Tiba-tiba si penjaga kubur (juru kunci, kuncen) bertanya kepadaku:
Juru Kunci: Kalian menemukan sesuatu?
Aku : Apa maksud anda dengan 'sesuatu', Ustadz!
Juru Kunci: Maksudku, ketika kalian membuka kuburan itu.
Aku : Maksud anda tulang belulang itu, kami telah menaruh di pojok ruangan.
Juru Kunci: Setiap kalian mau mengubur mayat baru... taruhklah tulang belulang itu jauh-jauh... kami tidak akan membuka sebuah kuburan sebelum genap 1 tahun atau lebih...
Aku : Kenapa harus 1 tahun?
Juru Kunci: Sampai mayat itu hancur sama sekali... dan hanya tersisa tulang belulangnya saja...
Aku : Maksud anda, agar pihak keluarga melupakannya sama sekali, gitu?
Juru Kunci: Kita semua akan mati, nasib kita akan berakhir di liang lahat ini, Ustadz!
Kata-kata juru kunci ini memang benar, entah dari mana awalnya selaput tipis hatiku serasa menerawang jauh tanpa hijab, mataku bercucuran air mata jatuh ke dasar kuburan, dan aku mendengar suara seperti rintik hujan yang jatuh ke dalam lubang botol, seakan berbicara dengan nada suara yang teratur seperti detik-detik zaman...
Tiba-tiba, air mataku mengering dan perasaanku membeku, seakan zaman ini terhenti untuk selamanya, suara-suara itu semakin melengking, terus mendekat... semakin dekat ke arah liang kubur, si juru kunci tiba-tiba bersuara keras: "Innā Lillāhi wa Innā ilaihi Rōji'ūn" (sungguh kepada Allah kami kembali dan kepada-Nya pula segalanya akan kembali).
Para pelayat membaca ayat-ayat Quran dan doa'doa berulang-ulang... secepat kilat, mayat itu dikeluarkan dan dibawa secara beriringan, langkah demi langkah, tiap tangan saling menyambut, salah seorang duduk berjongkok di dasar kubur di sisi liang lahat untuk meletakkan tubuh si mayat di tempat peristirahatan terakhirnya... salah seorang ngomong: "Bagaimana, posisi ini sudah sesuai belum?"... yang lain menjawab: "Enggak... coba kamu luruskan kakinya... taruh batu di bawah kepalanya....
Tunggu... taruh bunga ini dibawahnya dulu, jawab lainnya.
Hei, hati-hati... jangan taruh kakimu di atas mayat itu... jangan terlalu kasar, sahut lainnya.
Dan ketika pintu kubur ditutup... terdengar suara tangis wanita yang ikut melayat, mengkisahkan rasa sedih yang mendalam ditinggal rekan yang dicintai ini... suara-suara itu makin keras dan campur aduk nggak karuan... teriakan tangis meratap, suara yang tidak beraturan, menakutkan dan menyayat hati siapapun yang mendengar.
Kaum lelaki menyuruh mereka berhenti menangis sampai muncul kata-kata perintah: "Hei, kalian jangan teriak menangis seperti itu... hentikan!, hei ibu-ibu... demi Allah haram... haram!, jangan melakukan itu, hentikan tangisan kalian!.
Pada detik-detik setelah rombongan pelayat bubar, ahli bait (pihak keluarga si mayit) kumpul mendengarkan kata-kata tetua keluarga, ia berkata: "Pada sore malam ini akan diadakan al-maktam (upacara penutup seusai funeral ceremony) di kemah yang telah disediakan di sekitar makam, khusus pihak keluarga yang laki-laki, sedangkan bagi yang wanita dilarang ikut".
Tak lama setelah itu, terjadi obrolan-obrolan antar pelayat... ada yang berkisah bahwa ia hampir tidak percaya terhadap apa yang telah terjadi... baru kemarin si mayit nampak sehat-sehat saja, tapi hanya terjatuh sedikit saja membuat ia mati meninggalkan kita"... yang lain menambahkan: "lalu ia datang ke sini, dimana ia dikebumikan dalam lubang tua yang gelap, kemudian ditutupi tanah untuk selamanya".
Lali-laki ketiga berkata: "Astaghfirullah...tiada ada kuasa dan kekuatan selain milik Allah semata... memang inilah nasib orang hidup di dunia...
Orang keempat pun ikut menyahut: "Aneh, liang lahat ini luas sekali, bisa menampung puluhan mayat, tapi kenapa harus mengikuti segala aturan yang aneh-aneh, yakni harus bergantian, dan kenapa tidak ditumpuk saja sekalian menjadi satu lubang selama bertahun-tahun, tidah harus memindahkan tulang belulang yang lama... lalu kuburan ini tidak boleh dibuka kecuali setelah jasad mayat itu hancur dan tinggal tulang belulang saja...
Dalam waktu yang sama, para pelayat telah melupakan si mayit sama sekali, selang beberapa hari keluarga di mayit pun akan melupakannya, hanya tinggal ikatan-ikatan masa silam yang tersisa... setelah beberapa waktu lamanya semua tinggal kenangan untuk kisah anak cucu...
Aku seakan mendapat ilham, bahwa sadaraku yang menjadi mayat kali ini seakan memberikan pesan, mengajak bicara kepadaku ditengah-tengah ia sedang ditaruh di peristirahatan terakhirnya... tertancap dalam relung hatiku serasa terdengar telingaku ada yang mengucapkan salam kepadanya, lalu ia pun menjawab salam tadi... saling tarik menarik, saling kontak satu sama lain membentuk sebuah ucapan di dalam liang lahat... aku pun terhenyak, heran terhadap pendengaranku. Ketika semua pelayat meninggalkan makam, aku berusaha kembali lagi ke kuburan itu... terlihat disana si juru kunci yang masih menyelesaikan sisa-sisa pekerjaannya. Lalu aku memintanya untuk membuka pintu kuburan itu, tapi ia menolak keras...
Dan aku merayunya sebisa mungkin, dan aku katakan:
Aku : Aku ingin melihat kerabatku ini untuk yang terakhir kali
Juru Kunci: Apa manfaat bagimu dengan melihatnya lagi, Ustadz!.
Aku : Sebagai pelajaran dan nasehat hidup.
Juru Kunci: Bukankah kejadian yang anda lihat ini sudah cukup sebagai pelajaran bagi siapa saja yang ingin mengetahui perjalanan hidup dan mati...
Aku : Tapi aku ingin melihat mayat kerabatku ini agar aku bisa menangis... air mataku telah membeku tadi...
Juru Kunci: Soal ini kamu minta saja kepada Allah swt, bukan kepada si mayat... kalaupun misalnya aku melihat 100 orang mati syahid sekalipun dan hatiku keras membatu... sedangkan aku ingin sekali menangis dan merasa sedih... tetap saja tidak bisa... termasuk jika hatimu tidak bisa tersentuh, tidak halus kecuali jika Allah mengizinkan...
Aku : Apa kamu ingin mengatakan kalau hatiku atos (keras seperti batu)...?
Juru Kunci: Aku setiap hari mengubur banyak sekali manusia, tapi aku tidak menangis...
Aku : Karena kamu sudah terbiasa melakukan itu, itulah pekerjaanmu!
Juru Kunci: Mungkin saja, tapi kadangkala aku merasakan sedih tatkala mengubur sebagian orang yang tercium aroma kebaikan dalam dirinya...
Aku : Bagaimana kamu tahu si mayat itu termasuk orang shaleh?
Juru Kunci: Aku merasa kalau aku mencintainya, seakan dia dekat sekali denganku... lalu aku pun terbawa rasa sedih saat aku meninggalkannya di peristirahatan terakhirnya...
Aku : Bagaimana pendapatmu tentang kerabatku yang baru anda kubur barusan..?
Juru Kunci: Apa kamu ingin menganggu khalwatnya?
Aku : Apa maksudmu dengan khalwat?.
Juru Kunci: Dia kini sedang berkhalwat di hadapan Allah swt... kenapa kamu ingin sekali mengganggu khalwatnya...
Aku : Bagaimana kamu tahu itu, sobat!.
Juru Kunci: Aku telah mendegar...
Aku : Mendengar apa...!
Juru Kunci: Mendengar mereka...
Aku : Mendengar siapa...!
Juru Kunci: Mendengar suara mereka saat aku meletakkannya di liang lahat... mereka telah mengucapkan selamat...
Aku : Dan apa tahiyat (bentuk ucapan selamat) mereka!
Juru Kunci: Salāman... salāman... min Rabb al-Ghofūr ar-Rahīm (selamat... selamat... dari Tuhan yang Maha Pengampun dan Penyayang).
Aku : Benarkah ucapan anda?.
Juru Kunci: Aku ini sudah tua dan berumur... barangkali giliranku tak lama lagi.. apakah aku akan menghadap Tuhanku dengan hati yang dusta...?
Aku : Ucapan anda bermakna, adzabul qabr (siksa kubur) itu tidaklah nyata...
Juru Kunci: Kuburan bisa menjadi penggalan siksa dan adzab, bisa juga menjadi penggalan taman surga...
Aku : Apa mungkin anda tahu kalau kuburan seseorang itu adalah penggalan siksa atau penggalam taman surga?.
Juru Kunci: Tanah akan tetap menjadi tanah, kuburan pun akan tetap menjadi kuburan dilihat dari sisi materi, tapi kita sedang berbicara tentang tema nafsi dan maknawi (ruh, jiwa. penerj)... Seperti seorang istri yang hidup bersama suaminya yang miskin di dalam rumah yang sempit tapi ia merasa bahagia sekali, ketika di sisi belahan lain di dunia ini ada seorang istri yang hidup di dalam istana tapi ia merasa sedih bukan kepalang...
Aku : Maksud anda, orang mati itu bisa merasa, bahagia dan merasa sakit... begitu?.
Juru Kunci: Itu sudah jelas, dipastikan dalam sebuah hadits Nabi saw: "orang-orang mati itu bisa merasakan dan mendengar ucapan kita, serta memahami obrolan kita namun mereka tidak bisa berbicara...
Aku : Apa kini kerabatku mendengarkanku sedang berbincang-bincang dengan anda...
Juru Kunci: Iya... jika kamu membacakan surat al-Fatihah untuknya, ia akan tersenyum dan bahagia...
Aku : Tidak harus kita membongkar kuburannya agar ia mendengarku...!
Juru Kunci: Orang-orang yang mati itu mendengar tiap langkah kaki semut yang merayap, tapi orang-orang yang hidup tidak canggih mendengar tasbih mereka...
Aku : Akhirnya, aku pun berucap: "Al-Fatihah... ".
