Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki ciri khas yang berbeda dengan agama lain. Selain menjadi agama terakhir yang merevisi ajaran agama sebelumnya, islam juga memberikan hal-hal menarik bagi siapa pun yang mengkajinya. Al-Quran yang menjadi kitab suci unggulan agama ini, tidak luput dari pantauan para ahli. Tidak sedikit para pakar dibuat terkecoh dengan keunikan ayat-ayat al-Quran, bahkan tidak jarang mereka dibuat terkesima dengan keajaiban al-Quran yang seakan tidak pernah berhenti untuk dipelajari, ataupun diteliti secara seksama.
Keunikan al-Quran inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti muslim ataupun non muslim. Tidak cukup sampai di sini, keunikan ini membuat orang-orang muslim sendiri semakin mencintai agamanya. Hal ini mendorong mereka tidak habis-habisnya meluangkan waktu untuk memahami rahasia dibalik keunikan al-Quran.
Diantara keunikan yang masih menjadi misteri yang belum terungkap hingga sekarang adalah malam lailatul qadar. Seakan rahasia malam ini menjadi sebuah misteri ilahi yang abadi, sehingga tidak ada satu pun dari manusia mengetahui secara pasti kapan malam lailatul qadar itu. Hanya isyarat-isyarat implisit yang ditunjukkan baik oleh Allah ta’ala sendiri, maupun Nabi-Nya, namun secara ekplisit tidak ada satu pun pernyataan yang mengarah pada malam tersebut secara tepat dan pasti.
RAHASIA ILAHI
Malam lailatul qadar adalah malam yang paling spesial di sisi Tuhan. Malam itu lebih baik daripada seribu bulan, berarti kurang lebih 83 tahun 4 bulan lamanya. Ibadah pada malam ini hampir setara dengan ibadah seumur hidup, jika umur umat Muhamad berkisar antara 70-80 tahun. Namun demikian, kapan malam lailatul qadar itu terjadi, teka-teki ini hingga kini belum terpecahkan dan akan tetap menjadi sebuah misteri.
Upaya menelusuri malam lailatul qadar ini telah berlangsung lama di kalangan para ulama’. Dan di tengah perbedaan opini tersebut, mereka bersepakat bahwa terjadinya malam lailatul qadar itu pada malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits ‘Aisyah ra, dia berkata: Rasulullah saw beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, (yang artinya) “Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” Sabda Nabi saw ini semakin memperkuat teka-teki malam lailatul qadar. Beliau tidak memberitahukan kapan persisnya malam itu, beliau malah membuat penasaran umatnya dengan menyatakan agar mereka mencari sendiri malam penuh berkah tersebut.
Hal paling menarik dari misteri malam lailatul qadar adalah ketika Tuhan merahasiakan malam ini dari hamba-Nya. Namun, seiring dengan teka-teki ini, Tuhan justru mengungkap rahasia lain dari malam lailatul qadar kepada hamba-Nya dengan menyatakan bahwa “pada malam itu para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya turun ke bumi untuk mengatur segala urusan. Malam itu (dipenuhi) keberkahan sampai terbit fajar”. Seakan Allah ta’ala dalam ayat itu ingin memberikan iming-iming kepada umat Muhamad saw dengan anugerah yang luar biasa. Pada malam itu, segala keperluan manusia akan dicukupi, permohonan dikabulkan, penderitaan dijauhkan, kesengsaraan dihindarkan, dosa diampuni dan pahala dilipatgandakan. Bisa anda bayangkan, ketika seorang hamba diimingi hadiah yang luar biasa, namun untuk mendapatkan hadiah itu dia harus bisa menebak sebuah teka-teki dari sebuah misteri.
Untuk keperluan ini, Nabi saw telah memberikan pertanda dari rahasia alam tentang datangnya malam ini, sebuah riwayat dari Ubay ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda (yang artinya), “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” Riwayat lain dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda (yang artinya), “(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” Semua sabda ini hanya menunjukkan sebuah pertanda, tidak mengacu pada hari dan kapan secara pasti. Suatu pertanda alam yang mengisyaratkan terjadinya sesuatu yang maha dahsyat di muka bumi ini. Bumi dipenuhi dengan para Malaikat yang membawa sejutan kejutan, berkah dan anugerah bagi yang beruntung. Namun hal ini masih menyisakan masalah besar bagi umat ini, yaitu kapan persisnya malam itu terjadi!, tiada yang tahu kecuali Allah ta’ala.
Misteri malam ini seakan sengaja dibiarkan menjadi teka-teki bagi umat muhamad saw, bahkan Nabi sasw pun sepakat dengan Tuhannya untuk tetap membiarkan misteri ini menjadi rahasia ilahi yang paling top secret.
DIBALIK MISTERI ILAHI
Jika kita bertanya, ada apa dibalik misteri agung malam lailatul qadar, sampai Tuhan dan Nabi saw pun tetap merahasiakannya, seakan umat ini dibiarkan mencari dan terus mencari. Lalu, kapan pencarian ini akan berakhir?!.
Ibarah sebuah perlombaan, dimana para peserta lomba hanya dibekali informasi yang cukup tentang rute, peta, gambaran lokasi, serta tanda-tanda menuju garis finish. Mereka diharapkan mampu melewati rute yang telah disiapkan serta dituntut mampu melampaui segala rintangan yang dihadapi. Pemenang dalam perlombaan ini akan mendapatkan hadiah yang ‘mengejutkan’ (surprise). Hadiah ini akan menjadi berkah bagi hidup mereka, tidak pernah terbayangkan nilainya, bahkan seumur hidup mereka tidak akan mendapatkan hadiah ini untuk kedua kalinya, dan sifat hadiah ini masih dirahasiakan. Surprise ini hanya berlaku bagi pemenang yang sampai di garis finish pada hari-hari tertentu secara tepat.
Demikian pula malam lailatul qadar, rahasia dibalik teka-teki malam ini adalah karena Allah ta’ala akan memberikan ‘kejutan’ (surprise) bagi hamba yang telah mendapat restu serta lulus uji kelayakan dalam upaya melewati ujian-ujian dari Tuhan. Surprise ini akan diberikan langsung oleh Allah ta’ala, adapun bentuk dan wujud surprise itu hanya Allah ta’ala yang tahu. Yang jelas, surprise ini disesuaikan dengan kadar usaha dan ketulusan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.
Apa tujuan dibalik misteri agung ini !?, untuk memahami tujuan dari semua ini adalah kembali kepada tujuan utama manusia diciptakan, yaitu mengabdikan diri dan menyembah secara tulus kepada Allah ta’ala. Tersebut dalam sebuah firman, ”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Sejuta masalah akan muncul tatkala manusia berhadapan dengan teka-teki, dan berbagai perasaan akan berkecamuk dalam jiwa orang yang hidup dalam suatu misteri. Inilah kandungan misteri lailatul qadar, yaitu untuk mengetahui siapa yang paling beriman di antara mereka. Sifat malas, ogah-ogahan, pesimis, putus asa, separuh hati akan menyertai diri orang yang jauh dari hidayah Allah ta’ala, sedangkan sifat semangat, gigih, serius, optimis, sabar dan sepenuh hati dalam beribadah akan menjadi hiasan orang-orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Seberat apapun rintangan itu, bagi orang yang percaya kepada Tuhannya akan menganggap sebagai sebuah kewajaran. Dan semakin besar rintangan itu, semakin kuat rasa percaya di hati mereka.
Sifat dasar manusia, jika diiming-imingi sesuatu yang nampak jelas oleh mata dan pikiran, tapi masih menjadi teka-teki, mereka pun melakukannya dengan bermalas-malasan, tidak semangat, atau mungkin tidak berusaha apa-apa; hanya keinginan tanpa diiringi tindakan. Di pihak lain, terdapat manusia, jika diiming-imingi sesuatu ataupun tidak, baik sesuatu itu nampak jelas bentuknya ataupun tidak, mereka masih tetap berusaha dengan gigih dan serius meraihnya. Apa yang membuat mereka begitu bersemangat!, tiada lain karena mereka memiliki keimanan, keyakinan dan percaya penuh bahwa Allah ta’ala tidak mungkin ingkar janji. Apapun bentuk janji yang dibuat, Allah ta’ala pasti memenuhinya. “Sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan melanggar janji-Nya”.
Keimanan merupakan titik awal untuk memahami misteri malam lailatul qadar. Orang mukmin sejati tidak memikirkan imbalan, tetapi memperhitungkan kelayakan ibadah di hadapan Tuhan dengan cara muhasabah dan intrispeksi diri, karena pahala dan imbalan apapun hanya diberikan kepada mereka yang direstui dan diridhai Allah ta’ala. Tanpa ridha Allah ta’ala, semua amal perbuatan manusia menjadi sia-sia. Dan “mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah ta’ala, dan bahwa Allah ta’ala tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman”.
Misteri ini menjadi barometer keimanan seorang hamba, jika hatinya tulus beribadah maka ia akan melakukan apapun, seberat apapun dan sebesar apapun ujian akan dilalui dengan penuh ketaatan, meskipun ia tidak tahu akan mendapatkan sesuatu atau tidak. Sebaliknya, bagi orang yang berhati lemah, pondasi keimanannya tidak kokoh, maka ibadah yang ringan pun akan terasa berat dan melelahkan, meskipun ia mengetahui akan mendapatkan sesuatu dari amalnya. Dibalik teka-teki ini terkandung sebuah makna bahwa Allah ta’ala ingin mengetahui dan menjajaki tingkat kepatuhan dan ketaatan seorang hamba dalam mengabdikan diri kepada-Nya.
Ketika Tuhan membiarkan lailatul qadar menjadi sebuah misteri yang harus diungkap dan dicari oleh para pencinta Tuhan, yakni hamba-hamba Allah ta’ala yang patuh dan tulus, maka upaya pencarian ini tidak akan pernah berhenti selama manusia masih bernafas lega di dunia. Batas akhir pengabdian manusia kepada Allah ta’ala adalah ketika ajal datang menjemput. Tuhan telah menegaskan hal ini dalam sebuah firman, “dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).
MAKNA TRADISI WARGA NAHDLIYIN
Bagaimana sikap seorang hamba sejati dalam upaya memperoleh keberuntungan lailatul qadar ?!, maka cara terbaik yang harus dilakukan adalah memanfaatkan sebaik-baiknya peluang yang diberikan Tuhan di bulan suci Ramadhan, terutama pada sepuluh akhir di bulan suci ini. Dan salah satu kiat sukses meraih berkah lailatul qadar adalah memperbanyak kebaikan dan ibadah kepada Allah ta’ala.
Warga nahdliyin sangat memahami fenomena ini, sehingga mereka tidak ingin menyia-nyiakan peluang emas mendapatkan berkah lailatul qadar. Bahkan mereka memaknai bulan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah yang layak diperjuangkan, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Bukti bahwa mereka termasuk orang-orang beruntung adalah karena dalam tradisi warganya menunjukkan sikap penghormatan yang lebih terhadap bulan Ramadhan, terutama upaya mengejar malam lailatul qadar.
Pertama, warga nahdliyyin lebih memilih shalat terawih sebanyak 20 rakaat dan witir 3 rakaat sebagaimana yang diamalkan para sahabat, daripada 8 rakaat dan witir 3 rakaat, meskipun keduanya memiliki dalil yang sama-sama kuat. Pilihan iini bukan berarti tidak beralasan, justru pilihan ini menunjukkan bahwa mereka berpeluang besar meraih lailatul qadar, dengan mencari dan mengejar berkah malam lailatul qadar.
Kedua, tradisi membaca al-Quran setelah shalat tarawih secara bersama-sama, menghatamkan al-Quran 30 juz, bahkan di beberapa tempat upaya ini dilakukan hingga larut malam. Tidak sedikit ibadah membaca al-Quran ini dilakukan setelah shalat ashar dan subuh. Jika telah sampai pada hari ke sepuluh di akhir bulan Ramadhan, frekuensi bacaan ditingkatkan sehingga hatam al-Quran berkali-kali. Inilah bentuk nyata dari usaha serius menanti datangnya anugerah di malam lailatul qadar.
Ketiga, wirid dan dzikir yang secara khusus dilakukan warga nahdliyyin dalam jaringan Jam’iyyah Ahlu at-Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman), terutama pada malam-malam sepuluh terakhir di bulan suci ini, semakin menambah aroma keberuntungan malam lailatul qadar. Bagi mereka, tiada yang lebih indah selain menanti kenikmatan dzikir dalam pendekatan diri kepada Allah ta’ala di saat malam lailatul qadar.
Upaya warga nahdliyyin ini, tidak berarti tanpa dasar. Nabi Muhamad saw yang sudah terjamin masuk surga, sosok tauladan bagi umatnya dan tipe manusia yang ucapan selaras dengan tindakan telah memanfaatkan peluang besar bulan Ramadhan demi mendapatkan berkah dan menanti datangnya malam yang lebih baik dari seribu bulan dengan memperbanyak amalan, berdzikir dan bertaqarrub kepada Allah ta’ala.
Diriwayatkan dari Aisyah ra, “Adalah Rasulullah saw apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” Juga dari ‘Aisyah ra, (dia berkata), “Adalah Rasulullah saw bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.”
MENUJU ALAM MUKASYAFAH
Bagi kaum sufi, lailatul qadar merupakan ajang kebaktian diri dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan dzikir, wirid, khalwat demi mencapai pucak wushul ila Allah. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengisyaratkan hal ini tatkala beliau menggambarkan suasana malam lailatul qadar yang cerah, nyaman dan sejuk seakan menunjukkan puncak ketentraman bagi hamba Tuhan yang hanyut dalam dzikrullah. Malam itu, kata beliau, tidak terdengar suara lolongan anjing, di pagi harinya matahari bercahaya namun tidak mengeluarkan sinar seperti biasanya, terang kemerahan seperti bulan purnama. Kala itu, rahasia Tuhan dan keajaiban ilahi akan diungkapkan kepada orang-orang yang berhati suci (arbab al-qulub) karena senantiasa mengingat Allah ta’ala, tersingkapnya tabir rahasia ilahi kepada para wali Allah dan orang-orang yang taat kepada-Nya, sesuai kehendak dan restu-Nya, serta menurut kadar kondisi (akhwal), kedudukan (maqamat) dan tingkat kedekatan mereka kepada Allah ta’ala.
Semakin dekat kedudukan seseorang, semakin besar peluang mendapatkan berkah mukasyafah, yaitu terungkapnya keajaiban Tuhan yang selama ini ingin dicapai para sufi dalam wushul ila Allah. Sebuah pencapaian yang dilalui dengan bersabar, istiqamah, percaya diri dan khusnudzon bahwa suatu saat akan tercapai tujuan bertasawuf, yaitu menyucikan diri dari kotoran, baik suci hati, perilaku, maupun ucapan dengan cara bertakhalli (berhias diri dengan amal baik) dan bertakholli (menghindari diri dari amal buruk) dalam sebuah tajalli ilahi (yaitu, tersingkapnya rahasia ilahi).
Pertanda bahwa seseorang telah mendapatkan berkah lailatul qadar, seperti tersebut dalam kitab al-Ghunyah li Talibil Tariqil Haq, adalah tatkala malaikat Jibril turun ke bumi dengan izin Allah ta’ala pada malam lailatul qadar, Jibril pun akan menyapa dan menyalami setiap manusia di dunia, dia tidak akan menyisakan satupun orang di muka bumi ini untuk tidak disapa. Dan tanda orang-orang beruntung yang telah merespon dan menjawab sapaan malaikat Jibril, adalah dengan munculnya rasa tentram tiada tara dalam kalbu, ketenangan hati dan batin yang tiada terkira; secara fisik kulitnya terasa merinding seakan ada getaran kuat yang menyelimutinya, hatinya terasa lembut, halus dan nyaman, matanya berlinang air mata karena perasaan bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Hal yang harus diingat, adalah hanya mereka yang direstui Allah ta’ala saja yang akan mendapatkan berkah luar biasa ini. Dan restu Allah ta’ala hanya berlaku bagi para hamba-Nya yang taat menjalankan ibadah dengan tulus dan ikhlas, mengingat Allah (dzikir) siang dan malam, serta memperbanyak ibadah sunah terutama di saat-saat sepertiga malam. Dan sebaik-baik malam adalah malam lailatul qadar di bulan ramadhan, dimana mala mini lebih baik dari malam seribu bulan. Semoga kita mendapatkan berkah lailatul qadar di bulan suci ini, amin.
Penulis | Muhamad Abdullah Amir an-Naqshabandi
