Seperti biasa, SYEIKH Arif hanya tersenyum menatap langit yang luas terbentang, dan berkata kepada si Alim:
SYEIKH: Kesuksesan Sejati... tidak terletak pada keberhasilan menguasai sebuah organisasi, mengendalikan suatu kelompok, memegang jabatan dan pusat-pusat badan dan yayasan...
ILMUWAN: Kalau begitu, "Dimana kesuksesan itu, wahai SYEIKH?".
SYEIKH: Kesuksesan Sejati terletak pada Ketenangan Hati, Kedamaian Manusia dan Ketentraman Jiwa.
ILMUWAN: Semua ini tidak memungkiri adanya Kesuksesan Materi, khan!... jika tidak, apa manusia akan merasa tenang tanpa pekerjaan, perjuangan dan pengalaman?!.
SYEIKH: Saya tidak mengingkari semua itu... tapi sebuah kesuksesan tidak bisa dikatakan berhasil disaat pelakunya hidup dalam kegelisahan yang berkepanjangan, dihantui rasa takut, bimbang, dan ragu dalam segala hal. Inilah yang dialami kaum Zeonis dan orang munafik walaupun mereka telah menjadi pemimpin dan penguasa.
ILMUWAN Jadi kaum Zeonis, para pemegang kekuasaan serta pemimpin di dunia ini hidup dalam ketakutan, gelisah dan ragu. Lalu, apakah itu berarti orang-orang islam yang dalam kondisi terbelakang, ditinggal oleh arus budaya, kesuksesan materi serta kemajuan adalah orang yang benar-benar bahagia... dan menjadi orang-orang yang tentram dan damai?.
SYEIKH Bukan begitu, sobat!, tidak berarti orang Zeonis yang hidup dalam ketakutan dan gelisah, lalu orang lain terutama orang-orang islam hidup dalam damai, dan mereka menjadi orang paling bahagia?.
ILMUWAN Saya paham ucapan anda!
SYEIKH Sama sekali maksudku tidak demikian, orang-orang islam kini hidup dalam masa-masa genting, era terburuk dalam hidupnya... kehinaan diri dan kerugian materi telah menciptakan jiwa mereka hingga menjadi umat paling lemah di muka bumi ini... mereka dijajah bangsa asing, para penyusup itu telah memaksa hukum-hukum dan aturan, mereka pun terpecah dalam sekte, kelompok aliran dan partai... bagaimana mungkin mereka dikatakan umat yang tentram?
ILMUWAN Bukankah mereka adalah orang-orang beriman?
SYEIKH Siapa yang mengatakan itu padamu?.
ILMUWAN Bukankah mereka adalah orang-orang muslim (berserah diri kepada Allah swt)..?.
SYEIKH Hanya sekedar nama dan rupa... gaya dan ritualita saja.
ILMUWAN Apa maksud anda, wahai SYEIKH!.
SYEIKH Maksudku, kata "Iman" itu sangat agung... tidak cukup hanya diucapkan, tapi iman mengandung nilai-nilai jihad (perjuangan), pembelaan diri, perlawanan serta membekali diri dengan alat perang dan amunisi...
ILMUWAN Bukankah di kalangan orang islam terdapat orang bijak?
SYEIKH Memang ada, sobat!, dan alhamdulillah...
ILMUWAN Dimana mereka kini, bukankah mereka diberi amanat, menjalankan risalah (misi-misi agama), menasehati umat dan menghilangkan kabut yang menyelimuti umat?.
SYEIKH Seorang Alim tidak tercipta dalam satu hari...
ILMUWAN ucapan ini dapat membangkitkan jiwa rasa suka memberontak terhadap kelaliman, pemaksaan dan permusuhan..
SYEIKH Tenang dan sabar dulu, sobat!... apa yang bisa dilakukan oleh orang islam dihadapan 2 kekuatan besar dunia disertai negara kecil yang menjadi penentu kebijakan dan pimpinan penghancur seperti Israel.
ILMUWAN orang-orang islam –sebenarnya- mampu jika mereka bersatu, kalau hati mereka menyatu, terjalin di bawah bendara Laa Ilaha Illa Allah.
SYEIKH Apa itu memang terjadi hingga kini...?
ILMUWAN Tidak, SYEIKH!, mereka masih terpecah belah, setiap orang memanggil kekasihnya, setiap orang ingin mewujudkan impiannya sendiri, walaupun impian itu telah menjadi milik saudaranya... mereka tidak dalam satu suara... dan para penyusup dari luar telah memanfaatkan kondisi ini.
SYEIKH Jadi, bagaimana kita mampu menghadapi permusuhan asing terhadap diri dan negeri kita sedangkan kita masih berselisih, bertikai dan terpecah!.
ILMUWAN Bukankan kehinaan ini berasal dari luar...?, kapan semua petaka ini akan berakhir?, kapan pula pintu rahmat Allah akan terbuka?, kita telah kehilangan
SYEIKH Tunggu dulu, sobat!, subuh masih jauh (masih terlalu dini mempertanyakan semua itu)...
ILMUWAN Sendi dan pergelangan tangan ini mau copot karena terus-terusan menunggu... aku tidak suka itu... aku ingin segera berjuang di jalan Allah... dengan jiwaku, hartaku dan nyawaku...
SYEIKH Kenapa kamu tidak membantu saudaramu dari Afganistan, Irak dan Palestina?
ILMUWAN Bagaimana...?
SYEIKH Menggabungkan diri dengan kaum revolusioner, memerangi negara terbesar dunia dengan peralatan canggih beserta amunisi.
ILMUWAN Aku akan melakukan itu – insyaallah-... tapi aku juga ingin sebaris dengan saudaraku se-islam lainnya di setiap ruang di dunia ini?
SYEIKH Inilah perkara orang islam yang mukmin...
ILMUWAN Apakah kamu akan membantuku, wahai SYEIKH!, dalam upaya melawan permusuhan mereka terhadap kaum muslimin?
SYEIKH Setiap orang islam diperintah menjalankan misi ini, sobat! Bagi yang membatasinya berarti ia telah membatasi agama ini...
ILMUWAN Lalu, darimana kita akan berawal...?
SYEIKH Dari sini kita akan memulai... dari tulisan kita di koran, buku atau surat kabat dimulai semuanya... pena bagai pistol dan isi kalimat itu bagaikan peluru yang akan menembaki para musuh...
ILMUWAN Apakah kata-kata mampu menghentikan gerakan kaum Zeonis, Komunis dan Imperialis?
SYEIKH Jika kamu tidak bisa menghentikan kemunkaran dengan kekuatan/kekuasaan, maka hentikan dengan kata-kata, jika masih tidak mampu maka dengan hatimu, walau itu termasuk iman yang paling lemah... seperti tercatat dalam sebuah hadits.
ILMUWAN Tapi anda belum menjawab pertanyaanku, SYEIKH!, kenapa orang jahat dan kaum pendurhaka lebih sukses di dunia ini...?
SYEIKH Ucapanmu mengingatkanku pada Ibnu Khaldun yang pernah mengatakan: "Dunia ini akan dicapai (dimiliki) oleh 2 kolompok manusia, kaum pendurhaka dan ahli nista (pengumbar nafsu)...
ILMUWAN Memang benar... dan terbukti nyata dalam era sekarang...
SYEIKH Dunia seperti orang asing yang penuh dengan debu, ia dimiliki para ahlinya (yakni para pencari dunia), dunia dan mereka tak ada bedanya, dipenuhi orang-orang yang suka pamer diri dan penipuan.
ILMUWAN Artinya, orang yang sukses di dunia harus menjadi contoh khas yang berbeda sifat dan cirinya dengan para ahli akherat...?
SYEIKH Kira-kira seperti itu, tidak mungkin seseorang menjadi pekerja dan abdi dunia, bekerja demi kepentingan dunia, lalu disaat yang sama menjadi ahli akherat.
ILMUWAN Apa tidak mungkin manusia memiliki 2 sifat itu, cinta dunia dan akherat,
SYEIKH!, sukses di dunia dan mempersiapkan diri menghadapi akherat?
SYEIKH Manusia mungkin saja menjadikan dunia sebaai lahan demi akherat, menanam kebaikan untuk memanen kebaikan jua di akherat, dengan pertimbangan dunia sebagai jembatan yang dapat mengantarkan ke akherat. Adapun orang yang menganggap dunia sebagai satu-satunya minat dan semangat hidup, hanya mengurusi keperluan dunia, impian dan tujuannya hanya untuk dunia... –disaat yang sama- bagaimana ia menjadikan akherat seperti itu, orang cenderung mau bekerja demi yang dicinta, sibuk urusan dunia maka ia akan menjadi abdinya, dan sibuk urusan akherat, ia pun akan membekali diri demi akherat.
ILMUWAN Jadi orang sukses di dunia, adalah mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuan, menghapus akherat dan tidak percaya kepada Allah ta'ala.
SYEIKH Saya tidak menganggap mereka adalah orang sukses, walaupun mereka memperoleh kekuasaan, harta dan jabatan... saya tidak menganggap itu sebagai kesuksesan sejati, mereka ibarat kolam yang kelebihan isi dan kapanpun air itu bisa muncrat keluar, atau tali giar yang terikat kuat dan hampir putus jika ditekan...
ILMUWAN Apa menurut anda, moral kaum Zeonis seperti itu!, juga kelakuan ahli pamer diri dan pendurhaka?
