Syaikh Muhamad Najmudin qs, menjelaskan bahwa:
"Dalam melanjutkan proses tarbiyah ini, maka seorang Murid tetap melanggengkan praktik Rabitah Mursyid, sampai sang Mursyid bertashawwuf di hatinya. Murid tetap ikut berpastisipasi ikut dalam acara Khatam Khawajagan Tarekat Naqshabandi Kholidiyah di tempatnya, dengan syarat:
- Silsilah Guru (sanad) Naqshabandiyah tidak berbeda, yaitu Naqshabandiyah Kholidiyah.
- Bacaan wirid dan tilawahnya sama. Murid tetap melakukan rabithah kepada Syaikh Awal (yang membaiatnya), bukan kepada Syaikh yang memimpin acara Khatam Khawajagan di tempatnya, yaitu tatkala pimpinan Khawajagan membaca “Robitha Syarif”, atau dengan kata-kata (instruksi) serupa lainnya, si Murid tetap focus pada rabithah kepada Syaikh Awal."
Dan lanjut beliau, bahwa: "Seorang Murid tetap melanggengkan rabitah kepada Syaikh Awal dengan tata cara yang telah diajarkan sampai Mursyid kembali ke sisi Allah ta’ala. Selanjutnya, rahasia (sirr) tarekat Naqshabandi ini akan mengalir kepada Mursyid baru yang diangkat untuk mengemban amanat mengurusi tarekat. Setelah itu, hendaknya seorang Murid melakukan rabithah dengan Mursyid yang baru, pengganti Mursyid Awal. Sebaiknya, Murid memperbaharui baitnya kepada Mursyid baru tersebut yang diamanati mengurusi tarekat Naqshabandi dengan cara-cara yang mungkin dilakukan. Semoga Allah ta’ala memudahkan cara menuju jalan-Nya, dengan Daya dan Kekuatan-Nya." Amin
Referensi | Syeikh Muhamad Najmundin al-Kurdi | Ad-Dalail al-'Aliyah | Hal: 12-32
