Senin, 16 Oktober 2023

Polemik Sanad Tarekat Naqshabandiyah

Sebagian berpendapat, mengatakan jika sanad tareqat Naqshabandi terputus pada beberapa tingkat dari para Masyayikh, disebabkan terpisahnya ruang yang mengakibatkan beberapa Guru tidak bersua dan jarak waktu yang melatari para Guru tidak hidup sezaman, atau semasa.

Syaikhona Muhamd Najmudin al-Kurdi, memberikan klarifikasi :

"Menghukumi silsilah (sanad) ilmu batin tidak sepatutnya disamakan seperti pada sanad hadits dalam ilmu dzahir, terutama jika berkaitan dengan silsilah tareqat Naqshabandi. Kaitan Syaikh dan Murid bersifat 'Uwaisy (penjabaran rinci tentang konsep ini akan dibahas tatkala menjawab pertanyaan setelah ini, sebagainya yang terjadi pada beberapa tingkat dari silsilah Naqshabandi), pastinya tidak menyebabkan terputusnya sanad tareqat. Karena, sudah maklum bahwa tidak ada perbedaan di kalangan guru Naqshabandi antara Syaikh yang sudah meninggal dengan Syaikh yang masih hidup dalam kemampuan 'memberikan berkah' (al-ifadhah), bahkan fuyudh Syaikh yang sudah beralih dari dunia ke alamnya barangkali lebih kuat ketimbang di kala hidup di dunia.

Jika dipaksa menerima klaim bahwa sanadnya terputus, bisa dijawab bahwa para Syaikh itu pernah bertemu secara langsung dengan beberapa murid Syaikhnya atau murid dari murid mereka. Sayidina Qasim bin Muhamad bin Abu Bakar ra dilahirkan selang setahun atau 2 tahun sepeninggal Sayidina Salman al-Farisi, akan tetapi pastinya Qasim sempat bertemu dengan para sahabat dan tabiin di masa hidupnya.

Syaikh Abu yazid al-Busthami sempat bertemu dengan Ali Ridha bin Musa al-Kadhim bin Ja'far al-Sadiq, sebagaimana Abu Yazid juga bertemu dengan beberapa murid Ja'far al-Shadiq. Beliu juga memiliki sanad lain, 4 tingkat dibawah Salman al-Farisi ra.

Syaikh Abu Hasan al-Harqani bertemu dengan beberapa murid Abu Yazid al-Busthami yang memberitahukan wasiat syaikh disaat berziarah ke makam Abu Yazid; Abu Hasan juga memiliki sanad historis (fisikal) dari Abu Mudhafar al-Thusi ra dari Khawaja Abu Yazid al-'Isyqi dari Khawaja Muhamad al-Maghribi dari Abu Yazid al-Busthami. Ditambah lagi, Abdul Khaliq al-Ghajdawani dididik dan dibimbing oleh Nabi Hidhir ra, belajar dzikir khafi dan wuquf 'adadi hanya saja Nabi Hidhir ra mewasiatkan Sayidina Al-Hamdani untuk mendidik dan merawatnya, lalu dinisbatkan kepada kepada Abdul Khaliq al-Ghajdawani.

Kedua, tareqat Naqshsabandi memiliki sanad lain yang berbeda dengan sanad sebelumnya; bagi yang ingin mengetahui lebih detail, silahkan meruju' kitab "Al-Mawahib al-Sarmadiyah" beserta ringkasannya. Sebenarnya, tidak bermasalah dengan sanad atau silsilah yang bervariasi disertai kesepakatan periwayatan dari para guru Naqshabandi.

Referensi | Syeikh Muhamad Najmundin al-Kurdi | Ad-Dalail al-'Aliyah | Hal: 12-32

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait