Harmoni hidup menawarkan sesuatu yang menarik untuk dirasakan, tuntutan hidup membuat manusia harus berjuang untuk bertahan dalam nikmat. Jikalau orang berpikir terus menjadi itu enak dan indah, sama sekali demikian. Bagi orang kaya, mungkin orang yang sederhana dan serba kecukupan walau terlihat seperti orang melarat, akan nampak indah bagi si kaya lantara ia berpengalaman menjadi orang kaya yang tiap hari teus kepikiran dengan hartanya, rata takut kehilangan senantiasa menghantui pikirannya. Tapi bagi si orang melarat melihat orang kaya dengan beribu-ribu mimpi, seandainya ia menjadi orang kaya, betapa hidup ini serasa seperti surga segala yang diinginkan selalu tercapai; inilah gaya pikir orang melarat yang tidak pernah kaya, padahal jikalau Allah memberikan dia kekayaan mungkin umurnya akan dihabiskan berpesta dan berhura-hura, karena ia bepikir menjadi kaya dengan keinginan menikmati dunia.
Memang unik, si kaya ingin menjadi biasa-biasa saja karena melihat betapa tentramnya hidup si miskin, padahal jika benar ia miskin apa siap hidup sengsara!, begitu juga si miskin yang bercita-cita ingin menjadi orang kaya, gara ia melihat orang kaya yang bisa membeli apa saja dan pergi kemana saja, tapi apa ia benar-benar siap menjadi orang kaya!, jangan-jangan ia bingung dengan uangnya, tiap hari berjaga-jaga agar tidap diintai pencuri, atau malah menghambur-hamburkan itu tanpa mengenal batas, dan menjadi miskin lagi.
Allah swt, sebagai Tuhan yang paling tahu urusan manusia, menjadikan kaya dan miskin sebagai cobaan hidup, sebab semua itu amanat yang harus diperlakukan secara benar. Dan untuk menjalankan amanat ini, kita dituntut bersabar, berbesar hati dan bersyukur.
Orang kaya harus bisa bersabar mengurusi harta dan kekayaan itu, agar jangan salah jalan, jangan terlalu sombong dan bangga, sebenarnya jika ia sadar, banyak yang mendoakan agar ia jatuh melarat, masyarakat merasa sumpek melihat orang kaya yang sombong. Si miskin juga sama, jika ia mau berpikir seperti sikap orang kaya yang merasa cemburu dan ingin menjadi orang biasa, lantaran ia berpikir orang miskin itu hidupnya tentram (tenang), berangkat pagi pulang petang seakan tidak ada yang dipikirkan, dibandingkan ia yang terus berpikir tentang bisnis dan usahanya. Tapi tidak mudah bagi si miskin untuk bersabar, himpitan hidup, tekanan batin yang luar biasa, apalagi jika harus mengurusi anak-anaknya yang masih kecil, walaupun –kadangkala- terasa aneh, orang miskin seringkali dikaruniai anak yang banyak, padahal ia sadar tidak mampu membiayai hidup anak-anak mereka, entah karena ia yang sering di rumah atau karena alasan lain, wallahu a'lam.
Jelasnya, orang miskin seringkali terjerumus dalam kesusahan, menderita, bahkan nyaris melakukan kejahatan jika kondisi sudah terjepit; semua itu serba mungkin, hanya menunggu saat-saat kesabaran habis, anak istri terus menangis, dan ia tidak memiliki apa-apa untuk dibelanjakan... lalu bagaimana Al-Quran menangapi kasus ini?. Inilah resep bersabar yang ditawarkan untuk anda, yaitu Istighfar. Memang istighfar tergolong dzikir dan secara lafdzi bukan sebuah doa, tapi memiliki efek yang besar dan manfaat yang luar biasa.فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
۱۰ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۱۱ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ
وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا١٢
"...aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-. Niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebatnya. Dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan Menyuburkan kebun-kebun dan mengalirkan sungai-sungai. [Qs Nuh : 10-12].
Syeikh Abdul Halim Mahmud dalam pengantar buku "ad-Dua al-Mustajab" menggolongkan istighfar pada bentuk doa-doa, lebih lanjut beliau menjelaskan tentang manfaat dan pengaruhnya, yaitu:
- Mendapat ampunan (maghfirah).
- Diturunkan hujan hingga kebun-kebun bertambah subur, memperlancar pengairan, rerumputan hijau dan sebagainya.
- Diberi rizki yang melimpah.
- Dikaruniai anak-anak yang shaleh. Lebih dari itu, Allah berfirman dalam surat Hud:. (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang sangat deras kepadamu, dan Dia akan menambahkan kekuatan melebihi kekuatanmu..." [Qs Hud : 53]
- Menambah kekuatan, baik fisik maupun mental.
- Alkisah, di salah satu daerah di kota Mesir, hidup seorang saudagar kaya yang shaleh, taat menjalankan agama dan alim. Suata saat, ia tertimpa musibah berat, area pertanian yang dimiliki kering, musim paceklik kian tak mau surut, ia sudah berusaha dengan segala upaya untuk mencarikan solusi atas musibah ini, tidak ada cara lagi yang harus ditempuh; nyaris pertaniannya hancur, rusak karena kehabisan air. Lalu, ia duduk ditengah-tengah lahan pertaniannya yang berhektar-hektar tersebut, sambil berkata: "Ya Allah, Engkau telah berfirman dan aku yakin firman-Mu benar, tidak pernah salah –dan ia mengutip penggalan firman Surat Nuh 10-11-. Aku ini ya Allah, memohon ampunan-Mu (beristighfar) mengharap curahan rahmat-Mu kepadaku".
- Kemudian ia membaca istighfar, selang beberapa jam ia terus membaca istighfar dengan niat yang tulus, yakin dan percaya penuh kepada janji-janji Allah, dan tiba-tiba langit mendung, kabut tebal menyelimuti awan, tak lama setelah itu hujan turun dengan lebatnya. Tidak dipungkiri, tatkala orang shaleh tertimpa bencana, ia akan merasa lemas, lesu dan tidak bernafsu lagi untuk berusaha lebih keras, tapi tidak membuatnya berputus asa dari rahmat-Nya, ia akan mengembalikan baik buruknya kepada Allah semata dengan jalan istighfar, terpenuhilah janji Allah dalam surat tersebut: "...dan Dia akan menambahkan kekuatan melebihi kekeuatanmu...".
- Mencegah kutukan dan siksa Allah kepada manusia....
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
۳۳
7. Nabi saw menambahkan dalam sebuah hadits:
Mungkin kini baru terdengar istighfar digunakan sebagai doa, padahal melihat maknanya sama sekali tidak memiliki kaitan erat dengan problem hidup manusia. Jangan salah memahami istighfar, sekilas memang demikian tapi kalau dikaji lebih dalam, maka inti dari dikabulkan doa berada dalam makna istighfar.
Logikanya begini, manusia itu adalah mahluk yang terlalu bodoh dengan hal-hal kecil, tiap perilakunya tidak pernah dipikirkan, kalau berbuat asal-asalan, bahkan tatkala ia berbuat dosa pun kadang ia tidak sadar bahwa apa yang dilakukan itu sama dengan mendurhakai Allah, lebih-lebih banyak yang berbuat sesuatu yang jelas-jelas salah dan dosa tapi malah dilanggar. Coba pikir, apakah anda meminta sesuatu kepada Allah dengan dosa, belepotan noda-noda penduhakaan; apa anda juga akan menghadap Allah dengan hati kotor!, anda minta dikabulkan doa dengan selalu melanggar perintah-Nya.
Ibarat anak kecil yang merayu orang tuanya agar diberi uang jajan, si orang tua kadang berpikir, menyaksikan kelakuan anaknya, jika anaknya patuh, taat dan tidak pernah menyusahkan orang tuanya, maka dipastikan ia akan diberi uang jajan, bahkan bisa lebih, tapi jika anak ini selalu membikin repot, jika disuruh selalu ada saja alasan untuk dilanggar, lalu apa anak ini akan diberi begitu saja!, jelas tidak, terkadang untuk memberi saja orang tua mencari-cari alasan bagaimana cara ia memberi uang jajan kepada anaknya dengan cara menyuruh untuk membelikan apa saja , uang itu sebagai imbalan.
Nah, bagaimana dengan anda, kita semua!!, berapa dosa dan pelanggaran yang kita lakukan setiap detik, berapa pula kecurangan yang selalu kita anggap enteng!, bahkan untuk menjalankan shalat saja, kita terkadang malas-malasan, ada saja alasan yang dibuat-buat. Lantas, apakah anda layak mendapat kebaikan, atau menghadap permintaan anda terkabul. Sangat lucu, tingkah laku manusia jika mau dipikir-pikir...
Selain itu, istighfar memiliki kekuatan besar untuk menghidupkan kembali motivasi dan semangat kerja dikala seseorang dilanda duka. Tidak percaya!, tatkala anda didera duka, merasa menderita tiap kali memikirkan hidup, lalu apa yang dialami?, jelas susah, bingung, bimbang dan sebagainya, dan kala itu apa yang anda butuhkan?, anda butuh pelampiasan, teman untuk diajak ngobrol membagi rasa duka, atau mengadu kepada siapa pun yang anda rasa cocok. Setelah anda mengadu, mengeluarkan segala uneg-uneg dan perasaan yang mengganjal di hati, apa yang anda rasakan?, lega, plong dan mungkin anda sedikit akan melupakan keresahan yang sebelumnya menimpa anda. Itu baru masalah kecil, hanya sekedar perasaan yang mengendap di hati lalu terbawa pikiran, akhirnya anda pun menjadi putus asa dan lemas tak bertenaga.
Pernahkah anda melakukan itu kepada Tuhan!, mengadu dan meminta, menangis sejadi-jadinya, melampiaskan semua ganjalan akibat himpitan hidup yang tidak bersahabat. Dan jika anda beristighfar disertai tangisan memohon, mengadu, meminta dan berhadap penuh kepada Allah!, maka janji Allah tidak akan pernah meleset, dijamin semua penderitaan akan hilang, hati terasa plong dan tambah bergairah dalam menghadapi hidup.
Satu lagi, kita beristighfar dengan perasaan kosong, hampa dan hanya isapan jempol. Mulut berkata tapi hati mendusta, lisan berkata 'ya' tapi hati berkata 'tidak', artinya anda penuhi pikiran dan hati dengan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan semua permintaan hamba-Nya. Keyakinan ini akan menghilangkan rasa ragu, tidak percaya, hilang rasa mantap di hati bahwa hidup ini berharga. Sehingga keesokan harinya, semua terasa baru, seakan dia baru menjadi kemanten baru, gairah hidup jangan sekali-kali dimusnahkan. Dan Allah memberikan rizki tidak dengan satu cara, tapi banyak cara yang terkadang kita tahu, tidak sadar, dan tersadarkan ketika ia mulai mengingat-ingat, inilah yang disebut rizki yang datang tak diduga-duga, rizki yang tidak disadari bahwa itu adalah rizki, baik kini ataupun nanti.
Lalu, misalnya, kita benar-benar diberi rizki, pemintaan tidak dikabulkan, cita-cita amblas dalam kegagalan padahal segala upaya sudah dilakukan, sampek jumpalitan mencari cara agar sukses, tapi bagi Allah semua itu tidak mungkin, janji Allah tidak akan meleset. Maka itu ingat firman ini:
فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ
"Maka bersabarlah kamu, karena Sesungguhnya janji Allah itu benar, mohonlah ampunan untuk dosamu, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu di waktu petang dan pagi." [Qs Mukmin: 55]
Kemurahan dan kasih sayang Allah sangat tidak terbatas kepada para hamba-Nya yang shaleh. Juga tidak akan menyia-nyiakan amal baik mereka, jikalau memang Allah tidak membalasnya di dunia, maka di akheratlah tempat keadilan akan dibeberkan, digelar parade agung diantar seluruh makhluk, termasuk setan dan antek-antenya, siapapun tidak akan berkutik dari pengadilan yang bertindak sebagai hakim adalah Allah ta'ala sendiri.
Apa mungkin, Allah tidak membalasnya di dunia?, sebenarnya tidak mungkin, hanya manusia saja yang buta, terlalu bodoh untuk memahami inti nikmat, jangan berpikir Allah tidak mengabulkan doa hamna-Nya, Allah tidak sejahat pikiran manusia.
Jika anda berkata: "oh, ternyata Allah tidak mengakulkan doaku..", anda salah dan keliru, Allah mewujudkan pengkabulan itu cara-Nya sendiri, tidak harus sama persis dengan bentu lahir dari sebuah permintaan, bisa berbentuk lain, bisa mengganti, bisa menambah, dan hanya Allah yang paling Tahu tentang hal terbaik baik manusia, maka dari ketidaktahuan anda, dianjurkan terus beribadah, berdzikir, beristighfar dan berusaha, diimbuhi dengan rasa syukur yang mendalam atas segala rizki dan nikmat yang sudah diterima.
Wallahu a'lam, hanya Allah yang Tahu kebenaran sejati dari ilmu-Nya.....semoga kita menjadi hamba-Nya yang bersyukur dan diberi kecerdasan memahami arti dari sebuah pemberian.
Penulis | Muhamad Abdullah Amir an-Naqshabandi.
- Al-Quran Al-Karim.
- Ahmad Abdul Jawad, "ad-Dua al-Mustajab Min al-hadits wa as-Sunah", ditashih oleh Syeikh Abdul Halim Mahmud (syeikh al-Azhar), Maktabah al-Adab, Kairo, 2006.
