Senin, 16 Oktober 2023

Relasi Tasawuf dan Dzikir dalam ajaran Naqshabandiyah

Tasawuf memiliki kedudukan penting dalam ajaran agama ini, lalu sebagian orang mempertanyakan esensi hubungan tasawuf dengan dzikrullah. Sejatinya, sejauhmana relasi keduanya dalam pandangan kaum sufi?

Syeikh Muhamad Najmudin al-Kurdi qs menjawab: "Ketika berbicara tentang kedudukan tasawuf dalam Islam, kami katakan bahwa tasawuf tiada lain ialah ekspresi (atau perwujudan) penerapan maqam Ihsan secara praktis, sebanding dengan maqam Iman, yakni ajaran aqidah, juga maqam Islam, yakni ajaran syariat. Selanjutnya, kami tambahkan disini, tatkala zikir adalah menyebut dengan lisan dan mengingat dengan hati lafadz-lafadz yang paling dicintai Allah ta’ala seperti bacaan tasbih, tanzih, hamdalah serta pujian kepada-Nya, dimana Allah  telah mewajibkan para hamba agar selalu berdzikir (mengingat) Allah ta’ala —sebagaimana sebuah riwayat dari Ibnu Jarir at-Thabari dari Qatadah dalam tafsirnya— pada saat menjalani kesibukan atau terjun di medan perang, terluksi dalam firman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ الأنفال : ٤٥

“ Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Qs. Al-Anfal: 45)

Maka, tidak diragukan lagi, bahwa dzikir adalah sarana (media) yang kuat untuk sampai kepada maqam Ihsan, yang identik dengan perilaku tasawuf serta mematuhi ajaran sufi; satu sama lain tidak saling terpisah.

Sebab itu, tidak aneh, jika seluruh Ahli Tasawuf sepekat, bahwa dzikir adalah pilar yang menopang praktik tasawuf, di dalam setiap saat, duduk, berdiri atau tidur rileks.

Hakim at-Tirmidzi pernah berkata: “Dalam dzikir kepada Allah ta’ala, terdapat 5 hal penting, yaitu: ridla Allah ta’ala, kehalusan hati, bertambah kebaikan, terjaga dari gangguan setan dan tercegah dari perbuatan maksiat.”

Dzikir memiliki 3 maqam, yaitu: dzikir dengan mulut (bil Lisan), ini cara dzikir orang awam; dzikir dengan hati (bil Qalb), cara dzikir orang khas; dzikir dengan ruh (bil Ruh), cara dzikir orang khas dari para ulama’ khas, inilah bentuk dzikir ulama’ arif billah, karena hanyut (lenyap) dalam dzikrullah, kesaksian mereka kepada Sang Dzakir (Allah ta’ala) dan berkat anugerah-Nya kepada para hamba.

Macam dan bentuk (sighat) dzikir nungkin tidak sama, tapi sasaran dzikir (al-Madzkur) tetap satu, tidak terbilang dan tidak terbatasi; Ahli Dzikir adalah para Kekasih Allah yang Haq dari sisi kedekatan, atau keterkaitan.

Dzikirnya Allah ta’ala adalah kedekatan dengan seorang hamba, dan kedekatan disesuaikan dengan sejauhmana usaha (upaya) hamba mendekatkan diri kepada-Nya. Tersebut dalam sebuah hadits qudsi:

« أَنَا مَعَ عَبْدِي حَيْثُمَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ » رواه الطبراني و ابن حبان

“Aku bersama hamba Ku ketika ia mengingat Ku dan bergetar bibirnya menyebut nama Ku”. (HR Thabrani dan Ibnu Hibban)

Sebuah riwayat menyebutkan, bahwa Nabi saw pernah bersabda:

« وَمَا مِنْ يَوْمٍ وَلاَ سَاعَةٍ إِلاَّ وَلِلّٰهِ فِيْهَا صَدَقَة يَمُنُّ بِهَا عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عبَادِهِ ، وَمِا مَنَّ عَلَى عَبْدٍ بِشَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ أَنْ يُلْهِمَهُ ذِكْرَهُ »

Ibnu Abbas ra mengatakan; “Waktu siang dan malam itu terhitung sebanyak 24 jam, dan jumlah dari kalimat لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ sebanyak 24 huruf, barangsiapa membaca kalimat tersebut, maka setiap hurufnya akan menghapus dosa selama 1 jam, apabila dibaca sekali dalam sehari maka dosa-dosa itu akan hilang tak tersisa. Lalu, bagaimana dengan orang yang memperbanyak mengucapkan لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ dan menjadikan aktifitas (rutinitas) kesehariannya!.

Sederet hadits-hadits Nabi saw yang berbicara tentang dzikir dan keutamaanya, yang kita dapati, diantaranya:

1. Riwayat Abu Darda’ radhiyallahu 'anhu:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَرْضَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِعْطَاءِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَمِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ، فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ، قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ ﷺ ؟ قَالَ: ذِكْرُ اللهِ

Dari Abu Darda’, bahwa Nabi saw pernah bersabda: “Maukah kalian saya beritahukan tentang sebaik-baik amalan kalian, yang lebih dicintai oleh Rabb kalian, lebih mengangkat derajat kalian, dan ini lebih baik bagi kalian daripada kalian bersedekah dengan emas dan perak, lebih baik daripada kalian berperang dengan musuh-musuh kalian kemudian kalian tebas batang leher mereka atau mereka menebas batang leher kalian?” Para sahabat bertanya, “Apakah amalan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Berzikir kepada Allah.”

2. Riwayat Anas radhiyallahu 'anhu:

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ : "يَقُولُ اللهُ أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ ذَكَرَنِي يَوْمًا أَوْ خَافَنِي فِي مَقَامٍ"

Dari Anas ra, dari Nabi saw, beliau bersabda : “Keluarkanlah dari neraka orang yg mengingat-Ku pada suatu hari atau takut kepada-Ku pada suatu tempat.”

3. Riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ، يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

Dari Abu Huraira ra, ia mengatakan: Nabi saw pernah bersabda: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku maka Aku akan mengingatnya. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu kumpulan orang, maka Aku akan mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatkan diri kepadanya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dalam keadaan berlari.”

4. Riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ ﷺ ، مَا غَنِيمَةُ مَجَالِسِ الذِّكْرِ؟ قَالَ: غَنِيمَةُ مَجَالِسِ الذِّكْرِ الْجَنَّةُ

Dari Abdullah bin 'Amr, dia berkata, aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apa ghonimah (Ganjaran) majelis-majelis dzikir? Beliau menjawab: "Ghonimah (Ganjaran) majelis-majelis dzikir adalah surga.”

Maulana Amin al-Kurdi pernah mengatakan bahwa Syaikh Abu Sa’id al-Kharaz berkata: “Apabila Allah ta’ala ingin mengmbil seseorang menjadi hamba-Nya, maka Allah ta’ala akan membuka pintu dzikr (mengingat Allah); apabila ia sudah bisa merasakan nikmatnya dzikir, maka Allah ta’ala akan membukakan pintu Qurb (kedekatan diri kepada Allah). Selanjutnya, Allah ta’ala akan mengangkat ke Majlis Uns, dan mendudukannya di atas Singgasana Ketauhidan, menyingkapkan tabir (hijab), memasukan ke dalam Darul Fardaniyah (Keesaan), lalu menguakkan kepada si hamba hijab Kemuliaan dan Keagungan Ilahi. Apabila matanya sudah menyaksikan Keagungan Ilahi, maka ia menjadi bukan dirinya; pada saat itu seorang hamba memasuki alam fana’ billah, berada dalam perawatan Tuhan, dan bebas dari pengakuan dirinya”.

Referensi | Syeikh Muhamad Najmundin al-Kurdi | Ad-Dalail al-'Aliyah | Hal: 12-32

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait