Ibadah puasa di bulan Ramadhan itu sangat spesial di sisi Allah ta’ala, sampai-sampai hanya Allah saja yang mengetahui besar (kelipatan) pahala puasa ini, bukan berarti tidak diberi pahala oleh Allah, tapi justru karena banyaknya pahala itu yang tak terhitung, sehingga tidak cukup dengan kata-kata atau bilangan. Mungkin kita akan bertanya-tanya, kok bisa!, atau apa yang membuat seperti itu!.
Nah, disini kami akan menjelaskan sedikit tentang rahasia puasa untuk menggali betapa besar pahala di bulan suci ini.
1. Sebab Pahala Berlipat-lipat
Kelipatan pahala itu bisa ditentukan oleh tempat, seperti jika seseorang shalat di Masjidil Haram (yakni Makkah dan Nabawi di Madinah), maka pahala shalat itu akan dilipatgan- dakan melebihi pahala shalat yang dilakukan di mesjid lain. Seperti sabda Nabi saw: “Menjalankan shalat di mesjidku ini (Mesjid Nabawi) jauh lebih baik daripada 1000 kali shalat di mesjid lain, selain Masjidil Haram” [HR. Bukhari Muslim].
Begitu pula, jika berpuasa di tanah suci, dari Ibnu Abbas ra: “Barangsiapa menemui bulan Ramadhan di Makkah, lalu ia berpuasa di sana, dan ia melakukan sebuah amalan, maka Allah akan mencatat pahala baginya sebanyak ia beribadah 1000 bulan ramadhan di luar Makkah” [HR. Ibnu Majah] Berpuasa di bulan Ramadhan saja sudah berpahala banyak, apalagi jika dilakukan di Tanah Suci, Makkah.
Kelipatan pahala juga bisa ditentukan oleh waktu, seper- ti bulan Ramadhan dan 10 hari bulan Dzulhijjah, atau bulan lain yang telah disebutkan keutamaannya dalam hadits. Suatu saat, Nabi saw pernah ditanya: “Adakah sedekah yang paling mulia?. “Ada” jawab beliau, “yaitu sedekah di bulan suci Ramadhan”, lanjutnya [HR. Tirmidzi]. Diriwayatkan dalam hadits lain, beliau pernah bersabda: “Menjalankan ibadah Umrah di bulan Ramadhan itu sebanding dengan ibadah haji” [HR. Bukhari Muslim], bahkan dinyatakan dalam sebuah riwayat: “...sebanding dengan haji bersamaku (yakni Rasulullah)”. Dan masih banyak lagi...
Jika saja kita mau menjadi muslim yang tahu diri, maka kita akan selalu terdorong untuk bersyukur dan berbakti kepada Tuhan yang memberi rizki dan nafas yang kita pakai beraktifitas sehari-hari dengan cara memanfaatkan peluang besar untuk membuktikan diri bahwa kita adalah hamba sejati. Allah telah membuka lebar-lebar peluang pahala yang tak terhingga di bulan suci ini, akankah kita buang percuma! ataukah kita akan semakin giat menunjukan bahwa kita juga berhak atas pahala-pahala itu. Maka dari itu, perbanyak beramal, bersedekah, berbuat baik di saat anda lapar dan dahaga, agar kita sendiri juga merasakan seperti yang mereka (orang miskin) rasakan. Banyak orang tidak mau membantu orang kelaparan gara-gara dia sendiri tidak pernah mencicipi kepahitan dan derita hidup akibat kesusahan mencari ma- kan. Dan puasa memberikan anda pelajaran untuk ikut serta merasa prihatin atas derita dan tangis saudara kita, dengan keyakinan bahwa pahala surga sedang menanti anda.
2. Kesabaran
Jika seseorang ingin hidup layak dan berarti bagi diri, ke- luarga dan masyarakat, maka dasar sikap yang harus ditem- puh itu –seyogyanya– mengarah pada inti ‘pengendalian diri’, dengan cara melatih diri untuk bersabar, mengekang kehendak dan keinginan sepihak, menahan diri agar tidak terlalu menuruti segala keinginan, apalagi harus terbawa emosi dalam menanggapi berbagai masalah. Berpuasa adalah cara efektif dan solutif untuk melatih kesabaran diri ini. Sebab di dalam puasa ini terdapat 3 inti pengendalian diri, hanya berbeda sisi saja, jika seseorang mampu belajar ber- puasa dengan baik dan jujur, lalu mempraktekkan apa yang telah didapat dan dilatihnya saat berpuasa, maka perjalanan hidupnya akan terarah dan terkendali.
Inti ibadah berpuasa terletak pada upaya melatih serta meningkatkan kesabaran (pengendalian diri), dan hal itu terdapat 3 bentuk: sabar menjalankan ketaatan kepada Allah; sabar menjauhi larangan Allah ta’ala; dan yang ketiga, sabar menanggung resiko dari kodrat Tuhan yang lara; ketiganya terwujud dalam puasa. Artinya, ketika anda berpuasa, anda sedang menjalani puncak kesabaran dari 3 bentuk diatas. Sabar menjalankan ibadah dari pagi hingga petang, sabar dari mengekang nafsu serta hal-hal yang membatalkan puasa, lalu sabar menahan resiko berupa rasa lapar, dahaga dan tubuh yang lemas; derita yang terlahir dari kepatuhan ini akan melahirkan pahala dan cinta Tuhan. Sikap anda ini, tidak ada bedanya dengan sikap para pejuang (mujahid) di jalan Allah, bukan orang-orang yang hanya bisa berpangku tangan, tidak pernah mencicipi semangat berjuang, “...kare- na mereka tidak pernah ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah” [Qs. Taubah 120]. Tentang keuta- maan bulan Ramadhan ini, tertuang dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Khuzaimah, yang katanya: “Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan sabar itu berpahala surga”.
Banyak orang merasa puas dengan sabar menahan lapar dan dahaga dalam ibadah puasa, dan melupakan sisi lain yang lebih berharga, padahal dibalik semua ini terdapat hikmah (faedah) yang luas biasa, yang tidak boleh di- lupakan, yaitu belajar mengendalikan diri. Jangan diabaikan bahwa dalam berpuasa itu tersembunyi suatu proses peng- gemblengan mental, tidak hanya fisik, sehingga banyak orang mengira bahwa ketika puasa itu selesai, semua diang- gap selesai, seakan tidak ada efek atau imbas kongret yang bisa dinikmati setelah itu; dan ini salah.
Berpuasa berarti belajar berkomitmen, disiplin, jujur, terbuka dan menghormati hak-hak orang lain. Selama ini anda telah menyatakan diri seorang muslim, di saat anda berpuasa, anda dituntut untuk membuktikan pernyataan ke- musliman anda, belajar memegang janji kebaktian, menahan lapar dan dahaga untuk membuktikan bahwa anda hamba Tuhan, walaupun harus menaggung derita lapar ini.
Diharapkan, anda juga terus mengambil manfaat dari sikap ’komitmen’ ini dalam segala hal, terutama di saat men- jalani hidup, atau kala bergaul dengan siapapun. Dan di era sekarang, tidak sedikit orang tidak bisa berkomitmen ter- hadap ucapan dan janjinya. Sudah berjanji tidak korupsi, malah korupsi; hal ini membuktikan bahwa orang itu sama sekali tidak bisa belajar mencerna puasa, alias tidak mampu mengendalikan diri dengan jujur. Dalam lika-liku hidup, tidak ada yang lebih berharga selain komitmen dan pengen- dalian diri. Apabila seseorang berkomitmen tanpa pengen- dalian, maka sebuah perilaku akan berjalan nggloyor, asal berbuat tapi tidak berjalan baik (normal); begitu juga sebuah pengendalian tanpa komitmen, maka perilaku tidak akan bisa langgeng atau berjalan lama.
Ibnu Qayim al-Jawzy, dalam ’Idatu Shabirin wa Dakhira Syakirin menjelaskan, “sabar adalah pertarungan antara akal sehat dengan nafsu, agama dengan hasrat keduniaan, dan keduanya berusaha saling mengungguli. Cara yang ditem- puh adalah memperkuat siapa yang ingin menjadi peme- nang. Jika akal sehat itu lebih unggul, maka anda menang, dan jika sebaliknya maka anda kalah, sebab kala itu anda telah menunjukkan diri sebagai manusia paling lemah.
Dan puasa akan memberi anda pelajaran bagaimana menjadi orang kuat, tahan banting, walaupun ia didera sakit dan lara bertubi-tubi, ia masih tetap tegar, berdiri tegak dan bersikap dewasa dalam menanggapi perlbagai masalah, tidak terbawa emosi dan tidak mudah hanyut dalam lara.
3. Kenikmatan Berpuasa
Watak manusia adalah ingin selalu menuruti dan dituru- ti segala yang diinginkan seketika, baik berupa makanan, minuman atau hasrat lainnya. Jika sesuatu yang diinginkan itu dicegah untuk beberapa waktu, lalu dikabulkan di waktu yang lain, maka kala itu juga ia akan merasa sangat bahagia dan nikmat. Ibarat seseorang yang sedang berdiet, atau sedang melakukan terapi psikis dan fisik, demi sebuah tujuan, maka di saat terapi itu selesai (sembuh), lalu tiba-tiba segala impian yang selama ini dilarang ternyata diperboleh- kan, maka jelas sekali bahwa rasa nikmat makanan itu men- jadi berbeda dan nampak lebih spesial. Itulah yang terjadi saat anda berpuasa, dikala anda dalam kondisi terdesak, lapar dan dahaga padahal apa yang anda inginkan itu telah tersedia, lalu anda belajar bersabar, sebab anda tahu bahwa kelak akan menikmatinya, yaitu saat anda berbuka. Inilah kenikmatan pertama berpuasa secara fisik.
