murni. Diantara pernyataanya tentang Ali yang dipertuhankan, sebagai berikut:
- "Anda adalah Tuhan yang Hak", konon ia dibuang dan diasingkan ke negeri Madain oleh Ali sendiri tatkala mendengar ucapan Ibn Saba' ini.
- "Ali tidak mati, dan yang dibunuh Ibnu Muljim (pembunuh Ali) adalah setan yang meniru rupa Ali, tatkala pembunuhan terjadi ia sedang berada di angkasa; dan Ali itu bersuara petir, bercambuk kilat dan kelak ia akan turun ke bumi untuk menegakkan keadilan
Dibalik ide-ide halus seputar "penuhanan manusia" tersimpan tangan-tangan halus orang-orang Yahudi, penyusupan ini masih diikuti, walaupun para pengikut ajarannya sudah mengetahui persis siapa dibalik topeng hitam apotheisme; mereka adalah kaum Kristiani.
Dalam Bible dan Injil konsep ini tersebar di dalam ayat-ayat, bahkan sengaja dikekalkan, entah sampai kapan.
"Kristus adalah gambar nyata dari diri Allah yang tidak kelihatan; Kristus adalah anak yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan. Sebab melalui Dialah (Yesus), Allah menciptakan segala sesuatu di surga (langit) dan di atas bumi, segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, termasuk juga segala roh yang berkuasa dan yang memerintah. Seluruh alam ini diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus. Sebelum segala sesuatu ada, Kristus sudah terlebih dahulu ada. Dan karena Dialah (Yesus) juga, maka segala sesuatu berada pada tempatnya masing-masing. Ialah kepala dari tubuh-Nya... Allah sendirilah yang menghendaki supaya segala sesuatu yang terdapat pada diri Allah, terdapat juga dengan lengkap pada diri Anak-Nya. ". [Colossians 1 : 15-19]
Sedangkan penuhanan manusia terhadap Yesus dalam literatur Sekte Kristiani Kuno, adalah Jacob Baradaeus (pendiri paham Jacobism, atau Ya'qubiyah) yang mengatakan:
"Sabda (al-Kalimat, Logos) bercampur, menyatu menjadi darah dan daging, akhirnya Tuhan menjadi Yesus, Tuhan nyata dalam jasad Yesus, lebih dari itu Tuhan dan Yesus adalah sama (satu)".
"Yesus (Isa al-Masih) adalah Tuhan Allah sendiri".
"Yesus memiliki satu esensi dan satu qnome (oknum), hanya saja terdiri dari 2 essensi". Barangkali, maksudnya, satu esensi dari 2 bentuk, esensi Tuhan yang kekal dan esensi manusia yang tidak kekal yang tersusun menjadi satu, seperti jiwa dan badan yang menyatu menjadi satu esensi, dan satu oknum, (artinya) Tuhan dan manusia menyatu secara utuh".
"Manusia menjadi Tuhan, dan bukan Tuhan yang menjadi Manusia. Ibarat arang yang dibakar di atas api, (maka) arang tersebut akan menjadi api, dan bukan api yang menjadi arang. Jadi, arang itu tidak murni api, juga tidak murni arang, tetapi bara api (ember).
Mereka menegaskan bahwa Maria (Mariyam) melahirkan Tuhan; dengan kata lain, anak yang terlahir dari rahim Maria adalah Tuhan.
Konsep lain dari ajaran Kristiani Kuno, adalah Nestorianisme . Mereka sedikit berapologi dengan corak penuhanan Yesus, yang katanya: " Anak (Yesus) senantiasa terlahir dari Bapa, tapi berupa penitisan dan menyatu dengan jasad Yesus disaat ia dilahirkan.
Di satu sisi, mereka meyakini, Trinitas (tritunggal), dan tiga itu adalah yang Hidup, yang Bicara (logos) dan yang Ilahi (Tuhan); atau Wujud, Ilmu/Pengetahuan (logos), Hidup. Dan ajaran Nestorian ini juga beragam, tiap tokoh memiliki pendapat sendiri dalam satu atap Nestorianisme.
Penafsiran lain, "...menjelaskan dan memahami inkarnasi dari Logos Illahi, Pribadi Kedua dari Trinitas Maha Kudus, sebagai manusia Yesus Kristus. Nestorianisme mengajarkan bahwa esensi kemanusiaan dan esensi keillahian Kristus itu terpisah dan oleh karena itu ada dua pribadi, yakni pribadi manusia Yesus Kristus, dan pribadi Logos yang illahi, yang berdiam dalam manusia Yesus Kristus itu. Sebagai konsekuensinya, kaum Nestorian menolak adanya istilah-istilah seperti "Allah menderita " atau "Allah telah disalibkan", karena kemanusiaan Yesus Kristus yang menderita itu terpisah dari keillahiannya. Demikian pula mereka menolak istilah Theotokos (Yang Melahirkan Allah/Bunda Allah) sebagai gelar Maria, sebaliknya mereka mengajukan gelar Kristotokos (Yang Melahirkan Kristus/Bunda Kristus), karena dalam pandangan mereka Maria hanya melahirkan pribadi manusia Yesus, bukan pribadi illahinya.
Singkatnya, Maria melahirkan jasad Yesus, bukan Tuhan Yesus, tapi setelah itu Tuhan menitis pada jasad Yesus yang terlahirkan, dan jadilah Yesus sebagai Tuhan.
Apapun dan bagaimanapun konsep yang ditawarkan, kaum Kristiani sepakat bahwa Yesus itu Tuhan, termasuk jasad Yesus yang manusiawi.
Dan kini sang Tuhan Yesus telah meninggal, terlepas apakah Yesus, Isa al-Masih meninggal dalam penyaliban, atau ia diangkat ke langit yang kelak akan turun kembali untuk menyelesaikan tugasnya sebagai seorang utusan Tuhan dengan menjalankan syariat Muhamad menurut versi orang islam, yang jelas orang Kristiani telah meyakini kematiaannya di tiang salib sebagai penebus dosa-dosa anak Adam dan Hawa (Eve). Dan jika mereka ditanya, "Kemana Yesus (Isa al-Masih) setalah tiada!...
Dengan kematian Yesus, maka semakin jelas bahwa Tuhan Yesus pun ikut Mati (death).