
Sadar ataupun tidak, suatu saat kita akan tergoda, minimal terlintas dalam benak terkecil dalam otak kita terhadap tema dari judul ini, yakni "TUHAN ITU HILANG?" atau "TUHAN YANG HILANG". Jangan mengadili dulu, tapi pahami dan hayati; jangan pula emosi karena anda tidak akan mendapatkan apa-apa...
Seringkali, kita meyakini dengan pasti, seakan keyakinan itu tak tegoyahkan, tapi ketika diajak menelusuri keyakinannya sendiri, yang meluncur malah respon negatif, mungkin lebih ekstrim. Tapi, tahukah anda, bahwa orang-orang yang mencari kebenaran, mulai dari kebenaran diri sampai kebenaran Tuhan, mereka harus berhadapan dengan duri tajam mematikan, kabut hitam yang membuat kalut menjerumuskan, dan sebagainya.
Tapi, tidak semua orang-orang itu selamat, banyak yang berjatuhan ke lembah hitam, gelap dan menyesatkan. Dan dalam kegelapan itulah mereka berteori, menduga dan mengklaim bahwa tuhan itu hilang, wajar karena mereka tidak punya pijakan, buta, atau mungkin semakin membabi-buta, karena terlalu mengandalkan pikiran dan akal subyektif, bahkan mengagung-agungkan akal, lalu ia mencoba untuk berimajinasi, membayangkan sesuatu yang seakan itu benar. Setelah berimajinasi dalam ruang akal yang terbatas, mereka mulai menggelar praduga, menebar angan, mengatakan ini dan itu, padahal semua itu berada dalam lingkar kemungkinan, yang belum tentu benar. Anda tahu mengapa, karena mereka berpikir dalam lembah hitam yang gelap, situasi yang cukup samar untuk bisa melihat suatu kebenaran, artinya gelap dalam berbagai makna, gelap hati, gelap pikiran, atau lainnya.
Seharusnya, mereka keluar dulu dari lembah hitam itu..! tapi kepada siapa mereka mengaku, bukankah mereka menjebloskan diri sendiri berkat akalnya sendiri, tidak ada orang lain yang mengajaknya nyemplung. Akal diri, berarti kecenderungan menanggalkan orang lain, termasuk atribut tentang Tuhan yang Haq.
Kalaupun ada orang yang selamat, tidak terperosok ke dalam lembah hitam dan gelap, jumlah orang-orang itu hanya segelintir saja. Dan itupun, bukan dia yang bisa menyelamatkan diri, tapi butuh petunjuk, hidayah, penolong, yang bisa mengentaskan ia dari kegelapan; sebab tidak ada cahaya, nur, atau alat untuk menerangi lembah gelap alam pikir mereka. Mensinyalir sebuah firman:
"Allah pelindung orang-orang yang beriman (berada dalam cahaya); Dia (Allah) yang mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya." (Qs. Baqarah: 257). Hanya orang baik yang diberkahi, yang akan selamat.
Orang-orang baik ini selalu berkata: "Jika tidak ada bantuan Allah, yang menyinari jalan hidupku, mengarahkan dan membimbing ke jalan selamat, niscaya aku akan berada dalam kegelapan selamanya", orang itu –diantaranya- bernama Imam Ghozali, yang pada puncak perjalanan spiritualnya mengaku: "–keyakinan, kebenaran hakiki itu- diperoleh berkat nur (cahaya) yang ditanamkan Allah ke dalam dada (hati seorang muslim)."
Lalu, bagaimana kok bisa orang mengatakan: "Tuhan itu hilang?!". Yah... kisah itu pasti ada dan menjangkiti siapa saja, dari orang pintar yang cendekia, sampai orang awam yang buta aksara, hanya dibedakan oleh bentuk dan latar belakang. Mungkin, orang pintar melakukan itu dilatari unsur "kesengajaan", karena tuntutan prosefi dan proses akademis yang serba rasional (masuk akal); tapi orang awam melakukan dengan "ketidaksegajaan", atau kepolosan.
Berhamburan orang menyatakan, tuhan itu ini dan itu, begini dan begitu, dengan bertolak dari akal, lalu apa yang mereka temukan dengan akalnya itu!! Apa mereka menemukan Tuhan! Iya, mereka menemukan tuhan itu, tapi tuhan itu telah hilang seiring dengan hilangnya jejak akal sebagai pencetusnya, karena tuhan itu –diprediksikan- lahir dari bentukan akal.
Konon Ibn 'Athaillah mengeluhkan sikap orang-orang ini, katanya: "Ya Tuhanku... bagaimana bisa Engkau dibukti-buktikan dengan sesuatu yang wujudnya membutuhkan-Mu, apa selain Engkau yang nampak itu bukan milik-Mu, sampai ia menuntut penampakan-Mu... Kapan Engkau hilang sampai harus dibutuhkan bukti yang menujukkan Engkau ada (wujud)?!... kapan pula engkau menjauh sampai harus dilacak-lacak jejak yang dapat mengantarkan pada wujud-Mu?!..
Sebenarnya, banyak alasan mengapa orang berpikir tuhan itu hilang, perasaan bahwa dirinya telah ditinggalkan tuhan, atau perasaan lain yang serupa. 2 sebab yang mendasari orang berpikir demikian, yaitu karena mereka menyakini:
- TUHAN AKAL (RASIO); artinya orang-orang itu menjadikan akal pada diri manusia ini sebagai sesuatu yang suci, luar biasa, patut diagung-agung, menganggap akal lebih kuasa dari apapun, sehingga tidak perlu ada kekuatan lain dibalik dirinya. Atau, akal sebagai pedoman hidup yang tidak bisa dibantah, ataupun disangkal dengan akal manusia bisa merasa bahagia, sengsara, suka dan duka. Atau bahkan manusia beserta akalnya menjadi tuhan bagi dirinya sendiri... begitulah kata penganutnya yang fanatik.
- TUHAN EGO; perasaan diri paling benar dan suci, paling hebat dan berkuasa, dan paling segala-galanya. Dan ego ini, merupakan penyakit paling berbahaya dan menular, tidak disadari oleh yang bersangkutan, bahkan cenderung ngawur dalam bersikap serta membuta.
Kenapa akal dan ego bisa dikatakan tuhan, jelas sekali karena keduanya diposisikan lebih mulia, lebih kuasa, dan lebih hebat daripada segalanya, atau minimal disamakan dengan tuhan.
Sebenarnya kedua corak tuhan diatas, saling terkait dan membentuk pola tasalsul (berentetan). Artinya, orang yang menuhankan akal cenderung, bersifat ego, karena ego ini didasari pengkultusan terhadap diri yang paling benar, minimal paling bisa berpikir rasional.