Apa yang bisa diambil dari semua ini!, yaitu daya tahan secara emosioal serta pengendalian diri secara mental akan menjadi tumpuan anda untuk meraih kebahagiaan, apapun bentuknya. Kesuksesan itu tergantung pada perilaku anda menjaga diri agar tidak mudah tergoda, goyah, terbujuk oleh hal-hal yang bisa mengganggu kelancaran misi anda. Sering- kali orang merasa tergiur oleh hasrat nafsu yang bukan menjadi tujuan dan mudah hilang, padahal tujuan itu masih jauh menanti anda. Maka itu, belajarlah bersabar demi tujuan yang lebih besar dan mulia dalam hidupmu.
Dan kedua, kelak di akhirat anda akan diberi kesempatan bertemu Tuhan, sebuah kehormatan besar bagi seorang hamba bertemu Tuannya. Semua itu berkat kepatuhan anda menjalani perintah dan puasa adalah lahan bercocok tanam paling efektif karena hasil panen yang luar biasa.
4. Bau Mulut orang Berpuasa
Mulut orang berpuasa itu biasa keluar bau tidak enak, udara yang keluar akibat lambung tidak menerima makanan, bibir kering sedikit cairan karena sedang menjalani puasa. Bau ini biasanya tidak disukai oleh manusia, tapi berbeda dengan Allah, Dia sangat menyukai bau mulut orang ber- puasa dan bagi-Nya bau ini seperti misik, bahkan lebih harum, lantaran bau ini terlahir dari sikap kepatuhan dan pengabdian demi mencari mencari ridlo dan cinta Tuhan. Kelak di Hari Kiamat, bau mulut inilah yang akan menjadi saksi hidup ketaatanmu kepada-Nya. Atas dasar ini pula, para ulama menghukumi makruh bersiwak bagi orang yang sedang berpuasa.
Sama halnya, dengan darah orang yang mati syahid, kelak darah itu akan menjadi saksi hidup baginya di hada- pan Allah, dan dianjurkan, jika ia mati agar dikuburkan be- serta darah dan pakaian yang melekat pada tubuh, sebab semua ini juga akan menjadi saksi.
Hakikat cinta itu sebenarnya terletak pada sejauhmana anda membuktikan kepatuhan itu kepada yang dicinta. Dan, untuk merebut cinta Allah, tiada lain adalah menjalani ketaatan itu sendiri, dengan menanggung segala resikonya. Allah tidak melihat rupa anda, tapi hati dan perilaku.
Ditambah lagi, disini juga tersembunyi dorongan kuat untuk bersabar menanggung resiko ‘bau mulut’ di mata umum. Dipercaya atau tidak, bau mulut itu akan semakin te- rasa menyengat di mata orang lain, bukan dirinya, sehingga berefek pada sikap (respon) anda dalam menanggapi masa- lah ini, apakah anda akan marah, emosi atau tenang-tenang saja! Disini, anda belajar menyadari diri untuk bisa bersabar menanggapi kekurangan diri; artinya, orang itu paling pintar berkomentar tentang kekurangan lain, tapi tidak pandai mencerna kekurangan diri, kadangkala ia lebih bersikap paling benar dan orang lain salah, padahal pada saat itu dia sendiri yang berada dalam posisi bersalah. Dalam berpuasa ini, anda diminta mendalami sikap ’tahu diri’ .
Jika ingin selamat, maka langkah terbaik adalah tutup mulut atau diam agar bau mulut itu tidak terhirup orang lain. Itu artinya, anda belajar menahan diri dari penyakit lidah, seperti mencaci maki, hasut, iri, dengki, berbohong dan sebagainya. Coba anda hayati hadits ini:
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, bahwa Nabi saw pernah bersabda: “Puasa adalah perisai (alat membentengi diri agar mampu bertahan dalam upaya pengendalian diri) ; apabila salah satu kalian berpuasa maka jangan sekali-kali berlaku rafats (yakni, bersikap atau berucap yang dapat menimbulkan birahi, hasrat nafsu seks, keji dan nista) dan tidak berperilaku dan berkata-kata yang bertentangan dengan kebenaran dan kebaikan. Jika seseorang diperangi (diajak tawuran) atau dicaci maki, maka katakan: “Aku sedang berpuasa, aku berpuasa”. [HR. Abu Daud]. Artinya, katakan: “Aku sedang mengenda- likan diriku, bertahan dan bersabar dalam lapar demi suatu tujuan mulia”. Jika anda bisa melakukan ini, maka pada hari-hari berikutnya, semua usaha anda akan didasari dengan pengendalian diri, ketahanan tubuh dan mental yang kuat.
Jika anda masih saja berceloteh tentang keburukan orang lain disaat berpuasa, maka sebenarnya anda tidak jujur pada diri sendiri bahwa anda sedang berpuasa.
Penulis | Muhamad Abdullah Amir an-Naqshabandi