Menurut legenda tersebut Abdussamad adalah anak ketiga dari seorang Arab bernama Syeikh Abdul Jalil bin Abdul Wahab bin Ahmad al Mahdani berasal dari Yaman. Ayahnya itu adalah mufti di Kedah dan kakaknya menjadi Sultan Kedah. Ibunya seorang bangsawan Palembang bernama Raden Ranti. Abdussamad konon belajar di sebuah pondok di Patani dan kemudian pergi menuntut ilmu ke Mekkah. Dia sekali pulang ke Palembang, tetapi tidak dapat menerima kenyataan bahwa kerajaan tunduk pada pemerintahan orang kafir. Sebab itulah dia kembali ke Mekkah. Beberapa tahun kemudian dia pulang ke Kedah dan gugur selama perang melawan kerajaan Ligor pada tahun 1244 / 1829.
Ceritera tersebut sukar dipercayai. Misalnya saja nama ayah Abdussamad dinyatakan Abdul Jalil. Padahal seperti telah kita lihat, beliau sendiri pernah menulis namanya sebagai Abdussamad bin Abdillah dalam karyanya yang pertama, yaitu Zuhrat al—murid. Hal tersebut jelas tidak dapat disesuaikan. Namun ceritera itu menarik sebagai tanda kemasyhuran Abdussamad sampai masa kini juga.
Naskah Zuhrat al—murid ternyata sangat langka. Satu naskah yang berasal dari Aceh tersimpan di Universitas Leiden. Dua naskah yang lain berada di Museum Jakarta : satu di antara nya disalin pada tahun 1181 / 1767, yaitu hanya tiga tahun setelah risalat tersebut dihasilkan oleh Abdussamad.
Waktu di Madina, Abdussamad berguru kepada seorang sufi yang terkemuka, yaitu Syeikh Muhammad bin Abdul Karim as Samman al- Madani pendiri tarekat Samaniyah, yang diperkirakan lahir pada tahun 1720 dan meninggal pada tahun 1775. Dalam beberapa karyanya Abdussamad menyebut nama gurunya itu dan mengakui hutang budinya kepadanya. Dan kalau tarekat Samaniyah selanjutnya memperoleh cukup banyak penganut di Pulau Sumatra, hal tersebut rupanya tidak lain hasil usaha Abdussamad untuk memperkenalkan ajaran Syeikh Samman itu.
Abdussamad menulis dua karangan yang langsung bersumber pada ajaran tersebut, kedua-duanya dalam bahasa Arab. Yang pertama berisi aurad, yang kedua ratib. Yang pertama berjudul 'Urwat al—muthqa wa silsilat ulil—ittiqa dan disebut oleh Abdussamad sendiri dalam kitab Sair as-Salikin sebagai berikut: "Dan lagi seyogyanya bagi murid yang menjalani akan tarekat ini, bahwa dia mengamalkan akan aurad yang hamba sebutkan akan dia di dalam risalat yang bernama 'Urwat al—muthqa wa silsilat uli'l- ittiqa Sayyidi Muhammad as -Samman, dan adalah segala aurad itu hamba ambil dari pada Syeikh kita Sayyidi al-Syeikh Muhammad as-Samman ini dengan tiada seorang yang mempertengahi akan dia. yakni adalah segala aurad yang tersebut itu hamba ambil dari pada tangannya yang mulia itu kepada tangan fakir yang hina itu." [1].
Yang kedua berjudul Ratib Abdussamad al Falimbani menurut naskah yang tersimpan di Museum Nasional di Jakarta. Isinya penuntun ratib yang disusun oleh Abdussamad sesuai dengan ajaran Syeikh Samman.
Ratib Samman pada jaman kemudian menjadi sangat populer di Aceh. Bahkan pengamalannya sebagai zikir yang dibawakan bersama-sama oleh penduduk sekampung ternyata melampaui baik niat Syeikh Samman maupun tujuannya semula sebagai ibadat, sehingga menjadi satu jenis seni tersendiri. Menurut C'. Snouck hurgronje yang menyaksikan pembawaan ratib Saman pada akhir abad yang lalu "Syeikh Samman sebagai pencetus ratib tersebut, mengarang perkataannya dan menentukan pula gerak gerik dan sikap badan yang harus menyertai pengucapannya. Tidak dapat disangsikan bahwa guru tasawuf itu menganggap bunyi dan gerak sebagai cara yang ampuh untuk menghasilkan keadaan kesufian yang dituntut.
Dalam hal itu dia berselisih dengan guru-guru tasawuf lain yang menganggap zikirnya harus dibawakan dalam keadaan diam dan tenang. Namun selanjutnya tekanan pada bunyi dan gerak itu dikembangkan jauh oleh para penganut ajaran Syeikh Samman, terutama oleh para pembawa ratib Saman di Nusantara." [2]
Dalam proses menyebarkan tarekat Samaniyah di Indonesia atau lebih tepat dikatakan dalam proses memperkenalkan tokoh Muhammad as Samman sebagai seorang wali yang mukarram. ternyata yang berperan utama bukan saja Abdussamad, melainkan dua orang pengarang asal Palembang yang lain, yaitu Muhammad Muhyiddin bin Syeikh Syihabuddin yang pada tahun 1781 menulis sebuah Hikayat Syeikh Muhammad Samman, serta Kemas Muhammad bin Ahmad yang beberapa waktu kemudian menulis sebuah hikayat lain tentang riwayat hidup Syeikh ter sebut. [3]
Abdussamad sendiri sebenarnya lebih terkenal dan lebih penting peranannya sebagai penterjemah, Imam al-Ghazali. Pada tahun 1191/1777 disadurkannya kerangan al-Ghazali yang terkenal berjudul Bidayat al-hidayat, "supaya manfaat dengan dia ' orang yang tiada mengetahui baginya bahasa Arab." Karangan al Ghazali itu disertainya dengan beberapa uraian dan syarah yang diambil dari sumber lain untuk menghasilkan sebuah pedoman singkat tentang kewajiban dan adab yang terpenting buat seorang muslim. Karya tersebut selesai dikarang di Mekkah pada tanggal 5 Muharram 1192. yaitu 3 Februari 1778 dan diberi judul Hidayat as-Salikin fi suluk maslak al-muttaqin . Karangan tersebut sangat populer seperti terbukti oleh jumlah naskah yang masih ada sekarang ini di berbagai perpustakaan.
Di antara lain terdapat misalnya di perpustakaan di Leiden sebuah naskah yang pernah disalin di Buleleng (Bali) pada tahun 1236/1821. Edisi kitab tersebut banyak pula. Hidayat as-Salikin ternyata salah satu buku yang paling tua di antara buku bahasa Melayu yang dicetak di Mekkah. Sekitar tahun 1880. pemerintah Turki mendirikan sebuah badan penerbit di Mekkah di bawah asuhan Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain hin Mustafa al-Fatani supaya dapat menyebarkan buku agama dalam jumlah banyak dan dalam bentuk yang sahih. [4] . Demikianlah Hidayat as-Salikin jadi dicetak pada tahun 1298/1881. Penerbitan tersebut disusul banyak cetakan lain di Mekkah. Mesir, Bombay, Singapura dan Surabaya.
Catatan Kaki
- Sair as-Salikin, juz III. bab X. edisi Mekkah 1306, jld II, hlm. 195.
- The Achehnese, jld. II, hlm. 217. Di dalam buku karangan Syed Naguib a!-Attas berjudul Some Aspects of Su f ism as understood and practised among tlie Malays (Singapore, 1963, him. 78-88), terdapat juga sebuah laporan yang sangat menarik tentang "upacara Ratib Samman" yang disaksikannya di Muar Johor pada tahun 1958.
- Lihat G.W.J. Drewes. Directions, him. 224-225. 13.
- Lihai C. Snouck liurgronje, Mekkah in the latter part of the 19th century, Leiden, 1970, him, 286. Lihat juga H.W. Muhd Shaghir Abdullah, Karya tsb, him. 28-30.