Ulama Besar Sufi telah menyodorkan aneka definisi terminologis terhadap ilmu tasawuf, sebagaimana juga meletakkan dasar-dasar (asas) yang beragam terhadap definisi tersebut. Misalnya, mereka pernah mengatakan, bahwa kedua kata “tasawuf” dan “sufi” itu berasal dari sebuah akar kata; terdapat juga kelompok lain berpandangan tidak sama, mereka berpegang pada dalil bahwa kedua kata itu telah menjadi ‘istilah’ tersendiri yang kandungan kata itu hanya sesuai menurut konteks (mafhum) kata itu sendiri.
Kelompok pertama, orang-orang yang berpendapat bahwa tasawuf memiliki sebuah akar kata; kali ini, diantara mereka juga masih terdapat silang pendapat, misalnya, berasal dari bahasa Arab ‘Ash-Shuf’, ‘Shufah’, ‘Shaufanah’, ‘Ahl Shuffah’ yang hidup sezaman dengan di masa kenabian, atau ‘ash-Shaf al-Awal’ (baris depan) dalam pelaksanaan ibadah shalat. Atau, berasal dari bahasa Yunani ‘Sophia’ yang berarti hikmah. Jika diperhatikan lebih lanjut, antara kata ‘tasawuf’ dan ‘sufi’ dengan dasar-dasar ajaran sufi memiliki kesesuaian (kaitan) , ini yang pertama.
Kedua, makna terminologis (istilakhi) yang sudah diriwayatkan dari kum Sufi sangat banyak, hampir tak terhitung. Secara dhahir, mereka memberikan definisi ini disaat masih dalam konteks ta’alluq (berkenaan) dengan fenomena tertentu atau lontaran jawaban dari seorang penanya. Misalnya, Imam Junaid, Abu Qasim al-Baghdadi pernah berkata: “(Tasawuf, adalah) Berakhlak dengan (sesuai) akhlak Tuhan”, Khawaja Ubaidillah al-Ahrar as-Samarqandi, juga mengatakan: “Tasawuf adalah menghabiskan waktu untuk hal yang lebih mulia”.
Para Ulama Sufi yang Mukhaqiqin telah berpandangan bahwa akar kata “tasawuf” berasal dari “ash-Shafa’”(suci, murni) yang menjadi sebab, sarana (media) sekaligus tujuan dari tasawuf itu sendiri. “ishthafa’” (pilihan) Allah ta’ala terhadap seorang murid merupakan sebab Allah ta’ala ingin memberi petunjuk (hidayah) kepada orang tersebut, “isthafa’” (pensucian) sseorang murid pada hatinya merupakan sarana wushul (sampai) kepada Allah ta’ala, kesucian jiwa dan ruh seorang murid saat watak manusiawi telah beralih dan meningkat bersamaan dengan ruhnya ke alam malaikat yang luhur, maka hal itu merupakan tujuan yang ingin dicapai, karena itulah seorang murid sebut “Sufi” (orang yang berusaha mensucikan diri), sebagaimana orang-orang merupa-rupa sebagai ahli hakikat disebut “Mutasawif” (orang yang mengaku diri orang sufi). Maulana Amin al-Kurdi pernah menuqil dari Sahal bin Abdullah at-Tustari , seperti berikut: “Kata ‘Sufi’ berasal dari kata “Shafa’”, orang Sufi berarti orang yang berhati bersih (suci) dari kotoran, dipenuhi hikmah, baginya tidak ada perbedaan anatar emas dan kotoran”.
Sayidi Abdul Ghani an-Nabulisi , seorang penyair Naqshabandi pernah menulis:
إِنَّ اْلفَتَى مَنْ بِعَهْدِهِ فِي اْلأَزَلِ يُوْفِي --- صَافَى فَصُوْفِي لِهَذَا سُمِّيَ الصُّوْفِي
Mutasawif adalah orang yang mensucikan hatinya, lalu Shufi adalah orang yang langkahnya lebih jauh lagi, mendapat berkah, tawfir dan rahmat-Nya, hanya Allah ta’ala yang memiliki segala pujian dan anugerah. Penulis buku “at-Ta’aruf” penah menyatakan: “Jika kata tasawuf diambil dari akar kata “ash-Shuuf”, istilah dan lafadz ini benar dipandang dari sudut bahasa dan seluruh makna-makna yang bersangkutan, seperti menjauhkan diri dari dunia, mengasihkan diri dari gemerlap dunia, meninggalkan tanah air dan menuatkan diri melakukan perantauan, mencegah hati dari hasrat duniawi, kemurnian bergaul antara sesama, dianugerahi rahasia-rahasia ilahi, hati yang lapang serta sifat sibaq (berlomba dalam kebaikan). Bandar bin Husain pernah berkata:
وَلاَ صِيَاحٌ وَلاَ رَقْصٌ وَلاَ طَرَبٌ --- وَلاَ ارْتِعَاشٌ كَأَنْ قَدْ صِرْتَ مَجْنُونًا
بَلْ التَّصَوُّفُ أَنْ تَصْفُوَ بِلاَ كَدَرٍ --- وَتَتْبَعَ الْحَقَّ وَالْقُرْآنَ وَالدِّينَا
وَأَنْ تُرَى خَاشِعًا لِلَّهِ مُكْتَئِبًا --- عَلَى ذُنُوبِك طُولَ الدَّهْرِ مَحْزُونًا
Bukanlah tasawuf itu pakaian wol yang lusuh, tidak pula tangisanmu yang menjerit
Bukan pula teriakan, tarian dan nyanyian bukan gerakan dan getaran ekstase yang membuat kamu gila
Namun… tasawuf adalah suci dan bersih tanpa noda mengikuti kebenaran, al-Quran dan Agama
Kamu lihat dirimu khusu’ tunduk kepada Allah penuh penyesalan sedih atas dosa-dosamu sepanjang zaman
Referensi | Syeikh Muhamad Najmundin al-Kurdi | Ad-Dalail al-'Aliyah | Hal : 12-32