Dalam proses mencari sebuah kebenaran hakikat dari sebuah perjalanan spiritual yang acapkali dijalankan seorang Salik, niscaya akan menemukan beberapa pengalaman-pengalaman baik mental, spiritual ataupun mistis. Pengalaman ini muncul dalam berbagai bentuk dan pola bisa berupa mimpi sebagai isyarat, bentuk dan simbol-simbol yang membutuhkan suatu penafsiran/interpresasi dari seorang Mursyid yang telah melewati dan merasakan pengalaman spiritual tersebuat.
Lalu, bagaimana kita memaknai simbol-simbol dari mimpi yang dialami seorang Salik tatkala sedang aktif menjalani proses bertarekat?
" Ketahuilah, bahwa para ahli suluk dari kalangan para sufi, ketika mereka sibuk dengan dzikir dan mujahadah, maka akan terungkap suatu keadaan batin (al-ahwal) —mulai dari akhlak insaniyah hingga sifat-sifat hewaniyah— dan semakin memperjelas level spiritual (tingkatan/maqamat) mereka: mulai dari taraqqi (tanjakan/stasiun spiritual), mengasah diri, lalu menyeberang lautan ahwal, hingga mengalami mimpi-mimpi dan kejadian nyata, disebabkan proses pendidikan bagi para murid tarekat dan para pemula; karena segala yang dilihat oleh para pejalan spiritual dalam mimpi atau dalam suatu kejadian, berarti Allah ta’ala menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepadanya. Allah ta’ala berfirman:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di cakrawala” (QS Fusshilat : 53), dan dalam firman lain :
“Dan di dalam diri kalian sendiri, maka apakah kalian tidak melihat?” (QS Adh-Dhuriyah : 21).
Kemudian, ketahuilah bahwa mimpi adalah beragam makna abstrak, kebenaran universal, serta sifat atau karakter psikologis yang dilihat oleh orang yang tertidur setelah panca indra dan kekuatan tubuhnya tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya lantaran ia sedang tertidur; sebab ketika manusia tertidur, indra dan kekuatannya tidak lagi menjalankan fungsinya, sehingga pada saat itu jiwanya terbebas dari ikatan-ikatan dan naik ke alam asal usul (al-‘alam al-ashli), yaitu Arasy, dan di sana ia akan menyaksikan beragam makna abstrak, kebenaran universal, dan sifat-sifat psikologis yang akan muncul di cakrawala dan di dalam jiwa-jiwa (roh) dari dunia unsur-unsur, sebagaimana dikatakan: “Tidak ada hamba laki-laki maupun perempuan yang tidur dalam keadaan suci dan tidurnya terlelap (nyenyak) kecuali jiwanya akan naik ke Arasy”; maka siapa yang tidak terbangun kecuali ia sedang berada di Arasy, maka mimpi itu benar (tidak bohong).
Lalu, ketika jiwa kembali ke dalam tubuhnya, ia mengambil dari kekuatan imajinatifnya segala apa yang dilihat dalam bentuk parsial yang sesuai atau cocok dengan makna, kebenaran, dan sifat-sifat tersebut dalam bentuk imajinasi, karena kekuatan imajinatif terbiasa meniru dan berpindah dari satu hal ke hal lain, serta terbiasa memisahkan hal-hal yang terhubung dan menggabungkan hal-hal yang terpisah. Jika kekuatan imajinatif menggambarkan makna, kebenaran, dan sifat-sifat tersebut dalam bentuk parsial yang sesuai dengan makna, kebenaran, dan sifat-sifat tersebut, maka makna, kebenaran, dan sifat-sifat tersebut akan muncul dengan sendirinya, sehingga tidak memerlukan ekspresi; dan jika ia menggambarkannya dalam bentuk parsial yang tidak sesuai dengan kesatuan-kesatuan tersebut, maka bentuk-bentuk tersebut memerlukan ekspresi yang sesuai dengan hal yang sama dan penafsiran yang benar dalam kenyataan.
Sebagaimana dikatakan Nabi Yusuf a.s.: “Wahai ayahku!, sesungguhnya aku melihat sebelas bintang serta matahari dan bulan; aku melihat benda-benda itu bersujud kepadaku”. Maka ayahnya menafsirkan mimpi itu sesuai dengan kenyataan dan berkata kepada Nabi Yusuf a.s : “ Janganlah engkau menceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu”.
Makna murni dari mimpi itu adalah sikap sujud para saudara Nabi Yusuf a.s, —damai sejahtera atasnya, serta ayahnya dan bibinya—. Namun, daya imajinasinya menggambarkannya dalam bentuk yang tidak sesuai dengan makna murni tersebut, yaitu sujud planet-planet, matahari, dan bulan. Oleh karena itu, ia membutuhkan penjelasan dan penafsiran. Seandainya daya imajinasinya menggambarkan makna murni tersebut —yaitu sujud saudara-saudaranya, ayahnya, dan bibinya— sesuai dengan kenyataan yang terungkap kepadanya tanpa sujudnya bintang-bintang, matahari, dan bulan, ia tidak memerlukan penjelasan dan penafsiran karena hal itu akan terlihat jelas di matanya.
Adapun pengalaman spiritual (yaitu, kejadian mistis saat tenggelam dalam suluk) tersebut terbagi menjadi dua jenis: Jenis pertama: apa yang dilihat oleh orang yang sedang menempuh jalan spiritual di antara tidur dan terjaga, dan hal itu seperti penglihatan yang terlihat dalam mimpi; sebagian di antaranya memerlukan penjelasan, dan sebagian lain tidak .
Jenis kedua: apa yang terungkap (atau tersingkap) pada para pencari jalan spiritual (salik) berupa ilham, isyarat, pesan-pesan gaib, serta cahaya-cahaya inderawi seperti cahaya matahari, bulan, dan sebagainya. Hal ini terjadi ketika jiwa terbebas dari ikatan-ikatan duniawi dan jiwa keluar dari noda khayalan dan imajinasi menuju tingkat keyakinan (maqam yaqin). Pada saat itu, terungkap atau disingkapkan kepada jiwa (ruh) dari alam perintah, yakni keadaan jiwa (ruh) dan keadaannya yang lain, sehingga kejadian (pengalaman spiritual yang dialami) sesuai dengan kenyataan dan terbebas dari selubung khayalan dan imajinasi, karena itu adalah mukasyafah (penglihatan batin) dari Allah ta’ala.
Bagi para pelaku spiritual yang disebut Salik, memiliki khayalan (imajiasi) yang menyerupai penglihatan dan kenyataan, namun bukanlah bagian dari apa yang disebut penglihatan maupun kenyataan dalam makna sebenarnya. Penyebabnya adalah kekuatan imajinasi yang terpancar ke alam khayalan, yang merupakan jembatan (barzah) antara alam perintah (‘alam al-Amr) dan alam ciptaan (‘alam al-Kholq). “alam khayalan yang menjadi jembatan ini –di waktu yang sama- tidaklah nyata; melainkan khayalan palsu yang tidak memiliki dasar.
Selanjutnya, kekuatan imajinasi akan mengambil (data) dari dunia khayalan hal-hal yang tidak memiliki dasar tersebut, lalu memberikannya kepada kekuatan khayalan (al-Quwah al-Wahimah); dan khayalan (al-Wahimah) tersebut dipersepsikan dalam bentuk-bentuk palsu dan wujud-wujud yang tidak benar (tidak nyata). Akibatnya, pemilik khayalan tersebut mengklaim bahwa ia telah melihat gambaran yang benar dan mengungkap hal-hal yang tersembunyi, serta meyakini bahwa gambaran-gambaran tersebut mewakili hal-hal yang tersembunyi, maka sebenarnya terjadi kesalahan dalam khayalan-khayalan ini yang dianggap sebagai kenyataan. Maka itu, wajib bagi orang yang menempuh jalan ini (Salik) agar selalu waspada terhadap bahaya-bahaya ini .
Ketahuilah bahwa mimpi dan pengalaman spiritual merupakan salah satu sarana pendidikan sufi dan pilar perilaku tasawuf, karena Allah ta’ala mengilhami para hamba-Nya melalui mimpi atau kejadian/pengalaman spiritual terhadap sifat-sifat baik dan buruk, serta perbuatan-perbuatan yang benar dan salah, yang dapat mendekatkan mereka kepada-Nya atau menjauhkan mereka dari-Nya. Oleh karena itu, Dia berfirman: “Mimpi yang baik adalah bagian dari empat puluh enam bagian dari kenabian “. Maka mimpi dan pengalaman spiritual merupakan salah satu cara pendidikan sufi dan bimbingan bersuluk, karena para ulama sufi mendidik para pencari kebenaran (salil) melalui kedua hal tersebut dan membawa mereka ke tingkat/maqam mukasyafah dan yaqin. Oleh karena itu, mimpi dan pengalaman spiritual menjadi petunjuk bagi para pencari kebenaran dan bukti/dalil bagi para ahli dzikir yang dibutuhkan untuk mengetahui tingkatan mereka dalam jenjang/maqamat menanjak naik dan menurun jalan sufi ini sebelum mereka mencapai tingkat mukasyafah. Jika mereka telah mencapai tingkatan mukasyafah, mereka tidak lagi membutuhkan mimpi dan pengalaman-pengalaman tersebut, karena pada saat itu mereka memperoleh pengetahuan (makrifat) yang mereka butuhkan dari Allah ta'ala melalui mukasyafah dan ilham dalam keadaan terjaga (sadar).
Ketahuilah bahwa mimpi terbagi menjadi dua bentuk : bentuk yang benar dan yang palsu. Jika mimpi itu berasal dari Allah ta’ala atau dari malaikat, maka ia benar adanya dan disebut mimpi yang baik dan membawa kabar gembira; dan jika berasal dari diri sendiri atau dari setan, maka ia palsu dan disebut khayalan belaka. Dikatakan bahwa mimpi yang baik berasal dari Allah ta’ala, Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang baik, maka janganlah menceritakannya kecuali kepada orang yang dicintainya. Dan jika melihat sesuatu yang buruk, maka janganlah menceritakannya, tetapi ludahlah ke arah kiri dan berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk dari kejahatan yang dilihatnya, karena hal itu tidak akan membahayakan dirinya .
Next Post