Senin, 16 Oktober 2023

Polemik Terminologi Tasawuf

Para ilmuwan dan peneliti selalu mempermasahkan terminologi daripada fakta, sehingga memunculkan polemik yang tak berujung, terutama terma "Tasawuf". Dampaknya, tasawuf dikatakan keluar dari Islam, atau bukan lagi bagian dari ajaran ini Syeikh Muhamad Najmudin al-Kurdi, lebih jauh telah mempertegas kekeliruan konsepsi ini dengan menyatakan:

"Kalau kami ajukan pertanyan kepada seseorang, apakah sifat ikhlas, berperilaku dengan akhlak yang baik, urgen (penting) apa tidak!, apakah berusaha mencapai pincak keyakinan, urgen apa tidak!?, apakah berhiaskan diri dengan sifat-sifat mulia, mencegah diri dari sifat-sifat tercela, seperti sifat hasud, kufur, dengki, cinta dunia, suka jabatan dan kebiasaan buruk lainnya, berjuang membersihkan diri dari nafsu amarah, urgen apa tidak!?, baik apa tidak!? apapun tingkat dan kualitasnya. Khusyu’ dan merendahkan diri (khudlu’) dalam ritualita shalat, memohon dan mengharap kepada Allah ta’ala di dalam doa, introspeksi diri, cinta kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya, murni (tidak karena sesuatu) dalam bergaul antar sesama, jujur, dapat dipercaya (amanat), memperhatikan hak-hak hamba Tuhan, mampu mengikis nafsu, menahan amarah, apa semua ini menjadi tuntutan ataukah tidak!?.

Orang muslim yang tidak fanatik, akan menjawab: “Ya (semua itu baik dan mulia)”, bahkan lebih dari itu, sifat dan perilaku tersebut telah menjadi tuntutan. Kitab Allah ta’ala dan Sunnah Nabi-Nya dipenuhi dengan ajaran seperti ini, dianjurkan dan didorong agar dikerjakan. Nah, disini, akan kami katakan, bahwa jalan meraih sifat-sifat dan tujuan mulia tersebut adalah jalan yang menurut kebanyakan orang di era-era terakhir ini disebut “tasawuf”

Padahal, jika para ilmuwan itu mencermati esensi dan substansi perilaku, prinsip dan ajaran tasawuf, maka dapat mudah dipahami bahwa tasawuf secara historis merupakan nama lain dari sikap "Ikhsan".

Terminologi Tasawuf: Konsep Tarekat Naqshabandiyah

Bagaimana sikap Syeikh Muhamad terkait perubahan terminoligi ini, apa memang benar demikian. Beliau lebih tegas mengatakan: "Benar, kata tasawuf memiliki nama (sebutan) lain yang sudah ma’ruf (terkenal), namun nama yang paling masyhur adalah tasawuf itu sendiri. Di dalam istilah Al-Qur’an, kata tasawuf identik dengan kata “at-Tazkiyah”, dalam istilah Hadits disebut “al-Ikhsan”, sedangkan menurut istilah yang berkembang di kalangan Ulama’ Mutaakhirin disebut “Fiqhul Batin”. Semua istilah ini terdapat nash-nashnya, akan tetapi yang lebih terkenal adalah kata tasawuf. Kita tahu, bahwa setiap ilmu memiliki istilah-istilah tersendiri, namun yang terpenting adalah Ulama’ Mukhaqqiqin selalu mendasarkan pada tujuan (maqashid). Karena itulah, istilah yang paling masyhur di kalangan kaum Naqshabandi, adalah “Ya Tuhanku, Engkau adalah Tujuanku dan Ridla-Mu adalah permintaan-Ku”. Kata-kata inilah yang menjadi titik (puncak) seluruh tariqat sufi dalam pencarian dan tujuan mereka."

Kedudukan Tasawuf diantara Pilar-Pilar Agama

Jika tasawuf dipahami sebagai penjabaran dan manifestasi dari ikhsan, maka tidak sulit menemukan legalitas, serta kedudukan ikhsan dalam ajaran ini. Lebih lanjut Syaikh Muhamad Najmudin menyatakan: "Tasawuf telah menempati kedudukan mulia dalam agama ini, karena tasawuf tiada lain ialah ekspresi (atau perwujudan) penerapan maqam Ihsan secara praktis, sebanding dengan maqam Iman, yakni ajaran aqidah, juga maqam Islam, yakni ajaran syariat. Sesuai dengan bunyi nash dari sebuah hadis Nabi SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ، فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ، فَقَالَ: مَا الْإِيمَانُ؟ قَالَ: الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ، وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ. قَالَ: مَا الْإِسْلَامُ؟ قَالَ: الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ، وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ. قَالَ: مَا الْإِحْسَانُ؟ قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ، وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا، إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا، وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ، فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللهُ. ثُمَّ تَلَا النَّبِيُّ ﷺ : ﴿ إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ﴾ الْآيَةَ. ثُمَّ أَدْبَرَ، فَقَالَ: رُدُّوهُ، فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا، فَقَالَ: هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ.

Dari Abu Hurairah r.a berkata: pada suatu hari rasulullah tampak di tengah-tengah orang banyak. Lalu,ada seorang laki-laki yang datang kepada beliau seraya bertanya, ‘wahai rasul! Apakah iman itu? ‘beliau menjawab, ‘(iman adalah) hendaknya kamu beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-Nya, beriman bahwa kamu akan bertemu degan-Nya, beriman kepada rasul-Nya, dan kamu beriman dengan adanya hari kebangkitan di akhirat. ‘lelaki itu bertanya lagi, ‘wahai rasul! Apakah islam itu? ‘beliau menjawab, ‘hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kamu dirikan sholat wajib, kamu tunaikan zakat yang difardhukan, dan kamu lakukan puasa ramadhan, ‘laki-laki itu bertanya lagi, ‘ wahai rasul! Apakah ihsan itu? ‘beliau menjawab, ‘hendaklah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘wahai rasul! Kapankah hari kiamat itu? ‘beliau menjawab, ‘orang yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu daripada yang bertanya. Tetapi, akan saya beritahukan tanda-tandanya. Apabila budak wanita melahirkan majikannya, maka itulah Diantara tanda-tanda hari kiamat. Apabila orang-orang dahulunya menggembala ternak dengan kaki telajang telah menjadi pemimpin masyarakat, maka itulah Diantara tanda-tanda hari kiamat. Apabila para penggembala binatang ternak telah bermewah-mewahan dengan gedung-gedung yang megah, maka ituah Diantara tada-tanda hari kiamat. Ada lima perkara yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. ‘kemudian rasul membaca ayat 34:Lukman, sesungguhnya Allah mengetahui pengetahuan tentang kiamat. Dialah yang menurunkan hujan. Dia mengetahui apa yang ada dalam rahim, tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui (secara pasti) apa yang dikerjakan-Nya (Dialaminya) besok, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal. “kemudian laki-laki itu meninggalkan tempat itu. Lalu, rasul bersabda, ‘bawalah kembali laki-laki itu kepadaku!’ para sahabat pun berusaha membawanya kembali, tetapi mereka tidak melihat apapun. Maka rasul bersabda, ‘Dia itu adalah jibril yang mengajarkan agama kepada manusia.”

Referensi | Syeikh Muhamad Najmundin al-Kurdi | Ad-Dalail al-'Aliyah | Hal: 12-32

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait