Dimanapun, kapanpun dan dalam hal apapun, kebenaran tetap kebenaran, bahkan sampai ribuan abad sekalipun, sebuah kebenaran tidak akan musnah; itulah kebenaran sejati. Kata orang kebenaran itu nisbi (relative) dan tidak ada kebenaran mutlak (absolute); benarkah demikian?. Jika ditelaah ulang, ucapan ini tidak seluruhnya benar, sejatinya kebenaran itu ada, yaitu Kebenaran Tuhan.
Kebenaran nisbi itu lahir dari upaya manusia mengenal dan memahami sesuatu dengan akalnya, tapi akal itu lemah dihadapan kebenaran agung, yaitu kebenaran Tuhan. Apakah itu?, itulah Kebenaran Wahyu (Qur'ani), hanya saja wahyu Tuhan yang dilimpahkan kepada manusia tidak satu, tapi banyak, sesuai dengan kepada siapa wahyu itu diturunkan, yang disebut Al-Kitab. Al-Quran, Injil, Zabur, dan Taurat juga disebut Al-Kitab, lalu alkitab mana yang paling benar?
Sebagai orang islam, Al-Quran adalah wahyu Tuhan terakhir yang diturunkan kepada Muhammad saw, sebagai pembenar, pelengkap, mengoreksi serta merevisi ajaran sebelumnya; neraca agung untuk mempertimbangkan nilai benar-salahnya kitab Taurat, Zabur, dan Injil. Dan umat ini dianjurkan, setidaknya mau meluangkan waktu untuk mengkaji Al-Quran guna mencari dan menelusuri kebenaran sejati yang tertuang dalam tiap ayat dan surat qur'ani. Sejauh ini, umat Islam Indonesia selalu berkata, Al-Quran itu benar, dan isinya penuh dengan kebenaran, tapi sangat sedikit orang yang mau membuktikan ucapannya tersebut.
Nah, majlis ini akan diajak melakukan pembuktian ayat Al-Quran, demi mengamalkan firman Tuhan yang berbunyi:
"Maka, apakah mereka merenungkan Al-Quran? Dan jikalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya." (Qs An-Nisa' : 82); adakah pertentangan dalam Al-Quran yang membuktikan kebenarannya, atau semua ayat tepat, tersusun rapi dan cermat, sangat akurat yang membuktikan bahwa qur'an dari wahyu Allah. Bagaimana dengan Al-Kitab lain?, hanya waktu dan kenyataan yang akan menjawab...
Ayat di atas turun berkenaan dengan perilaku orang munafik (orang durhaka). Diantara tanda-tanda orang munafik, jika berbicara, ia berdusta; jika berjanji, tidak ditepati dan jika dipercaya, ia berkhianat. Artinya, antara ucapan dan perbuatan tidak sejalan, lalu apa yang melatarbelakangi sikap munafik?, ego, ke-aku-an, merasa diri paling bisa, paling mampu dan paling tahu, padahal mereka sama sekali tidak tahu, hanya berlagak tahu atau sok tahu, dan jika dibuktikan ucapan mereka ternyata bohong, tidak realistis, yang muncul hanya kepalsuan belaka. Mereka tertipu oleh ucapan sendiri, kebodohan dan kedunguan sendiri, tragisnya bahwa mayoritas mereka tidak menyadari
Sebab itu mereka ditegur, disadarkan oleh Allah agar mengoreksi diri dan mau merenungkan Al-Quran, jika mau melakukan itu, niscaya mereka akan mengetahui kebenaran Allah dalam tiap firmanNya. Dan ayat diatas juga berlaku bagi kita, sebuah anjuran umum untuk merenungkan ayat-ayat Al-Quran.
Mari kira lihat ayat di atas, kenapa Allah memilih kata "tadabbur" (renungan), bukan "tafakkur" (berfikir), "ta'aqul" (penalaran) atau lainnya?, rahasia kata tadabur dalam ayat ini, sangat luar biasa. Syeikh Mutawalli Sya'rawi dalam sebuah tafsirnya berkata:
"Tadabbur, adalah segala yang masuk ke dalam akal (otak), lalu diolah, dan digodok. Selanjutnya, dipikir secara serius untuk menyelidiki bukti-bukti kebenaran; ini langkah awal. Jika anda telah mendapati bukti itu nyata, maka lihat dan perhatikan hasil akhir yang anda dapati, walau tidak anda amalkan. Artinya, lihatlah hasil akhir dari yang anda temui, misalnya ketika Rosul memberitahu anda bahwa Tuhan itu Esa, carilah dalil-dalil dan bukti-bukti dengan pikiranmu, jika sudah selesai dan anda temui kebenaran itu, maka imani bahwa memang Tuhan itu Esa. Jangan anda katakan itu masalah skeptis-sophistik (keraguan ala kaum Sophis, atau gagasan yang meragukan), -karena- tatkala anda tidak mencermati nilai akhirnya, apa yang akan terjadi jika anda tidak percaya Tuhan itu Esa!, jelas anda akan terjerumus dalam neraka."
"Jadi, tadabbur bermakna 'melihat hasil akhir' dan berusaha menyimak akibat yang bakal terjadi, garapan fase ini setelah proses berpikir. Berpikir itu menuntut anda untuk selalu mengingat segala yang anda ketahui sebelumnya, bilamana terjadi sebuah kealpaan, atau lupa. Berpikir merupakan langkah awal, selanjutnya bertadabbur (merenugi). Misalnya, seorang ayah berkata kepada putranya: "Nak, agar masa depanmu cerah, jadilah seorang insinyur atau dokter, kamu harus belajar serius dan berusaha dengan gigih, maka anak itu akan berpikir keras bagaimana menjadi seseorang layaknya sang juara dalam segala aktifitas dan profesinya, bersemangat serta berjuang. Setelah itu, ia akan merenungi semua yang telah dikerjakan... benarkah aktifitas itu menuju sebuah kesuksesan!"
"Inilah proses inteljensi akal, berpikir diawali dengan akal, akal juga melihat hasil akhirnya (tapi masih dalam proses berpikir), lalu direkam dalam memori untuk mengingat hal-hal yang telah terjadi, tersimpan dalam pusat kesadaran, lalu beralih melekat pada batas pinggir kesadaran (siap digunakan)".
Nah, mari berpikir dengan akal sehat, mengkaji tiap lapisan dari inti dan gramatika bahasa, balaghah, nahwu sharaf dan sebagainya. Berpikir kritis, tapi tidak berambisi, artinya berpikir secara mendalam dan radiks (sampai ke akarnya), tapi tidak memaksakan diri agar sesuatu yang dikaji harus se-ide dengan akal dan pikirannya.
Dan semua itu, butuh sandaran dan dasar yang melandasi tiap langkah penyelidikan, sebagai penentu arah serta pedoman, yaitu:
Meyakini kebenaran Al-Quran dengan alasan tertentu, seperti:
- Al-Quran, wahyu Allah terakhir, pelengkap dan penjelas Al-Kitab sebelumnya.
- Al-Quran, memiliki 3 dimensi masa, Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Esok, segala informasi telah terjaring dalam tiap ayat.
- Al-Quran itu realistis, realita ilmu dan sejarah sudah membuktikan, dan yang belum terbukti, kelak akan menjadi nyata, karena Al-Quran memiliki "ketepatan waktu" terhadap pembuktian ayatnya.
- Al-Quran adalah mu'jizat dari Allah, sebaga tanda keagungan bukan karya manusia yang serba keliru di sana sini.
Keimanan yang kokoh, kapasitas ilmu yang memadai, niat yang suci dan keikhlasan hati. Mengawali dengan keyakinan dan bismillah, mengakhiri dengan doa serta mohon ampunan kepada Allah atas salah penafsiran jika memang terjadi, disadari atau tidak.
Jika terjadi kekeliruan selidik, maka bukan Al-Quran yang salah, tapi dirinya yang belum menemui kebenaran itu, sebab manusia hanya bermodal akal yang jangkauannya terbatas dalam area yang sempit, apalagi didukung jiwa manusia yang lemah.
Berbaik sangka (positive thinking, khusnu dzon) kepada Allah, sebab wahyu itu dari Allah sendiri, hanya Dia yang tahu kebenaran asli, dan hakekat sejati dalam tiap ayat, kita-manusia- hanya berusaha memahami dan mendalami semuanya.
Fase berikutnya, adalah tadabbur. Dan dengan hati yang suci, murni dan bersih dari noda kemunafikan, anda akan mengakui bahwa Al-Quran itu benar, jika tidak maka akan terdapat banyak kerancuan di dalamnya, seperti yang terjadi pada Al-Kitab (Injil, Taurat dan Zabur), antar ayat saling bertentangan. Sebenarnya, standart penilaian dari proses bertadabbur itu bukan akal, tapi hati (al-Qolb). Hati nurani dipastikan jujur dan selalu berkata benar, tapi kebohongan itu terlahir dari godaan luar, setan, nafsu, ego atau lainnya. Sekali lagi... Hati Nurani.
"Maka Apakah mereka tidak merenungkan Al Quran ataukah hati mereka telah terkunci?." (Qs Muhamad : 24), sebuah pernyataan tegas bahwa orang yang hatinya terkunci mati, akan susah bertadabbur, orang ini cenderung kelayapan di alam pikirnya, namun tidak akan menemui titik terang, serasa ia hidup di alam gulita.
Berpikir, bernalar (ta'aqul, tafakkur) mengacu pada akal pikiran, sedangkan bertadabbur (renungan) mengacu pada hati nurani. Bagaimana, jika orang berpikir tanpa didasari dengan nurani, atau berta'aqul tanpa bertadabbur, maka jelas akal tidak tercerahkan, gelap dan menyesatkan, sebab jauh dari Nur Allah, itulah yang terjadi akhir dekade ini.
Jika Nur Allah jauh dari hati dan pikiran, maka hanya kebobrokan dan kepalsuan yang terlahirkan. Mengingat apa yang terjadi belakangan ini, banyak orang mulai mengkaji, mengkritisi, dan menganalisa Al-Quran, namun berakibat buruk, karena hasil yang tercapai bukan berupa kebaikan dan keindahan hidup, tapi malah semakin menyulut emosi, berlawanan dengan nurani. Tidak sedikit, orang marah gara-gara sebuah pemikiran yang muncul dinilai tidak baik dan buruk, sehingga bagi orang yang imannya tipis menjadi kabur, lembaran hidupnya buram dan pikirannya kacau, akhirnya ia melarikan diri, menjauh dari Al-Quran, menyingkir dari hidayah. Semua itu karena kewajiban bertadabbur telah ditinggalkan, dan nafsu dipertuhankan.
Melangkah lebih jauh, jangan tinggalkan para jawara yang sudah mencapai ilmu tafsir tingkat tinggi, ilmu pamungkas di dunia penafsiran. Mereka lebih berhati-hati dalam menjelaskan isi dan makna ayat, daripada hanya sekedar bermain kata-kata dan retorika kosong tak bernaluri. Pendewaan terkadap akal telah menjadi penyakit menular, dewasa ini penyakit itu telah menjangkiti jiwa-jiwa orang cendekia yang mengaku diri paling tahu, paling pintar dan paling bijak, disertai respon negatif dari hati umat. Al-Quran terlepas dari penyakit menular itu, bahkan –sebaliknnya- tiap ayat adalah obat hati, pedoman hidup yang bergaris lurus ke arah kebaikan. Al-Quran diturunkan bukan untuk menjahati, mencelakai dan menderitakan manusia, malah mengajak agar mereka bahagia, dunia akherat.
"Sekali-kali, Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi, (diturunkan) sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut kepada Allah. " [Qs Thaha : 2-3]
Hanya orang yang takut kepada Allah yang mampu memaknai dan merenungi ayat Al-Quran, ke arah yang lebih baik, sebab mereka berawal dan berujung dari/ke arah hidayah. Petunjuk Allah sangat berharga sekaligus kunci kebenaran mutlak, tapi tidak semua orang mendapat petunjuk ini dikala belajar memaknai dan menyelami hakekat Al-Quran. Juga, tidak sedikit yang terjerumus dalam nista, terpelanting dan ambruk, akhirnya gila dan sinting.
Hanya satu kunci selamat dari petaka ini, yaitu berbaik sangka (khusnu dzon) terhadap Allah. Karena berburuk sangka inilah, yang mengakibatkan umat terdahulu dikutuk, dilaknat dan jebloskan ke dalam neraka, simak dan renungi salah satu ayat ini: "Dan Allah mengazab orang-orang munafik, laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik, laki-laki dan perempuan, dimana mereka telah berprasangka buruk terhadap Allah, mereka akan mendapat giliran buruk (yaitu dibinasakan), Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan neraka Jahanam untuk mereka. Neraka itulah seburuk-buruk tempat kembali." (Qs Al-Fath : 6).
Semoga kita menjadi orang yang selamat, diselamatkan dan dilindungi Allah swt, sebaik-baik Penolong, di dunia dan akherat. Bagaimana tidak, semua yang di langit dan bumi, angkasa dan alam semesta, adalah ciptaan dan milikNya. Kita –manusia- ini hanya mampir sebentar untuk menikmati hidup, merasa bahagia, memanfaatkan alam indah ini yang sengaja diciptakan untuk manusia, sebagai cobaan, ingatkah ia atau lupa terhadap Pemiliknya. Kita dimanja-manja, segala fasilitas hidup disediakan, manusia tinggal menikmati saja.
Beribadah berarti bersyukur, dan bersyukur berarti menikmati hidup dengan menjalankan perintah Tuhan. Beribadah, bersyukur, berpikir dan bertadabbur adalah rangkain tugas manusia hidup di alam raya.
Semoga bermanfaat, ilmu murni hanya ilmu Allah semata, manusia diberi setetes ilmu itu, dan itu pun terasa sangat berharga bagi kita yang bodoh luar biasa ini. "Dan kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu akan mengikut jejeak syaitan (menjadi orang tersesat), kecuali sebahagian kecil saja (yang selamat)". (Qs A-Nisa' : 83)
Penulis | Muhamad Abdullah Amir an-Naqshabandi