Maulana Amin al-Kurdi pernah berkata: "Aku mendengar sebagian khalifah (wakil) Naqshabandi mengatakan, "Sungguh Nabi saw sendiri meletakkan tangannya yang mulia itu pada hati Syaikh Baha' al-Din, tatkala beliau dalam keadaan muraqabah (mendekatkan diri kepada Allah), seketika hatinya terukir (dengan asma' ALLAH)...
Dikisahkan, mayoritas murid Shah Naqshabandi (Baha' al-Din) dan para khalifahnya melihat penampakan ukiran (stampel asma' ALLAH) itu berbentuk cahaya di dada beliau tatkala melaksanakan zikir qalbi. Karena itu, Syaikh Muhamad Yusuf al-Saqa dalam bait-bait syairnya mengatakan:
وَ بِاْلعَلَمِ اْلمَشْهُوْرِ غَوْثِ اْلخَــــلاَئِقِ مَلاَذِي بَهَاءِ الدِّيْنِ رَبِّي بِهِ اهْدِنَا
مَنِ انْتَقَشَ اْلإِسْمُ اْلكَـرِيْمُ فِي صَدْرِهِ فَسُمِّي شَـاهَ نَقْشَبَنْدَ طَـــرِيْقِـنَا
Berkat tokoh mashur senagai penolong makhlukyakni, ia nikmatku yang bernama Bahaudin, ya Tuhanku tunjukkan aku berkatnyaBarangsiapa telah terpatri nama muli itu di dada (hatinya)maka ia disebut Naqsabandi, jalan tarekat kamiSebelumnya, Syaikh Nurudin Mula Jami' dalam sebuah syair berbahasa arab, terjemahan asli dari bahasa Persia, menyatakan dalam:
حِيْنَ تَـــرَى اْلمُلْكَ عَلَى مُسْنَدِ اْلفَقْرِ فَـأَنْتَ عَلِيْمٌ يَقِيْنًا بِأَسْـــرَارِ اْلحَقِيْقَةِ
وَ لَوْ تُنْقَشْ عَلَى لَوْحِ قَلْبِكَ صُوْرَتَهُ تَجِدْ طَرِيْقًا مِنْ هَذَا النَّقْشِ إِلَى النَّقْشَبَنْدِ
المُتَأَلمِّـُوْنَ يَعْلَمُوْنَ سِرَّ هُمُـوْمِ اْلعِشْقِ وَ لَيْسَ اْلمُتَفَقِّهُـــوْنَ وَاْلمَغْــــرُوْرُوْنَ
Tatkala kamu melihat raja bertopang kefakiranniscaya kamu mengetahuio pasti rahasia hakikat Jika papan hatimu terpari (tercetak) gambarnyakamu akan temui jalan cap ini kepada naqshabandiOrang-orang yang tersiksa akan tahu rahasia kegundahan rindubukan pada ahli fikih palsu dan orang tertipuYakni "Ahli Dzauq", orang-orang jujur dalam suluk (meniti jalan Tuhan) dan menjalani 'pengalaman spiritual' (al-Tajarubah al-Ruhiyah), hanya mereka yang mampu memahami makna Cinta Ilahi, tidak cukup hanya mengetahui konsep Cinta Ilahi secara teori, sebagaimana tak akan sampai pada puncak tujuan mulia ini, mereka yang tertipu dengan maksud yang tidak hakiki tatkala menjalani suluk sufi.
Referensi | Syeikh Muhamad Najmundin al-Kurdi | Ad-Dalail al-'Aliyah | Laman : 12-32
