Rabu, 01 April 2026

Nafsu Mulhimah Fase Ketiga Suluk Sufi

Nafsu Mulhimah meruapan fase menuju pencapaian wushul kepada Allah ta'ala yang akan dilalui para Salik; ini fase keempat dari 7 maqamat sufi.

Fase Ketiga : Jiwa dalam fase ini adalah "Nafsu Muliham" (jiwa yang terilhami); posisi salik pada level ini disebut "Salikah" (orang yang sedang meniti jalan). Dan fase ini merupakan manifestasi dari dari ayat Allah ta'ala : "Maliki Yaumi al-Din" (QS AL-Fatihah : 3).

Kunci Berakar dari lafadz "HUWA" dan cabangnya adalah "Fattah Allah" (Allah sebagai Dzat yang Maha Membuka)
Tempat  Ruh, yaitu identitas diri terletak dibawah susu sebelah kanan
Sifat  Nafsu Mulhimah
Persepsi  Tidak wujud yang disifati (dengan sifat sempurna) selian Allah ta'ala — (latifah ruh yang bersifat kholqiyah)

 

Membaca Doa Tawajjuh setelah selesai berzikir

يَا مَنْ هُوَ اللَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، هُوَ اللَّهُ لَا سِوَاكَ مَعْبُودٌ وَمَقْصُودٌ، إِلَهِي حَقِّقْ بَاطِنِي بِسِرِّ هُوِيَّتِكَ، وَأَفْنِنِي مِنْ أَنَانِيَّتِي إِلَى أَنْ أَصِلَ إِلَى هُوِيَّةِ ذَاتِكَ الْعَمَلِيَّةِ، يَا مَنْ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ، أَفْنِ عَنِّي الْغَيْرِيَّةَ لِأُشَاهِدَكَ، يَا هُوَ يَا فَتَّاحُ يَا اللَّهُ.

"Wahai Engkau yang adalah Allah ta’ala, tiada Tuhan selain Engkau; Dialah Allah ta’ala, tak ada yang disembah atau dituju selain Engkau, Ya Tuhanku, sadarkanlah batinku yang terdalam dengan rahasia jati diri-Mu, dan lenyapkanlah egoku hingga aku mencapai jati diri Dzat-Mu, wahai Dzat yang tiada sekutu baginya, Hapuskanlah ke-lain-an dariku agar aku dapat menyaksikan-Mu, wahai Dia Allah ta’ala, wahai Tuhan yang Maha Pembuka, wahai Allah ta’ala."

Pengalaman Spiritual (Al-Ahwal) pada fase ini

Dan keadaan-keadaan riil dari pengalaman spiritual yang akan nampak dalam fase/maqam ini disebut “Rindu” (cinta buta). Si Salik yang sedang menempuh jalan spiritual akan melihat dalam mimpi dan pengalamannya sosok-sosok yang tidak sempurna, sebagai berikut:

  • Jika ia melihat seorang wanita dalam mimpinya, hal itu menandakan bahwa akalnya kurang sempurna dan lebih condong kepada dunia.
  • Jika ia melihat seorang Rafidi, ateis, atau salah satu dari penganut sekte sesat, hal itu menandakan kekurangan keyakinan atau amalnya.
  • Jika ia melihat janggut yang terpotong atau dicukur, hal itu menandakan ketidakpeduliannya terhadap syariat,
  • Jika ia melihat orang pincang, itu menandakan bahwa ia tidak mencapai kejujuran dan kebenaran,
  • Jika ia melihat orang yang bungkuk, itu menandakan ketidakpatuhannya terhadap perintah Allah ta’ala,
  • Jika ia melihat orang buta, itu menandakan bahwa ia melihat hal yang jujur dan benar namun tidak mendekatinya,
  • Jika ia melihat sapi, itu menandakan perhatiannya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, berbeda dengan yang sebelumnya,
  • Jika ia melihat orang bisu, itu menandakan menyembunyikan kalimat ‘kebenaran’,
  • Jika ia melihat budak berkulit hitam, itu menandakan ia berbicara tentang kekurangan orang lain secara langsung,
  • Jika ia melihat orang botak, itu menandakan ia meninggalkan Sunnah berbeda dengan konteks sebelumnya,
  • Jika ia melihat orang mabuk, itu menandakan cinta yang tidak nyata (metaforis),
  • Jika ia melihat pencuri, itu menandakan meninggalkan ibadah,
  • Jika ia melihat orang yang suka mengejek dan membuat orang tertawa, itu menandakan meninggalkan sopan santun,
  • Jika ia melihat penipu, itu menandakan kebohongan,
  • Jika ia melihat dirinya sedang bepergian ke Ka'bah, itu menandakan ia menghadapkan diri kepada Allah ta’ala,
  • Jika ia melihat Al-Qur'an atau kitab fiqih di tangannya, itu menandakan ia menjaga agamanya.
  • Jika ia melihat pena yang digunakan untuk menulis ataupun tidak, hal itu menandakan kefasihan lidah dan kelancaran ucapannya;
  • Jika ia melihat dirinya memasuki kebun, hal itu menandakan bahwa dirinya memiliki akhlak yang mulia;
  • Jika ia melihat tinta, hal itu menandakan pengetahuannya;
  • Jika ia melihat kertas putih, hal itu menandakan kemurnian hatinya;
  • Jika ia melihat kertas itu tertulis, hal itu menandakan kesibukannya dengan dzikir dan doa-doanya,
  • Jika ia melihat makanan yang dimakan atau yang tidak dimakan, hal itu menandakan makanan rohani;
  • Jika ia melihat dirinya mengenakan pakaian bersih, hal itu menandakan ketakwaannya dan sebaliknya;
  • Jika ia melihat dirinya telanjang, hal itu menandakan kelemahan agama dan ketaatannya;
  • Jika ia melihat tangannya terpotong, hal itu menandakan kekurangannya dalam syariat atau menandakan keserakahan terhadap dunia,
  • Jika ia melihat tukang jagal, itu menandakan hilangnya rahmat,
  • Jika ia melihat orang yang bermata juling atau bermata sipit, itu menandakan adanya musuh yang menjauhkan dirinya dari jalan yang lurus.

Referensi Tulisan ini :

Judul Risālat al-sulūk al-khādimah li-jamīʻ al-ṭuruq
Penulis al-Dahhān, ʻAbd al-Qādir. al-Ṭāʼī, Muḥummad Rajab,
Penerbit al-Maṭbaʻah al-ʻIlmīyah, halab
Tahun Cetak 1351 [1932/1933]

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait