Rabu, 03 Juni 2026

Syeikh Umar Dhiyauddin Naqshabandi (Bagian 2)

Kisah Perjalanan ke Baghdad dan Pelajaran Hakikat

Di antara keajaiban-keajaiban kondisinya (ahwal)—dan seluruh keadaannya memang menakjubkan—adalah bahwa beliau pernah melakukan perjalanan ke Baghdad. Saya mendapat kehormatan untuk mendampinginya bersama sejumlah besar khalifah dan murid. Tidaklah beliau melewati suatu negeri melainkan petunjuk Allah sampai kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari orang-orang yang jumlahnya tidak terhitung banyaknya.

Ketika sudah dekat dengan Baghdad, beliau memerintahkan orang-orang yang bersamanya untuk pergi mendampingi Maulana Syekh Muhammad Al-Qaradaghi—salah seorang khalifah ayahnya—menuju khanqah (pusat spiritual) Maulana Khalid yang berada di Baghdad. Beliau memerintahkan mereka untuk menyembunyikan kabar kedatangannya seraya berkata: "Aku ingin beristirahat sejenak dari keramaian manusia, dan janganlah kalian beranjak dari khanqah sampai aku mengirim utusan kepada kalian."

Beliau memerintahkan bendahara dinaisnya untuk memberikan beberapa dirham kepada saya dan memerintahkan saya untuk hanya fokus melayani beliau. Mereka pun mematuhi isyarat tersebut, dan alhamdulillah pada masa itu saya memenangkan kesempatan untuk berkhidmat kepada beliau serta menyaksikan berbagai keajaiban yang tidak terhitung banyaknya.

1. Penglihatan Batin (Mukasyafah) dan Ketinggian Jiwa

Di antaranya adalah bahwa suatu ketika Syekh sedang bermuraqabah di bawah kubah Syekh 'Abdul Qadir Al-Jilani. Saya lalu berjalan ke salah satu sudutnya, tiba-tiba saya melihat seorang lelaki sedang menghadap kiblat. Saya sangat kagum dengan tanda-tanda kesalehan dan keteguhan yang tampak pada dirinya. Saya melihatnya sibuk berzikir lisan dengan kondisi hudhur (kehadiran hati) bersama Allah Ta'ala tanpa berbicara dengan seorang pun. Orang-orang berdatangan mencium tangannya lalu pergi.

Saya bertanya kepada beberapa orang tentang namanya, berapa lama ia tinggal di sini, dan gambaran tentang dirinya. Mereka menjawab bahwa ia dipanggil Syekh Khalid, dan telah berada di sini sekitar tujuh tahun dalam kondisi berzikir seperti yang Anda lihat. Ia tidak bangun kecuali untuk shalat atau berwudhu, dan ia tidak berwudhu dalam tiga hari melainkan hanya sekali di waktu malam, lalu kembali ke keadaannya semula. Allah telah menundukkan sebagian orang baik untuk mengirimi roti dan sedikit susu setiap hari saat terbenam matahari, namun terkadang ia tidak memakannya dan terus berpuasa, atau hanya memakan beberapa suapan saja. Inilah kebiasaannya sejak tiba hingga sekarang.

Seketika rasa takjub yang luar biasa menguasai saya, dan terbersit di dalam hati saya tanpa kemantapan: "Manakah di antara para 'arif billah ini yang lebih agung, syekh kita ataukah orang ini?" Tidak lama kemudian, rasa kantuk menyergap saya hingga saya tertidur (sinah). Dalam tidur itu, saya melihat sebuah kamar yang belum pernah dilihat oleh siapa pun yang lebih indah darinya. Di dalamnya terdapat ranjang yang tinggi, dan di atasnya ada seekor singa yang sangat besar lagi berwibawa. Saya juga melihat di bawah ranjang tersebut seekor tikus kecil yang berlari ke sana kemari tanpa menemukan jalan keluar.

Saya diliputi rasa heran darinya dan mulai berkata: "Ada apa denganmu berada di tempat para singa? Di manakah kedudukanmu dibanding singa ini?" Kemudian saya menoleh ke luar kamar, lalu melihat saudara kita fi sabilillah—salah seorang khalifah agung dari syekh kita—yaitu As-Sayyid Thahir berdiri di luar kamar dengan penuh adab dan kesopanan. Antara saya dan beliau terjalin persahabatan yang sangat erat. Saya mulai memanggilnya untuk memperlihatkan tikus dan keadaannya yang aneh ini, namun beliau tidak menoleh kepada saya. Saya merasa tersentuh dengan sikap abainya padahal hubungan persahabatan kami sangat dekat.

Kemudian beliau menoleh kepada saya dengan nada marah dan berkata: "Tidakkah engkau tahu siapa singa ini? Beliau adalah guru kita (semoga Allah menyucikan rahasianya)! Dan tikus yang engkau lihat ini adalah lelaki yang engkau kagumi kesalehannya dan terbersit dalam hatimu prasangka tentang dirinya!"

Seketika saya terbangun dalam keadaan diselimuti rasa malu yang sangat besar atas terbersitnya pikiran tersebut. Ketika guru kami bangkit dari duduknya, beliau menatap saya lalu berkata: "Apa yang engkau lihat hari ini?" Saya hanya diam karena malu dan sungkan.

Ketika beliau melihat betapa dalamnya penyesalan dan terdiamnya saya, beliau berkata: "Akulah tikus itu, dan Syekh Khalid adalah singa itu." Pengungkapan rahasia batin (mukasyafah) dan kerendahan hatinya yang luar biasa membuat saya terperangah. Kemudian beliau (semoga Allah meridhainya) berkata untuk memperlihatkan kebenaran yang sejati kepada saya:

"Sejak kita keluar dari Biara, berapa banyak fasik yang telah bertobat, dan berapa banyak pengikut Rafidha yang kembali kepada Allah Ta'ala melalui tangan kita? Hanya bagi Allah segala pujian. Adapun perbuatan orang ini—jika memang diterima—hanya terbatas untuk dirinya sendiri. Di manakah posisi orang-orang yang memberi petunjuk dan membimbing orang lain jika dibandingkan dengan orang yang hanya mendapat petunjuk untuk dirinya sendiri?"

2. Ketekunan Beribadah dan Kedermawanan

Di antara keajaibannya yang lain adalah saya melihat beliau selama lebih dari tiga puluh hari tidak diberi asupan makanan selain muraqabah dan zikir. Pada masa itu, beliau menunaikan shalat Isya, kemudian duduk di atas kedua lututnya seraya tenggelam dalam hubungan kerohanian yang tinggi (an-nisbah al-'aliyyah). Beliau tidak mengangkat kepalanya kecuali untuk Shalat Fajar.

Setelah menunaikan Shalat Fajar, beliau duduk kembali seperti itu hingga waktu Dhuha besar (ad-dhuha al-kubra), lalu bangkit untuk berwudhu. Apabila telah shalat wudhu dua rakaat, beliau kembali ke keadaannya semula. Beliau selalu mengincar shaf pertama dalam shalat; jika telah shalat berjemaah, beliau duduk di tempatnya dan tidak bangkit kecuali untuk shalat berikutnya.

Demikianlah kebiasaan beliau selama kurun waktu tersebut. Beliau hanya berbicara sedikit; sesekali mengangkat kepalanya lalu berkata: "Pergilah ke tempat ini, engkau akan mendapati seseorang dengan ciri-ciri demikian, maka berikanlah kepadanya dirham sekian." Saya pun pergi dan kembali, sementara beliau tetap berada dalam keadaan muraqabah. Beliau terus-menerus memerintahkan saya untuk memberikan sedekah hingga habis seluruh bekal uang yang ada pada saya.

Kisah Menyembunyikan Diri dan Pelajaran Hati

Setiap kali orang-orang di masjid tempat beliau tinggal hampir mengenali siapa dirinya, beliau segera berpindah ke masjid yang lain. Ketika tiba di akhir masa penyamaran yang beliau inginkan, beliau mengangkat kepalanya setelah Shalat Dzuhur dari keadaan muraqabah, lalu menggambarkan sebuah masjid kepada saya seraya berkata: "Pergilah ke sana, lalu panggilah Syekh Muhammad Sa'id!"

Saya pun pergi sesuai dengan yang beliau perintahkan. Ketika saya bertemunya, ternyata ia adalah salah satu ulama yang sangat terkenal. Begitu saya menyampaikan pesan dari Syekh, ia malah berkata: "Apa hubungannya aku dengan para syekh tarekat?" Saya pun mendengar ucapan dengki yang tidak saya sukai darinya.

Ketika saya kembali kepada Syekh, beliau mengangkat kepalanya dan berkata kepada saya: "Tenangkanlah hatimu, ia pasti akan datang insya Allah Ta'ala."

Setelah waktu Maghrib tiba, sang Guru (Syekh) naik ke atap masjid tersebut dan berkata: "Tunggulah orang yang engkau datangi tadi di sini!" Tidak lama kemudian orang itu pun datang bersama beberapa muridnya. Saya lalu membawa mereka naik menemui sang Guru. Mereka mengucapkan salam kepada beliau, namun beliau tidak membalas lebih dari sekadar menjawab salam. Saya melihat rasa kesal di wajah-wajah mereka karena Syekh tidak menyambut mereka dengan meriah. Hingga ketika mereka selesai menunaikan Shalat Isya, beliau memerintahkan mereka untuk pulang.

Mereka datang kembali pada malam kedua. Setelah selesai Shalat Isya, sang Guru berbisik kepada Syekh Muhammad agar ia datang seorang diri pada malam berikutnya. Ia pun melakukannya, dan pada malam itulah Syekh mengalirkan karunia batin yang luar biasa kepadanya. Syekh Muhammad berdiri di atas kedua kakinya seraya menangis hingga terbit fajar. Setelah itu ia pulang, dan seakan-akan ada penyeru yang mengumumkan kehadiran sang Guru di kota tersebut.

Sejak hari itu, sang Guru pindah ke masjid Syekh Muhammad Sa me m tempat belajar tarekat dari kalangan ahli ilmu maupun masyarakat awam. Syekh memberikan ijazah kepadanya untuk menyelenggarakan amalan khataman, dan beliau sendiri menghadiri majelis khataman pada malam tersebut. Beliau hanya melakukan tawajuh (pemusatan batin) kepada satu orang saja, namun terjadi pengaruh yang sangat besar dan daya tarik (jadzbah) yang kuat pada orang tersebut.

Ketika lampu dihidupkan, sebagian besar yang hadir merasa sangat heran dan diliputi keikhlasan yang sempurna kepada sang Guru. Saya bertanya kepada mereka mengenai alasan keheranan tersebut, lalu mereka menjawab: "Orang yang mengalami hal yang engkau lihat tadi, secara lahiriah ia tampak sebagai seorang Sunni, namun pada hakikatnya ia adalah seorang pengikut paham Rafidha."

Cahaya Bimbingan dan Kedermawanan Beliau

Matahari bimbingan (irsyad) sang Guru senantiasa bersinar terang dari hari ke hari. Bantuan spiritual (al-imdadat) terus mengalir secara beruntun kepada seluruh lapisan masyarakat dari waktu ke waktu. Kebenaran (Al-Haqq) senantiasa menguatkannya dengan kilatan karamah yang luar biasa dari waktu ke waktu, hingga beliau menjadi ka'bah bagi para 'arif billah, tempat tujuan bagi orang-orang yang telah sampai (al-washilin), serta muara harapan bagi orang-orang yang menuju Allah.

Seluruh khalifah ayahnya kembali dan tunduk kepada beliau dalam segala urusan. Allah Azza wa Jalla menundukkan leher-leher para hamba, serta para raja di berbagai negeri untuknya. Wilayah Iraq kembali menjadi sangat berseri melebihi zamannya sang ayah; bahkan ufuk-ufuk menjadi sangat terang benderang dengan limpahan manfaat dari keutamaannya. Orang-orang melakukan perjalanan dari berbagai penjuru untuk menuju kepadanya, serta berdatangan berkunjung ke kediamannya yang mulia dari kalangan tokoh-tokoh ulama dan ulama terkemuka. Beliau memberikan limpahan spiritual kepada masing-masing orang sesuai dengan kadarnya, serta menganugerahkan apa yang layak baginya.

Singkatnya, beliau adalah seorang pewaris ajaran Muhammadiah (warits muhammadiy) dan penolong tunggal yang bergantung kepada Allah (ghauts fard shamadaniy). Apabila beliau menulis surat kepada sebagian khalifahnya di berbagai daerah, penduduk daerah tersebut berbondong-bondong menyalinnya. Para sastrawan mencarinya karena kelugasan dan keindahan bahasanya, para ulama mencarinya karena kelimpahan materinya, para ahli tasawuf mencarinya karena ketelitian isyarat batinnya, dan mayoritas manusia mencarinya untuk mengambil keberkahannya.

Beliau (semoga Allah meridhainya) berada pada puncak kedermawanan, kelapangan jiwa, dan kesempurnaan sifat mengutamakan orang lain (itsār). Pernah suatu ketika kami berada dalam perjalanan bersamanya di hari-hari yang sangat dingin. Beliau melewati seorang fakir yang menggigil ketakutan karena sangat dingin, lalu beliau melemparkan jubah ('aba'ah) miliknya kepada orang itu. Beliau melewati orang fakir lainnya yang serupa, lalu memberikan jubah (jubbah) dalamnya. Kemudian beliau melewati orang ketiga dalam kondisi serupa, lalu beliau melepas baju luarnya (qiba') dan melemparkannya kepada orang tersebut. Beliau tidak pernah menyimpan sesuatu pun untuk dirinya sendiri. Hadiah-hadiah yang banyak berdatangan kepadanya dari berbagai penjuru, lalu beliau membagikannya di antara para murid dan orang-orang yang membutuhkan.

Kisah Awal Perjumpaan Penulis dan Wafatnya Beliau

Di antara karamahnya yang menjadi sebab persahabatan saya dengan beliau adalah bahwa saya bermimpi melihat wujud beliau yang diberkahi secara berturut-turut selama beberapa malam di negeri saya (kota Erbil) sebelum saya mengenalnya. Beliau menyebutkan nama mulianya, negerinya, dan tarekatnya kepada saya, serta menganjurkan saya untuk hadir mempelajari tarekat tersebut.

Ketika pagi tiba, hati saya telah diliputi rasa rindu dendam kepada dirinya dan kecintaan yang mendalam terhadap tarekatnya. Padahal ayah saya berhaluan Tarekat Qadiriyah; ketika melihat kondisi saya, ia memungkiri keadaan saya. Namun, daya tarik batinnya (jadzbah) yang kuat terus memegang batin saya hingga dimudahkan bagi saya untuk sampai ke hadiratnya dan mendapat kehormatan berupa kebahagiaan bersahabat dengannya.

Sungguh, saya telah menyaksikan rahasia-rahasia Syekh yang tidak mungkin dituliskan dalam kitab dan tidak dapat dicakup oleh ungkapan kata-kata. Beliau sangat sering menceritakan kepada para murid tentang apa yang mereka lihat selama berzikir dan bermuraqabah berupa penampakan cahaya (tajalliyat), kondisi batin (ahwal), serta bisikan-bisikan hati (khawatir) sebelum mereka menceritakannya sedikit pun kepada beliau. Beliau memilah bagi mereka mana yang bernilai rendah dan mana yang berharga, serta mendorong mereka untuk meningkatkan tekad (himmah) agar tidak ridha terhadap apa pun selain Allah Azza wa Jalla.

Beliau memiliki keutamaan-keutamaan (manaqib) yang tidak terhitung dan kebaikan-kebaikan yang tidak dapat terjangkau secara keseluruhan. Semoga Allah terus mencurahkan limpahan bantuan-Nya kepada kita, serta mengumpulkan kita bersamanya beserta orang-orang yang telah Allah berikan nikmat dari kalangan hamba-hamba pilihan-Nya.

Beliau (semoga Allah menyucikan rahasianya yang paling kudus) wafat pada tahun 1308 H di Biara, dan di sanalah kuburnya yang diberkahi berada—yang menjadi tempat turunnya cahaya-cahaya dan muara rahmat-rahmat ilahi. Para pujangga meratapi kepergiannya dengan syair-syair bahasa Persia dan Arab; jika bukan karena khawatir terlalu panjang, niscaya kami akan mencantumkan sebagian syair tersebut untukmu.

Dengan taufik dari Allah Ta'ala, telah dimudahkan penyelesaian pembahasan mengenai para ulama pilihan dari syekh-syekh silsilah yang mulia ini. Maka, marilah kita tutup kitab ini dengan perkataan ringkas dalam menjelaskan tarekat mereka yang mulia serta menetapkan pilar-pilar yang menjadi sandaran mereka. Hanya kepada Allah Ta'ala kita memohon petunjuk.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait