Kamis, 02 April 2026

Nafsu Muthmainah Fase Keempat Suluk Sufi

Fase keempat dari 7 maqamat sufi, "Nafsu Muthmainah", jiwa yang dipenuhi ketenangan, kenyamanan dan ketentraman spiritual.

Fase Keempat : Jiwa pda fase ini adalah "Nafsu Muthmainah", sedangkan posisi Salik adalah Naqib (mawas diri). Fase ini merupakan manifestasi dari ayat Allah ta'ala : "Iyaka Na'budu wa Iyaka asta'in" (QS AL-Fatihah : 4)

Kunci Berakar dari lafadz "HAQ" dan cabangnya adalah "Wahhab Allah" (Allah sebagai Dzat yang Maha Pemberi)
Tempat  Sirr, yakni siirul Wahdaniyah (rahasia Keesaan Tuhan) terletak diatas susu sebelah kiri
Sifat  Nafsu Muthmainah
Persepsi  Tidak ada Dzat yang Wujud selian Allah ta'ala (latifah Sirr yang bersifat haqqiyah dan Tajallinya bersifat af'ali)

 

Membaca Doa Tawajjuh setelah selesai berzikir

اللَّهُمَّ يَا مَنْ ذَاتُهُ دَائِمَةٌ بِذَاتِهِ، لَا يَتَغَيَّرُ أَصْلًا، وَذَاتُهُ مُنَزَّهَةٌ عَنِ الزَّوَالِ، اللَّهُ دَائِمٌ، إِلَهِي أَحْيِنِي حَيَاةً طَيِّبَةً، وَاسْقِنِي مِنْ شَرَابِ مَحَبَّتِكَ حَتَّى أَشْهَدَ ذَاتَكَ، وَأَعِنِّي عَلَى طَاعَتِكَ، وَحَقِّقْ حَيَاتِي بِكَ يَا حَقُّ يَا وَهَّابُ يَا اللَّهُ.

"Ya Allah, Engkau yang Keberadaan-Mu kekal dengan sendirinya, yang tidak pernah berubah sedikit pun, dan yang Keberadaan-Mu mulia di atas segala yang fana, Allah itu kekal. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku kehidupan yang baik, dan berikanlah aku minuman cinta-Mu hingga aku bersaksi atas-Mu, dan bantulah aku dalam ketaatan kepada-Mu, serta penuhi hidupku dengan-Mu, wahai Yang Benar, wahai Pemberi, wahai Allah."

Pengalaman Spiritual (Al-Ahwal) pada fase ini

Seorang Wali Allah ta’ala, pemimpin kaum makrifat, Sayyidina Muhyiddin Ibn al-Arabi, semoga Allah menguduskan jiwa dan menerangi makamnya, berkata mengenai penampakan-penampakan (tajalli) Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi di dunia ini kepada para nabi dan wali. Allah berfirman, ”Maka ketika Tuhannya menampakkan diri-Nya kepada gunung itu, Dia menjadikannya rata, dan Musa pun pingsan karena terkejut” (QS Al-A’raf : 143).

Kemudian ketahuilah bahwa penampakan (at-Tajalli) adalah penampakan Allah Yang Maha Suci sebagai cahaya dari cahaya-cahaya nama-Nya, sifat-Nya, atau Dzat-Nya terhadap sebagian hamba-Nya yang selalu berusaha mendekatinya. Penampakan tersebut bisa terjadi secara lahiriah, sebagaimana yang terjadi pada Musa asa, -damai sejahtera atasnya-, dan Nabi kita, serta para nabi agung dan wali-wali yang mulia lainnya.

Dan bisa juga secara batin, yang lebih sering terjadi, dengan asumsi bahwa penampakan di dalam batin itu memunculkan dampaknya ke luar, sehingga menguasai seluruh kekuatan dan indra, maka pada saat itu orang yang sedang menempuh jalan spiritual akan melihat secara langsung bahwa tidak ada pelaku, tidak ada yang digambarkan, tidak ada yang mendengar, tidak ada yang melihat, dan tidak ada yang ada selain Allah ta’ala. Dan terungkap baginya rahasia firman Allah ta’ala : “Segala sesuatu akan musnah/hancur kecuali Akkah ta’ala”. Hal itu karena ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala menampakkan diri-Nya di dalam batin hamba-Nya, hamba tersebut akan menyaksikan cahaya tajalli itu dengan penglihatannya. Semakin sering penampakan itu terjadi, semakin tenggelam batinnya dalam cahaya-cahaya penampakan tersebut hingga pengaruhnya meresap ke dalam indranya. Maka pada saat itu ia tidak melihat kecuali cahaya-cahaya tersebut di semua penampakan, dan ia menyatukan Allah ta’ala dari segalanya, sebagaimana dikatakan oleh seorang Syaikh, semoga Allah ta’ala meridhoinya, "Cahaya yang bersinar dari fajar keabadian, meninggalkan jejaknya pada struktur (anatomi) tauhid.

Kemudian ketahuilah bahwa penampakan (at-Tajalli) itu terbagi menjadi tiga bagian: Bagian pertama berasal dari tingkatan Keilahian, yaitu ketika Allah ta’ala menampakkan diri-Nya kepada sebagian hamba-Nya melalui nama-nama-Nya yang bersifat aktif (fi’ly). Pada saat penampakan itu terjadi, semua sebab yang tampak akan lenyap dari pandangan hamba tersebut, sehingga ia tidak melihat pelaku selain Allah ta’ala; maka akan terungkap rahasia firman-Nya : “Dan Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan” (QS Ash-Shofat : 96). Inilah penampakan (at-Tajalli) yang bersifat fi’ly.

Lalu, pengalaman siritual (ahwal) yang muncul pada tingkatan keempat ini disebut “al-wasla” (koneksi).

  • Jika seorang Salik melihat dalam mimpinya sebuah bendera, panah, busur, meriam, atau bubuk mesiu, dan sebagainya, hal itu menandakan bisikan-bisikan setan.
  • Jika ia melihat dalam mimpinya sekelompok ulama, para syekh, dan orang-orang saleh, hal itu menandakan ketaatannya kepada Allah Yang Maha Agung,
  • Jika ia melihat seorang sultan, hal itu menandakan perbuatannya sesuai bentuk dan wujudnya.
  • Jika ia melihat Ka’bah al-Musayarafah, Madinah al-Munawwarah, Yerusalem, masjid-masjid, atau madrasah, hal itu menandakan kesucian hati.
  • Jika ia melihat Al-Qur’an yang agung atau melihat diri membacanya, hal itu menandakan kemurnian hati, dan tafsir mimpi tersebut bergantung pada surah yang dibacanya atau dilihatnya,
  • Jika ia melihat para nabi, hal itu menandakan kekuatan akhlak dan mengikuti Islam,
  • Jika ia melihat air yang jernih atau sungai yang mengalir atau laut atau kolam atau istana yang megah atau cermin yang berkilau atau matahari atau bulan atau bintang-bintang atau langit, dan semua ini menandakan kesucian hati. Kesempurnaan kejernihan/kemurnian hal-hal ini menandakan kesempurnaan kejernihan hati, dan berkurangnya kejernihan tersebut menandakan berkurangnya kejernihan hati.
  • Jika ia melihat anggur, kurma, apel, delima, atau semangka hijau, semua ini pada awalnya menandakan penguatan hati dan pada akhirnya menandakan peningkatan dalam pengetahuan ilahi,
  • Jika ia melihat kacang pistachio, almond, dan kenari, jika benda-benda ini mentah, itu menandakan kondisi jalan spiritual, dan jika sudah diolah, itu menandakan pengetahuan ilahi, dan jika masih bersisik, itu menandakan ilmu formal,
  • Jika ia melihat bunga dan melati, itu menandakan kedekatan dengan tujuan, dan jika ia melihat ladang dan nuansa kehijauan, itu menandakan iman dan perbuatan baik, dan panennya setelah matang menandakan wujudnya, dan jika biji-bijian seperti gandum atau lainnya tumbuh, itu menandakan perbuatan baik, Adapun gandum melambangkan pengetahuan spiritual.
  • Jika dalam mimpi atau kenyataan spiritaul ia melihat keledai, ayam jantan, burung merak, burung dara, atau burung bulbul, semua itu menandakan kesibukannya dengan dzikir dan doa-doa harian; menunggangi keledai merupakan kebanggaan baginya.
  • Dan jika ia melihat burung elang atau burung pemangsa sejenisnya, hal itu menandakan bahwa ia telah menjadi salah seorang yang memiliki pengetahuan spiritual.

Referensi Tulisan ini :

Judul Risālat al-sulūk al-khādimah li-jamīʻ al-ṭuruq
Penulis al-Dahhān, ʻAbd al-Qādir. al-Ṭāʼī, Muḥummad Rajab,
Penerbit al-Maṭbaʻah al-ʻIlmīyah, halab
Tahun Cetak 1351 [1932/1933]

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait