Pengaruh antropomorphis tidak terhenti di tangan orang Yahudi saja, tapi telah merambah ke seluruh penganut ajaran langit, termasuk islam dan kristen. Teori penyerupaan diantara para penganut ajaran islam telah diberantas sejak awal islam berdiri, tidak sedikit para ilmuwan muslim –pada fase berikutnya- telah menghadang jalan jalan busuk niat mereka untuk menghancurkan islam. Dan setelah ditelusuri, ternyata biang kerok semua kekacauan aqidah bersumber dari orang-orang Yahudi. Orang bilang, Yahudi bisa pindah dan berlarian secara bebas kemana saja, tapi Yahudi tetap Yahudi, sampai kapanpun dan dimanapun mereka bertengger.
Abdullah bin Saba' –contohnya-, adalah orang Yahudi pertama yang membikin ulah dan menebarkan fitnah 'penyerupan tuhan dengan manusia' dalam sejarah islam, tapi ide ini tidak berumur panjang karena tabir rahasia telah terkuak bahwa ide Yahudi telah menyusup dan terbukti berbahaya bagi orisinilitas (kemurnian) islam, akhirnya ia terhempas.
Dalam ajaran Kristen, konsep penyerupaan juga telah menyusup, bahkan menjadi inti ajaran aqidah (ketuhanan) mereka; ide Trinitas merupakan contoh konsep bercorak anthropomorphis murni.
Berbeda dengan Abdullah bin Saba', dalam Kristen dikenal Paulus, seorang konseptor bible yang bernama asli Saulus yang telah meracik dan menggagas ide-ide Yahudi dalam kitab suci. Hingga detik ini, kitab suci kaum Kristiani dipenuhi dengan ide-ide anthropomorphis ala Yahudi. Dan uniknya ajaran ini masih dianut dan diakui kebenarannya, entah sadar ataukah tidak, sebenarnya mereka diperalat oleh orang-orang Yahudi.
Tak kalah uniknya, baik Yahudi ataupun Kristiani (Nasrani) saling menyalahkan, saling tuduh dan saling serang, padahal dalam ajaran Bible, terutama Perjanjian Lama (Old Testaments), dipenuhi trik-trik dasar teologi Yahudi yang bersamplekan Taurat. Tuhan yang Hak (Allah ta'ala) telah menyindir tingkah mereka, "...orang-orang Yahudi mengatakan: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai pegangan (pedoman)", sedangkan orang-orang Nasrani mengatakan: "Orang-orang Yahudi –malah yang- tidak mempunyai pegangan (pedoman kitab suci)," Padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Begitu juga, orang-orang yang tidak tahu, mengatakan seperti ucapan mereka itu...
--✼✼✼--
Sekilas tentang Paulus, ia lebih dikenal dengan nama Paulus dari Tarsus (awalnya Saulus dari Tarsus) atau Rasul Paulus, (3 Masehi–67 Masehi) diakui sebagai tokoh penting dalam merumuskan ajaran Yesus. Paulus digambarkan dalam Perjanjian Baru sebagai Yahudi yang berkebudayaan Yunani (helenis) dan warga Roma dari Tarsus (sekarang Turki). Mulanya ia seorang penganiaya (penjagal) orang Kristen (saat itu bernama Saulus), dan sesudah pengalamannya berjumpa Yesus di jalan menuju kota Damaskus, ia berubah menjadi seorang pengikut Yesus Kristus.
--✼✼✼--
Selanjutnya, bagaimana dengan kita?, akankah kita akan terpengaruh dengan Yahudisme?, seperti orang-orang Kristiani?.
Tuhan jangan dibayangkan seperti apa, sebab bayangan jika tidak mengarah pada kebendaan, maka mungkin ia akan menciptakan bentuk-bentuk dan ilustrasi fisik lintas ruang dan waktu. Dan jika bayangan itu hilang maka otomatis tuhan itupun akan hilang dan pudar ditelan kabut.
Dalam ajaran Yahudi, secara teoritis, bentuk-bentuk itu sudah ada, sedangkan secara aplikatif, telah diterapkan oleh orang-orang Kristiani. Coba anda masuk ke salah satu gereja, akan anda temui beberapa lukisan ilustratif, bayangan dan kabut di atas kepala tokoh-tokoh mereka; sebuah simbol bayang-bayang pikiran, dan studi filsafat mungkin bisa disebut 'dunia ide' (alam idealisme gaya Platonic).
Jika, suatu hari, anda ditanya tentang "apa itu kursi?, dan jelaskan!" maka secara naluri dan otomatis, akan mencari-cari di alam pikir anda suatu benda yang bernama 'kursi', bayangan kursi pun –lamat-lamat-muncul tapi tidak jelas sampai anda menemukan padanan kursi, atau sesuatu yang mirip dengan kursi walau tidak sama persis, maka terciptalah kursi di dalam potensi akalmu.
Itulah proyeksi perjalanan akal yang berkelana di alam ide (maya), lalu apakah sketsa pemikiran seperti ini bisa diberlakukan kepada tuhan?, jelas tidak bisa, sebab Tuhan yang Hak itu tidak ada padanan di dunia, bahkan dimanapun juga. Jika ada orang yang berpendapat 'bisa', niscaya akan melahirkan sikap "penyerupan tuhan" terhadap benda, yang –biasa- dilakukan orang Yahudi dan di-amin-i oleh orang-orang Kristiani.
Sejarah mencatat, bahwa agama pagan (al-watsaniya) tumbuh subur di daerah yang mayoritas warganya adalah penggemar seni dan pencintra sastra, kedua ilmu ini lebih mengunggulkan kemampuan berilustrasi, berandai-andai, sekaligus abstrak.
Dan inti ilmu seni dan sastra adalah penyerupaan, selama prinsip dasar penyerupaan itu masih dalam batas kelegalan, sekiranya seseorang berkreasi dalam obyek alam semesta, hal itu menjadi sebuah kewajaran. Tapi, jika menembus batas di luar alam semesta (seperti Tuhan, ruh, malaikat), maka hasil karnya itu akan nampak/menjadi cacat, cacat moral dan mental. Dan lebih unik lagi, hampir semua seniman mengatakan, semakin karya seni berada dalam ketidakwajaran, malah dianggap memiliki nilai seni yang tinggi. Ditengah semaraknya ilustrasi seperti ini, sebuah agama pagan lahir, beserta atributnya, seperti penyerupaan tuhan, penyembahan berhala, reinkarnasi, dan sebagainya.
Bisa dibayangkan jika seorang seniman mencoba berilustrasi dalam masalah tuhan, kebaikan, kejujuran, maka dipastikan kalau yang terlahir adalah bayangan-bayangan...
Bayangan itu –kelak- akan pudar beserta bentuk bayangannya, jika bayangan itu dianggap tuhan maka tuhan pun akan pudar; yang berarti mati.
Mungkin Tuhan Bapak dan ilustrasi patung Isa (Tuhan Anak) di alam pikir agama kristiani merupakan hasil nyata para seniman klasik yang masih berlaku hingga sekarang; sebuah kreasi seni paling cerdas sepanjang zaman
Apa yang terjadi jika ilustrasi Tuhan diseret ke dalam dunia sastra?, bayangan konsep dan ide itu -sebenarnya- berasal dari alam pikir pencetusnya, contoh kongkret adalah Zarathustra yang melahirkan agama Majusi. Ide-ide penyerupaan tuhan di dalam ajaran Majusi malah semakin semarak serta memiliki corak yang beragam, kaya dengan imajinasi.
Zarathustra membawakan ajarannya dengan gaya yang lebih pelik, di satu sisi, ia mengharamkan penyembahan terhadap berhala dan patung, tapi di sisi lain ia malah melakukan pengkultusan terhadap api, karena api merupakan elemen yang paling terang dan bersih diantara semua elemen di alam semesta. Konon, mereka menyembah api dalam kuil-kuil dengan kepercayaan bahwa penyembahan api ini akan menyelamatkan mereka dari api neraka, pengkultusan yang didasari kepercayaan bahwa berkat api-lah Ibrahim as selamat dari kematian.
Dan api (terang) tidak berdiri sendiri tapi ia memiliki musuh besar yang bernama kegelapan. Cahaya (api, terang) dalam konsep mereka disebut Yazdan dan kegelapan disebut Ahraman; cahaya api bersifat abadi (kekal), dan kegelapan itu jahat dan akan mati.
Kronologis darimana ide "terang' dan "gelap"?, disinyalir dari salah satu penganutnya, katanya, "sebab penciptaan Ahraman (Tuhan Kegelapan) adaah Yazdan (Tuhan Terang) pernah berpikir-pikir, merenungi bagaimana jika dia memiliki pesaing, apa yang akan terjadi?, ide ini dianggap jahat dan tidak cocok dengan sifat Yazdan yang bercahaya, lalu terciptalah kegelapan dari wujud cahaya yang disebut Ahraman; yang terakhir ini memiliki watak jahat dan merusak, setelah itu ia keluar dari cahaya dan menjadi pesaingnya. Tuhan Terang dan Gelap saling bentrok dalam rentang waktu yang sangat lama, dan keduanya bersaing sampai datang malaikat sebagai penengah...
Kisah lain, "... Tuhan menjadikan ruh Zarathustra tertancap di dalam sebuah pohon di surga paling tinggi dan dikelilingi oleh 70 malaikat, lalu pohon itu ditanam di puncak gunung di daerah Azerbaijan, kemudian hantu Zarathustra bercampur, menyatu dengan susu sapi, dan diminum oleh bapak Zarathustra, maka jadilah gumpalan darah, selanjutnya daging di kandungan sang ibu.
Coba simak, sebenarnya tuhan itu maunya diapain aja, sih! Tuhan diilustrasikan menjadi api, lalu ia berpikir-pikir jikalau ia memiliki saingan apa yang akan dilakukan?, tapi entah dari mana awalnya, tiba-tiba Tuhan kegelapan lahir dari Tuhan Cahaya dan menjadi saingannya. Api yang merupakan Tuhan Cahaya, ternyata dibilang kekal dan abadi, sedangkan Tuhan Kegelapan itu akan musnah.
Sejak kapan api itu abadi, dan jika mereka masih ngotot menyatakan api itu abadi, silahkan dinantikan api itu sampai padam, sebab api bagian dari alam pasti akan padam. Dengan padamnya Tuhan api, maka mati pula tuhan mereka.