Nafsu Mulhimah meruapan fase menuju pencapaian wushul kepada Allah ta'ala yang akan dilalui para Salik; ini fase keempat dari 7 maqamat sufi.
Fase Ketiga : Jiwa dalam fase ini adalah "Nafsu Muliham" (jiwa yang terilhami); posisi salik pada level ini disebut "Salikah" (orang yang sedang meniti jalan). Dan fase ini merupakan manifestasi dari dari ayat Allah ta'ala : "Maliki Yaumi al-Din" (QS AL-Fatihah : 3).
| Kunci | Berakar dari lafadz "HUWA" dan cabangnya adalah "Fattah Allah" (Allah sebagai Dzat yang Maha Membuka) |
| Tempat | Ruh, yaitu identitas diri terletak dibawah susu sebelah kanan |
| Sifat | Nafsu Mulhimah |
| Persepsi | Tidak wujud yang disifati (dengan sifat sempurna) selian Allah ta'ala — (latifah ruh yang bersifat kholqiyah) |
Membaca Doa Tawajjuh setelah selesai berzikir
"Wahai Engkau yang adalah Allah ta’ala, tiada Tuhan selain Engkau; Dialah Allah ta’ala, tak ada yang disembah atau dituju selain Engkau, Ya Tuhanku, sadarkanlah batinku yang terdalam dengan rahasia jati diri-Mu, dan lenyapkanlah egoku hingga aku mencapai jati diri Dzat-Mu, wahai Dzat yang tiada sekutu baginya, Hapuskanlah ke-lain-an dariku agar aku dapat menyaksikan-Mu, wahai Dia Allah ta’ala, wahai Tuhan yang Maha Pembuka, wahai Allah ta’ala."
Pengalaman Spiritual (Al-Ahwal) pada fase ini
Dan keadaan-keadaan riil dari pengalaman spiritual yang akan nampak dalam fase/maqam ini disebut “Rindu” (cinta buta). Si Salik yang sedang menempuh jalan spiritual akan melihat dalam mimpi dan pengalamannya sosok-sosok yang tidak sempurna, sebagai berikut:
- Jika ia melihat seorang wanita dalam mimpinya, hal itu menandakan bahwa akalnya kurang sempurna dan lebih condong kepada dunia.
- Jika ia melihat seorang Rafidi, ateis, atau salah satu dari penganut sekte sesat, hal itu menandakan kekurangan keyakinan atau amalnya.
- Jika ia melihat janggut yang terpotong atau dicukur, hal itu menandakan ketidakpeduliannya terhadap syariat,
- Jika ia melihat orang pincang, itu menandakan bahwa ia tidak mencapai kejujuran dan kebenaran,
- Jika ia melihat orang yang bungkuk, itu menandakan ketidakpatuhannya terhadap perintah Allah ta’ala,
- Jika ia melihat orang buta, itu menandakan bahwa ia melihat hal yang jujur dan benar namun tidak mendekatinya,
- Jika ia melihat sapi, itu menandakan perhatiannya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, berbeda dengan yang sebelumnya,
- Jika ia melihat orang bisu, itu menandakan menyembunyikan kalimat ‘kebenaran’,
- Jika ia melihat budak berkulit hitam, itu menandakan ia berbicara tentang kekurangan orang lain secara langsung,
- Jika ia melihat orang botak, itu menandakan ia meninggalkan Sunnah berbeda dengan konteks sebelumnya,
- Jika ia melihat orang mabuk, itu menandakan cinta yang tidak nyata (metaforis),
- Jika ia melihat pencuri, itu menandakan meninggalkan ibadah,
- Jika ia melihat orang yang suka mengejek dan membuat orang tertawa, itu menandakan meninggalkan sopan santun,
- Jika ia melihat penipu, itu menandakan kebohongan,
- Jika ia melihat dirinya sedang bepergian ke Ka'bah, itu menandakan ia menghadapkan diri kepada Allah ta’ala,
- Jika ia melihat Al-Qur'an atau kitab fiqih di tangannya, itu menandakan ia menjaga agamanya.
- Jika ia melihat pena yang digunakan untuk menulis ataupun tidak, hal itu menandakan kefasihan lidah dan kelancaran ucapannya;
- Jika ia melihat dirinya memasuki kebun, hal itu menandakan bahwa dirinya memiliki akhlak yang mulia;
- Jika ia melihat tinta, hal itu menandakan pengetahuannya;
- Jika ia melihat kertas putih, hal itu menandakan kemurnian hatinya;
- Jika ia melihat kertas itu tertulis, hal itu menandakan kesibukannya dengan dzikir dan doa-doanya,
- Jika ia melihat makanan yang dimakan atau yang tidak dimakan, hal itu menandakan makanan rohani;
- Jika ia melihat dirinya mengenakan pakaian bersih, hal itu menandakan ketakwaannya dan sebaliknya;
- Jika ia melihat dirinya telanjang, hal itu menandakan kelemahan agama dan ketaatannya;
- Jika ia melihat tangannya terpotong, hal itu menandakan kekurangannya dalam syariat atau menandakan keserakahan terhadap dunia,
- Jika ia melihat tukang jagal, itu menandakan hilangnya rahmat,
- Jika ia melihat orang yang bermata juling atau bermata sipit, itu menandakan adanya musuh yang menjauhkan dirinya dari jalan yang lurus.
Referensi Tulisan ini :
| Judul | Risālat al-sulūk al-khādimah li-jamīʻ al-ṭuruq |
| Penulis | al-Dahhān, ʻAbd al-Qādir. al-Ṭāʼī, Muḥummad Rajab, |
| Penerbit | al-Maṭbaʻah al-ʻIlmīyah, halab |
| Tahun Cetak | 1351 [1932/1933] |