Dampak tasawuf sangat besar bagi seorang muslim yang ingin mendekatkan diri kepada Allah ta'ala, karena keterkaitan antara tasawuf dan dzikir sangat kuat, seperti ikhsan yang menjadi pilar-pilar agama. Lalu, apakah hal ini menjadi wajib hukumnya seseorang bertasawuf?
Syeikh Muhamad Najmudin al-Kurdi menjawab: "Apabila yang dimaksud dengan tasawuf adalah ekspresi menghiasi diri dengan kebaikan dan menjauhkan diri dari keburukan, maka berhukum fardlu ’ain bagi setiap orang Islam, laki-laki dan perempuan yang mukallaf. Apabila yang dimaksud adalah menggabungkan diri dengan salah satu thariqat sufi yang benar dan silsilah sanadnya tersambung kepada Rasulullah saw, maka hukumnya sunah. Apabila yang dimaksud adalah menjalankan apa yang telah dijanjikan murid thariqat dihadapan seorang Syaikh, maka berhukum wajib, karena alasan tertentu yang mewajibkannya, yaitu menepati janji (bai’at). Adapun penerimaan seorang Syaikh untuk membaiat seorang murid dan mentalqinkan dzikir atau wirid kepadanya, maka ini diserahkan kepada kebijakan Allah ta’ala, sikap sang Syaikh berhukum sunah, diberi pahala jika ia menjalankan dengan baik, dan tidak berdosa jika ia meninggalkan ataupun menolak.
Jika anda termasuk orang yang diberkahi Allah ta’ala memperdalam ilmu-ilmu agama (tafaquh fi ad-Din), maka pertama kali yang harus anda lakukan adalah mengabungkan 2 kebaikan, yaitu ilmu syariat (fiqih) dan ilmu tasawuf, serta mengerjakan isi nasehat Imam Syafi’i dimana beliau telah mengatakan:
فَذَلِكَ قَاسِ لَمْ يَذُقْ قَلْبُهُ تُقًى --o0o-- وَهَذَا جَهُوْلٌ كَيْفَ ذُوْ الجَهْلِ يَصْلُحُ
Jadilah Faqih sekaligus Sufi, jangan jadi salah satu.. Demi Allah aku menasehatimu!
Faqih saja, tak bertaqwa, keras hatinya.. Sufi saja, tak berilmu, bagaimana bisa baik selalu?
Jika pertanyaan “apakah seorang muslim wajib bertasawuf” ini, yang maksud adalah tasawuf ialah syarat seseorang masuk surga, maka hal itu sama sekali tidak benar. Karena menurut kami, penganut Ahli Sunah dari kelompok Asy’ari dan Maturidi, bahwa setiap muslim, cepat atau lambat, pasti akan masuk surga —tidak terkecualikan— kelak di Hari Kiamat. Sebagian ada yang mampir dulu ke neraka sebelum masuk surga, atau ia langsung memasuki surga, sesuai tingkatan masing-masing.
Tetapi, yang kami maksud adalah seyogyanya anda bertasawuf sampai anda termasuk golongan sabiqun as-Sabiqin, yaitu orang-orang yang lebih dekat dengan surga na’im. Firman Allah ta’ala:
“Dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka Itulah yang didekatkan kepada Allah.” (Qs. Al-Waqi’ah: 7-11)
Karena, kaum sufi termasuk kelompok orang-orang islam juga, bahkan lebih dari itu mereka boleh dibilang Khasatul Khas (orang terpilih dari kaum pilihan) dari pengikut agama ini, yang senantiasa ikhlas karena Allah ta’ala dalam riyadhah dan ibadah mereka, memiliki tekad kuat dalam bermu’amalah dengan Sang Khaliq, berjalan dengan penuh tawadlu’ dan kehalusan budi pekerti dikala bergaul antar sesama makhluk. Kelompok yang terus berusaha tanpa mengenal lelah, berupaya keras tak bosan-bosan, demi mewujudkan makna as-Sabiq dan al-Qurb seperti yang tertera pada ayat di atas. Jika disebutkan ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits-hadits Nabi saw seperti hadits yang berkisah tentang berita gembira, misalnya “firqoh najiah” (kelompok yang kelak selamat), maka lisan mengatakan: kami berharap bear semoga kita yang termasuk kelompok tersebut. Dan jika mereka menemui ayat-ayat ancaman dari Tuhan atau hadits-hadits berisi peringatan, maka lisan mereka selalu berdoa memohon perlindungan Allah ta’ala dari ancaman tersebut. Semua ini, cukup dijadikan sebab bagi anda untuk bertasawuf.
Catatan Tipologi Jiwa Manusia
Ketahuilah, bahwa jiwa manusia itu terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:
Pertama, jiwa yang diciptakan yang ‘tersadarkan’ (mutayaqidhah) menurut esensi (dzat)nya, secara fitrah selalu menghadapkan diri kepada Sang Khaliq, dan berpaling dari selain Allah ta’ala. Inilah jiwa para Nabi dan orang khas dari orang-orang suci; jiwa yang tersinari Nur Allah yang Haq, menarik dan menyemayamkan di sisi-Nya. Jiwa ini disebut, “Nafs Muthmainah”.
Kedua, jiwa yang secara total berpaling dari Allah ta’ala, dikalahkan oleh sifat mencintai segala hasrat inderawi (berupa harta benda, dunia, jabatan, dll), dan syahwat jasmani demi ingin memuaskan angan-angan (al-Wahm) nafsu; mengingkari kenikmatan rohani (spiritual) dan persepsi akal (rasional perception). Inilah jiwa-jiwa orang yang sakit dan celaka (asy-Syaqi), jiwa yang terhijab dan tersingkirkan dari sisi Allah ta’ala, hampir tidak ada cara untuk menyelamatkan jiwa seperti ini. Jiwa ini disebut “Nafs Amarah”.
Ketiga, jiwa yang suka merespon hasrat inderawi, dalam porsi yang ‘sedang-sedang saja’ (sewajarnya), dan tidak hanyut secara total, namun kekuatan jiwa ini masih dalam posisi tersadarkan, tercerdaskan, masih bisa memikirkan makna-makna aqli di alam pikir, mencari nilai-nilai yang mulia dan menjauhkan diri dari nilai-nilai yang tercela. Jiwa ini, memiliki 2 sisi: pertama, ‘sisi atas’ sesuai kadar kesadaran yang dimiliki; kedua, ‘sisi bawah’ sesuai kadar hasrat menuruti nafsu syahwat, yang terakhir disebut “Nafs Lawamah”. Jiwa ini, walaupun terhijab dari beberapa hakikat robbani, tapi masih mungkin bisa disucikan dengan jalan riyadhah dan direkatkan dengan kelompok su’ada’ (orang yang diberkahi Allah ta’ala); kelompok terakhir ini berisi orang-orang bisa merasakan tingkatan suluk dan merekalah yang kami maksud dalam buku ini.
Sebab, kelompok pertama, sama sekali tidak membutuhkan perilaku suluk, lantaran Allah ta’ala sendiri yang menghendaki dan memilih mereka, serta diistimewakan dalam inayah-Nya. Sedangkan, kelompok kedua, mereka sudah tercetak, terlahir menjadi orang sakit (Syaqi), tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah ta’ala —semoga kita tidak termasuk golongan ini, wal ‘iyadh billah—. Dan, untuk kelompok ketiga, ‘ashabul riyadhah’ (ahli olah jiwa dan spiritual), karena pada dasarnya mereka adalah berhati bersih dan suci, tapi tertimpa kegelapan akibat gangguan dari luar (‘aridh, tidak asli), gangguan ini bisa dihilangkan selama tidak menguasai jiwanya, apalagi jika jiwanya masih bisa menerima kebaikan dan tidak terkalahkan oleh kejahatan, jiwa ini bagaikan cermin yang bersih, kejernihan kacanya masih bisa dipertahankan selama barang itu tidak berkarat sampai merusak kaca.
Kini, kami akan berusaha mengabarkan ‘bagaimana cara melakukan suluk, pada kelompok ini, dengan jalan riyadhah’ —melalui materi-materi yang dijelaskan dalam buku ini—, sampai jiwa mereka menjadi bersih dan mampu bertaraqqi (menanjak ke tingkat yang lebih tinggi), kemudian menyambungkan jiwa ini, dengan cara memunculkan rasa rindu (syauq), kepada perwujudan keindahan Hadrah Ilahiyah dan menyaksikan Nur Ilahi yang Suci, dengan menggunakan bahasa sesederhana mungkin, insya Allah.
Referensi | Syeikh Muhamad Najmundin al-Kurdi | Ad-Dalail al-'Aliyah | Hal: 12-32