SYEIKH Setiap kali manusia jauh dari petunjuk Allah, merusak hidup manusia, berbuat lalim dan mengira ia kekal di dunia ini, menipu diri dan menuruti nafsunya... maka nasibnya sudah jelas, yaitu kesengsaraan abadi walaupun di dunia ia mengira sukses.
ILMUWAN Jadi, kesuksesan bukanlah keberhasilan luar (fisik) saja... bukan pada pamer kekuasaan, membanggakan kelebihan materi saja. Tapi... banyak orang berpangku tangan, ogah-ogahan dalam membekali diri dengan persenjataan perang dan amunisi, riset ilmiah dan teknologi... apakah ini merupakan bagian dari agama?.
SYEIKH Islam menganjurkan untuk mencari ilmu, pengamalan, kemajuan materi, teknologi; baik orang berilmu dan pengamalannya, keduanya sama-sama mengagungkan Allah swt, seperti juga ahli ibadah, bahkan tingkatan ahli ilmu dan amal lebih mulia daripada ahli ibadah.
ILMUWAN Ucapan ini memang benar... tapi mayoritas orang islam tidak memahami benar makna ini.
SYEIKH Islam adalah agama amali (pekerjaan), sobat!, barangsiapa keluar rumah demi sebuah pekerjaan, berarti ia sedang menjalani ibadah kepada Allah, siapa saja yang menhadapi rintangan, lelah dan ikut menanggung beban umat ini dalam pekerjaannya, sama halnya ia berjihad, berjuang di jalan Allah swt, siapa saja yang menaiki kendaraan, berdesakan untuk sampai ke ruang kerjanya, berarti ia sedang beribadah... setiapkali manusia keluar rumah demi mencari rizkinya, anak-anak dan keluarganya, berarti ia telah beribadah sekaligus berjihad (perjuangan)...
ILMUWAN Tapi orang-orang islam walaupun mereka telah berjihad dan berjuang keras tetap saja tidak sukses di era sekarang, sebaliknya lawan kita malah lebih sukses di dunia ini... bukankah benar demikian, SYEIKH?.
SYEIKH Dunia ini adalah ruang ujian dan cobaan, Sobat!, sukses di dunia tidak berarti sukses di akherat...
ILMUWAN Saya hampir hampir karena sesak dada ini mendegar ucapan ini, SYEIKH!.
SYEIKH Kenapa, Sobat!.
ILMUWAN Karena orang dzalim selalu sukses, lalu merusak dan membunuhi orang-orang islam yang tak berdosa, sedangkan kita hanya pasrah saja melihat kelaliman dan kejahatan mereka... kadang kita berpikir mungkin semua itu adalah ujian dari Allah, menginginkan supaya Allah menolong kita tanpa harus berperang, melakukan perlawanan, atau adu peralatan perang dan persenjataan.
SYEIKH Menurutmu, apa solusinya?.
ILMUWAN Orang-orang islam tidak kekurangan pemimpin, tapi senjata dan peralatan perang yang canggih, seharusnya sama-sama bekerja menggali potensi yang selama ini terpendam dan membela hak-hak mereka...
SYEIKH Memang benar, kesuksesan sejati bukan pada praktek menumpahkan darah orang-orang tak berdosa, tapi pada membela negara, harga diri dan menjunjung tinggi asma Allah di muka bumi ini. Benar demikian, kesuksesan orang-orang jahat dan pembuat onar di dunia ini bukanlah keberhasilan, tapi cobaan dari Allah agar tercipta nuansa saling mempertahankan diri anta manusia, kalau bukan karena kedua kubu baik dan jahat tidak saling menolak, saling tarik menarik atau saling mempertahan diri, mungkin dunia ini akan hancur...
ILMUWAN Berarti kesuksesan kaum Zeonis merupakan suatu bentuk mempertahankan diri (atau penolakan), SYEIKH!.
SYEIKH Benar, sobat!, kesuksesan mereka itu bersifat sementara (temporal)... sebuah cobaan besar bagi orang-orang islam... tapi sampai saat-saat menjelang detik-detik umur zaman.
ILMUWAN Maksud anda, kesuksesan orang-orang jahat itu merupakan detik-detik menjelang zaman akhir, lalu orang-orang baik akan ditolong Allah swt mengalahkan mereka... semoga seperti itu, insyallah.
SYEIKH Pertolongan Allah swt tidak hanya di dunia, tapi di dunia dan akherat... adapun kesuksesan orang-orang jahat tidak lama, cukup singkat di dunia ini, selanjutnya akan disusul dengan kehinaan dan kehancuran...
ILMUWAN Bagaimana hal itu bisa terjadi!
SYEIKH Hari esok -bagi yang bisa melihatnya- sangat dekat.
