Senin, 16 Oktober 2023

Makna Asal Kata Naqshabandi

Makna Asal Kata Naqshabandi

Tarekat Naqshabandi, salah satu tarekat yang telah mengalami perkembangan luas dan mayoritas dipilih kaum ulama dan cendekia. Tarekat ini dirintis Imam Bahauddin, dan mungkin hanya tarekat ini yang memiliki nama yang tidak dinisbatkan kepada nama pendirinya, tapi pada karakter dari jalan tarekat, yakni Naqsabandi. Lantas, apa makna "Naqsabandi" sebenarnya?

Syaikhona Muhamad Najmudin al-Kurdi menjelaskan:

"Naqshaband" berasal dari bahasa Persia "Naqsh Band" berarti ukiran (stampel, cap) yang kekal; naqsh adalah gambar stampel yang dicetak diatas lilin atau materi lain, sedangkan kekal tak bisa hilang (tak terhapus). Lantaran, Syaikh Muhamad Baha' al-Din Naqshaband senantiasa berzikir kepada Allah ta'ala dengan hati yang tulus sehingga asma' ALLAH terukir dan nampak pada hati dhahirnya, oleh sebab itu tareqatnya disebut "Naqshabandiyah".

Maulana Amin al-Kurdi pernah berkata: "Aku mendengar sebagian khalifah (wakil) Naqshabandi mengatakan, "Sungguh Nabi saw sendiri meletakkan tangannya yang mulia itu pada hati Syaikh Baha' al-Din, tatkala beliau dalam keadaan muraqabah (mendekatkan diri kepada Allah), seketika hatinya terukir (dengan asma' ALLAH)... 

Dikisahkan, mayoritas murid Shah Naqshabandi (Baha' al-Din) dan para khalifahnya melihat penampakan ukiran (stampel asma' ALLAH) itu berbentuk cahaya di dada beliau tatkala melaksanakan zikir qalbi. Karena itu, Syaikh Muhamad Yusuf al-Saqa dalam bait-bait syairnya mengatakan:

وَ بِاْلعَلَمِ اْلمَشْهُوْرِ غَوْثِ اْلخَــــلاَئِقِ     مَلاَذِي بَهَاءِ الدِّيْنِ رَبِّي بِهِ اهْدِنَا

مَنِ انْتَقَشَ اْلإِسْمُ اْلكَـرِيْمُ فِي صَدْرِهِ     فَسُمِّي شَـاهَ نَقْشَبَنْدَ طَـــرِيْقِـنَا

Berkat tokoh mashur senagai penolong makhlukyakni, ia nikmatku yang bernama Bahaudin, ya Tuhanku tunjukkan aku berkatnyaBarangsiapa telah terpatri nama muli itu di dada (hatinya)maka ia disebut Naqsabandi, jalan tarekat kami

Sebelumnya, Syaikh Nurudin Mula Jami' dalam sebuah syair berbahasa arab, terjemahan asli dari bahasa Persia, menyatakan dalam:

حِيْنَ تَـــرَى اْلمُلْكَ عَلَى مُسْنَدِ اْلفَقْرِ     فَـأَنْتَ عَلِيْمٌ يَقِيْنًا بِأَسْـــرَارِ اْلحَقِيْقَةِ

وَ لَوْ تُنْقَشْ عَلَى لَوْحِ قَلْبِكَ صُوْرَتَهُ    تَجِدْ طَرِيْقًا مِنْ هَذَا النَّقْشِ إِلَى النَّقْشَبَنْدِ

المُتَأَلمِّـُوْنَ يَعْلَمُوْنَ سِرَّ هُمُـوْمِ اْلعِشْقِ    وَ لَيْسَ اْلمُتَفَقِّهُـــوْنَ وَاْلمَغْــــرُوْرُوْنَ

Tatkala kamu melihat raja bertopang kefakiranniscaya kamu mengetahuio  pasti rahasia hakikat Jika papan hatimu terpari (tercetak) gambarnyakamu akan temui jalan cap ini kepada naqshabandiOrang-orang yang tersiksa akan tahu rahasia kegundahan rindubukan pada ahli fikih palsu dan orang tertipu

Yakni "Ahli Dzauq", orang-orang jujur dalam suluk (meniti jalan Tuhan) dan menjalani 'pengalaman spiritual' (al-Tajarubah al-Ruhiyah), hanya mereka yang mampu memahami makna Cinta Ilahi, tidak cukup hanya mengetahui konsep Cinta Ilahi secara teori, sebagaimana tak akan sampai pada puncak tujuan mulia ini, mereka yang tertipu dengan maksud yang tidak hakiki tatkala menjalani suluk sufi.

Referensi | Syeikh Muhamad Najmundin al-Kurdi | Ad-Dalail al-'Aliyah | Laman : 12-32 

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait